
Kekonyolan Arsyad dan Sha parah, menjelang makan siang keduanya baru keluar dari hotel. Sha sangat kaget melihat panggilan ibu mertua hingga sampai 10 kali. "Astaghfirullah," ucap Sha saat di loby menunggu mobil.
"Kenapa?" tanya Arsyad yang juga sibuk membalas pesan Danu. Sebenarnya pagi ini Arsyad longgar, makanya dia berani main gila bersama sang istri.
Sha hanya mendengus kesal lalu menunjukkan panggilan sang ibu mertua, Arysad tertawa lebar. Pasti setelah ini dia kena omel. "Tenang aja, aku yang kena omel."
"Ya tapi aku bilang apa, Bi. Mengabaikan panggilan beliau loh, sepuluh kali lagi!" omel Sha sambil menabok lengan sang suami.
"Hanya melihat rambut kamu beliau pasti paham, Sayang!"
"Malu!"
"Toh kalau jadi cucu beliau juga seneng," jawab Arsyad enteng. Sha tersenyum seketika, sang suami sangat santai. Tapi apa yang diucapkan benar juga.
"Halo, Ma!" sapa Sha yang akhirnya menelpon balik kepada Ibu mertua usai keduanya berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Ya Ampun, Sha. Kamu daritadi di mana? Mama telpon gak diangkat, ditelpon ke ponsel Arsyad juga gak diangkat. Danu bilang kalian berdua belum sampai kantor padahal kalian kan berangkat pagi, gak telat juga. Mama khawatir sayang, mama bahkan menyuruh sopir rumah cek kantor tapi katanya mobil Arsyad gak ada. Kalian di mana sekarang?"
Sha melirik pada Arsyad, mobil juga belum melaju. Memang sengaja, siapa tahu sang mama sudah mau bertemu sekalian makan siang. "Kami di..." sekali lagi Sha melirik sang suami yang menahan tawa, sangat menyebalkan.
"Hotel, Ma. Aku ajak Sha ke hotel dekat kantor, habis ini kita sampai kantor kok, ditunggu yah. Tut!" Arsyad main tutup telpon tanpa memberikan kesempatan pada sang mama menjawab pengakuannya. Sha melongo, ini hp nya loh, apa kata mertua nanti kalau main tutup. Kan gak sopan.
"Kenapa?"
"Bi, kamu sadar gak sih. Ini tuh hp aku main tutup aja, apa kata mama, Bi!"
Arsyad mah santai, ia mengelus puncak kepala sang istri, menenangkan lebih tepatnya. "Tadi kan yang ngomong aku, mama pasti tahu kalau aku yang nutup. Udah biasa kali, Sayang." Mungkin karena karakter keluarga Arsyad yang easy going dan tidak mengekang jadi hal itu dianggap sudah biasa. Sangat berbeda dengan Sha, yang sejak kecil dididik oleh sang ibu untuk tahu posisinya, sopan dan tahu tata krama antara yang muda dan sepuh.
Arsyad tertawa, langsung memegang dagu sang istri. "Udah siap punya baby?"
"Siap. Kan udah punya suami!"
__ADS_1
"Oke ....bakalan aku gempur terus deh sampai jadi!" Sha mendengus kesal, bukannya hampir tiap hari digempur ya. Dasar Arsyad, mesum.
Tiba di kantor yang amat terlambat, Arsyad memasang wajah santai, sedangkan Sha agak sedikit gugup. Jangan sampai ada yang bilang kerja di kantor suami sendiri, enak benar datang jam berapa. Meski kenyataannya memang iya, dia gak bisa profesional seratus persen lagi.
"Rambut basah, dan berangakat hampir makan siang, kok aku jadi travel otak ya?" ucap Mesya, salah satu resepsionis yang melihat kedatangan bos dan istrinya.
"Kikuk kikuk dulu maksud kamu?" sambung Hanifa, yang diangguki Mesya. "Pak bos doyan berarti ya," lanjut Hanifah dengan nada konyol. Sontak saja Mesya menonyor kening juniornya itu.
"Udah pasti, mana Sha kan cantik alami jelas Pak Bos kesemsem setengah mati," kata Mesya memprediksi. Komentar para resepsionis hampir sama dengan komentar sang mama kala tiba di depan meja kerja Sha. Beliau sudah duduk cantik sambil bermain ponsel. Sha mendadak gugup bertemu dengan mertuanya.
"Ma!" sapa Sha menyalami, dilanjutkan Arsyad juga. Mata sang mama melotot seketika, melihat kondisi rambut Sha yang masih lembab. "Jadi kamu mlipir ke hotel buat kuda-kudaan dulu, Tot!" semprot sang mama kesal. Tak usah tanya Sha, ia langsung menunduk malu. Apalagi Danu juga ikut menyambut kedatangan pasutri yang sangat terlambat datang.
"Mama gak habis pikir kamu sampai nambah jatah ke hotel sebelum berangkat kerja. Doyan banget kamu ya," omel mama yang kesal karena panggilan telponnya tak diangkat lantaran Arsyad dan Sha lagi asyik mencetak bayi.
"Ck...mama, kan demi cucu!" jawab Arsyad santai. Sha mencubit lengan Arsyad hingga dia mengadu. "Apa sih Sayang, kan aku bener!"
__ADS_1
"Ouh cucu, ouh boleh kalau gitu. Sok..mau nambah lagi di ruangan kamu?" sindir mama yang langsung ditolak Sha. Arsyad dan Danu hanya tertawa keras.
"Mama bisa saja," lirih Arsyad.