
"Kenapa?" tanya Sha heran karena sejak keluar kamar, sarapan, hingga di mobil Arsyad terus menatapnya aneh. Sha merasakan tatapan itu tidak biasa. Ia pun semakin jutek karena keanehan itu.
"Pokoknya kamu nikahnya sama aku!" masih pagi sudah berurusan dengan perasaan, Sha malas menanggapinya. Ia hanya menghela nafas kasar dan mengabaikan ucapan Arsyad.
"Syad...."
"Tadi malam kamu panggil Acad atau Mas juga, kenapa kembali ke Arsyad?" tanya Arsyad yang masih mengingat mimpi yang begitu nyata hingga membuat dirinya harus mandi besar sebelum melakukan sholat shubuh.
Sha mengerutkan dahi, kapan ia memanggil seperti itu. "Aku? Manggil kamu Acad? Kapan? Mas? Lah kapan sih Syad," ucap Sha yang ikut gemas dengan pembahasan panggilan. Nih cowok pagi-pagi udah mengajak ribut.
"Lupakan!" Arsyad sadar kalau ia masih terkungkung dalam mimpi. Wajar saja, Sha tidak paham, itu hanya sebuah mimpi indah yang tidak akan dilupakan, bahkan bisa jadi akan Arsyad wujudkan.
"Bu Indah kok tahu kita di Bandung?" tanya Sha saat melihat ponselnya, ada chat masuk sepagi ini dan menanyakan keberadaan Arsyad padanya.
"Bilang apa?" tanya Arsyad, yang merasa tak memberikan info apapun soal keberadaannya pada Indah.
Sha, Bilang ke Arsyad ya setelah pulang dari Bandung hubungi aku! Aku tahu kalian lagi kencan di sana.
"Kenapa bilang gini sih? Jangan bilang dia cemburu," tebak Sha yang menyadari arti chat itu.
Arsyad mengedikkan bahu. "Aku gak punya hubungan apa-apa sama dia, kecuali pekerjaan jadi dia gak harus cemburu sama kita."
"Ini yang aku gak suka dekat sama kamu, Syad. Banyak orang yang punya pikiran aneh terhadap aku."
"Ya kan itu pikiran orang. Mau kita sudah berbuat buruj atau kita berbuat baik sekalipun, kalau mereka sudah tidak suka bakalan kasih komentar negatif juga sih."
Sha mengangguk, setuju dengan ucapan Arsyad. Hanya saja, hatinya tidak setangguh dulu sebelum dikecewakan Irsyad. Sha dulu tidak mendengar apa kata oranga tentang komentar julid, tapi sekarang ia gampang insecure dengan dirinya. Entah kondisi ini efek dari patah hati atau apa, yang jelas Sha merasakannya saat putus dengan Irsyad.
"Mereka iri saja, kenapa aku bisa dekat sama kamu tapi tidak dengan mereka."
"Ya mereka gak tahu aja, kalau kita kenal lebih dulu ketimbang jadi bos dan sekertaris."
"Salah!" ucap Arsyad tak setuju karena alasan kenal lebih dulu.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Karena kamu memiliki value yang tidak dimiliki oleh mereka."
"Value apa?" tanya Sha yang tak merasa punya value istimewa akan dirinya.
"Bukan cewek agresif."
Sha tertawa, ia baru menyadari akan hal itu. "Ya ngapain jadi cewek agresif, diam aja udah disukai," goda Sha dengan menatap Arsyad.
"Calon istriku," puji Arsyad sembari memegang dagu Sha, otomatis langsung ditepis Sha sembari menggerutu," apaan sih!"
Keduanya pun menikmati perjalanan dengan membahas kabar teman SMAnya yang diketahui Sha ataupun Arsyad, tak lupa diselingi ejekan atau tabokan gemas karena mengingat peristiwa konyol salah satu teman mereka.
Dret...dret....
Ponsel Sha bergetar, dilihatnya nama Ibu Negara memanggil. Ia pun segera mengangkat, pasti beliau mengkhawatirkan sang putri yang keluar kota bersama bosnya. "Sampai mana?" ujar ibu di seberang sana.
"Ini perjalanan kantor, Bu. Nanti Sha langsung menuju kantor saja!"
"Gak bisa mampir ke rumah, ibu pengen ketemu kamu dulu. Ceritanya gimana sih ke luar kantor kok dadakan gitu. Mana kamu berdua aja sama bos kamu."
"Lain kali tolak aja, Sha. Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa. Anak gadis ibu satu-satunya," tiba-tiba suara ibu parau. Sha pun ikut terdiam, merasa bersalah karena terlalu menurut pada Arsyad.
"Iya lain kali Sha tolak. Ibu percaya ya sama Sha, Sha hanya bekerja kok. Nanti Sha izin pulang cepat deh, dan langsung pulang."
Ibu pun mengiyakan, beliau terpaksa mengizinkan Sha untuk berangkat kerja, mau bagaimanapun Sha punga tanggung jawab atas pekerjaannya.
"Dimarahi ibu?" tebak Arsyad yang merasakan ada perubahan mood dalam diri Sha.
"Pastilah. Mana ada seorang ibu tenang kalau putrinya pergi bersama laki-laki, menginap bareng lagi."
"Ya maaf. Lain kali kalau mau ngajak kamu, aku deh yang pamit langsung."
"Dih, aku yang nolak lah!"
"Yah....ditolak lagi. Nasib-nasib," ucap Arsyad nelangsa. Mood Sha yang sudah anjlok setelah mendapat telpon dari sang ibu, semakin anjlok dan merasa bersalah pada Arsyad. Ia pun mengelus lengan Arsyad sebentar.
__ADS_1
"Maaf ya!" ucapnya tulus. Sangat sulit untuk menerima Arsyad sekarang. Ia mau menyembuhkan hati dan bertahap membangun kepercayaan dengan seorang pria, khususnya Arsyad. Bos ganteng itu hanya mengangguk saja, sudah bosan menerima penolakan Sha.
Suasana di mobil pun menjadi hening, Sha hanya melihat pemandangan jalan tol sedangkan Arsyad fokus pada kemudi. Hingga mendekati pukul 8 pagi, keduanya sampai kantor.
Tak ada ucapan saat keduanya keluar kantor, berjalan agak jauh layaknya orang tak kenal satu sama lain. Arsyad tak mengimbangi jalannya Sha, begitu pun Sha yang juga lebih memilih berjalan di belakang Arsyad. Keduanya pun memilih lift yang berbeda, beberapa karyawan yang melihat aura tak menyenangkan Arsyad begidik ngeri. Begitu angkuh dengan rahang tegas.
"Pak Arsyad ada masalah?" tanya salah satu karywan ketika berada di lift bersama Sha.
"Auranya menyeramkan. Bukannya tadi berangkat sama kamu, Sha?" selidik karyawan lain dengan kekepoan tinggi.
"Iya berangkat sama saya tapi saya gak tahu kenapa mood beliau seperti itu, gak berani tanya," ucap Sha mencari aman. Gak mungkin juga ia bilang dengan percaya diri Pak Arsyad ia tolak, bisa-bisa gempar penjuru kantor.
Begitu sampai, Sha semakin terkejut dengan kehadiran Indah yang duduk manis di depan meja kerjanya. "Selamat pagi, Bu Indah!" sapa Sha ramah meski keheranan.
"Pagi!" jawabnya ketus, "Arsyad mana?" lanjutnya semakin ketus.
"Loh belum sampai di ruangan?" tanya Sha kaget. Harusnya Arsyad sampai lebih dulu, tapi kenyataannya Sha dulu yang tiba.
"Kamu ngapain aja ke Bandung sama Arsyad?" selidik Indah dengan sinis. Wajahnya sudah tak ramah sama sekali pada Sha. Gadis itu hanya menghela nafas kasar, kenapa pagi ini sudah jelek banget auranya!
"Pagi banget, Ndah datangnya. Ada perlu apa?" tanya Arsyad ketika baru sampai, tak menatap Sha tapi langsung menyambut kehadiran Indah.
"Kangen kamu!" jawab Indah to the point, tak peduli ada Sha atau Danu yang kebetulan berada di samping Arsyad. Ternyata Arsyad kembali ke mobil karena charger ponselnya ketinggalan.
"Masuk ke ruanganku saja, Lethisa jangan menerima tamu hingga jam 10 pagi. Pesankan saya sarapan, kamu sudah sarapan Ndah?"
"Belum, kita sarapan bareng yuk!"
"Di ruanganku saja, capek habis dari Bandung!" Arsyad pergi begitu saja, dan Sha pun tahu sikap tak ramah Arsyad karena apa. Tak mau pusing, ia pun segera memesankan sarapan Arsyad dan Indah.
"Permisi, ini sarapannya Pak!" ucap Sha menuju ke sofa, tempat Indah duduk manis dengan membaca majalah bisnis.
"Selamat menikmati, Bu Indah. Permisi!" ucap Sha yang tak mendapat jawaban dari Arsyad. Indah tersenyum puas melihat Arsyad cuek pada Sha.
"Jangan harap Arsyad jatuh cinta sama kamu, Sha. Ingat posisimu hanya sekertaris biasa," bisik Indah sebelum Sha pamit. Dan bagaimana reaksi Sha, gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Setelah pintu tertutup, Sha pun langsung menuju kerja. Hatinya sedang tidak baik, entah kenapa ia merasa tak suka dengan Indah pagi ini. Apalagi Arsyad mengajaknya berdua di dalam ruangan, sarapan berdua lagi. Betapa romantisnya, apa gue cemburu ya? Batin Sha.