
"Maaf baru sampai," ujar Sha yang sengaja terlambat menemui Irsyad. Sang mantan masih duduk manis menunggu meski Sha terlambat hampir satu jam, karena Sha sengaja bercinta dengan Arsyad. Terbukti saat menemui Irsyad rambutnya masih lembab, dan memang itu skenario Sha.
"Gak pa-pa!" ujar Irsyad sembari tersenyum.
"Udah aku pesankan, Yang!" senyum Irsyad mendadak ilang, karena Arsyad datang tiba-tiba dan langsung duduk di samping Sha. "Hei, Syad!" sapanya sok ramah.
Irsyad langsung berwajah datar. Tak suka dengan pemandangan di depannya. Sha tampak tersenyum dan senyuman itu sangat tulus. Irsyad pernah menerima senyuman tulus Sha dan kini milik orang lain. Sungguh hatinya sangat panas.
"Aku minta kamu sendiri," tegur Irsyad. Sha pun menatap Irsyad.
"Aku sekarang gak bisa sendiri, Syad. Sori."
Irsyad tersenyum sinis, "Saat sama aku dulu, kamu sangat mandiri."
Sha tersenyum meremehkan. "Itu berarti aku sudah berubah, bukan Sha seperti dulu lagi."
Irsyad tahu makna ucapan Sha, secara tidak langsung Sha bukanlah kekasihnya lagi dan tidak akan kembali kepada Sha dulu. "Aku ingin kita kembali."
Irsyad akhirnya mengungkapkan keinginannya. Mengabaikan tatapan Arsyad yang terus mengintimidasinya.
"Kasih alasan aku harus menerima kamu? Dan sampai mau melepas Arsyad?" tanya Sha, Arsyad sampai menoleh dengan pertanyaan Sha. Ia pun deg-deg an dengan jawaban Irsyad. Khawatir kalau jawaban sang mantan bisa mempengaruhi Sha.
"Karena aku masih sangat mencintai kamu. Dan aku yakin kamu juga cinta sama aku. Hubungan kita udah lama, aku yakin kamu masih menyimpan rasa itu."
Sha tersenyum muak, ia melipat kedua tangannya di meja. "Seyakin itu? Yakin masih ingin sama aku, sedangkan aku sudah tidak gadis lagi. Aku sudah menjadi istri orang. Bagaimana perasaan kamu kalau aku kembali ke kamu sedangkan hatiku masih terpaut pada Arsyad suamiku."
"Aku akan bisa membuat kamu melupakan Arsyad," ucap Irsyad mantap dan tak melirik Arsyad yang sudah ingin menghajarnya. Bagaimana tidak, Irsyad sangat berani dan gak punya otak bicara seperti itu pada istri orang. Pantas banget kalau dibilang pebinor ulung.
Sha tahu suaminya menahan amarah, tapi tanga Sha menggenggamnya erat, bahkan Irsyad bisa melihatnya. Kembali cemburu dan panas setengah mati.
"Caranya? Sedangkan otakku sudah tertanam, Irsyad pengkhianat!"
Deg
Irsyad tak menyangka Sha bisa membalasnya. Begitu menusuk hati. Sepertinya Sha memang berbeda dengan yang dulu. "Sha sebenci itukah kamu sama aku," Irsyad bersuara dengan sendu. Perubahan sifat gadis yang begitu ia cintai ini sangat drastis. Sha yang dulu cukup santun tapi tegas. Sekarang dia memang lebih tegas dan tak memandang lawan bicaranya sakit hati atau tidak.
__ADS_1
"Gur gak benci sama lo," perubahan panggilan membuat Irsyad sadar, Sha memang sangat terluka ditinggal nikah dulu. Terbukti dia enggan berjuang lagi untuk Irsyad.
"Gue hanya memakai otak untuk berpikir normal dan realistis. Gue disekolah kan tinggi-tinggi sama ibu buat pinter, bukan menjadi bodoh. Apalagi soal cinta."
Irsyad tersenyum remeh. "Sikap kamu kayak gini seolah Arsyad tak akan memberikan pengkhianatan saja. Jangan terlalu percaya diri dulu, Arsyad lebih famous ketimbang aku. Tentu banyak wanita yang mengincarnya, bahkan rela menjadi istri keduanya. Bukan begitu Pak Direktur?" tanya Irsyad penuh sindiran.
"Sayangnya saya tidak membuka kesempatan mencari istri lagi," sahut Arsyad dengan tegas.
"Setia sekali ya, suami kamu ini. Bukankah aku dulu juga sangat setia sama kamu, Sha. Tapi bisa terjadi pengkhianatan juga. Bersiaplah."
"Pasti. Hanya saja saat gue memilih menjadi istri Arsyad. Dia pun bisa melakukan kesalahan. Hanya saja lubang luka belum terbuka atau bahkan berusaha tidak dibuka. Sedangkan dengan lo, lubang luka sudah terbuka lebar. Kalau gue memaksa bersama lo, gue akan terperosok dalam luka itu. Bodoh dan menyedihkan."
"Sha.."
"Cukup! Gue ke sini mau bertemu sama lo, hanya untuk mengatakan bahwa gue ini istri orang. Gue cinta sama suami gue, dan gue mau jadi istrinya sampai ajal memisahkan kita."
"Sha bagaimana dengan aku?"
"Perempuan baik hanya untuk laki-laki baik. Kalau gue bukan sama lo itu berarti gue bukan yang terbaik buat lo. Atau sebaliknya. Harusnya lo terima aja Farah tanpa melibatkan perasaan kita dulu."
"Begitupun gue. Hanya cinta sama suami gue,"
"Lethisa, aku gak suka."
"Suka gak suka lo terima. Ingat, gue sakit lo tinggal nikah. Hati gue, pikiran gue semua kacau karena kelalaian lo. Dan gur gak mau terulang lagi. Asal lo tahu. Gue gak mungkin menyakiti adik gue sendiri."
"Maksudnya?"
"Farah adik gue. Dia anak dari laki-laki yang juga ayah gue. Gue mau hidup tanpa bayang-bayang orang masa lalu yang menyedihkan. Lo tau betapa sakitnya gue gak punya ayah. Begitu tahu punya ayah, ternyata dia anak ayah gue juga sekaligus penghancur kisah cinta gue. Kalau lo dokter pinter, setidaknya lo bisa mikir kalau gue kembali sama lo, betapa tersiksanya. Masa depan gue masih saja berhubungan dengan orang-orang yang membuat hati gue sakit."
Irsyad terdiam. Sha mengucapkan hal itu cukup menggebu, manik mata sudah berkaca, Irsyad tahu perempuannya sakit hati. Dan apakah ia masih tega memaksanya.
"Kita jalani pelan-pelan, dimulai dari 0."
"Daripada memulai lagi, kenapa juga harus sama kamu. Lebih baik aku memulainya dengan orang baru dengan cinta baru. Melupakan orang-orang yang telah membuatku sakit hati."
__ADS_1
"Untuk terakhir kalinya gue bilang jauhi hidup gue. Permisi!" Sha tegas, ia langsung mengajak Arsyad pulang.
"Kalau dia masih berada di dekat kita, dan mengangganggu rumah tangga kita uang kamu sangat bisa membuatnya celaka kan?"
"Astaghfirullah, Sayang!" Arsyad takut sendiri dengan sisi dingin Sha. Istrinya itu tersenyum.
"Kalau dia gak bisa dibilangin baik-baik, boleh dong membalasnya dengan sedikit licik dan kasar!"
Arsyad menelan ludahnya kasar. Sang istri ternyata ada darah psikopatnya juga kali, begitu sadis dan bikin merinding. Selain mengiyakan Arsyad bisa apa.
Kembali di Cafe. Irsyad hanya terdiam setelah kepergian Sha. Ia menangis. Sebenarnya ia juga tak mau mengganggu Sha yang terlihat bahagia sebagai pengantin baru, ingin mengikhlaskan kepada Arsyad karena ia tahu lelaki itu dari dulu sudah menyukai Sha. Tapi hati masih ego, ditambah statusnya menjelang duda.
*ARRRGGHHHH
Andai tidak ada kejadian malam itu
Andai tidak ada Farah di antara kita
Andai mereka bukan saudara
Bodoh
Sudah terjadi
Tak perlu berandai andai
Ouh Tuhan aku lah dokter bodoh.
Aku lah dokter bodoh yang hilang akal karena kehilangan cinta.
Sungguh, Engkau cipatakan gadis baik yang tak akan pernah ku sesali pernah jatuh cinta padanya.
Bismillah, aku kalah Sha. Aku melepasmu dengan segala cintaku. Semoga kau bahagia dengan Arsyad, teman sebangkumu dulu.
I Love You Lethisa for now and forever*.
__ADS_1