
"Ma.....Ma...Ma!" teriak papa Arsyad dari lantai dua. Sedangkan Nyonya Wira sedang menerima tamu, Indah yang selepas Mahgrib sudah bertamu harus kecewa karena Arsyad tidak ada di rumah.
"Aduh....maaf, ya Ndah. Om rewel sekali,' ucap Nyonya Wira tak enak hati.
"Gak pa-pa, Tante." Indah pun memaklumi sikap absurd papa Arsyad itu.
"Arsyad mana sih?" tanya papa yang sudah mendekat ke arah istrinya yang sedang ada tamu. "Eh Indah, udah lama?" tanya papa yang menyadari Indah sebagai tamunya.
"Iya, Om!"
"Cari Arsyad ya?" tebak Tuan Wira dan diangguki oleh Indah. "Iya, om juga mencari. Kemana sih dia, Ma. Kata Danu gak mampir ke kantor setelah pemotretan. Aneh deh anak kamu, Ma. Sejak kapan mau jadi model, sok ganteng. Nanti malah gak fokus jadi bos, memang sih dia multitalent dibanding kakak-kakaknya tapi mana bisa dia jadi model hanya bermodal tampang," celomet Pak Wira di luar dugaan, ternyata dengan keluarga beliau sangat cerewet. Indah yang mengenal beliau kala bertemu dengan para pebisnis cukup kaget dengan ucapan beliau tanpa henti.
"Aduh diam, Pa. Arsyad ke rumah Ibu sama Lethisa! Ups.." Nyonya Wira keceplosan, beliau langsung menoleh pada Indah. Sialnya gadis itu menatap Nyonya Wira intens.
"Eh..maksudnya sama sekertarisnya mungkin ada pekerjaan di sana!" ucap Nyonya Wira gelagapan dengan senyum canggung.
"Ouh...kalau begitu Indah pamit dulu, Tan!" tanpa menunggu lama, Indah pun segera pamit pulang. Sia-sia ia menunggu lama, agar Nyonya Wira memberi tahu di mana Arsyad berada, ternyata ke Bandung. Sengaja menutupi rupanya, dan Indah semakin kesal. Arsyad sampai segitunya bersama Sha, berapa chat dan panggilan diabaikan.
"Siaaal!" umpat Indah dengan memukul setir mobil. Ia heran apa bagusnya Sha, apa kelebihan sekertarisnya itu sampai berduaan ke Bandung sendiri. Berbagai tuduhan negatif untuk Sha bermunculan dalam benak Indah. Besok Indah akan membuat perhitungan dengan Sha.
"Awas saja!" lirih Indah dengan kesal.
__ADS_1
*
*
*
"Sha, belum tidur?" tanya Arsyad ketika melihat Sha sedang menuang air panas dari dispenser tengah malam.
"Gak bisa tidur, di rumah laki-laki!"
Arsyad tertawa, masih belum percaya rupanya Sha dengan dirinya yang tak mungkin berbuat aneh, meski di rumah sang nenek. "Kenapa sih mikir jelek terus sama aku?"
"Buaya maksud kamu?"
Sha mengangguk, Arsyad pun mendekat lalu memegang tangan Sha. "Gak usah takut, kalau pun terjadi sesuatu, aku bakal tanggung jawab!"
"Lo ngomong apa sih," ucap Sha sembari menarik tangannya, namun Arsyad malah menariknya hingga menubruk dada Arsyad.
"Jangan macam-macam, Syad!" ancam Sha berontak. Namun rangkulan Arsyad semakin erat dan jangan lupakan tatapan Arsyad.
"Gue teriak nih, Ne..." ancam Sha yang akan memanggil nenek, namun gagal. Bibir Sha sudah dibungkam oleh bibir Arsyad. Hanya menempel dengan kedua mata Sha yang melotot tak karuan.
__ADS_1
"Jangan berisik!" lirih Arsyad tetap dengan tatapan berhasrat pada Sha. Ia pun kembali mencium dengan lembut bibir Sha, sangat lembut. Hingga Sha pun terlena bahkan sampai memejamkan mata. Otak Sha seakan buntu, dan badannya semakin lemas saja akibat ulah Arsyad.
"Kita pindah ke kamar!" bisik Arsyad sensual, lalu menggendong Sha masuk ke dalam kamarnya. Sha sudah terhipnotis oleh buaian. Hasrat mereka sudah terpancing, hingga keduanya dibakar na*su. Pandangan keduanya bertemu, Arsyad meletakkan tubuh Sha ke dalam ranjangnya pelan dan sayang. Sungguh Arsyad memperlakukan Sha penuh cinta.
Adegan kissing pun kembali terjadi, kini sudah tak selembut tadi. Bahkan Sha pun ikut membalas pagutan bibir Arsyad, keduanya sudah melampaui batas sebagai bos dan sekertaris.
"I love you," bisik Arsyad sembari menjeda kegiatan panas itu, mereka berdua meraup oksigen sebanyak-banyaknya dan kembali mengulangnya.
"Acad...." panggil Sha dengan sensual, Sha sengaja memanggil Arsyad dengan sebutan itu, otakny setengah sadar untuk tidak menyamakan dengan nama panggilan Irsyad.
Arsyad tersenyum, ia menyukai cara Sha menghargainya. "Lo udah bikin gue on, Sha!" ucap Arsyad kemudian ******* habis bibir Sha. Tak lupa tangan nakal dan gerakan di bawah perut dengan sensual. Dua anak manusia itu sedang mencoba hal baru.
"Awwww sakit," jerit Sha ketika sesuatu di bawah sana berusaha dengan keras mendobrak pintu pertahanan kegadisannya. "Pelan, Mas!" rintih Sha sudah tak berkutik. Ia takjub dengan pemandangan tubuh bawah Arsyad, begidik ngeri.
Arsyad pun paham, ia mulai membuai Sha kembali, hingga jeritan dan cakaran terjadi bersamaan. Air mata Sha keluar begitu saja, namun Arsyad sudah tak peduli, sudah kepalang tanggung. Ia pun mulai melakukannya dengan diiringi rintihan Sha. Sungguh ia menikmati tubuh Sha. Hingga lahar panas keluar.
"Syad....Syad.....Bangun dong! Udah siang nih, balik yuk!!" teriak Sha sembari menggedor pintu kamar Arsyad.
Arsyad langsung membuka mata, kaget setengah mati dengan mimpi yang baru saja ia alami. Spontan mengucap istighfar dan melihat bagian tubuh bawahnya yang sudah basah.
Ia tersenyum sambil menggaruk kepala, "Sampai mimpi pun memilih lo, Sha. Sumpah gue berjanji bakal nikahin lo meski...ya ampun cerewetnya!" ujar Arsyad yang tak tahan dengan ocehan Sha di balik pintu.
__ADS_1