
"Bubar juga akhirnya," lirih Danu ketika mengamati Arsyad yang sudah beranjak dari meja kerja sembari membawa laptopnya, masuk ke ruangan.
Baru saja Danu akan keluar, Arsyad kembali menghampiri Sha, eh keduanya malah berjalan bersama, Danu hanya mendengus kesal. Niat hati ingin makan siang bareng Sha, eh Arsyad lebih cepat. "Gue kerjain aja deh," ide usil Danu muncul seketika. Mengejar Sha dan Arsyad sebelum masuk lift.
"Makan siang bareng," ujar Danu yang berhasil masuk ke lift. Arsyad melotot karena ia tahu niat Danu ikut makan siang.
"Mari, Pak!" jawab Sha ramah. Danu cengengesan, aura musuh ia dapat dari sorot mata Arsyad.
"Kalian mau makan di mana?" tanya Danu basa-basi. Memancing kekesalan Arsyad memang menyenangkan.
"Kalau saya di kantin, gak tau Pak Arsyad. Pak Arsyad mau makan siang di mana?" Sha kelewat polos atau bagaimana, ia tak merasa diajak makan siang dengan Arsyad. Padahal bos ganteng tadi bilang yuk makan siang. Mendengar pertanyaan Sha, Arsyad hanya melengos sebal. Danu menyadari, ia hanya menahan tawa.
__ADS_1
"Terus saja meledek, keselek baru tahu rasa!" sindir Arsyad jengkel, dan Danu sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Giliran Sha yang bingung, kenapa sih dengan dua pria ini. Yang satu ketawa, yang satu jutek minta ampun.
"Sha, ikut aku aja gimana, Cafe depan kantor. Nasi timnya enak!" ujar Danu promosi. Arsyad semakin kesal karena Danu lebih ramah menawarkan ketimbang dirinya yang hanya mengajak dan salah diartikan pula.
"Ouh, Ya. Boleh. Tapi tunggu tunangan Pak Danu gak curiga nih kalau saya makan berdua sama Pak Danu?" tanya Sha memastikan. Dirinya saat ini masih enggan berurusan dengan pria yang sudah punya pasangan. Masalah dengan Farah saja baru di mulai, masa' mau menambah dengan urusan Danu.
"Kata siapa makan berdua, emang kalian pikir saya makan siang sapa siapa?" Arsyad sewot lalu terlebih dulu keluar dari lift. Danu mengejarnya, merangkul Arsyad untuk menenangkan agar bos jutek itu jangan terlalu posesif, Sha masih milik umum.
"Mending makan di kantin," tanpa pamit kepada Danu dan Arsyad, Sha balik kucing menuju kantin perusahaan. Ia tidak mau dibilang perempuan gak tau diri, sok kecantikan, atau pamai pelet dan sodorin tubuh untuk menggaet Danu atau Arsyad. Kuping panas, hati jengkel, rasanya ingin menabok mulut nyinyir mereka.
Danu yang merasa Sha tidak di belakangnya, menoleh dan bingung karena Sha tak ada. Arsyad langsung meninju lengan Danu gemas, kesempatan berdua dengan Sha pupus, eh sekarang malah menghilang. Nasib.
__ADS_1
"Udah lah, habis ishoma kan pasti ketemu Sha, kita makan berdua aja. Udah lama loh kita gak hang out bareng," ucap Danu sok romantis, dan membuat Arsyad jijik.
Keduanya memesan nasi tim ayam suwir dengan jeruk hangat. "Lo jangan ngebet banget sama Sha, Syad. Kasihan dia."
"Ngebet apaan?"
"PDKT lo yang kelewat ngebet. Anak gadis ditempeli mulu, kasihan kena gosip terus."
Untung saja makanan belum datang hingga tak merusak mood untuk makan. "Gue tahu Sha tangguh, tapi lihat sekarang. Meninggalkan kita berdua tanpa pamit, adalah sebagai signal kalau dekat kita, Sha nggak nyaman.
"Kasihan....dicap pelakor. Mungkin sekarang masih penuh komentar negatif, antri sholat jamaah. "Bahkan ditampar pula."
__ADS_1
"Siapa yang berani main kasar sama Sha?" tuduh Arsyad dengan wajah memerah.