JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
KONDISI KELUARGA


__ADS_3

"Pagi Pak Arsyad?" sapa Sha sembari menunduk hormat. Saatnya kerja, kejadian kemarin sore dilupakan sejenak. Apalagi pekerjaan Sha menumpuk, tak perlu memikirkan hal pribadi dulu.


Arsyad hanya mengangguk, dan meminta Sha membawa tablet terkait jadwal meetingnya seminggu ke depan.


"Bisa gak dimampatkan, Sha?" tanya Arsyad masih fokus dengan layar macbooknya meski Sha sudah menjelaskan jadwal meeting dengan klien.


"Kayaknya gak bisa, Pak. Tapi bisa diwakilkan kalau memang Pak Arsyad gak bisa," ucap Sha memberikan solusi. Karena sepertinya Arsyad sibuk dengan perusahaan pribadinya.


"Begitu?"


Sha mengangguk. "Oke, tolong bilang ke Danu untuk mewakili saya mulai hari Rabu, karena saya ada pertemuan di SG."


"Baik, Pak. Segera saya konfirmasi ke klien dan Pak Danu. Ada lagi?" tanya Sha sebelum ia pamit undur diri.


Arsyad yang sejak tadi fokus ke macbooknya mendongak menatap Sha. "Aku dinas keluar jangan macem-macem, jaga sikap. Doakan calon suami kamu lancar urusannya."


Sha mendadak tersenyum tertahan, wajah serius Arsyad sangat tidak cocok dengan ucapannya, menggelikan. "Ku kira marah, ujung-ujungnya gombal lagi."


"Aku serius."


"Iya, Pak Bos!" ucapnya kemudian mengundurkan diri. Baru saja mau menarik handle pintu, Arsyad kembali memanggilnya.


"Sha..."


"Iya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sha saat berbalik badan.


"Nikah yuk," ajak Arsyad dengan wajah memelas.


Sha tersenyum tipis, "Temui ibu aku aja Syad, kalau beliau merestui aku akan belajar mencintai kamu."


Wajah Arsyad langsung berbinar, "Beneran?"


"Iyaaa, dah ah aku balik kerja dulu."

__ADS_1


"Jangan capek-capek ya my wifey!"


Sha spontan mendelik, "Jangan nglunjak," ketusnya sembari keluar ruangan Arsyad, dan pemuda itu hanya terkekeh. Setelah urusan di SG selesai, Arsyad berjanji akan langsung menemui orang tua Sha. Terkesan buru-buru, tapi ia gak mau menunggu lagi. Apalagi beberapa hari lalu ia mendengar salah satu teman SMA nya bilang Irsyad otw jadi duda keren. Arsyad memprediksi bahwa Irsyad akan mendekati Sha lagi. Ia percaya Sha tidak akan kembali ke mantan, hanya saja Arsyad selalui ingat dengan ancaman Irsyad sejak SMA dulu.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kediaman Farah. Gadis itu resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia lebih banyak merenung dan menyendiri dalam kamar. Sang mama selalu menemani, tapi juga sangat khawatir akan psikisnya. "Nanti siang ikut mama nyalon yuk," ajak beliau agar Farah belajar menata hidupnya lagi.


"Enggak mau, Ma!" jawabnya lirih dalam gelutan selimut. Sang mama hanya menghela nafas berat, mendekati ranjang dan duduk di tepian. Mengelus kaki Farah dengan sayang. Ia ingin menangis melihat keadaan sang putri yang frustasi seperti ini. Meratapi nasib juga, kenapa sang putri harus merasakan kisah yang sama dengannya. Apakah ini karma? Tapi tak adil juga kalau Farah yang mendapat balasannya. Apalagi dirinya dulu tak memaksa bila perjodohan dengan sang suami batal.


"Farah, dengerin mama ya, Nak. Kamu boleh bersedih, kamu boleh marah atau kecewa gak pa-pa, Nak. Atau kamu mau teriak, meluapkan segala amarah silahkan, Nak. Mama memakluminya. Tapi tolong jangan membuat mama sedih begini sayang, di dunia ini harta yang paling berharga adalah kamu. Cinta yang tulus mama miliki adalah cinta dari kamu. Kalau kamu sedih begini....mama gak bisa, Nak!" ungkap beliau dengan diiringi isak tangis. Farah masih diam membeku dalam selimut, air mata pun kembali menetes di pelupuk matanya.


"Ayo kita sama-sama berjuang, Nak! Perlahan lupakan Irsyad," ucap beliau menyemangati. Namun Farah tetap bergeming dalam diam, isakannya pun terdengar. Sang mama pun ikut larut dalam kesedihan Farah.


Ting


Ponsel mama Farah berbunyi, beliau cukup kaget dengan info dari orang kepercayaannya. Bahwa Sang suami sudah mendarat di Indonesia sejak dua hari yang lalu. Geram. Tak memberi kabar sama sekali, bahkan anaknya terpuruk pun rasanya pria itu tak peduli.


"Papa mu sudah di Indo, Farah."


Isakan Farah terhenti, ia kemudian membuka selimut dan menatap sang mama. "Beliau sudah di Indo sejak dua hari yang lalu," ucap mama sembari menoleh pada sang putri.


"Papa tinggal di mana?" tanya Farah sekali lagi dan hanya dijawab gedikkan bahu oleh sang mama.


"Ke rumah oma mungkin," jawab mama asal. Tapi rasanya tak mungkin karena kalau ke rumah utama tentu sang mertua akan mengomel bila sang suami tidak mengajak dirinya dan Farah menginap.


Farah mengamati raut kecewa sang mama, ia tahu betul rasanya diabaikan. Pernikahannya yang hanya berjalan beberapa bulan saja rasanya terlalu menyakitkan apalagi diabaikan selama 20 tahun lebih.


"Atau mungkin ini saatnya mencari cintanya Iswa," tebak mama dengan senyum miris.


"Ma...." panggil Farah sembari mengelus punggung sang mama lalu memeluknya. "Farah sayang mama."


"Mama tahu."


Setelah mamanya keluar, dan Farah pun menuruti keinginan sang mama untuk pergi ke salon. Ia akan mandi dulu, tapi sebelumnya ia menghubungi nomor sang papa terlebih dulu.

__ADS_1


"Halo!" sapa papa di seberang. Hampir 10 menit lalu Farah mencoba menghubungi papanya, dan baru diangkat. Farah kesal dan ingin mengumpat sikap sang papa.


"Papa di mana?" tanyanya to the point Hubungan mereka tidak terlalu dekat, maka tidak perlu basa basi.


"Di apartemen, tepat sekali kamu menghubungi papa, nanti kita makan siang di restoran mall X. Sekarang papa masih ada urusan, papa tutup telponnya dulu."


Seperti itulah komunikasi keluarga ini sangat hambar. Tidak ada kedekatan antara ayah dan anak, atau suami dengan istri. Patokan sang ayah dalam hidupnya adalah aku masih bertanggung jawab kepada mereka (istri dan anak) dengan menafkahi, tapi jangan menuntut aku memberi hati. Sungguh tega. Tapi itu adalah ucapan seorang laki-laki yang sudah terlanjur menanggung kecewa.


"Ma..ma...!" teriak Farah sembari keluar kamar, belum sempat mandi dan pasti mamanya ngomel kalau acaranya ke salon batal.


"Ada apa? Loh kamu belum mandi?"


"Ma...kita ke salon setelah bertemu papa ya," pinta Farah.


"Maksud kamu?"


"Papa mengajak makan siang di restoran mall X," jelas Farah sembari memegang ponsel, menunjukkan log paggilan dengan sang papa yang berakhir beberapa detik lalu.


"Yang diajak kamu saja kan, bukan mama?"


Farah mematung. Bukan begini respon yang diinginkan Farah. Perempuan itu ingin sang mama antusias menyambut kedatangan sang ayah, tapi ini....seakan menolak bertemu sebelum diajak.


"Ma...plis, kita deept talk with papa."


"Percuma, Farah."


"Ma...plis!"


"Dengar kata mama, uruslah masalah kamu dulu, mumpung papa di Indonesia. Jangan peduli terhadap masalah mama dan papa karena sejatinya kami sudah sama-sama putus asa akan harapan yang tak mungkin terjadi."


"Ma....makanya itu.."


"Cukup Farah. Kamu saat ini harusnya sudah bisa berpikir, kalau saja papa kamu mau memperbaiki hubungan dengan mama tentu dia akan menginjakan kaki di rumah ini. Tapi nyatanya..."

__ADS_1


"Ma..."


"Tolong Farah, biarkan hubungan kami seperti ini. Selagi mama masih kuat dan tidak merusak hubungan dua keluarga." Mama Farah pun kembali ke kamar beliau, meneruskan bermake up untuk ke luar salon.


__ADS_2