JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
JANGAN ANGGAP


__ADS_3

"Menyesal saya minta maaf," ucap beliau dengan ketus. Memanggil salah satu karyawan food court untuk membereskan minumannya yang terjatuh. "Lebih baik kita pindah," ujar beliau angkuh. Namun segera ditarik oleh Mita hingga wanita itu hampir jatuh, maklum sudah terlalylu sepuh tapi bertingkah.


"Yang sopan dengan ibu mertua saya," sentak mama Farah tak terima dengan sikap Mita.


"Andai Anda bukan orang tua, sudah aku plintir tangan Anda!" ucap Mita tegas.


"Udah, Mit. Kita lebih baik makan!"


"Teman kamu yang jahat saja gak pa-pa, kenapa kamu yang sewot?" sindir nenek Sha. Beliau harusnya berkata baik, ingat umur. Tak baik kalau mengejek anak muda di depan umum, apalagi beliau yang tidak sengaja airnya tumpah di lengan Sha hingga tiket ke Bali pun basah.


"Teman saya jahat? Jahat yang bagaimana ya, Bu?" Mita tak terima, suara lancangnya pun menyebabkan beberapa orang menatap meja Sha.

__ADS_1


"Udah, Mita. Gak usah diladeni," tolak Sha yang gak mau berbuntut panjang. Karena kalau ia sampai dipermalukan, khawatir loss control dan berkata kasar.


"Hei...kamu gak bilang ke teman kamu yang sok baik ini, kamu anaknya pelakor itu!" sentak nenek Sha. Bahkan mama Farah kaget sang mertu membuka kedok di depan umum. Jangan tanya Sha, raut wajahnya menunjukkan kemarahan. Mita pun ikut khwatir bila Sha sudah dalam mode senggol bacok, apalagi menyangkut sang ibu.


"Anda boleh membenci saya, tapi jangan ibu saya. Anda menganggap saya jahat, lalu bagaimana putra Anda yang meninggalkan istri dan anaknya begitu saja, hingga anaknya sudah besar. Atau Anda lupa bahwa cucu Anda tidur dengan mantan pacar saya. Lalu sisi jahat saya di mana biar saya perbaiki."


"Kurang aja kamu!"


"Dan juga Anda Nyonya, tolong bawa pergi nenek Farah, agar jantung dan emosi beliau stabil."


"Kamu sangat pantas menjadi anak perempuan penggoda itu," lanjut beliau dengan penuh amarah. Bahkan mama Farah pun sampai memegang lengan ibu mertuanya, khwatir bicara keras lalu terjatuh, ouh jangan sampai.

__ADS_1


"Betul, dan saya sangat bangga tidak menjadi keluarga Anda. Ouh ya bilang kepada Tuan Arya yang terhormat, tak perlu memberikan harta kepada saya sebagai penebus rasa bersalah beliau yang telah menelantarkan anak istrinya selama 24 tahun. Suami saya sangat sanggup memberikan harta itu. Dari sini terlihat sekali kan bahwa anak Anda mencintai perempuan yang kata Anda kampungan dan tidak sederajat dengan Anda. Ingat, kami punya harga diri. Saya selalu diajari oleh Ibu saya, bersikaplah sopan pada semua orang. Kalau dia tidak menghargaimu cukup diam, lalu pergi. Buat mereka menyesal melakukan itu."


"Kamu...."


"Kita pergi, Mit. Yang waras ngalah," balas Sha melepas kesopanannya. Mita mengangguk, lalu mengambil tas keduanya dan hendak menuju kasir. Beberapa bisikan terdengar mengiringinya.


*Neneknya galak sih, gak salah perempuan itu. Emang si nenek tua yang gak bisa.


Kalau gue ada di tempat Mbak itu, mungkin geu lebih parah. Gue lempar tuh perempuan tua itu dengan botol air mineral.


Mbaknya gak sopan..

__ADS_1


Kasihan nenek itu kan, pasti malu di tempat umum eh kalah telak juga.


Semoga neneknya selalu sehat biar bisa mengumpat si mbaknya. 😛😛😛😛*


__ADS_2