
"Syad!" panggil mama saat Arsyad baru saja pulang pukul 9 malam. Setelah urusan dengan perusahaan konveksi beres, Arsyad sengaja menyambangi kantor start upnya, di sebuah ruko dua lantai yang masih ramai selepas isya. Ia mengobrol dengan Andra, teman kuliahnya yang diamanahi untuk mengontrol jalannya bisnis Arsyad di bidang ini. "Mama mau ngomong!" lanjut beliau yang diangguki Arsyad, namun pemuda itu meminta izin untuk membersihkan diri dulu.
"Ada apa, Ma?" tanya Arsyad yang sudah tampak segar dengan kaos rumahan. Ia membawa segelas coklat hangat untuk menemani diskusi dengan sang mama.
"Mama mau tanya, kamu udah punya pacar?"
Arsyad mengerutkan dahi, kedua orang tuanya tak pernah kepo masalah percintaan anak-anaknya, kenapa tiba-tiba membahas pacar?
"Pacar belum, yang ditaksir punya. Kenapa sih Ma? Tumben tanya-tanya!"
"Gimana ya mama ngomongnya, kamu gak curiga makan siang kemarin?"
Arsyad tersenyum tipis, tangannya masih menuang dengan hati-hati cokelat hangat dalam tatakan cangkir. "Mama mau bilang, Indah suka sama Arsyad."
Nyonya Ayu mengangguk, "Tapi mama gak bilang oke atau apapun kok. Mama cuma bilang, kalau kamu tidak suka perempuan yang agresif dan ambisus."
"Menurut mama?"
"Indah?" tanya Mama memastikan. Arsyad pun mengangguk.
"Ya cantik, baik, pekerja keras, berasal dari keluarga baik-baik, mandiri, anggun dan sopan. Duh kok baik semua ya, tapi mama lihat ya memang begitu."
"Memang, mama benar kok. Selama kenal dengan Indah, Arsyad pun menilai seperti itu.
__ADS_1
"Jadi kamu suka sama Indah?" ada sedikit kelegaan ketika Arsyad pun memiliki penilaian yang baik tentang Indah. Mungkin ia akan sangat setuju menjodohkan Arsyad dengan Indah.
"Menurut mama?"
"Enggak," sang mama sudah menebaknya, karena saat makan siang, Arsyad cenderung mengabaikan Indah dan fokus pada ponselnya. Kalau Arsyad suka pada Indah tentu akan intens bercengkrama, tapi ini tidak. Dan Nyonya Ayu melihat gelagat agresif Indah. "Apa karena dia jendes?"
"Hem..bisa jadi, tapi itu bukan alasan utama sih."
"Trus kenapa?"
"Hati aku gak milih dia," jawab Arsyad setengah meledek pada sang mama diiringi tawa, mungkin geli dengan mulutnya yang bisa puitis begitu.
"Kok bisa gak naksir? Bukannya kalian dekat ya, terlebih sekarang kerja sama juga?"
Arsyad merebahkan kepalanya ke paha sang mama, mulai fokus pada layar televisi. "Ya mana Arsyad tahu soal pilihan hati Arsyad."
Arsyad menggeleng, "Arsyad udah milik cewek buat masa depan Arsyad."
"Siapa?"
"Ada pokoknya!"
"Kenalin sama mama dong, siapa perempuan itu sampai bisa menaklukkan hati bungsu mama," rengek sang mama yang penasaran dengan gadia pujaan hati Arsyad.
__ADS_1
"Enggak ah, nanti mama cari tahu, trus berlagak pendekatan sebagai mertua. Dih...gak mau," tolak Arsyad dengan nada mengejek. Meski belum pernah terjadi, tapi Arsyad mampu menebaknya.
"Jahatnya, mama cari tahu itu biar kamu gak salah pilih. Biar tahu sifat di belakang kamu seperti apa, asal kamu tahu ya Syad, cewek kalau mau sama kamu kemungkinan ada dua alasan, yang pertama karena emang cinta sama kamu, dan yang kedua karena ingin mengejar uang kamu," info dari mama sebagai orang yang berpengalaman punya banyak pacar saat masih muda dulu.
"Tapi sayangnya anak mama ini dicuekin terus!" curhat Arsyad dengan manja, bahkan ia sampai bergelayut di lengan timpul sang mama.
"Maksudnya?"
"Ya cewek yang Arsyad suka gak naksir sama Arsyad, Ma. Kayak cinta bertepuk sebelah tangan gitu!"
"Masa' sih? Anak mama ganteng, kaya, dan pekerja keras loh, masa' gak naksir sih. Gak normal itu," mama sedikit emosi karena anaknya ditolak cinta.
"Sama seperti yang aku ucapkan, kalau hati tak memilihku, Arsyad bisa apa, Ma!"
"Emang dia cantik ya?"
"Banget!"
"Apa yang kamu suka dari dia, dibanding Indah yang jelas-jelas perempuan mendekati sempurna?" tanya mama penasaran. Bukan bermaksud membandingkan, tapi beliau ingin tahu karakter dan kepribadian gadis itu.
"Dia punya prinsip, cuek, cerewet, dan tidak ambisius. Dia tidak akan memperjuangkan sesuatu kalau dirinya sudah dikecewakan. Dan yang paling penting, dia gak mau punya hubungan dengan anak orang kaya dan tampan."
Nyonya Ayu tampak berpikir, "Emang ada ya perempuan kayak gitu, kamu bukan lagi mengkhayal kan?"
__ADS_1
"Iya mengkhayal bisa bobok sama dia, udah ah Arsyad mau istirahat!"
"Heiiiiii mengkhayal apa itu, awas kamu ya Syad!" ancam mama sembari melayangkan bogem ke udara, sedangkan Arsyad hanya terkekeh geli.