
"Kok kamu bisa gini sih?" tanya Arsyad heran ketika Sha tak berontak sama sekali saat dipeluk sang suami. Bahkan membalas pelukan Arsyad.
Sha mendongak menatap Arsyad, "Kan kamu udah halal buat aku, mau ngapa-ngapain mah oke!"
Arsyad tertawa lebar, Sha memukulnya. "Jangan keras-keras, ibu tidur tau."
"Manja," ledek Arsyad yang kembali menarik tubuh Sha untuk dipeluk. Ini adalah malam pertama baginya, tapi tak ada niatan untuk melalui malam pertama layaknya pengantin baru.
"Kamu sama Irsyad dulu juga gitu?"
"Gitu gimana maksudnya?" tanya Sha memastikan, dia sedang menata bantal di sofa untuk tidur malam mereka. "Kamu tidur di sana atau sini?" lanjut Sha menunjukkan bagian sofa.
"Jawab dong, Sayang!" Arsyad penasaran dengan gaya pacaran Sha dan Irsyad dulu. Khawatir saja kalau terlalu bebas, dirinya pasti ada rasa kecewa karena bukan yang pertama.
"Apa yang kamu pikirkan tentang aku dan Irsyad?"
"Kissing, pegangan tangan, atau mungkin pernah..."Arsyad tak kuasa meneruskan apa yang ia pikirkan."
"Pernah apa? Pernah tidur bareng?" tebak Sha dengan senyum merekah. Menggoda Arsyad sepertinya meringankan beban pikiran Sha.
Arsyad mengangguk, "Secara kamu dan dia pacaran lama loh, kredit sepeda motor aja kalah," sindir Arsyad harap-harap cemas.
Sha tak bisa menahan tawanya lagi, namun langsung membekap bibirnya. Arsyad sudah cemberut, dan kembali mengambil ponselnya. Berniat mengalihkan bayangan Sha bermesraan dengan Irsyad. Beginilah kalau punya istri yang latar belakangnya memiliki mantan cukup lama. Namun, Arsyad juga harus menerima setiap orang punya masa lalu, dan perjalanan hidup tak selalu baik. Selagi dalam berumah tangga selalu menjaga kesetiaan, kenangan masa lalu tak perlu diungkit.
Sha mendekat memeluk Arsyad, menempelkan kepalanya di lengan sang suami, "Percaya gak kalau aku hari ini bahagia?" ucapnya kemudian menatap wajah Arsyad.
Bos ganteng itu balik menatap sang istri, tapi diam. "Meski awalnya aku ingin menolak permintaan ibu, tapi kembali lagi hatiku selalu meyakinkan bahwa mungkin inilah jalanku mendapat pasangan yang baik. Bukannya pilihan Allah itu adalah yang terbaik untuk kita, meski situasinya tidak sesuai dengan ekspektasi kita."
"Terus?" Arsyad masih cuek.
Sha meminta Arsyad bersila berhadapan dengannya, bahkan Arsyad kaget dengan agresifnya Sha. Wah kalau sikapnya kayak gini, tentu dia berpengalaman dong. Masih negatif thinking rupanya.
Ditambah, Sha tiba-tiba mengalungkan tangannya pada leher Arsyad, dan tunggu.. gadis itu mengecup sekilas bibir Arsyad. "Kamu adalah yang pertama mencium bibirku, dan kamu juga pasti yang pertama mendapat kegadisanku. Percayalah, meski aku dulu bersama Irsyad lama, tapi aku masih menjaga batasan dalam berhubungan, kecuali pelukan dan cium pipi. Percaya?"
Arsyad mulai tersenyum, "Alhamdulillah," ucapnya. "I love you," ucapanya kembali mencium sang istri, tentu Sha masih diam, tidak membalas, dia belum terbiasa dan ditengah ******* Arsyad tersenyum, ia percaya bahwa dirinya yang pertama untuk Sha.
Sha mendelik saat keduanya sudah merebahkan diri di sofa. "Aku ingin mencium kamu doang, gak mungkin belah duren di sini, aku masih waras sayang," bisik Arsyad paham dengan ekspresi Sha.
Keduanya pun larut dalam kemesraan, bilangnya memang hanya kissing saja, tapi nyatanya tangan lelaki itu tak bisa diam, menyentuh bagian sensitif Sha dengan lembut, bahkan Sha pun sampai memejamkan mata, sangat menikmati.
__ADS_1
"Kamu gak pa-pa?" tanya Sha yang bisa merasakan bagian bawah Arsyad sudah mengeras, sangat terasa di paha Sha.
"Pa-pa lah, nahan sampai entah kapan!" ujar Arsyad sembari menjauhkan diri dari Sha. Tentu gadis itu tersenyum.
"Maaf ya, belum bisa melayani kamu," ucap Sha sembari memegang pipi bos gantengnya ini.
Arsyad menggeleng, namun beberapa detik kemudian menatap Sha dengan seringai licik, "Mau pegang?"
"Pegang apa?" tanya Sha sembari mengerutkan dahi. Arsyad tersenyum lalu menatap tubuh bagian bawahnya.
"SYaaaaaddd!" ucap Sha sembari memukul lengan sang suami. Arsyad tertawa.
"Pegang doang luarnya aja deh," bujuknya sambil menahan tangan Sha, pura-pura menarik tangan sang istri ke bagian itu. Sha menolak keras. Arsyad tertawa.
"Gak mau!"
"Ayolah," rayu Arysad dengan jahilnya.
"Gak mau Syad!"
"Eh...ganti panggilan kamu," titahnya masih menahan tangan Sha.
"Mau dipanggil apa?"
"Arsyad!"
"Enak aja, gak sopan!"
Sha tertawa. "Terus mau dipanggil apa dong!"
"Inisiatif dong sayang!"
"Mas!"
"Gak mau, pasaran banget. Apalagi kalau kamu ngajak aku, pasti kamu bilang Mari Mas. Aku ini suami mu, bukan minuman sachetan!"
Sha semakin tertawa pelan, "Gak bisa mikir aku kalau spontan gini."
"Ck...apa kek!"
__ADS_1
"Hem..." Sha berpikir. "Oppa?" tawarnya, lagi -lagi Arsyad menggeleng.
"Aku masih muda, Sayang!"
"Ya terus apa, Mas gak boleh, Oppa gak mau, ribet amat."
"Kamu yang gak inisiatif," giliran Arsyad kembali sewot-sewot manja.
"Dih....udah inisiati juga!"
"Ayolah Sayang, kamu mau panggil aku apa?" rengek Arsyad, benar-benar menunjukkan betapa manjanya anak bungsu.
"Ya udah aku panggil Bi aja," jawab Sha menyerah.
"Bi? Kepanjangannya apa? Bukan babi kan?"
"Astaghfirullah, bukanlah. Masa' suami sendiri dipanggil babi, aku gak sesadis itu kali. Bi itu kependekan dari habibi, artinya kekasihku."
"Bahasa apa?"
"Arab!"
Barulah Arsyad tersenyum, lalu menarik tubuh Sha untuk tidur berhimpitan. "Sempit, Bi!" tolak Sha karena ia sudah membagi bagiannya untuk tidur.
"Biarin aja, aku pengen tidur sambul peluk kamu. Kan kita tidur miring, cukup-cukup." Seperti biasa, Arsyad akan memaksa sampai Sha mau.
Keduanya tidur berhimpitan, Arsyad terus memeluk Sha, sembari mencium tengkuk leher sang istri. Keinginan untuk menyentuh sang istri lebih memang ada, tapi sebisa mungkin menahannya.
Sedangkan Sha, ia tidak mau menolak keinginan Arsyad, mau bagaimana pun Sha memang penurut. Apalagi Arsyad adalah suaminya. Permintaan sederhana yang ingin tidur memeluknya pun dikabulkan. Keduanya tak ada rasa canggung berlebih layaknya pengantin baru pada umumnya, karena mereka sudah dekat sebelumnya sebagai teman dan rekan kerja.
Tepat jam 2 pagi, Arsyad terbangun. Tangannya terasa kesemutan, wajar. Sha menjadikan lengan Arsyad bantal. "Kenapa?" tanya Sha yang merasa ada pergerakkan Arsyad.
"Tanganku kesemutan!" ujarnya pindah ke sofa yang kosong. Sha pun mengangguk, ia mau pmemejamkan mata lagi tapi mendengar suara dengkuran yang lumayan keras. Apa iya Arsyad mendengkur. Perasaan sejak tadi ia tidak mendengar dengkuran.
Sha pun mengecek sang ibu, heran juga, karena kemarin beliau tidak pernah tidur nyenyak dan mengeluh sulit bernafas. Namun malam ini berbeda, beliau sangat nyenyak tidurnya, dan tidak bangun hingga dini hari. Sha menatap beliau, meneliti suhu tubuh dan cukup kaget ketika suara dengkuran berasal dari nafas ibu.
"Kenapa sayang?" tanya Arsyad yang melihat Sha mendekatkan telinganya pada tubuh ibu. Ia belum terpejam dengan sempurna, sempat melihat Sha berjalan ke arah sang ibu.
"Nafas ibu kok kayak gini ya?" Sha sudah cemas. Khawatir kondisi ibu drop atau bagaimana. Arsyad segera mendekat, mengecek suhu tubuh normal, namun membenarkan kalau ada yang tak beres dengan pernafasan sang ibu mertua.
__ADS_1
"Sebelumnya pernah kayak gini?" tanya Arsyad.
Sha menggeleng, "Panggil suster jaga aja Sayang," ucap Arsyad sembari menekan tombol panggilan darurat.