JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
MENANGIS


__ADS_3

*Kamu yang merebut suamiku.


Kamu hanya masa lalu yang tak perlu diingat.


Sadar diri kamu punya anak perempuan jangan menjadi pelakor


Hey tahu kah kalian perempuan ini menjadi perusak rumah tanggaku, mengambil perhatian suamiku.


Mbak Sha aku gak nyangka kamu seperti itu.


Sha kamu munafik


Sha kamu bisa cari laki-laki lain


Ayah tak menyangka kamu dididik oleh ibu mu menjadi seorang pelakor*.


"Tidaaaaak!" teriak Sha langsung bangun tidur, keringat sudah menjalar di pelipis dan sebagian tubuhnya. Sungguh cerita ibu sebelum tidur tadi malam begitu masuk ke dalam alam bawah sadar Sha.Tentang ayah, tentang Irsyad dan tuduhan orang lain padanya membuat alam bawah sadar Sha tertekan. Meski secara penampilan Sha baik-baik saja.


"Astaghfirullah," ucapnya dengan nafas memburu.


Drt...drt....


Sha menoleh pada ponsel yang bergetar. Ia mengambilnya berusaha mengalihkan dari mimpi tadi. "Iya, Syad?" jawab Sha pada panggilan Arsyad.


"Nanti kalau sampai kantor, tolong buka laci meja kerjaku, di sana ada berkas bermap biru tolong kirimkan desain baju yang ada di situ. Makasih."


"Iya, " jawab Sha.


"Kamu kenapa Sha?"


"Enggak pa-pa, aku mau siap-siap dulu."


"Oke. Aku tunggu jangan sampai jam 10 ya."


"Iya bawel."

__ADS_1


"Mau bikin clothing line tapi desain bajunya gak dibawa, aneh," gerutu Sha lalu beranjak ke kamar mandi.


Saat Sha hendak berangkat kerja, ia melihat sang ibu yang berkutat dengan para pelanggan. "Sha berangkat, Bu!"


"Iya!" jawab ibu sembari menyambut tangan Sha, salim.


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi Sha," pinta Sha penuh maksud. Dan ibu hanya mengangguk sangat paham arti ucapan Sha.


Sejenak Sha melihat di sekeliling rumah, tak ada yang mencurigakan, Sha masih berpikir kalau kedatangan sang ayah akan mengintai rumahnya terus.


Sepanjang jalan menuju kantor Sha terus berpikir Sebenarnya apa yang terjadi. Ia ditinggal nikah, bertemu Arsyad, dianggap pelakor dan kini sang ayah datang. Sungguh otak Sha tidak bisa berpikir jernih, belum bisa menerka apa yang akan terjadi. Ya iyalah Sha bukan dukun.


"Kira-kira kalau aku bertemu pria itu bagaimana ya?" hati Sha terus memikirkannya. Bohong kalau dia bilang tidak peduli atau tidak penasaran. Karena sejak bercerita dengan ibu, dalam hati kecilnya ingin bertemu sang ayah. Ingin bertanya kenapa harus memberikan kisah pahit pada masa kecilnya dulu sehingga ia tidak bisa percaya pada laki-laki.


Ya Allah, salah kah bila anak gak mau menemui ayahnya. Aku hanya manusia biasa ya Allah, aku juga bukan pemaaf ya Allah.


Sha pun menangis di atas motor, berusaha fokus di jalan namun pergulatan batin tentang seorang ayah terus terjadi.


Begitu sampai di kantor, ia tak banyak mengumbar senyum, bahkan bertemu Diva saja ia hanya melambaikan tangan saja. Di meja kerjanya, ia mengusap lelehan air mata yang tersisa dan terciduk oleh Danu.


"Habis nangis, Pak Danu. Soalnya lagi tanggal tua," ujarnya menimpali candaan Danu. Ia pun segera masuk ke ruangan Arsyad, melakukan apa yang diperintahkan Arsyad tadi pagi.


Sha membuka map biru tersebut, dan memang ada desain baju clothing line yang dirancang tim Arsyad. Mungkin ini desain cadangan hingga luput tidak dibawa.


Drt..drt....ponsel Sha bergetar, ia baru saja akan memindai desain sesuai permintaan Arsyad, eh malah bos ganteng itu yang tidak sabar hingga melakukan panggilan video.


"Assalamualaikum wr wb, Syad. Bentar napa, ini lagi aku scan," ceplos Sha bahkan sampai lupa panggil Pak di wilayah kantor.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Arsyad to the point. Dia baru selesai mandi, dan mendengar pesan masuk dari Danu. Mengatakan kalau Sha lagi menangis.


"Aku gak nangis, Pak. Aku lagi scan desain yang bapak minta!"


"Tapu kata Danu..."


"Pak Danu aja yang lebay, orang lagi usap mata pakai tisu udah diaduin. Segitunya sih..." sewot Sha yang tak suka dengan sikap Danu.

__ADS_1


"Bukan dia yang lebay, tapi emang aku yang kasih perintah agar dia awasin kamu."


"Kamu gak usah overprotect gitu kali Syad," mood Sha sedang tidak baik, inginnya tuh orang di sekitarnya tak perlu tanya kenapa menangis dan sikap yang over. Karena Sha sendiri sudah terbiasa menangis dalam diam sejak kecil malah.


"Iya, maaf. Aku cuma khawatir."


"Cewek menangis itu biasa, lagi capek, lagi badmood, lagi seneng juga gampang nangis."


"Iya. Aku paham," Arsyad mengalah saja, dari nada bicara Sha ia tahu kalau memang gadis itu sedang tidak baik. Lebih baik ia segera menyelesaikan urusan di sini agar melihat langsung keadaan Sha.


Benar saja, setelah mengerimkan scan desain. Arsyad tak mendapat balasan dari Sha. Kata Danu Sha sedang fokus bekerja menghadap laptop. Saat makan siang pun Sha terlihat makan siang bersama anak keuangan dulu. Catatan pentingnya, senyum Sha tak lagi seceria biasanya. Sungguh Danu sangat handal memberikan laporan.


Arsyad sudah tak sabar mendengar kabar Sha, usai sholat maghrib ia segera melakukan panggilan video pada Sha. Beruntung langsung diangkat. Gadis cantik itu masih mengenakan mukenah, sangat cantik.


"Ada apa?" tanya Sha jutek, ia tahu lah Arsyad bakal mengintrogasi keadaannya hari ini.


"Gadis sholehah, salam dulu napa!" protes Arsyad yang masih mengenakan kemeja, sepertinya bos ganteng itu baru saja sampai hotel.


"Iya Assalamualaikum," balasnya jutek.


"Duh...kalau jutek gitu makin sayang nih," goda Arsyad mencairkan suasana, ia melihat mata Sha yang agak sayu, mungkin saja habis nangis.


"Apaan sih, Syad. Lo kalau mau ngegombal bukan sekarang, gue mau ngaji."


"Iya, bentar dulu habis ini gue juga mau mandi. Sha lo anggap gue teman hidup lo kan?"


Sha hanya memutar mata bola malas, teman teman aja gak usah ditambahi teman hidup juga. "Teman dan bos aja, kenapa sih?" jengkel sudah Sha.


"Lo lagi ada masalah kan? Gue siap jadi pendengar masalah loh, Sha."


Sha terdiam, sontak matanya berkaca-kaca. Hidung mungilnya memerah, dan Arsyad menatapnya intens. "Jangan nangis dulu napa Sha."


"Ya emang gue pengen nangis, Syad. Emang bisa ditahan!" sewotnya sembari menyeka air mata dengan helaian mukenahnya.


"Kayaknya bakal lama ini, oke gue mandi dulu, Sholat habis itu gue video call lagi. I love you!" beginilah Arsyad, seenak jidatnya saja ia main tutup panggilan, Sha sudah terlanjur menangis malah ditinggal. Sungguh menyebalkan. Namun Sha tiba-tiba tersenyum tipis, kalau saja itu Irsyad pasti akan menunggu Sha sampai selesai bercerita. Tak peduli dia belum sholat apa belum, pokoknya bagi Irsyad, Sha nomor satu.

__ADS_1


Kenapa gue harus bandingkan kalian sih. Jelas beda lah, dan gue harap Arsyad selalu menjaga sholatnya. Thanks Arsyad ...setidaknya lo bisa mengalihkan sedihku. Batin Sha sebelum membuka mushaf Al-Qur'an.


__ADS_2