
"Emang Mita gak kerja ya?" tanya Arsyad tak terima istrinya kembali di monopoli sang sahabat saat makan siang. "Aku mau kita makan bareng loh."
"Ya udah ikut kita gimana?" tawar Sha yang baru saja menerima pesan dari Mita diperbolehkan membawa suami posesifnya.
"Makan siang atau lanjut jalan?" tanya Arsyad yang sangat paham kebiasaan Mita kalau mendapat izin hang out.
Sha tertawa, sang suami sangat paham dengan jalan pikiran Mita. "Katanya sih makan siang lanjut cari kain buat bridesmaid begitu."
"Pasti lama," sesal Arsyad yang memiliki jadwal padat setelah makan siang. Ingin membawa Sha ke meeting tapi sudah ada Danu dan bahan meeting sudah disiapkan Sha dengan rapi. Sepertinya dia sudah menyiapkan kalau mau hang out dengan Mita hari ini.
"Ya udah sih, aku keluar sendiri aja."
Arsyad menggeleng, "Punya suami itu jangan keseringan pergi sendiri."
"Kenapa? Kan enak aku mandiri, gak ganggu pekerjaan kamu."
Arsyad merangkul pundak Sha, hendak menemani makan siangnya saja. "Jangan biasakan wanita untuk mandiri, karena selagi wanita itu mandiri dia tidak akan butuh laki-laki. Lagian suami itu bangga loh diandelin sama istrinya, karena dengan itu seorang suami dihargai keberadaannya."
Sha mencoel dagu Arsyad, "Manis banget sih suami aku," goda Sha dengan penuh bangga. Keduanya pun menuju restoran sesuai keinginan Mita. Arsyad menyetir sendiri, beruntung lokasi makan siang tak jauh dari kantor.
"Gak sibuk, Pak?" sindir Mita saat pasangan suami istri itu datang. Sha hanya tertawa karena tahu Mita menyindir sang suami.
__ADS_1
"Sibuk, tapi demi istri apa sih yang enggak!" balas Arsyad menunjukkan bahwa ia sangat menyanyangi sang istri sampai lebih memilih meninggalkan pekerjaan. Padahal saat ini jam istirahat memang.
"Heleh....palingan habis ini juga Sha ditinggal," balas Mita.
"Benar sekali," jawab Arsyad dengan mengangkat jempol. Sha hanya tertawa, ia pun tak mununtut ditemani Arsyad, sangat paham dengan kesibukkan suami.
Arsyad pun menjabat tangan calon suami Mita, keduanya tampak langsung akrab dengan obrolan seputar bisnis. Tak lama menu makan siang pun datang.
"Syad, lo ikutkan ke nikahan gue? Jangan bilang lo gak bisa ikut terus gak kasih izin ke Sha. Istri lo jadi bridesmaid gue nih," celoteh Mita saat semua orang sudah selesai makan.
Arsyad yang baru saja mengelap bibirnya dengan tisu menyeringai jahil, mumpung ada calon suamu Mita. Dikerjain boleh kali. "Gimana ya? Kamu gak kasih aku tiket loh, Mit!"
"Ck...gini aja ngaku sahabat preet!"
"Sha suami lo menyebalkan sekali," adu Mita dengan kesal. Sha hanya melirik kesal pada sang suami, apaan pura-pura mikir. Begitu dikabari Mita kasih tiket buat ke Bali. Arsyad langsung pesan tiket kelas bisnis untuk dirinya dan Sha. Bahkan Arsyad sudah mengosongkan jadwalnya selama 5 hari, nikahan sahabat plus bulan madu, kata Arsyad.
"Udah deh, Bi. Jangan bikin mood Mita rusak. Mau cari bahan buat seragam nikahan nih," omel Sha sembari menepuk lengan Arsyad.
"Biar saya pesankan tiket untuk Pak Arsyad," lah si calon suami Mita dengan baiknya menawarkan tiket itu. Ketiganya mendadak melongo dan menatap calon suami Mita.
"Eh gak usah, Pak Raffy. Suami saya bercanda, kami sudah pesan tiket kok. Dan tiket dari Mita sayang udah mubadzir."
__ADS_1
"Lah kagak ngomong, tahu gitu gue cancel Sha," protes Mita yang langsung mendapat tonyoran dari Sha, reflek.
"Pelitnya masyaAllah teman gue," ceplos Sha. Arsyad hanya menggelengkan kepala begitu absurdnya teman-teman SMA nya ini. Dihadapan pasangan masing-masing saling tonyor, gak sadar umur. Sangat absurd dan tak jaim, sialnya salah satu teman SMAnya yang absurd ini juga istri Arsyad, malah cinta banget lagi.
Lewat makan siang, Arsyad harus pamit balik ke kantor. Menitipkan Sha dengan segala kalimat overprotektif pada Mita. Tak lupa kecupan bibir diberikan Arsyad sebelum mereka berpisah.
"Gak nyangka Arsyad sebegitu cintanya pada Sha, padahal nih mereka dulu sebangku. Gak ada tuh saling gombal atau menunjukkan rasa suka. Malah sering cekcok!"
"Ya kan semua bisa berubah sayang, bisa jadi Arsyad sudah menyukai Sha, hanya saja dia tak mau merusak persahabatan, atau karena Sha sudah punya pacar."
"Ih calon suamiku pinter banget nebaknya, memang benar keadaannya kayak gitu. Kok bisa pas sih nebaknya. Aku jadi ragu nih, kamu beneran calon suamiku atau dukun," ledek Mita lalu terkekeh. Raffy hanya menggelengkan kepala, kok bisa ia jatuh cinta dan mau menikahinya, konyol abis. Kok bisa juga jadi dokter?
"Udah selesai pamitannya?" sindir Mita lalu mencibir.
"Udah. Gak usah mencibir gitu, gue yakin lo nanti pasti lebih bucin dari gue," ledek Sha.
"Kita gak mungkin gitu ya, Sayang?" Mita mencoba meminta dukungan pada Raffy tapi ternyata sang suami hanya mengangguk saja. Tanpa ekspresi pula. Sha sampai tertawa, tak bisa membayangkan sahabatnya yang pelawak mendapat suami yang kelihatannya anteng dan datar. Sangat menggemaskan pasti.
"Ah kamu Sayang, cuma ngangguk doang. Udah ayo buruan kita ke outlet kain. Sha kira-kira untuk bridesmaid cocok warna apa?" tanya Mita yang langsung menggandeng tangan Sha tanpa mengajak calon suami, Raffy hanya mengekor tanpa protes. Beruntung sekali Mita mita calon suami sabar begitu.
Semoga lancar nikahannya ya, Mitaaaa
__ADS_1