JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
PENGGANGGU


__ADS_3

"Aku mau tidur sama Tante Sha-Sha," ujar Mikayla, anak kedua Akbar-Mutia, adik Rafly yang berusia 4 tahun. Gadis kecil itu merengek kepada sang mama agar diizinkan tidur dengan tante barunya. Mutia gak enak dong, apalagi melihat decakan sebal dari Arsyad.


Sebenarnya tadi saat Mikayla bermain dengan Oma, lirikan matanya terus menatap Sha dengan sinis. Ia gak suka kalau Om Acadnya punya pacar, katanya nanti Om Acad gak belikan aku boneka lagi. Dia begitu sinis dan tak mau berkenalan dengan Sha. Semakin sinis kala Rafly mencium pipi Sha, semakin meradang saja gadis kecil itu karena perhatian sang kakak untuk perempuan baru di keluarga sang oma.


Tapi, kesinisan luntur begitu saja saat Mika melihat nasi liwet, ia tak pernah melihat sajian nasi seperti itu. Apalagi harum daun jeruk begitu mengusik indera penciuman Mika. "Aku mau itu," tunjukknya pada sang mama. Mutia tanya pada Sha pedes apa tidak? Mika memperhatikan interaksi sang mama dan perempuan itu. Sha bilang kalau nasi liwetnya gak pedas, cabe-cabe dalam nasi liwet itu hanya sebagai pemanis saja.


Oke Mutia pun mengambilkan secentong nasi liwet di piring Mika, ditambah tempe goreng saja.


"Gimana?" tanya Mutia yang tetap saja khawatir kalau pedas. Sha pun begitu antusias dengan jawaban Sha, karena ia ingin menarik perhatian sang ponakan yang masih sinis padanya itu.


"Siapa ini yang masak, Oma?" tanyanya dengan suara khas anak kecil. Mutia deg-deg an kalau sang putri berbicara aneh-aneh.


"Kenapa?" tanya oma penasaran.


"Kok enak," jawabnya yang langsung lahap menyendokkan nasi. Jangan lupakan tangan kirinya memegang tempe goreng.


"Aku juga mau dong, Ma. Nasi itu," pinta Rafly tak kalah rempongnya. Padahal nasi putih sudah di atas piringnya.


"Abang, kenapa tiru aku."


"Siapa yang tiru kamu, Abang cuma mau merasakan masakan tante Sha yang cantik," ujar Rafly yang langsung mendapat suara deheman Arsyad. Percayalah meja makan malam itu ramai karena celotehan anak-anak Akbar. Oma dan Opa terus mengompori Mika dan Rafly agar menyanyangi Tante Sha, karena perempuan itu sekarang menjadi anggota keluarga oma dan opa. Keduanya mengangguk patuh.


Saking patuhnya, setelah makan malam dan sholat isya berjamaah. Tiga bocil dari keluarga Akbar menempel pada Sha. Yang berusia 2 tahun bernama Akmal malah minta ditepok bokongnya dengan minum susu di dot. Memang ketiganya plus Sha sedang duduk di karpet bulu di ruang keluarga, niatnya lihat pororo tapi apalah daya Mika dan Rafly minta ditemani Sha menggambar.


"Sayaaaanggg!" rengek Arsyad yang dicuekin istrinya. Ia menempelkan kepala di lengan Sha yang sedang mewarnai. Mika sebenarnya sudah menguap beberapa kali namun ditahan.


"Incess, kamu udah ngantuk gitu?" bujuk Arsyad agar Mika segera minta tidur bersama emak bapaknya.


"Aku mau tidur sama Tante Sha-Sha," ujarnya membuat Arsyad gelagapan. Apaan ini, bocil main merusak suasana malam pengantin baru malam ini? Oh tidak bisa. Jangan harap kau incess Mika. Meski Arsyad sayang sama kamu, tapi bukan berarti mengizinkan kalian menguasai bini gue, batin Arsyad protes.

__ADS_1


"Ya ma? Boleh kan?" ucapnya dengan mata 5 watt.


Arsyad menggeleng, sedangkan Sha sudah siap mengangguk namun dipelototin Arsyad. Mutia tahu gelagat Arsyad, dia juga tak mau mengganggu pengantin baru itu. Tak enak hatilah. Ia pun membujuk Mika agar tidur di kamar mereka saja. Tante Sha capek mau istirahat. Namun gadis kecil itu tetap menggeleng, malah mau menangis. Oma dan Opa ikut memberi saran agar biarkan saja tidur ikut Sha.


"Gak bisa ya, Pa!" tolak Arsyad menahan kesal.


Sha hanya diam, biarlah urusan tidur diputuskan bersama. Kok jadi serumit ini sih cuma tidur doang aja loh.


"Bisa kali, Syad. Kamu tega sama Mika yang udah ngantuk gitu, cuma sebentar habis itu pindahin ke kamar Akbar. Gitu aja loh."


"Ma...." rengeknya minta pembelaan kepada sang mama.


"Benar apa kata papa, Syad. Cuma bentar aja loh, gak pa-pa kan Sha?" pinta mama yang tak tega cucunya sudah menangis, karena Mutia masih membujuk Mika.


"Bo---"


"Sayang!" tolak Arsyad dengan menggeleng.


Anak bontot dibujuk dengan hobi barunya pun langsung luluh, "Janji ya?" ucap Arsyad akhirnya setuju meski agak kesal. Sha pun mengangguk.


Sha pun menggendong Mika, eh baru juga berdiri. Rafly menahan kaki Arsyad, dengan wajah polosnya, Rafly mendongak "Aku ikut tidur juga di kamar Om Acad sama Tante cantik," pintanya sok manja.


Arsyad menghela nafas berat, "Iya!" ucapnya diiringi gemeretak gigi. Penghuni rumah pun tertawa dengan sikap Arsyad.


"Maaf, deh Tot!" ucap Mutia tak enak hati.


"Akomodasi labuan bajo," pinta Arsyad pada sang kakak. Mutia mah langsung menoleh ke Akbar, sedangkan Akbar hanya bilang. "Uang lo lebih banyak dari Abdi Negara." Arsyad kembali melengos. Gak anak gak bapak ngeselin.


Kamar pengantin baru didatangi oleh makhluk bocil yang habis cuci kaki dan berganti piyama langsung memeluk tante barunya. Arsyad sudah tahu kelanjutan dari datangnya bocil-bocil di kamarnya, mereka akan sok manja dengan istrinya. Daripada semakin kesal, Arsyad memilih kerja saja dengan laptopnya.

__ADS_1


"Om Acad gak ikut tidur sama tante Sha juga?" tanya Mika.


"Engggaaaakk, tantemu buat kamu ajaaaa. Om biar disayang laptop," ucap Arsyad kesal. Mika, Rafly dan Sha di atas kasur hanya tertawa.


"Awas ya tante gak boleh bohong, habis itu siap dibolak balik," sahut Arsyad dengan seringai jahat. Sha gelagapan karena tatapan Mika dan Rafly mengarahnya.


"Tante dan Om Acad mau main game?" tanya Rafly polos.


"Enggak, Bang. Tante mau main guling tikar, iya kan Tan?"


"Hah? Ouh game di laptop aja!" jawab Sha dengan senyum canggung.


"Aku boleh ikut, aku pintar nge game loh, Tante!" sahut Rafly, duh Sha rasanya ingin tepok jidat aja. Meladeni pertanyaan anak kritis begini banget rasanya. Semua gara-gara Arsyad.


"Ouh mau ikutan nge game, boleh. Biar om Acad gak bisa bolak balik gamenya," oke Sha mau balas dendam. Siapa suruh memancing pikiran suci anak kecil. Rasain.


"Sayang...."


"Ayo ambil laptopnya Om Acad, nanti Tante tunjukkan."


Arsyad langsung menutup laptop itu, dan beranjak ke kasur, ikut bergabung dengan krucil-krucil itu. Menggelitiki mereka yang masih tanya jenis game apa yang akan dimainkan oleh Om dan Tantenya ini.


"Game orang dewasa, pokoknya!" Sha menepuk lengan Arsyad yang masih saja menjawab ambigu buat otak anak kecil.


"Iya apa, Om?" desak Mika ikut penasaran.


"Tanya sama papa kamu nanti," pinta Arsyad gemas. Kuwalahan juga dengan pertanyaan mereka.


"Kenapa harus tanya papa, papa gak suka game!" sahut Rafly.

__ADS_1


"Papa kamu suka game sampai bikin perut mama kamu buncit gitu," semakin tak jelas jawaban Arsyad hingga Sha melotot tak suka.


"Biiiiiiiii!" sentak Sha agar Arsyad berhenti membahas game.


__ADS_2