Kaisar Dewa Kristal

Kaisar Dewa Kristal
Chapter 116 Ranah Kaisar Dewa Alam


__ADS_3

Sebelum mengambil semua mutiara yang ada di gunung itu, Ling San memasang formasi cermin di wilayah gunung itu terlebih dahulu agar tidak ada yang melihatnya.


Wuuusssssss


Ling San lalu memasukkan air spiritual Bumi terlebih dahulu kedalam cincin dimensinya.


" Sekarang, bagaimana caranya aku mengambil semua mutiara yang ada di dalam perut gunung ini?" Tanya Ling San.


Booooommmmm


Ling San lalu membentuk sebuah tapak kristal raksasa, lalu dia menghantamkan tapak itu ke gunung. Dia melakukan itu hingga seluruh gunung itu hancur menyisakan jutaan mutiara Bumi.


" Awalnya hanya iseng-iseng saja. Ternyata tapak kristal menghancurkan gunung ini." Ucap Ling San.


" Sekarang tinggal aku masukkan kedalam cincin dimensiku." Ucap Ling San lalu memasukkan semua mutiara bumi yang ada di hadapannya kedalam cincin dimensinya.


" Saatnya naik tingkat." Ucap Ling San lalu masuk kedalam cincin dimensinya.


" Aku lupa, jika buah-buah abadi dan buah nirwana berserakan di kebun." Ucap Ling San.


Wuuusssss


Wuuusssss


Wuuusssss


Ling San lalu membuat 4 bayangan dirinya sendiri. Dia menyuruh bayangannya itu untuk mengumpulkan buah-buah yang berserakan di kebun buah.


Ling San lalu mengeluarkan cincin ruang milik Wou Yang. Lalu, dia memasukkan mutiara bumi kedalam cincin ruang tersebut.


Wuuuussss


" Tugasmu, masukkan buah-buah abadi dan buah nirwana kedalam cincin ruang ini" Pintah Ling San kepada bayangannya.


" Baik." Jawab bayangannya itu lalu mengambil cincin ruang itu lalu melesat ke kebun buah.


" Ah, saatnya berendam di air spiritual Bumi." Ucap Ling San lalu melesat menuju ke tengah-tengah dimensi cincinnya. Apapun yang dia masukkan kedalam cincinnya, maka benda itu akan berada ditengah-tengah dimensi cincin.


Sesampainya disana, Ling San lalu membuka pakaiannya lalu berkultivasi ditengah-tengah kolam itu.


Wuuuusssssss


Wuuuuuusssss


Wuuuusssssss


Wuuussssssss


Benang-benang energi terserap kedalam tubuh Ling San. Energi itu menyebar ke seluruh sendi, tulang, dan syaraf Ling San.


Energi itu terus terserap kedalam tubuh Ling San dengan ganas seperti sebuah lubang hitam yang menyerap apapun yang ada didekatnya.


Satu bulan kemudian...


Booooommm


Boooommmm

__ADS_1


Booooommmm


Booooooommmm


Booooommmm


Booooommm


Boooommmm


Booooommm


Booooooommm


Booooooommm


Boooommmmm


Tujuh belas kali ledakan teredam terdengar dari dalam tubuh Zilong, yang menandakan jika kultivasi Ling San naik tujuh belas bintang. Kini, kultivasi Ling San menerobos keranah Kaisar Dewa Alam bintang 2. Kini, kultivasi Ling San setara dengan kultivasi milik tetua sekte Phoenix.


Walaupun begitu, Ling San belum mengakhiri kultivasinya. Karena energi yang ada di air spiritual Bumi itu belum terserap habis.


Wuuuuuusssss


Benang-benang energi terus terserap kedalam tubuh Ling San, walaupun tidak sebanyak sebelumnya, tapi energi yang tersisa di air spiritual dapat meningkatkan kultivasi Ling San sebanyak 4 sampai 5 bintang.


Lima hari kembali berlalu...


Boooommm


Boooommm


Boooommm


Lima kali ledakan teredam kembali terdengar dari dalam tubuh Ling San yang menandakan jika kultivasi Ling San naik sebanyak 5 bintang atau naik keranah kaisar Dewa Alam


Bintang 7.


Beberapa saat kemudian, Ling San membuka matanya dan mengakhiri kultivasinya. Dia sangat senang karena kultivasinya berhasil menerobos keranah Kaisar Dewa Alam bintang 7.


" Aku akan menyerap mutiara-mutiara bumi ini lain kali." Ucap Ling San.


" Bagaimana tugas kalian?" Tanya Ling San.


" Sudah selesai." Jawab Kelima bayangan Ling San lalu memberikan cincin ruang kepada Ling San lalu kelima bayangannya menghilang.


" Kalau aku sudah memiliki kekuatan aku akan membuat membuat dimensi di dalam cincin ini." Ucap Ling San lalu keluar dari cincin dimensinya.


" Mari kita lihat apa yang terjadi di klan Wang." Ucap Ling San sambil berjalan-jalan di sekitaran klan Wang


" Hm, apakah kau tahu tentang ledakan yang terjadi beberapa saat yang lalu?" Tanya Wang Tang


" Memangnya kenapa?" Tanya Wang Sin.


" Semenjak ledakan itu terjadi, mutiara-mutiara aneh bermunculan diwilayah gersang klan Wang. Dan bukan hanya itu, ternyata yang dibawah tanah klan Wang, terdapat tambang emas yang melimpah." Jelas Wang Sin.


" Bagus, dong. Kita bisa meningkatkan kultivasi menggunakan mutiara-mutiara itu." Ucap Wang

__ADS_1


" Dasar lambat." Gumam Ling San sambil terus berjalan.


" Dengan begini, klan Wang kita akan menjadi klan terkaya di alam Dewa." Ucap tetua agung klan Wang.


" Apa mereka tidak berpikir jika emas yang muncul di klan Wang akan mendatangkan bencana?" Tanya Ling San.


Saat sedang asyik berjalan-jalan, tiba-tiba saja, seseorang menyerangnya dari belakang. Tapi anehnya, serangan itu malah mengenai orang yang menyerang Ling San.


" Sial, bagaimana mungkin seranganku mengenaiku sendiri?" Tanya pemuda yang tak lain adalah Wang Bai, tuan muda klan Wang.


" Apakah kau ingin menguji tapakmu?" Tanya Ling San.


Pertanyaan Ling San itu sontak membuat wajah Wang Bai memerah karena marah. Niatnya, dia ingin memamerkan kekuatannya kepada orang-orang, tapi justru niatnya itu malah mempermalukannya.


" Sialan. Ini pasti karena ulahmu." Ucap Wang Bai lalu menebaskan pedangnya kearah Ling San.


" Ups, apakah kau sedang menebas angin atau sedang berlatih berpedang?" Tanya Ling San.


Wang Bai jelas sangat marah karena sudah dipermainkan oleh Ling San. Selama ini, tidak ada yang berani menantang apalagi menatap matanya.


" Tapak kristal." Ucap Ling San lalu melepaskan sebuah tapak kearah Wang Bai.


" Tepat sasaran." Ucap Ling San saat melihat Wang Bai menabrak pohon.


" Kau benar-benar keterlaluan." Ucapnya dengan penuh amarah.


" Bukankah kau yang menyerangku lebih dulu?" Tanya Ling San.


" Akkhh, mati saja kau." Ucap Wang Bai lalu berdiri dan menebaskan pedangnya kearah Ling San.


" Menyusahkan saja." Ucap Ling San lalu memindahkan tubuh Wang Bai ketempatnya.


Sreeeeeekkk


" Sialan, kau." Ucap Wang Bai lalu ambruk ke tanah.


" Itu namanya senjata makan tuan." Ucap Ling San lalu meninggalkan Wang Bai yang sudah tergerak tak bernyawa.


" Hebat. Dia bertukar posisi dengan Wang Bai dalam waktu kurang dari semenit saja." Ucap beberapa anggota klan takjub.


" Monster." Ucap yang lainnya.


" Menurutmu siapa yang salah disini, tuan muda atau pemuda yang tadi?" Tanya seorang pemuda yang bertubuh agak tinggi.


" Jelas tuan muda yang salah, tapi Dimata patriak, tuan muda selalu benar." Jawab yang lainnya.


Saat ini, Ling San berada di gunung yang sebelumnya dia hancurkan. Dia masih ingin memeriksa tempat tersebut.


" Tidak ada apa-apa disini." Ucap Ling San lalu berbalik dan hendak pergi. Tapi, matanya malah melihat sesuatu yang bersinar.


" Apa itu?" Tanya Ling San.


" Daripada penasaran, mending aku periksa saja." Ucap Ling San lalu mendekati benda yang bersinar itu.


" Ini terlalu besar untuk ukuran sebuah mutiara." Ucap Ling San.


Untuk memastikan apakah benda yang ditemukannya itu mutiara bumi atau bukan, Ling San menggunakan mata Dewa miliknya untuk memeriksa benda yang bersinar itu.

__ADS_1


" Ini adalah..."


__ADS_2