
Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka berempat sampai di rumah tetua agung klan Ling.
" Kalian semua darimana?" Tanya Ling Mei..
" Kami dari jalan-jalan di kota." Jawab Ling Fei.
" Masuklah, nanti makanannya dingin." Ucap Ling Mei.
" Terima kasih bu, aku memang sudah lapar." Ucap Ling San.
" Kami juga bi." Ucap Ling Guang.
Mereka berempat kemudian berjalan keruang makan. Setelah mencuci tangan, mereka berempat kemudian makan bersama.
" Ibu, ayah dimana?" Tanya Ling San.
" Oh, dia pergi ke aula klan untuk mengadakan rapat klan." Jawab Ling Mei.
" Mereka rapat apa, bi?" Tanya Ling Fei.
" Bibi juga tidak tahu." Jawab Ling Mei.
...****************...
" Kak, mengapa paman tiba-tiba mengadakan rapat?" Tanya Ling San.
" Aku juga tidak tahu." Jawab Ling Wu.
" Kita kemana sekarang?" Tanya Ling Wu.
" Hm. mungkin ke makam leluhur. Aku ingin bersiarah ke makam kakek." Jawab Ling San.
" Benar sih. Sudah lama aku tidak bersiarah ke makam kakek." Ucap Ling Wu.
Mereka berempat terus berjalan ke belakang klan. Hingga beberapa saat kemudian, mereka sampai ke sebuah tempat yang terdiri dari tiga buah makam.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka kemudian membersihkan rerumputan yang tumbuh diatas ke tiga makam tersebut.
" Ayo, kita pulang." Ajak Ling Guang.
" Ayo.'' Jawab Ling San.
" Hm, bagaimana setelah ini kita berlatih di ruang rahasia untuk berlatih?" Tanya Ling Wu.
" Itu, ide yang bagus." Jawab Ling San, Ling Guang dan Ling Fei.
" Ho, ternyata, kalian di sini." Ucap Ling Han
__ADS_1
" Hm, Kau ini siapa, ya?" Tanya Ling San.
Pertanyaan Ling San sontak membuat wajah Ling Han memerah karena marah. Bagaimana mungkin seorang bocah tidak mengenali dirinya.
" Aku adalah jenius klan Ling, Ling Han." Ucap Ling Han
" Jenius. Seingatku kakak Feng adalah jenius klan." Ucap Ling San.
" Heh, dia itu sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Jadi, sekarang akulah jenius klan Ling." Ucap Ling Han dengan sombong.
" Apa jangan-jangan, kau yang menyebabkan kakak Feng menghilang?" Tanya Ling San.
" Itu benar. karena selama ini, kau selalu iri kepada kalak." Ucap Ling Fei.
" Matilah sialan." Ucap Ling Han, dengan tinju yang di lapisi oleh elemen Api membara.
Booooommmmm
Tiba-tiba, terdengar suara ledakan saat tinju Ling Hou membentur sesuatu.
" Hm, apa itu?" Tanya Ling Han
" Tidak ada apa-apa." Jawab Ling San. Sementara Ling Fei, Ling Guang, dan Ling Wu langsung tertawa saat melihat tangan Ling Hou yang memerah.
" Ha..ha..ha..ha.. Ada apa dengan tanganmu itu?" Tanya Ling Wu.
" Bagaimana kalau sekarang giliranku?" Tanya Ling Fei.
" Tidak usah. Ini belum saatnya menunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya kepada mereka." Ucap Ling Wu.
" Itu benar. kalau kita menunjukkannya sekarang, maka bisa-bisa, dia akan iri kepada kita." Jelas Ling Fei.
" Hm. lagipula aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan kepada Ling Mo nanti." Ucap Ling San.
" Ayo kita pulang. kita hanya akan membuang-buang waktu di sini." Ucap Ling Fei.
" Ciih, sialan. Aku belum selesai dengan kalian." Ucap Ling Han
" Sudahlah kak. biarkan saja mereka pergi. Kita bisa menggunakan mereka sebagai tawanan sekte cahaya roh." Ucap Ling Tan.
" Kau benar juga. Kalau begitu, ayo kita pulang." Ucap Ling Han
Sementara itu, Ling San, Ling Guang, Ling Fei dan Ling Wu sudah kembali ke kediaman masing-masing. Mereka berniat meminta izin kepada orang tua mereka untuk berlatih di ruang rahasia selama sebulan penuh.
" Apakah kau yakin San'er. Tempat itu sudah tidak di gunakan selama berpuluh-puluh tahun." Ucap Ling Hou.
" Aku serius ayah. Tempat itu sangat cocok untuk di jadikan tempat berlatih. karena di sana tidak akan ada yang bisa mengganggu kami." Jelas Ling San.
__ADS_1
" Itu benar sih. Tapi, tidak ada yang tahu bagaimana cara membuka tempat itu. Soalnya pintu itu di kunci menggunakan pola-pola yang rumit." Ucap Ling Hou.
" Aku akan mencoba membukanya ayah." Ucap Ling San.
...****************...
" Bagaimana? Apakah kalian di izinkan?" Tanya Ling San.
" Iya." Jawab Ling Wu, lalu di balas dengan anggukan oleh Ling Fei dan Ling Guang.
" Baiklah, ayo kita pergi, sebelum para pengganggu itu datang." Ucap Ling San.
Mereka berempat kemudian berjalan menuju ke sebuah batu prasasti yang ada di pinggiran klan. Batu itu berisi sebuah pola yang harus di pecahkan agar pintu rahasia terbuka.
" Bukankah ini lambang unsur?" Tanya Ling Fei.
" Itu benar. Hanya saja terlihat samar. Kita harus mengurutkan semua unsur ini menjadi utuh sesuai dengan unsur yang pertama kali muncul di bumi.
" Berarti kita harus mengurutkannya dari tanah, air, angin, dan api?" Tanya Ling Guang.
" Itu benar." Jawab Ling San.
Ling San lalu mulai menggerakkan setiap lambang unsur yang ada di batu tersebut. Dimulai dari elemen tanah, lalu air, kemudian angin, dan terakhir elemen api.
Setelah semua unsur sudah di urutkan, sebuah cahaya kemudian muncul dan memghisap mereka semua masuk ke dalam ruang rahasia itu, dan setelah itu, semua lambang unsur di batu itu teracak kembali.
Wusssss
Mereka di teleportasikan ke sebuah ruangan yang terbuat dari emas dan di dalamnya terdapat triliunan koin, Gunungan batu roh, kristal surgawi, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah di dalam ruangan itu, terdapat buah-buah abadi yaitu apel bumi, cerry langit, dan persik surgawi, serta buah Nirwana yang mana buah itu sudah lama punah di alam semesta. buah Nirwana itu sendiri terdiri dari Apel Bintang, anggur Dewa dan Persik emas.
" Hm, sepertinya kita mendapatkan keberuntungan di sini." Ucap Ling Fei.
" Selamat datang di ruang dimensi tuan." Ucap sebuah suara.
Wussss
Lalu, di depan mereka muncul naga biru, kura-kura putih, Elang perak, dan Rajawali hijau. Masing-masing, dari mereka memiliki dua elemen, tiga elemen, dan empat elemen. Naga biru memiliki empat elemen, kura-kura putih memiliki elemen air dan angin, elang perak memiliki elemen air, tanah dan api, dan Rajawali hijau memiliki elemen tanah dan air.
" Siapa kalian?" Tanya Ling San.
" Kami adalah hewan mitologi yang berasal dari zaman kuno. Dan kami akan menjadi hewan kontrak tuan." Ucap sang naga.
" Lalu apa yang akan kami lakukan sekarang?" Tanya Ling San.
" Teteskan darah kalian di kepala kami." Jawab naga biru.
" Baiklah." Jawab Ling San
__ADS_1
Ling San lalu menggigit ujung jarinya hingga terluka, lalu meneteskan darahnya di kepala naga tersebut. Begitu juga dengan Ling Fei. dia meneteskan darahnya di kepala kura-kura putih tersebut, Ling Wu menjalin kontrak dengan elang perak, dan Ling Guang melakukan kontrak darah dengan Rajawali hijau.