
" Hai, bukankah dia adalah si jenius sampah itu?" Tanya Ling Tong
" Benar juga. Mumpung aku lagi kesal dengan ayah, mending aku menjadikannya pelampiasan." Jawab Ling Tan.
Mereka berdua kemudian menghadang Ling San dan yang lainnya, dengan wajah sangar.
" Hah, akhirnya setelah berbulan-bulan, kau muncul juga jenius sampah yang tak berguna." Ucap Ling Tan.
" Minggirlah, jangan membuatku marah." Balas Ling San dengan tatapan tajam.
" Hoho, kau sangat berani sampah. walau kultivasimu sangat tinggi, tapi tetap saja kau hanyalah sampah, yang memiliki satu elemen saja." Ucap Ling Tong.
" Benar saudara Tong, hanya elemen angin saja, mana berguna." Ejek Ling Tan.
" Adik, biar aku saja yang menghajar mereka berdua." Ucap Ling Wu.
" Tidak usah kak. Biar aku saja yang menghajar mereka." Jawab Ling San.
" Aku memberimu kesempatan sekali lagi. menyingkir dari jalanku atau kau akan kubuat menyesal." Ucap Ling San.
" Ha..ha...ha..ha.. Sini, pukul aku menggunakan elemen anginmu itu." Ejek Ling Tan.
Buuuukkkk
Boooommm
Satu pukulan mengenai wajah Ling Tan, tepat saat dia menyelesaikan kalimatnya. pukulan itu membuatnya terlempar puluhan meter, bahkan semua giginya terlepas.
" Bagaimana rasanya elemen angin itu, sausara Tan?" Tanya Ling Guang.
" Tentu saja itu sakit kak." Timpal Ling Wu.
" Makanya jadi orang jangan sombong." Ucap Ling Fei.
" Arggggg, sialan kalian. Aku tidak terima. aku akan membalas kalian berempat." Ucap Ling Tan.
" Apakah kau yakin, Ling Tan?" Tanya Ling San.
" Hm, apakah kau yakin elemen milikku hanya angin?" Tanya Ling San. Tangan Ling San kemudian di selimuti oleh elemen kristal yang berwarna hijau dengan ujung merah.
" Dasar sampah. kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu?" Tanya Ling Tan.
Telapak tangan Ling Tan kemudian di balut dengan elemen magma yang berwarna merah kecokelatan.
" Baik, mari kita berdu tinju." Ucap Ling San.
Wusssss
__ADS_1
Boooooommm
Sesaat kemudian, mereka berdua saling beradu tinju. sesaat kemudian, Ling Tan terlempar hingga menabrak tanah dengan keras.
" Apa? Bagaimana mungkin, tinjunya sekuat itu?" Tanya Ling Tan.
" Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama kau mau berusaha mencapai apa yang kau inginkan." Jawab Ling San lalu berbalik dan berjalan ke arah Ling Wu dan yang lainnya.
" Adik, kalau babu yang satu ini ingin di apakan?" Tanya Ling Wu.
" Mungkin di beri pelajaran, agar dia kapok dan tidak pernah berpikiran untuk menghina orang lain." Jawab Ling San.
" Bagaimana kalau kita hancurkan kultivasinya?" Tanya Ling Guang tiba-tiba
" Hm, itu ide yang bagus." Jawab mereka bersamaan.
" Tolong ampuni aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Dan kalau perlu, aku akan menjadi pelayan kalian." Ucap Ling Tong.
" Maaf saja, kami tidak membutuhkan pelayan yang mempunyai sikap licik sepertimu." Ucap Ling Wu.
" Seharusnya kau sadar, menjadi babu orang lain, hanya akan membuat harga dirimu jatuh. Kau bahkan rela menjual dirimu hanya demi uang, saja." Ucap Ling Fei.
" Ciih, lihat saja, dimasa depan nanti, aku akan membuat kalian berempat bertekuk lutut di hadapanku." Batin Ling Tong.
" Lihat saja, akan kubuat kalian menyesal." Batin Ling Tan.
" Hai, apakah kalian akan membiarkan kedua orang licik ini pergi begitu saja?" Tanya Ling Wu melalui telepati.
" Tenang saja, kak. Aku sudah memberi mereka berdua sesuatu yang membuatku mengetahui apa yang di rencanakan oleh mereka." Jelas Ling San.
" Bagaimana kalau begitu, ayo kita ke peviliun senjata." Ajak Ling Guang.
" Ide yang bagus." Jawab Ling San.
Mereka berempat kemudian berjalan menuju ke paviliun senjata kota lampion meninggalkan Ling Tan dan Ling Tong dengan wajah merah dan hati penuh dendam.
" Tuan, apa rencana kita selanjutnya?" Tanya Ling Tong.
" Tentu saja membalas mereka." Jawab Ling Tan.
" Tapi, bagaimana caranya?" Tanya Ling Tong.
" Kita akan memperdaya sekte cahaya roh agar merekrut mereka, sehingga mereka yang akan di jadikan tumbal." Jawab Ling Tan.
Sementara Ling San hanya tersenyum mendengar percakapan mereka. Dan hal itu membuat ketiga saudaranya heran.
" Hei adik, mengapa kau tersenyum-senyum sendiri" Tanya Ling Wu.
__ADS_1
" Aku tersenyum karena mendengar percakapan kedua orang itu." Jawab Ling San.
" Maksudmu Ling Tan dan Ling Tong?" Tanya Ling Wu.
" Ya, mereka mungkin mengira kita akan ikut seleksi murid sekte cahaya roh. jadi, mereka berpikir untuk menggunakan sekte cahaya roh untuk melenyapkan kita." Jawab Ling San.
" Apakah itu tidak berbahaya. Aku tahu, sekte cahaya roh akan tertarik denganmu karena kau memiliki elemen kristal. sama seperti kakak Feng yang memiliki elemen Uap." Jelas Ling Wu.
" Tapi, kenapa kakak tidak pernah memberi tahuku?" Tanya Ling San.
" Mungkin dia memiliki alasan khusus. Yang jelasnya, kita harus membuat rencana yang matang untuk menolak tawaran sekte cahaya roh, karena jika kita menolak, maka dia akan mengancam menggunakan ancaman yang tak pernah kita duga." Ucap Ling Wu.
" Aku tahu itu kak. Aku juga tahu kalau paman di gunakan sebagai ancaman agar kakak mau ikut ke sekte, dan tadi, aku sangat ceroboh menggunakan elemen milikku, di depan ke dua orang licik itu." Ucap Ling San.
" Sudahlah. Nanti kita pikirkan rencana kita selanjutnya. Sekarang kita akan mencari senjata yang cocok dengan kita." Ucap Ling Fei.
Mereka berempat kemudian masuk ke dalam paviliun senjata, dan di sambut dengan ramah oleh Kasir.
'' Selamat datang tuan muda, nona muda di paviliun Pedang." Sambut kasir.
" Apakah kami boleh melihat-lihat dulu?'' Tanya Ling San.
" Ya, tentu saja." Jawab kasir paviliun.
" Hm, senjata di sini sangat banyak, tapi, tidak ada yang membuatku tertarik." Gumam Ling Feng sambil terus memperhatikan pedang yang berjejer rapi di rak satu persatu.
Saat terus berjalan, Ling San melihat sebuah pedang kuno.
" Pedang apa ini?" Tanya Ling San
" Hm. pedang ini sudah sangat lama di sini. aku tidak tahu kapan dia ada di sini. Karena tuan tertarik dengn pedang ini, maka tuan boleh membelinya dengan harga 1000 koin emas saja." Ucap seorang petugas paviliun.
" Baiklah, aku membelinya." Ucap Ling San.
" Terima kasih tuan, dan sekarang tuan boleh membawa pedang itu pulang." Ucap petugas paviliun.
" Terima kasih, pak." Ucap Ling San lalu menyimpan pedang itu di dalam cincin ruangnya. Lalu berjalan menuju pintu keluar paviliun pedang.
" Akhirnya kau datang juga adik." Ucap Ling Fei.
" Ayo kita pulang." Ucap Ling Wu.
" Ayo, aku juga sudah lapar." Ucap Ling San.
" Kau ini. Apakah di pikiranmu hanya ada kata makan saja?" Tanya Ling Guang.
" Habis, makanan buatan ibuku sangat enak." Ucap Ling San.
__ADS_1
" Itu benar. Selama ini aku tidak pernah tahu bagaimana rupa ibuku. Aku merasakan kasih sayang seorang ibu berkat bibi yang selalu ada untukku, dan membuat hatiku yang tadinya kosong menjadi penuh." Ucap Ling Guang dengan wajah sedih.
" Hei sudahlah. jangan sedih. aku yakin bibi meninggalkanmu karena alasan. Dan mungkin karena itu juga kau memiki karakteristik yang berbeda di antara semua anggota klan." Ucap Ling San mencoba menghibur ling Guang.