
Sementara itu, Ling San terus melesat. Tak lama kemudian, Ling San berhenti di depan sebuah gua karena merasakan energi yang sangat pekat.
" Hm, sepertinya energi ini berasal dari dalam gua itu." Ucap Ling San.
Karena Penasaran, Ling San memberanikan diri memasuki gua tersebut. Di dalam gua, terdapat seekor naga yang berbaring.
Groaarrrrggggg
Sesaat kemudian, naga itu menyemburkan sebuah api kearah Ling San.
" Apa tujuanmu datang ke sini?" Tanya Naga tersebut.
" Aku kesini karena merasakan sebuah energi yang sangat kuat. Jadi, aku mencari asal dari energi itu." Jawab Ling San.
" Ternyata manusia itu sama saja. semuanya serakah. Bilang saja, kalau kau ingin mengambil air surgawi untuk meningkatkan kekuatanmu.'' Ucap naga tersebut.
" Awalnya aku hanya datang ke sini karena penasaran, tapi, karena kau menuduhku ingin mengambil air itu, maka aku akan mengambilnya." Ucap Ling San.
" Ciih, dasar manusia serakah." Ucap naga tersebut geram..
Booommm
Booommm
Ling San mengarahkan tangannya kedepan, dan ratusan tombak cahaya melesat kearah naga tersebut.
Tak ingin terkena serangan Ling San, naga itu menyemburkan api untuk menghancurkan ratusan tombak cahaya tersebut.
Booommm
Booommm
Boommm
Ledakan beruntun kembali terdengar saat nafas api milik naga itu berbenturan dengan tombak cahaya milik Ling San. Hal itu menyebabkan gua tersebut bergetar.
Ling San kemudian merentangkan kedua tangannya kesamping, dan puluhan bola cahaya muncul di depannya.
Wussss
Booommm
Boooommm
Boommm
Bola cahaya itu melesat kearah naga api itu dengan cepat dan menghantam dada naga tersebut.
" Ukhhukk. Sialan, aku tidak bisa mengalahkan kekuatan elemen aneh milik bocah itu. Kalau begini terus, aku akan mati karena serangan elemen milik bocah itu.
" Baik, aku menyerah, dan kau boleh mengambil air surgawi." Ucap naga tersebut.
" Terima kasih." Ucap Ling San.
Ling San kemudian berjalan kearah sebuah kolam dengan air berwarna putih. Ling San kemudian memasukkan kolam air itu kedalam cincin semestanya dan menyimpannya di dekat kebun buah abadi miliknya.
__ADS_1
" Kalau begitu aku permisi dulu naga pemarah." Ucap Ling San lalu melesat meninggalkan naga itu.
" Arrrggghhh, dasar manusia sialan." Teriak naga tersebut.
Sebelumnya dia berpikir bahwa Ling San akan menyerap air surgawi, dan dia akan mengambil kesempatan untuk menyerang Ling San. Tapi, ternyata dia keliru. Ling San tidak menyerap air itu di dalam gua sehingga dia hanya bisa berteriak dan marah-marah tak jelas.
Sementara itu, Ling San terus melesat meninggalkan bagian inti hutan. Setiap hewan yang menghadangnya, akan di bunuh.
dua hari berlalu, dan kini Ling San sudah berada di bagian terluar hutan kabut. Dia terus melesat tanpa henti. Dan beberapa menit berselang, dia akhirnya keluar dari hutan kabut.
" Huh, Walaupun aku berada di hutan kurang dari sebulan, tapi, keuntungan yang kudapat sangat besar." Ucap Ling San.
" Hah, akhirnya aku menemukan sebuah kota juga." Ucap Ling San.
" Lencana pengenalnya tuan muda." Pintah penjaga gerbang kota.
" Maaf tuan, lencana pengenalku terjatuh saat dalam perjalanan kekota ini." Jawab Ling San.
" Kalau begitu, Anda harus membayar 3 koin perak." Ucap penjaga tersebut.
Alat pembayaran di benua awan biru menggunakan koin. Koin sendiri terbagi menjadi empat yaitu, koin perunggu, koin perak, koin emas dan koin platinum.
satu koin emas setara dengan 1000 koin perak, dan satu koin perak setara dengan 1000 koin perunggu. dan satu koin platinum setara dengan 1000 koin emas, 10.000 koin perak, dan 100.000 koin perunggu.
( Maaf kalau hitungannya keliru)
Ling San kemudian mengeluarkan 1 koin emas dari cincin ruangnya dan memberikan kepada penjaga gerbang.
" Ini kebanyakan." Ucap penjaga.
" Kalau begitu silahkan masuk." Ucap penjaga tersebut.
Ling San kemudian berjalan memasuki kota embun dengan santai.
" Hah, benar-benar kota yang damai." Ucap Ling San.
" Semuanya minggir, putri Sui Ying mau lewat." Ucap seorang prajurit.
Mendengar nama Sui Ying, semua orang menyingkir dan memberi jalan. Siapa yang tidak tahu putri Sui Ying. Dia adalah satu-satunya anak perempuan kaisar Sui Yang dan dia sangat disayangi. Apa pun yang dia inginkan harus di penuhi. Hal itu membuat dia sangat sombong.
" Hai kau, apakah kau tidak dengar apa yang ku katakan?" Bentak komandan prajurit.
" Ciih, hanya seorang putri yang manja dan sombong untuk apa di hormati. Aku akan melakukan apa pun yang ingin kulakukan, dan kau tidak berhak memerintahku." Jawab Ling San dengan dingin.
" Komandan, bagaimana pun caranya, aku ingin pemuda itu menjadi budakku.'' Perintah putri Sui Ying.
" Menjadikanku budak. Kau sama sekali tidak layak. Bahkan kau pun tidak pantas untuk menjadi budakku." Ucap Ling San.
Wajah putri Sui Ying memerah karena marah. Baru kali ini ada pemuda yang berani membantah perintahnya dan tak menganggapnya sama sekali. Baru kali ini juga dia di permalukan di depan orang banyak.
" Jaga ucapanmu. Aku adalah putri dari kaisar Sui Yang, dan kau bisa saja di hukum karena berani menantangku." Ucap Putri Sui Ying yang berjalan keluar dari kereta miliknya.
" Wajahmu memang cantik, tapi hatimu sangat jelek. Wajahmu bak seorang dewi, tapi hatimu adalah hati seorang iblis." Ucap Ling San.
Kata-kata Ling San barusan seperti tamparan yang keras baginya. Dia adalah seorang gadis tercantik di seluruh kekaisaran, sama sekali tak dianggap oleh Ling San.
__ADS_1
" Aku tidak mau tahu, serang dan habisi pemuda ba**ngan itu." perintah putri Sui Ying.
Booommmm
Booommmm
Baru saja ingin menyerang Ling San, sebuah bola cahaya menghantam tubuh mereka.
" Ukhuuukk"
Sang komandan mrmuntahkan seteguk darah dari mulutnya yang menandakan jika dia mengalami luka dalam.
" Serang dan habisi pemuda itu." Perintah putri Sui Ying.
" Tapi, tuan putri, kekuatan pemuda sangat kuat." Ucap sang komandan.
" Pokoknya aku tidak mau tahu. Kalian harus menangkapnya. Kalau tidak, maka kalian akan di pecat." Ucap Putri Sui Ying.
" Serang pemuda itu sekarang juga." Perintah sang komandan.
" Hyaaaattt"
Trriiinngg
Triiiinnng
Triiiiinnngg
Kini Dentingan logam terdengar memekakkan telinga. Pertarungan itu nampak tak seimbang. Satu pemuda melawan puluhan prajurit.
" Dasar bodoh. Karena kalian sudah ada di dekatku, maka aku tidak perlu repot untuk membunuh kalian satu persatu." Ucap Ling San.
Ling San sendiri sudah menggenggam serbuk kristal. Sesaat kemudian, Ling San melemparkannya kearah prajurit kekaisaran.
" Akkhhh, Dasar bocah sialan." Ucap para prajurit.
" Ukhuuuk..ukhhuuukk..."
Semua prajurit terbatuk-batuk saat menghirup serbuk kristal tersebut.
" Baik, selamat tinggal." Ucap Ling San sambil mengepalkan tangannya.
" Arrrrgggghhhh.... Bocah sialan. Teknik apa yang kau gunakan?" Tanya salah satu prajurit kekaisaran.
" Pikirkan saja sendiri." Ucap Ling San sambil terus membentuk segel tangan.
" Meledak." Ucapnya.
Dhuaarrrrrr
Dhuarrrrrr
Satu persatu, prajurit yang tadi mengepung Ling San meledak satu persatu menjadi serpihan kristal kecil.
" Apa? Dua puluh prajurit dia kalahkan dengan mudah. Bagaimana mungkin?" Tanya Komandan tak percaya.
__ADS_1