
" Sekarang saatnya melanjutkan petualangan ku." Ucap Ling San lalu beranjak dari tempat duduknya dan melesat meninggalkan markas Aegis.
Wussss
Ling San melesat dengan kecepatan penuh membelah angin.
" Aku masih tidak menyangka jika aku tidak sadarkan diri selama setengah tahun." Ucapnya.
" Hm, apakah disini pernah terjadi pertempuran?" Tanya Ling San seraya melihat hutan yang dilaluinya gundul dan asap mengepul di hutan itu.
Ling San kemudian memperlambat terbangnya. Dia ingin menikmati pemandangan yang di laluinya.
" Hah, sungguh pemandangan yang sangat indah." Ucap Ling San.
" Ha..ha..ha..ha.. Sekian lamanya, baru kita mendapatkan mangsa baru." Ucap seorang pria parubaya dan tiga orang di belakangnya.
" Oh, Qilin api biru, ya?" Tanya Ling San yang sontak membuat keempat pria itu terkejut.
" Ba..ba..bagaimana kau bisa tahu?" Tanya pria yang paling depan.
" Dari aura kalian saja, sudah sangat jelas kalau kalian itu bukanlah manusia." Ucap Ling San.
Wusss
Wusss
Wusss
Empat buah bola api melesat kearah Ling San secara bersamaan. Tapi, Ling San dapat menghindari setiap bola api itu dengan mudahnya.
Wusss
Wusss
Wusss
Wusss
Mereka berempat kembali melemparkan delapan buah bola api kearah Ling San, tapi belum juga mengenai Ling San, bola api itu padam.
" Apakah kalian ingin bermain dengan api?" Tanya Ling San sambil mengeluarkan bola api ungu pucat ditelapak tangannya.
" Api jiwa"
" Kita bisa mampus dibuatnya." Ucap salah satu Qilin.
" Sayang sih jika aku menghanguskan tubuh kalian itu menggunakan api jiwa. Akan lebih baik jika kalian mau mengikutiku." Ucap Ling San.
" Ciih. Kami tidak akan mau tunduk kepada siapapun." Ucap Qilin api itu.
" Oh, baiklah." Ucap Ling San sambil memperbesar api jiwa yang ada di telapak tangannya.
" E..eh.. Ampun tuan, ampun tuan. Kami tidak mau mati sekarang." Ucap para Qilin api biru.
" Oh, kalau begitu, jangan pernah mencoba mengkhianatimu." Ucap Ling San lalu melemparkan serbuk kristal di udara.
" Wussss"
" Masuklah kedalam portal itu. Portal itu akan membawa kalian kesuatu tempat." Ucap Ling San.
__ADS_1
" Baik, tuan." Ucap para Qilin api biru itu.
" Begini kan, enak. Tidak perlu bertarung." Ucap Ling San lalu kembali melesat.
Dua hari, kemudian. Ling San akhirnya tiba di kota Bulan Jingga.
" Masih ada bekas kekacauan di sini." Ucap Ling San.
" Berhenti. Siapapun dilarang masuk ke kota Bulan Jingga." Cegat Penjaga gerbang kota.
" Memangnya ada apa?" Tanya Ling San.
" Kau tidak usah bertanya. ini sudah aturan dari pemimpin kota. Siapapun dilarang masuk kedalam kota. Karena tidak ada yang tahu kau itu dari mana." Jelas Penjaga gerbang.
" Kalau aku dari aliran hitam, kota kalian sudah kacau dari tadi." Ucap Ling San dengan kesal.
" Dasar keras kepala. Tangkap dan bawa dia kehadapan pemimpin kota " Ucap Pemimpin itu.
" Kalian beruntung karena aku tidak ingin bertarung." Ucap Ling San tiba-tiba saja sudah ada di dalam kota.
" Kau. Sejak kapan kau ada di situ?" Tanya penjaga gerbang kota.
" Kau tidak perlu tahu. Intinya, kalian itu sangat lambat." Ucap Ling San lalu menghilang dari hadapan para penjaga gerbang kota.
" Dasar. Merusak moodku saja." Ucap Ling San dengan kesal lalu berjalan memasuki restoran yang ada tepat di depannya. Lalu, mengambil meja yang berada di pojok ruangannya.
" Tuan muda. ingin memesan apa?" Tanya pelayan restoran.
" Aku ingin memesan makanan terbaik di restoran ini." Jawab Ling San yang sontak membuat para pengunjung terkejut.
" Apakah dia sudah gila?" Tanya salah satu pengunjung.
" Mungkin dia memang tidak tahu. Kita lihat nanti, apakah dia bisa membayarnya atau tidak." Ucap pengunjung lainnya.
Sementara itu, Ling San hanya terlihat cuek dan tidak menggubris ucapan para pengunjung yang membicarakan dirinya.
" Ini makanan yang anda pesan tuan muda." Ucap pelayan itu.
" Baiklah, ini bayarannya." Ucap Ling San sambil memberikan satu kantong koin emas.
" Terima kasih tuan muda, selamat menikmati." Ucap Pelayan itu.
" Dia sangat kaya." Ucap salah satu pengunjung tak percaya.
Ling San kemudian melahap makanannya dengan santai.
" HM, ternyata kau kaya juga, ya" Ucap seseorang dengan kaki dia naikkan di kursi.
" Pergilah, aku mau makan dengan tenang." Ucap Ling San sambil terus memakan makanannya.
" Dasar tidak sopan." Ucap pria itu lalu melayangkan pukulannya kearah Ling San. Tapi, tangannya ditangkap oleh Ling San.
" Sudah aku bilang, aku ingin makan dengan tenang." Ucap Ling San lalu memutar tangan pria itu lalu melemparkannya ke dinding.
" Akkhh, sialan kau." Umpat pria itu dengan marah..
" Kau disitu saja dulu. Aku ingin menghabiskan makananku dulu." Ucap Ling San lalu melanjutkan makannya.
Aneh memang, biasanya para pengunjung akan lari saat ada orang itu datang. Hal ini dikarenakan orang itu adalah orang yang di takuti oleh para pengunjung restoran.
__ADS_1
" Dasar aneh. Bukannya lari, malah dia ingin makan dulu." Ucap salah satu pengunjung.
" Ok, sekarang aku sudah selesai makan. Dan sekarang aku akan meladenimu." Ucap Ling San.
Wussss
Ling San kemudian membawa pria itu lalu menghilang.
Wussss
Booommm
Ling San kemudian melempar pria itu hingga menabrak batang pohon hingga pohon itu roboh.
" Apa yang kau lakukan?" Tanya pria itu.
" Tentu saja memberimu pelajaran, karena sudah mengganggu makan." Jawab Ling San.
" Arrrgghhh sialan. Akan kubunuh kau." Ucapnya lalu melesat kearah Ling San
Wussss
Booommm
Sesaat kemudian, pria itu kembali terpental menghantam tanah
" Sialan." Umpatnya.
" Sialan, apa masalahmu. aku hanya membalasmu karena bersikap tidak sopan padaku." Ucapnya
" Dasar bodoh. Kau ingin memukulku saat aku makan tadi, jadi sekarang aku yang akan memukulmu." Ucap Ling San.
Swuuusss
Booommm
Sesaat kemudian, Ling San kemudian muncul di depan pria itu lalu melayangkan tinjunya kewajah pria itu. Pukulan Ling San membuat semua gigi pria itu copot.
Wussss
Booommm
Booommm
Booommm
Sesaat kemudian, ledakan beruntun terdengar dari dalam tubuh pria itu. Ledakan itu tidak menandakan jika kultivasi milik pria itu menerobos. Tapi, ledakan itu menandakan jika kultivasinya hancur. Sekarang pria itu tidak ubahnya seperti manusia biasa.
" Arrrgghhh, sialan. Aku membutuhkan waktu belasan tahun untuk mencapai tingkat itu, dan kau menghancurkannya " Ucapnya dengan tatapan marah.
" Orang sepertimu memang harus mendapatkannya." Ucap Ling San lalu berjalan ke dalam restoran.
" Pelayan, ini adalah kompensasi atas kerusakan restoran ini." Ucap Ling San lalu menyerahkan tiga kantong koin emas.
" Terima kasih tuan muda." Ucap pelayan itu.
" Sama-sama" Jawab Ling San lalu melesat meninggalkan restoran itu.
" Ah, tidak. besok adalah hari ulang tahun adikku." Ucapnya.
__ADS_1
" Hampir saja aku melupakannya." Ucapnya.