
" Tuan, kalau boleh tahu, jubahnya warna apa? Merah, putih, Biru, atau hijau?" Tanya Niu Qwang.
" Sepertinya warna putih saja, bibi." Jawab Ling San." Jawab Ling San.
" Kalau lambangnya?" Tanya Niu Qwang lagi.
" Hm, Matahari yang bercahaya." Jawab Ling San.
" Bagaimana dengan yang ini tuan?" Tanya Niu Qwang sambil memperlihatkan sebuah jubah berwarna putih dengan lambang matahari bersinar di punggungnya.
" Oh, iya tuan. Kalau boleh aku sarankan. Sebaiknya Jubah merah untuk Aegis api, Biru untuk air, kuning untuk bumi atau tanah, perak untuk es dan putih untuk petinggi Aegis." Ucap Long Qing.
" Sepertinya itu ide yang bagus." Ucap Ling San
" Baiklah, aku akan membuat jubah itu sekarang." Ucap Niu Qwang.
" Oh, iya tuan. Jubah ini untuk tuan." Ucap Niu Qwang sambil menyodorkan sebuah jubah berwarna putih dengan lambang matahari bersinar dibelakangnya.
" Terima kasih tuan." Ucap Ling San lalu memakai jubah itu.
" Oh iya. bandul matahari ini untuk apa?" Tanya Ling San.
" Itu bertungsi sebagai alat untuk berkomunikasi. Matahari pusat akan bercahaya jika ada salah satu anggota yang meminta bantuan. Selain itu, Bandul matahari ini akan membantu kita untuk mendeteksi semua anggota." Jelas Niu Qwang.
" Baiklah, bibi. Aku akan melanjutkan perjalananku. Oh iya bibi, di dalam cincin ini terdapat kitab teknik. " Ucap Ling San lalu memberikan sebuah cincin ruang kepada Niu Qwang.
" Oh, iya bi. Aku akan melanjutkan perjalananku. Sekalian aku akan mencari anggota baru." Ucap Ling San.
Wusss
Ling San kemudian menghilang dari Gua itu dan melayang diatas Air terjun. Setelah itu, dia kembali melesat menjauh dari air terjun tersebut. Setelah melalui air terjun, Ling San langsung menemukan sebuah kota, yaitu kota Air Terjun, dinamai sesuai dengan air terjun yang berada tak jauh dari air terjun
" AEGIS akan menjadi pasukan pelindung benua awan biru." Ucap Ling San lalu berjalan memasuki kota.
" Tanda pengenalnya, tuan muda." Ucap penjaga gerbang kota." Pintah pelayan. tersebut.
" Maaf, tuan. Lencana pengenalku terjatuh entah dimana" Jawab Ling San.
" Kalau begitu, sesuai peraturan kota, anda harus membayar lima koin emas." Ucap Penjaga tersebut.
" Baiklah, ini sepuluh koin emas." Ucap Ling San.
" Ini kabanyakan.." Ucapan salah satu penjaga itu terhenti saat Ling San sudah berjalan memasuki kota.
" Sungguh pemuda yang baik hati." Ucap salah satu penjaga tersebut.
" Kau benar, walau dia adalah anak bangsawan, tapi dia memiliki sikap yang ramah. Tidak seperti dia.." Ucap penjaga yang satunya lagi.
" Husss, jangan menyebut-nyebut namanya. Dia memiliki banyak anak buah di kota ini." Ucap penjaga yang satunya.
Sementara itu, Ling San terus berjalan lurus dari pintu gerbang. Dan tepat di sebuah restoran, dia melihat seorang pria memukul dan memaki-maki anak kecil yang berumur 10 tahun.
__ADS_1
" Di sini tidak menerima seorang pengemis." Ucap pemilik restoran sambil mendorong anak kecil tersebut
Buugghhhh
Pria itu melayangkan pukulannya kearah anak kecil tersebut, tapi tinjunya ditahan oleh seseorang yang tak lain adalah Ling San.
" Apakah kau tidak punya malu. Beraninya hanya kepada anak kecil saja." Ucap Ling San.
" Hei siapa kau? Dan kenapa kau ikut campur urusanku?" Tanyanya.
" Aku bukan siapa-siapa. Awalnya aku berniat makan di restoran ini. Tapi, melihat kau menyakiti seorang anak kecil, aku tidak jadi singgah di restoran ini." Jawab Ling San.
" Adik, kecil. Apakah kau mau bergabung dengan kelompokku?" Tanya Ling San.
Anak kecil itu tidak langsung menjawab. Dia menatap Ling San lebih dulu selama beberapa menit. Hingga akhirnya mulai berbicara.
" Ya, kak. Aku ingin menjadi kuat." Jawab anak itu.
" Apa tujuanmu ingin menjadi kuat?" Tanya Ling San.
" Agar aku bisa melindungi diriku, dan membunuh orang-orang jahat seperti dirinya." Ucap anak kecil itu.
" Baiklah. kalau begitu, ayo ikut kakak ke suatu tempat ." Ajak Ling San.
" Kemana kak?" Tanya Anak kecil itu.
" Ke tempat dimana kau akan berlatih." Jawab Ling San lalu memegang tangan anak kecil itu dan menghilang, lalu muncul di dalam markas Aegis.
" Namaku Xiao Sun kak." Jawab Xiao Sun.
" Sekarang ulurkan tanganmu." Pintah Ling San.
" Baik kak." Jawab Xiao Sun lalu mengulurkan tangannya.
" Elemen api, ya." Ucap Ling San.
" Bibi. bibi latihlah Sun'er. Dia akan menjadi anggota dari Aegis Api." Ucap Ling San.
" Sun'er, latihan yang akan diberikan kepadamu itu sangat berat, apakah kau siap untuk melaksanakan latihan yang diberikan padamu?" Tanya Ling San.
" Siap kak." Jawab Xiao Sun.
" Ikutlah dengan bibi Niu. Dia akan melatihmu." Ucap Ling San.
" Baiklah bibi, paman. Aku permisi dulu." Ucap Ling San lalu menghilang.
Wussss
Ling San kembali muncul di depan restoran tempat dia menemukan Xiao Sun dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
" Kau mau apa lagi?" Tanya pria itu mulai ketakutan.
__ADS_1
" Tidak ada hanya ingin memberikanmu satu kejutan kecil saja." Jawab Ling San sambil memainkan tangannya.
Wusss
Booommm
Booommmm
Boommm
…
…
…
Booommm
Sesaat kemudian, kilatan cahaya berwarna biru menghantam tubuh Pria itu. Bersamaan dengan itu, kultivasinya perlahan-lahan turun-turun, hingga akhitnya lenyap
" Nah, itu saja yang ingin kuberikan padamu." Ucap Ling San lalu meninggalkan pria itu.
" Akkkhhh, sialan. Kembalikan kultivasiku." Teriaknya.
" Oh, maaf. Aku tidak akan melakukannya. Sampah sepertimu memang pantas untuk mendapatkannya." Ucap Ling San lalu pergi.
" Hei, akhirnya kita menemukan seorang mangsa lagi." Ucap seorang pemuda yang berpakaian mewah.
" Tuan, jubahnya juga sangat bagus. Jubah itu lebih cocok kalau dipakai olehmu." Ucap pemuda yang lainnya.
" Hei kau. Serahkan cincin ruangmu itu serta jubahmu. Dan juga hancurkan kultivasimu baru kau boleh lewat." Ucap pemuda itu.
" Jika tidak memiliki harta, tidak usah berlagak jadi orang kaya. Pakaiannya saja yang mewah, tapi kerjanya meminta barang orang lain secara paksa." Ucap Ling San.
” Sialan. Aku ini putra dari tetua agung Sekte Daun Giok. Jadi, aku boleh melakukan apapun yang aku mau." Ucap pemuda itu dengan sombongnya.
" Cuma anak tetua agung sekte doang sudah sombong." Ucap Ling San.
" Mati saja sana, sampah." Ucapnya sambil melayangkan sebuah tapak kearah Ling San.
" Sampah, sungguh kata yang sangat membosankan. Aku sudah sering mendengarnya." Ucap Ling San sambil mengibaskan tangannya dan seketika tapak itu menghilang.
" Ini yang dinamakan tapak." Ucap Ling San lalu melesatkan sebuah tapak kearah pemuda itu.
" Ukkhhj"
Pemuda itu langsung tersungkur di tanah saat tapak Ling San menghantam tubuhnya. Bukan hanya itu, dia juga memuntahkan seteguk darah segar yang menodai pakaian kewahnya.
" Akkkhh, sialan kau. Akubat ulahmu bajuku langsung kotor." Ucap pemuda itu.
" Hanya baju murah." Ucap Ling San.
__ADS_1