Kapan Hamil ?

Kapan Hamil ?
Dipinang.


__ADS_3

" Kopi pak ?" ucap Astri yang seraya meletakkan kopi di meja samping bapak.


" Iya Tri makasih " Ucap bapak seraya sedikit meraba .


Penglihatan bapak memang kurang baik semenjak terkena percikan api las waktu membantu paman bulan lalu. Awalnya bapak hanya merasa sedikit gatal lama kelamaan gatal itu semakin parah bapak hanya mengobati matanya dengan air bambu yang setiap hari diambilnya dari belakang rumah .Pemilihan Bambu muda juga gak gampang karna gak semua ada airnya,Bambu muda yang berukuran tidak kecil juga tidak besar dipotong agak sedikit meruncing kemudian diteteskan Dimata .Orang didesaku sering meyebutnya slumpring .


" Wah ,enak tenan bikinan kopi mu Tri sudah cocok ini kalau kamu buka warung kopi ?" puji bapak.


" Ah ,bapak ini bisa aja .Orang kopinya juga sama kayak yang ibu bikinkan buat bapak gulanya juga sama pak gak ada yang beda ?"


" Ada lah ,kalau ibuk mu yang bikin suka kurang gula ,kalau kamu yang bikin baru pas ?"


" Ya sudah mulai sekarang ibuk gak mau lagi bikinin kopi buat bapak biar Astri aja ?" Ujar ibu yang baru keluar dengan membawa ubi rebus dipiring.


Aku terkekeh saat melihat ibu dan bapak begitu.


" Lho ada ibu toh ,gak lah bikinannya ibu juga muanteep kok "


" Kata bapak tadi kalau bikinannya ibu kurang gula ? hehe ." Timpalku .


" Tuh kan bapak ini"


" Tidak- tidak buk ,hus Astri ini gk bisa diajak kompromi?"


." Hehe pak - pak , ada - ada aja ?"


" Astri bagaimana ibu denger tetangga sebelah ada yang naksir kamu dan ibu denger- denger juga laki- laki itu juga baik sopan dan alim lagi "


" Ibu dengar dari siapa ? " Tanya bapak.


" Dari tetangga pak banyak yang ngomong kok ,sayangnya laki- laki itu belum berani datang kesini ?"


" Memang siapa buk ,Astri aja gak tahu ?"

__ADS_1


" Itu pemilik toko baju Amir kalau gak salah namanya masak kamu gak kenal"


" Oh ,mas Amir itu ?"


" Tuh kan pak Astri aja sudah kenal ?"


" Astri kamu sudah kenal lelaki itu ,apa kamu sudah sering ketemuan tanpa sepengetahuan bapak ibu ?" Tanya bapak ,ibu melihatku penuh selidik.


" Astagfirullah ,bapak ini ya gak lah pak mana mungkin Astri ketemuan dengan lelaki apa lagi tanpa sepengetahuan bapak ibuk Astri masih inget dosa pak buk?"


" Terus dimana kalian ketemu kok bisa kenal?"


" Yah betul itu kata ibuk mu ?"


" Jadi kemaren Astri diajak antar Ningrum beli baju ditokonya Mas Amir pak Astri juga yang ngenalin Ningrum katanya sudah langganan beli bajunya disana nah semenjak itu kami gak sengaja pak buk ketemu diwarung mie ayam ,dijalan,ditoko emas dan terakhir kemarin di konter hp .Itupun kalau kita ketemu gak pernah pak buk duduk bersama dan kalau lewat pasti cuma senyum aja gak pernah cerita- cerita atau apapun" Jelasku.


" Oh begitu ?" ibuk mengangguk- angguk.


" Oh,Astri pokoknya kamu harus ingat pesan bapak lelaki yang benar- benar sayang dan mau menerima kamu dengan apa adanya serta menghargai perempuan adalah laki- laki yang berani meminta langsung keorang tuanya dengan baik - baik dan berjanji bersunggung- sungguh mencintai dan menyayangi serta menjaganya perempuan itu untuk selama- lamanya. Berani menikahi dan bertanggung jawab sepenuhnya .Kalau ada laki- laki kok hanya mau ngajak Astri pacaran - pacaran saja tanpa ada hubungan yang jelas bapak tidak mau itu terjadi karna kamu anak bapak satu- satunya meski kita hidup sederhana begini tapi jangan pernah mau di permainkan orang. Tapi kalau menurut bapak kamu memang cocok dengan Amir itu dan bapak setuju jika kamu menikah dengan dia "Tutur bapak.


" Ibu sama bapak ini ada - ada aja orang Astri gak ada hubungan apa- apa" Ucapku .


Kata - kata itu menjadi kata terakhir bapak kata- kata itu yang selalu aku ingat. Sungguh sebenarnya aku masih tidak percaya dengan apa yang harus menimpaku Dimana aku harus kehilangan kedua orang tua ku dengan cepat ternyata bapak selama ini menyembunyikan penyakitnya kepada ibu dan aku yaitu penyakit sesak nafas.


Teringat kala itu bapak yang tiba- tiba kekamar mandi dengan Buru- buru saat cuaca hujan deras karna kami tinggal dirumah yang sangat sederhana dengan beratapkan dinding bambu.Jika datang musim penghujan seperti saat itu kami harus bersiap menata baskom dan alat - alat dapur yang bisa digunakan untuk menampung air yang jatuh.


" Bapakmu kenapa Tri kok sampai lari begitu ?" Tanya ibu yang tengah menaruh baskom ditempat kebocoran.


" Gak tahu buk ,mungkin bapak sakit perut kali ?" Ucapku seraya membantu ibu .


Bruuuukk ...


Suara terdengar dari kamar mandi.

__ADS_1


" Bapak " Ucap ibu yang langsung lari kearah kamar mandi.


Akupun segera mengikutinya dari belakang .


" Bapak ! kenapa ... pak bangun pak !" Teriak ibu seraya membangunkan bapak yang sudah tergeletak di pintu kamar mandi .


" Bapak !" Aku pun segera mengguncang-guncangkan badan bapak beberapa kali mencoba membangunkan bapak ,mengambil minyak kayu putih dan menempelkan ke bawah hidung berharap bapak mencium aromanya akan tetapi bapak tetap tidak bangun dengan tangan bergetar ku coba memeriksa denyut nadi ditangan bapak.


Aku melihat ibu yang sudah panik dan menangis sejadi- jadinya karna hujan deras suara ibu tidak akan bisa didengar tetangga.


" Bu bapak sudah gak ada Bu " Ucapku dengan lemas rasanya duniaku berhenti sesaat air mata pun berjatuhan dengan sendirinya.


" Apa ? Bapak ... bapak ....jangan tinggalin ibu pak "


Aku hanya bisa diam .


Semenjak kepergian bapak ibu menjadi pendiam sering memanggil nama bapak bahkan masih menyiapkan kopi di pagi hari dan sore hari .


Sebulan berlalu keadaan ibu semakin parah tidak mau makan dan menyendiri saat itu lah ibu tiba - tiba tak sadarkan diri,sampainya dirumah sakit ternyata ibu pun pergi menyusul bapak.


Semenjak itu juga aku menyandang status yatim piatu .


***


Tahun berganti Allah mengirimkan mas Amir kepadaku lelaki yang pernah ku ceritakan dengan ibu dan bapak kala itu .Mas Amir benar - benar datang untuk meminang ku .


Dengan niat Bismillah aku terima mas Amir menjadi suamiku hingga saat ini. Lelaki yang sangat mengerti dan memahami ku dari awal ketemu sampai sekarang ini . Meski aku tahu keluarga mas Amir kurang menyukaiku entah karna kasta yang berbeda atau memang keluarga mas Amir tidak suka denganku .


Pernah Sedikit minder dan sempat menjauh dari mas Amir karna aku cukup sadar aku dan mas Amir memang beda tapi semakin aku menjauh usaha mas Amir semakin keras untuk mendapatkan ku dan mas Amir gak pernah menyerah sedikitpun untuk membuat ku luluh .


Mas Amir pernah bilang .


"Jodoh dan takdirku sudah ada di kamu Astri biarpun banyak penolakan dari keluargaku aku tetap yakin kamu lah orang yang bisa menjadi makmum ku "

__ADS_1


,


__ADS_2