
Kejadian itu membuat mas Amir kini semakin jauh dariku , bicara hanya seperlunya. Sudah tiga hari ini aku merasa seperti orang lain dirumah ini ,seakan - akan aku hanya dibutuhkan saat perlu saja . Menyedihkan bukan ?.
" Mas mau makan apa ?" Tanyaku .
Mas Amir terlihat duduk dan sibuk dengan ponselnya .Aku mendekatinya ku peluk dari belakang .
" Terserah tri ?" Jawab mas Amir seraya melepaskan tanganku yang berada dibahunya.
Seketika aku berdiri tegak dan menghela nafas berat.
" Mas pengen dimasakin apa ? " Tanyaku lagi memastikan.
" Aku makan dirumah ibu aja ! kamu kalau mau makan , Makan sendiri aja ?" Mas Amir beranjak dari tempat duduknya .
" Mas - mas ,mas gak ngajak aku ?" Tanyaku lagi seraya mengejarnya .
" Gak usah ! Kamu dirumah aja ? " Jawabnya langsung pergi menggunakan motornya.
Lagi - lagi aku harus bersabar menghadapi mas Amir " Tenang Astri besok juga Mas Amir pasti kembali Apa lagi kan aku lagi mengandung?" Sugestiku .
Dengan terpaksa kali ini aku masak sendiri dan makan sendirian . Mencoba tetap tenang ini semua demi anak yang ada didalam kandungan ingat pesan dokter kalau ibu hamil gak boleh banyak fikiran apalagi sampai stres, kalimat itu yang ku sematkan dikehidupan ku saat ini .
Tok ...
Tok ...
Tok ...
" Mas Amir sudah pulang Alhamdulillah bener kan ucapanku tadi pasti mas Amir ingat si baby " Gumamku senang .
Secepatnya aku membuka pintu .
__ADS_1
" Mas Amir !" Sapaku kala pintu terbuka.
" Astri "
" Eh ... mbak Hesti ada apa mbak ?"
Ternyata aku salah yang datang malah mbak Hesti . Tapi kali ini ada yang aneh dengan dandanan mbak Hesti gak seperti biasanya mbak Hesti yang selalu memakai baju seksi dan juga kurang bahan . Kini malah seperti orang habis bangun tidur rambut acak - acak kan , baju kusut juga make up yang gak rata .
" Hesti bisa mintak tolong gak ?" Pinta Hesti .
" Tolong apa Hes ?" Tanyaku penasaran.
" Tolong jemput enggar disekolah sekarang ? Kalau aku yang jemput nanti gak keburu waktunya bisa - bisa Enggar marah besar padaku Kamu bisa kan Tri ?"
" Eum gimana ya mbak ?" Pikirku.
" Udah tri gak usah banyak mikir nanti keburu Enggar pulang ? Ini kunci motorku. " Hesti memberikan kunci motornya ditanganku. " Oh ya aku numpang ganti baju ya sama mandi disini boleh kan ?" Ucapnya lagi.
" Ya Hes boleh " Ujarku.
Aku hanya mengangguk .
Aku mengendarai motor dengan hati - hati karna ini kali pertama aku mengendarai motor lagi . Terakhir aku mengendarai motor Waktu belum menikah dengan mas Amir itu pun motor hasil minjem tetangga karna,kedua orang tua ku tak mampu membeli motor . Pasti kalian bertanya - tanya gak punya motor kok bisa naik motor belajar dari mana? pakai apa ? Seingatku dulu aku belajar dengan temanku yang baik hati namanya Mia dialah teman yang satu - satunya yang mau menemaniku dan tak pernah malu mempunyai teman yang dibilang orang tak mampu. Padahal Mia adalah orang terkaya didesaku apa yang ia minta sekejap mata langsung ada . Beda jauh denganku kalau mau apa - apa harus bekerja dulu ? Nabung hingga berbulan - bulan bahkan setahun lebih juga pernah.
Mia waktu itu diajari oleh pamannya dilapangan didesaku karna kami sering jalan berdua aku pun diajari oleh paman Mia . Dan saat itulah aku bisa menaiki motor. Sayangnya pertemanan kita harus terpisah kala kami lulus SMA dimana Mia harus pindah ke Jakarta bersama keluarganya dan sedangkan aku berhenti sekolah dan memilih kerja untuk membantu kedua orang tua dirumah.
" Tante tri " Sapa Enggar ketika melihatku berhenti tepat didepan Enggar.
Ternyata benar Enggar sudah pulang.Enggar sudah berdiri didepan sekolahnya yang gerbangnya sudah ditutup tak ada anak sekolah lainnya bahkan guru pun sudah tidak ada hanya tinggal Enggar sendirian.
" Enggar kamu sudah pulang dari tadi nak ? " Tanyaku yang masih berada diatas motor. "Ayok naik nak ?" Pintaku.
__ADS_1
Enggar pun langsung naik dengan cepat " Iya Tante tri udah dari tadi , Aku tunggu - tunggu mama gak Dateng - Dateng sudah ku telvon gak diangkat papa juga gitu nomornya gak aktif ?" Cakap Enggar dengan kesal.
" Iya mamamu lagi gak enak badan makannya gak bisa jemput kalau papamu pasti sibuk kerja ,tapi sekarang kamu gak usah khawatir kan udah ada Tante yang jemput kamu " ujarku dengan senyum ramah seraya mengendarai motor .
" Iya Tante makasih ,Tante ternyata bisa naik motor juga ya Enggar kira Tante gak bisa ?" Celetuk Enggar dengan bicara khas anak kecil
" Bisa dong Tante itu dulu pembalap lho sekarang aja Tante gak pernah lagi naik motor karna ada om Amir yang selalu antar Tante kemana - kemana " Jelasku .
" Oh gitu Tante "
Perjalanan kami sempat terhenti karna didepan ternyata ada perbaikan jalan alhasil kita harus lewat jalan pintas yang disediakan. Jalan ini penuh dengan bebatuan kecil sehingga membuat ban terasa agak licin.
" Enggar kamu diam ya ,ini soalnya jalannya gak rata ? " Pesanku ke Enggar .
" Kenapa Tante? Tante takut? Bukannya tadi Tante bilang sendiri kalau Tante dulu seorang pembalap ?" Ujar Enggar dengan tertawa kecil.
" Ya kan dulu Enggar sekarang kan tante sudah tobat " Ujarku dengan tetap konsen dijalanan yang penuh batu dan berlubang dengan samping got dan sebelahnya tiang listrik yang berjejer .
" Ih Tante nih Cemen ! Ayo Tante tunjukkan kalau Tante bisa !"Teriak Enggar dengan menggoyang - goyangnya badannya membuat keseimbangan ku terganggu .
" Enggar jangan begitu, ini jalan jelek !" Tuturku.
" Ayok Tante seru nih !" Enggar semakin menggoyangkan tubuhnya di atas motor .
" Enggar ! Berhenti Enggar berhenti ! " teriakku mulai tidak nyaman dengan kelakuan Enggar keponak kan ku ini "
Bukannya berhenti Enggar malah menjadi badanya berjingkrak - jingkrak diatas motor .
Aku yang semakin panik lantas hendak mengerem laju motor ku namun tanpa sengaja Enggar menyenggol tangan ku dari belakang sontak membuatku hilang keseimbangan .
" Enggar ! Awas !
__ADS_1
Braaaaaaakkkkkk....
"