Kapan Hamil ?

Kapan Hamil ?
Terpengaruh


__ADS_3

" Tri "


Aku terhenyak mendengar suara panggilan mas Amir .


" Iya mas " Sahutku.


" Malah nglamun sih ? " Mas Amir memandangku .


" Enggak, Mas aku lapar bisa minta tolong suapin gak ?" pintaku mengalihkan topik.


" Boleh - boleh aku suapin ya ?" Mas Amir mengambil makanan yang sudah tersedia dari rumah sakit di meja samping ranjang tempatku berbaring . " Aaaakkk ...." Mas menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke mulutku.Dengan cepat ku lahap nasi itu.


" Enak ?" Tanya mas Amir .


" Enak mas " Jawabku yang masih mengunyah makanan dari mas Amir ,kupandang wajah mas Amir dengan lekat wajah yang begitu sangat teduh dan juga sangat tampan.Aku sangat bangga dan sangat bersyukur memiliki suami seperti mas Amir . Dia lelaki yang sangat bertanggung jawab sabar dan sayang kepadaku .


" Aaaakkk ...lagi biar cepet sembuh dan bayi kita sehat " Ucap mas Amir dengan senyuman ramahnya.


Aku hanya mengangguk . Tak terasa makanan yang ada di piring pun telah habis tak tersisa,makanan itu kini sudah berpindah keperutku .


" Mas Aku pengen pulang ?" Ujarku.


" Ya nanti kamu istirahat dulu ya ,habis ini mas urus administrasi dulu baru kita pulang " Jelasnya.


Lagi - lagi aku mengangguk .Mas Amir pun kemudian keluar meninggalkan ruangan ini untuk mengurus semua administrasi rumah sakit.


Senang sekali rasanya melihat mas Amir sudah mau bicara dan tersenyum lagi padaku . " Ada hikmahnya juga jatuhku ini , Astagfirullah " Gumamku.


Drrt ... Drrt ...


Ponselku yang berada di nakas bergetar segera aku ambil dan membukanya .


Ternyata Bu Een mengirim pesan lewat aplikasi hijau.

__ADS_1


"( Tri katanya kamu jatuh dimana ? gimana keadaanmu ?Sekarang dirumah sakit mana ?)" Pesan dari Bu Een.


" ( Iya jatuh di depan toko buah, tapi Alhamdulillah gak papa , ini bentar lagi juga pulang ) " Balasan pesanku langsung centang biru 2


Tak butuh waktu lama pesanku langsung dibalas Bu Een.


" (Syukurlah kalau gitu ,ya sudah nanti disambung lagi kalau sudah sampai rumah ya tri nanti kalau sudah sampai rumah kabari lagi , Kamu baik - baik sama anakmu ) "


" ( Sipp Bu makasih)" Tulisku .


Ceklek


Pintu terbuka ,terlihat mas Amir masuk dengan membawa satu kantong kecil berisi obat.


" Siapa yang nelpon tri ?" Tanyanya .


" Ini Bu Een mas tadi ngechat Astri tanya gimana keadaanku " Jawabku seraya mengembalikan ponselku diatas nakas .


"Ow ,kata dokter kalau mau pulang sekarang juga boleh ini kamu dapat permen dari dokter katanya harus habis " Ujar mas Amir .


" Ada ini buktinya " Mas Amir mendekatkan obat itu kearahku.


Setelah memasukkan ponsel ku kedalam tas kecil yang dibawakan mas Amir dari rumah . Aku dan mas Amir pun pergi pulang .


Diperjalanan kami mengobrol seperti biasa bercanda dan membahas kerjaan juga membahas tentang bayi kita .


Drrt ...


Ponsel mas Amir bergetar segera mas Amir melihatnya .


" Ibu " mas Amir menolehku.


" Angkat aja mas siapa tahu penting ?" Ujarku.

__ADS_1


Mas Amir mengangguk .


" Iya Bu ?" Ujarnya saat telvon sudah diangkat dan tidak lupa men los speaker ponselnya.


" Mir, tadi lupa ibu mau kasih tahu sesuatu ?" Ujarnya dari sebrang sana .


" sesuatu apa Bu penting ?" Tanya mas Amir yang fokus menyetir mobil .


" Ibu perlu uang untuk mengobati Enggar ,kan Enggar jatuh gara - gara istrimu ,meski gak ada yang luka tapi Enggar butuh lah dipijit siapa tahu ada yang kesleo " Jelas ibu panjang lebar .


Aku yang mendengar hanya mampu menggeleng kepala .


" Iya Bu nanti kalau sampai rumah ibu datang aja nanti Amir kasih ,kalau gitu sudah dulu ya Bu Amir lagi dijalan nih "


" Iya oke nanti ibu tunggu disana "


Aku dan Amir sudah biasa mendengar kalimat permintaan seperti itu dan selalu ada saja alasan yang di buat oleh ibu Asal bisa dapat menghasilkan uang ibu pasti akan lakukan.


***


" Hesti mulai sekarang kayaknya om gak bisa sering - sering ketemu karna istri om sudah mulai curiga " Ujar lelaki setengah tua yang kini berada disamping Hesti memeluk Hesti didalam mobil.


Seperti biasa Hesti dan om itu berhenti dijalanan yang hampir jarang dilewati orang .


" Yah terus gimana dong om kalau Hesti kangen om gimana ?" Rayu Hesti dengan wajah memelas.


" Ya kamu harus sabar dulu om cari waktu yang tepat biar kita bisa jalan berdua seperti ini "


" Oke om ,tapi jangan lama - lama ya ?"


" Iya " Ujar om itu dengan mencium pucuk kepala Hesti.


Hesti memejamkan mata semakin menenggelamkan wajahnya pada dada om itu

__ADS_1


" Kalau saja aku gak butuh uang darimu ,aku ogah mau temenin kamu disini udah pacaran sembunyi - sembunyi kayak maling aja " batin Hesti .


__ADS_2