
Bab 10.
POV AZZAHRA
"Alhamdulillah mas, kalau mas suka. Aku bahagia bisa melayani kamu. Aku hanya minta Ridhomu saja mas"
"Iya sayang, aku selalu Ridho dengan pelayanan dan ketaatanmu sebagai seorang Istri...!"
"Alhamdulillah..Amiinnn...Makasih ya Mas."
"Iya sayang, aku mau pulang ajah sayang, kerjaanku dan selesai. Lagi pula udah mau hujan kayaknya, jadi amanlah. Mungkin tiga minggu lagi kita panen sayang!"
"Alhamdulilah semoga kita bahagia ya mas."
"Amiin."
"Ya sudah, kita pulang dek..!"
"Disini ajah dulu mas...Aku mau ngobrol sama kamu dulu."
"Hm, Iya deh."
Kami lanjutkan mengobrol setengah jam, dan kami pulang bersama ke rumah. Kami berjalan menyusuri jalan, sambil bergandengan tangan.
"Sayang, kamu mau beli apa dulu untuk di rumah? Aku mau beli rokok dulu, apa ada yang mau dibeli diwarung?"
"Hm, iya mas, sabun cuci piring dan detergen habis sayang."
"Ya sudah kita mampir dulu ya di warung Lek Jono!"
"Iya mas." Sesampainya di warung Lek Jono, mas Farhan memesan rokok dan pesananku tadi.
"Mas Farhan, kok masih berdua aja? Belum ada momongan ya?"
"Belum Lek, Insya Allah kita selalu berdoa dan usaha kok!"
"Ya semoga mas Farhan, Allah mengabulkannya!"
"Aamiin."
Kami pulang setelah berpamitan dan kami sampai di dalam rumah. Kami masuk bersama setelah Mas Farhan menyimpan cangkulnya.
"Ayo dek, kita masuk," ajak suamiku.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," Jawab Ibu dan Dona.
"Eh ada Dona, dari mana Dona? Kok tumben main ke sini?"
"Saya mau ketemu dengan kamu Han, Kangen aku dengan dirimu!" Dona senyum sambil melirik kearahku.
"Hm, nggak boleh kangan-kangenan dong, aku punya istri, aku hanya boleh dikangeni oleh Istriku saja!" bela Mas Farhan.
"Istrimukan belum bisa kasih momongan Han, kenapa gak kamu ceraikan saja? MANDUL kali dia!" Ucap Dona dengan agak menekankan kata MANDUL nya tadi.
__ADS_1
"Istriku sehat kok...Jangan bicara sembaranga kamu! Ada apa kamu ke sini, kalau cuma untuk mengacaukan di rumah ini mending sana ke rumah Santi, dia kan sahabatmu!" bentak mas Farhan.
"Jangan kasar begitu mas sama mbak Dona, dia kan tamu mas."
"Tamu tak diundang...!" sahut suamiku. Dona terlihat kesal mendengar ocehan suamiku.
"Kamu tuh ya Han, orang Dona jauh-jauh hanya untuk ketemu dengan kamu, bukan dengan Santi!" timpal Ibu.
"Ibu kan setali tiga uang sama Santi dan Dona!" sahut suamiku.
"Kamu jangan kurang ajar han! Kamu itu udah tiga tahun menikah, kenapa belum punya momongan?"
"Ya belum dikasi sama Allah, kita berdua itu sudah berusaha dan berdoa..Jangan bilang MANDUL segala, emang dia gak mandul?" kata mas Farhan.
"Aku kan belum menikah Han!" jawabnya.
"Ya makanya nanti kamu mandul juga bagaimana?"
"Ah, kamu tuh ya Han!! Pokoknya Dona malam ini akan menginap di rumah
ini..!!" sahut Ibu.
"Terserah kalau mau disini, tapi tidak boleh lebiih dari tiga hari! Ingat, tamu itu hanya tiga hari! Selebihnya kamu nggak boleh tinggal disini..!" sahut suamiku lagi.
"Hah, cuma tiga hari? Donanya aku tinggal dimana?" Dia bingung.
"Emang kamu mau disini berapa hari?"
"Maunya sih sebulan..." ucap Dona.
"Iya Dona nanti tidur sama Ibu saja!" timpal Ibu.
"Ya sudah, yuk sayang kita ke kamar. Aku mau mandi dulu, terus kita sholat Dzuhur," ajak suamiku.
"Iya mas, mari mbak Dona ditinggal dulu!"
"Iy-Iya..." balas Dona.
Kemudian kami masuk ke dalam kamar dan mas Farhan aku bawakan baju dan celana ganti untuk mandi.
Mas Farhan langsung ke kamar mandi dan aku menunggu mas Farhan kembali. Setelah itu kami sholat Dzuhur berjamaah. Aku dan Mas Farhan tidur siang. Dia terlihat capek sekali. Aku hanya memeluknya saja.
Kami bangun setelah mendengar Adzan Ashar dan segera mengambil air Wudhu di kamar mandi. Dona sedang di kamar ibu karena aku mendengar suara mereka yang tertawa-tawa dari dalam kamar Ibu.
Setelah Sholat Ashar berjamaah, aku dapur untuk membuat kopi hitam kesukaan mas Farhan. Dan aku bawa ke teras. Mas Farhan sedang merokok.
"Mas, ini kopi hitamnya."
"Iya sayang, terima kasih."
"Mas, kamu tegas sekali menjawab mengenai kehayantin tamu di rumah ini!"
"Sayang, dia itu tipe orang yang suka membuat kegaduhan dari sekolah dulu. Suka usil dan suka sekalu menghina orang lain. DIa itu orang kaya, dan pindah ke kota lain karena Ayahnya pindah tugas ke sana!"
"Oh gitu, jadi dia suka merendahkan orang begitu?"
__ADS_1
"Iyalah"
"Ayo Dona kita pergi kalau sudah siap!"
"Iya Bu, ayo" kemudian muncul mereka berdua dari dalam rumah dan keluar ke teras.
"Farhan, Ibu dan Dona mau shopping dulu, ya, kamu jaga saja rumah!"
"Iya."
"Han, aku pergi dulu ya sama Ibu!"
"Ya."
Suamiku datar saja membalas sapaan mereka. Kemudian Dona sebelum pergi sengaja mencium pipi suamiku dengan cepat.
"Dadah Farhan, hahahaha."
Aku yang tak terima dengan kelakuan Dona langsung berdiri.
"Heh Dona. Kita aku akan buat perhitungan dengan mu setelah kamu pulang!!" Ancamku dengan teriak. Dia kaget melihat aku marah dan langsung kabur dengan Ibu.
"Heh!! Awas kalau datang lagi ke sini!!" teriakku lagi.
"Sudah sayang, aku minta maaf ya.”
"Mas nggak usah minta maaf, aku nggak suka dengan kelakuan nya tadi, aku akan hajar sampai dia balik!!"
"Waduh, ternyata istriku bisa marah juga ya, sereeemmm...Hihihihi" Mas Farhan berdiri dan memelukku.
"Sampai kapanpun, aku mencintai dan menyayangi kamu sayang!"
"Aku juga mas...Maafkan aku ya..!"
"Iya nggak papa dek, sudah wajar kalau kamu marah...hihihi"
Setelah Sholat Isya kami makan malam berdua dan setelah itu kami ke teras. Mas Farhan merokok dan minum kopinya. aku menemani sambil minum teh.
"Sayang kamu katanya mau beli HP baru?"
"Iya mas, aku kan suka menulis cerita. Makanya aku mau pergunakan itu untuk menulis saja"
"Hm..Begitu ya, abis panen kamu bisa beli ya sayang."
"Makasih ya mas."
"Iya."
Ibu dan Dona datang dengan membawa beberapa kantong belanja yang besar-besar dan mereka masuk tanpa salam. Aku menatap ke mata Dona, dan dia tak berani menatapku.
"Heh, sini kamu!!" kataku sambil berdiri dan menunjuk ke wajahnya.
....
....
__ADS_1
BERSAMBUNG