KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
NOTARIS JUAL BELI RUMAH


__ADS_3

BAB 80.


Di tempat lain malam itu, Santi dan Ramdani siap-siap untuk pulang, mereka bertiga naik motor. Ketika mereka melewati warung karaoke melihat Basuki sedang berdiri menelpon dengan HPnya dan Muso berdiri di belakangnya sehingga Santi dan Ramdani melihat jelas mukanya Muso.


"Bu,bapak masih di situ aja, ya?" tanya Farell.


"Iya sudahlah, biar saja, biar bapakmu seperti itu asal kamu tetap menjadi anak yang baik dan berbakti kepada bapakmu!" jawab Santi.


Sesampai di rumah mereka langsung beristirahat.



Dua hari kemudian, Basuki yang pagi ini akan ke kantor Basuki sudah bersiap dan setelah makan pagi bersama dengan Ninu. Basuki naik motor barunya. Dengan Baju dan celana baru, berangkatlah Basuki ke kantor Yanti. Sampai disana, dia tak langsung masuk, tapi dia mengamati sekitar kantor yang ada celah bisa dibobol


dengan mudah. Setelah berkeliling diluar dia masuk ke dalam lobby dan dia tak langsung naik ke ruangan Yanti yang ada di latntai dua. Tapi dia berkeliling yang sebagian besar di dalamnya ada barang-barang untuk interior rumah dan gedung.


"Hm banyak celah,dan sepertinya kantor ini tidak ada CCTVnya. Diluar aman dan di dalam gedung ini juga aman," Ucapnya sendiri.


Dia berjalan ke lantai atas melalui tangga, dan setelah diatas Basuki pura-pura ke kamar mandi. Arah ke kamar mandi melalui beberapa bagian dan dia melongok-longok ke bagian keuangan yang terdapat beberapa karyawan yang sedang bekerja.


Tak lama dia langsung berjalan lagi menuju ke kamar mandi. Hanya buang air kecil kemudian dia berjalan dengan lambat sambil mengamati beberapa bagian ruangan sambil mengecek ada atau tidaknya CCTV.


Beberapa karyawan yang hanya beberapa orang mulai mencurgai tingkah Basuki yang seperti mata-mata. Tapi mereka tidak ambil pusing dengan adik ipar bosnya itu yang dulu bekerja juga, kerjaannya hanya main game dan keluyuran saja.


TOK


TOK


"Pagi," salam Basuki.


"Pagi, Pak Basuki silahkan masuk," sahut Yanti yang sudah menunggu dengan dua orang dari notaris.


"Pagi bapak-bapak," ucap Basuki sambil bersalaman dengan kedua orang itu dan Yanti.


"Pagi pak. Pak Basuki Senopati, ya?" tanya Notaris nya.


"Iya pak," balas Basuki dan dia duduk di kursi kosong.


"Ya kalau sudah ada pak Basuki, ini dokumen-dokumen yang harus bapak tanda-tangni, dan saya bisa minta kartu identitas bapak?" tanyanya.


"Iya ini pak, sudah saya siapkan!" Jawab Basuki.


"Baik pak, ini yang harus semua bapak paraf dan tanda tangan!" Perintah Notaris yang satunya dengan dokumen yang diletakkan di atas meja kerja Yanti.


Setelah ditanda-tangan semua, basuki langsung diberikan uang oleh Yanti ,sisa dari DP yang kemarin, sebesar seratus juta rupiah.


"Oke Yanti, bapak-bapak, terima kasih atas semuanya, saya mobon pamit dulu, semoga kita tidak bertemu lagi! Hahaha," ucap Basuki dengan kesombongannya.


"Baik Pak Basuki, sama-sama Terima kasih banyak, silahkan pintu keluar ada disana!" Balas Yanti dengan kesal.

__ADS_1


Setelah itu dia langsung keluar ruangan dan berjalan ke arah tangga dan langsung keluar gedung menuju motornya. Setelah menyimpan uang di Jok motornya dia kemudian pergi ke Bank untuk memasukkan uangnya ke dalam rekening baru yang dibuatnya.



Ditempat lain, Santi sudah ditelpon oleh Yanti, kalau Basuki sudah keluar dari gedungnya dan Santi bisa langsung ke kantornya.


Santi bersama Ramdani langsung meluncur ke kantornya Yanti dengan naik motor. Sampailah mereka dikantornya Yanti dan langsung diarahkan oleh receptionis kantornya ke ruangan Yanti.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Eh Santi, silahkan masuk," ucap Yanti dengan senyum Dia berdiri dan menyambut tangan Santi bersalaman.


"Gimana kabarnya, Yanti?" tanya Santi.


"Alhamdulillah Santi, mas Ramdani," jawab Yanti dan dia kembai duduk.


"Ibu ini, Ibu Santi Setiawati?" tanya Notarisnya.


"Iya pak," jawab Santi.


"Silahkan bu, ini dokumen yang harus ditandatangani dan paraf di beberapa tempat. Bisa minta kartu identitas Ibu?" tanyanya.


"Oh iya, sebentar!" Santi mengambil KTP dan menyerahkan ke Notarisnya.


"Iya bu, silahkan."


Setelah selesai Santi minta uang nya ditransfers ke rekeningnya saja dan Yantipun menyanggupinya.


"Baik Yanti, kalau sudah tidak ada lagi yang harus saya kerjakan, kami mohon pamit ya," ucap Santi.


"Wah kenapa cepet-cepet sih?" tanya Yanti dan langsung berdiri dari bangkunya mendekat ke kursi Santi.


"Iya Yanti, saya kan harus mengurus warung soto saya, udah dua sekarang!" Jawab Santi.


"Wah keren, ya sudah  kalau begitu saya bisa ke sana ggak sekarang? Kebetulan belum sarapan dari rumah, yuk. Bapak-bapak kalau mau ikut juga boleh. Kita ke warung soto mlik bu Santi ini, enak loh dan terkenal disini!" Ucap Yanti.


"Oh, warung soto Farell itu?" tanya salah satu Notarisnya.


"Iya pak, yang itu. Satu di desa Damar dan satu lagi di desa Gumati," jawabnya.


"Hm, bolehlah kalau begitu. Saya suka sekali soto disana, enak!" Jawab notarisnya lagi.


"Oke, kalau begitu kita ke sana yuk. Mbak Santi sama saya saja naik moDen. Biar mas Ramdani naik motor sendiri, bagaimana?" ujar Yanti.


"Tidak usah Yanti, saya sama suami saya saja naik motor!" jawab Santi.


"Hm, ya sudah, ayo kita berangkat sekarang!" Yanti mengambil tas dan kunci moDennya . Mereka semua keluar dari ruangan menuju keluar gedung.

__ADS_1


Sesampainya di warung soto, mereka semua makan dengan lahap.


"Mas Ramdaninya kemana Santi?" tanya Yanti.


"Itu disamping. Bengkel lasnya di sebelah, Yanti!" ucap Santi menunjuk ke luar.


"Ohh..Jadi  Mas Ramdani buka bengkel las juga di sebelah?" Yanti manggut-manggut.


"Iya, dia kan dulu punya dua bengkel las sebelum menikah dengan saya. Terus salah satunya kurang bagus pendapatannya dan dibuka disini. Alhamdulilah, bengkelnya selama buka disini sudah punya karyawan lima," Jawab Santi.


"Wah, sama-sama pengusaha nih. Oh iya, kalau nanti ada pekerjaan las di bangunan yang saya kerjakan, bisa dong kerjasama dengan Mas Ramdani?" tanya Yanti senang.


"Bisa aja. Sekarang makanlah dulu, nanti setelah makan bisa saya panggil dia untuk bicara denganmu!" ucap Santi.


"Iya deh, mari pak kita makan soto. Ada rawon juga, San?" tanya Yanti.


"Ada, mau rawon juga?"


"Ehm..Saya minta empalnya juga dan perkedel boleh?"


"Boleh,"jawab Santi dan dia berjalan mengambil beberapa potong empal daging dan perkedel.


Yanti dan bapak-bapak notaris itu makan dengan lahap sampai nambah nasi. Setelah makan selesai mereka kenyang dan memuji masakan Santi.


"Wah, mantap! Memang beda soto disini!" ucap Yanti.


"Terima kasih Yanti!" balas Santi.


"Ini juga resep dari Zahra. Saya hanya meracik dengan skala besar saja, dan Zahra juga yang memberitahukan takaran-takarannya."


"Iya saya juga kangen sama Zahra. Eh gimana tuh Bulan? Makin cantik aja deh tuh anak!" ucap Yanti.


"Iya makin pintar anaknya. Suka meledek bapaknya juga! Hahaha."


"Wah, aku mau ketemu ah sama mereka sekalian silaturahmi nanti sore!"


"Iya, sudah lama ya kamu tidak main ke rumah Zahra?"


"Iya, saya sibuk. Tapi saya lega, urusanmu dengan Basuki juga sudah selesai sekarang!"


"Iya saya mengucapkan terima kasih kepadamu. Kalau kamu tidak membelinya, rumah itu masih sengketa! Hahaha," Santi tertawa.


"Iyalah, kebetulan juga kami memang butuh untuk karyawan yang jauh-jauh rumahnya dan masih single."


......


......


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2