
Bab 92.
"Hm, waktu di Bandung ternyata kang Yahya ini adalah teman sekelas di SMA waktu istri saya tinggal di Bandung!"
"Ohhh begitu.ayo masuk. Dunia ternyata kecil banget ya? Hahaha....!" Mereka semua duduk di sofa ruang tamu.
"Eh nak Farhan, loh kok sama Yahya?" tanya Ibu Anggoro dan kami bersalaman.
"Iya, Yahya dan istri saya itu teman SMA dan kita ketemu waktu saya dan istri ke Bandung, bu," jawab Farhan.
"Kok bisa begitu ya? Pas banget! Hahaha," Bu Anggoro tertawa.
"Mau minum apa ini?" tanya Bu Anggoro.
"Kopi aja mah, mereka kan perokok!"
"Iya deh, sebentar ya."
"Gimana Yahya, kamu beneran sudah bercerai dengan istrimu?"
"Iya paman, saya sudah angkat tangan, karena istri saya minta uang terus. Aku walaupun masih ada warisan sawah dari bapak, tapi kan nggak juga harus dihabiskan!"
"Ya kamu sih, sudah salah dua kali cari istri! Makanya cari istri orang jawa saja!"
"Iya paman, mau cari istri lagi, sawah dan bisnis disana juga sudah jalan dijalankan oleh adek angkat saya!"
"Jadi kamu mau pindah ke Jawa nih?" tanya pak Anggoro.
"Mungkin iya paman!"
"Alhamdulillah, nanti saya carikan istri deh disini! Hahaha."
"Ah, paman ya jangan terburu-buru begitulah. Saya juga tidak terlalu pengen dulu paman!"
"Ya. Jadi kamu kerjakan sawah paman ya, nanti hasilnya kita bagi dua."
"Iya paman santai aja!" Bu Anggoro datang dengan membawa nampan isi tiga gelas kopi.
"Nah ini kopinya. Ayo silahkan diminum!"
"Iya bu, terima kasih."
"Mas Farhan, sudah nandur, kan?" tanya pak Anggoro.
"Sudah pak. Baru dua minggu lalu."
"Nah, masih bisalah palingan seminggu sudah bisa nandur ya kang Yahya!" Kata Pak Anggoro.
"Iya paman, tenang, saya juga sudah siap. Besok kita ke sawah langsung bajak, karena sudah hujan terus ya paman?"
"Iya, lumayan, kan tanahnya juga gembur” Sejam kemudian, Farhan pamit pulang.
Di rumahnya, Bulan masih menunggu papanya pulang dan mereka bermain sebentar kemudian istirahat setelah Farhan sholat isya.
Besok paginya, Dona sudah main ke rumah sekitar jam delapanan, karena akan ke Pengajian dengan Ibu.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh adek Rudi dicariin sama mbak Bulan. Dari tadi nanya terus ini si Bulan."
"Sudah sana Rudi, ke mbak Bulan ada di kamar!" Rudi langsung masuk ke dalam kamar untuk bermain dengan Bulan. Ibu yang sedang menggendong Aryo ikutan duduk di sofa.
"Bu sehat?" tanya Dona.
"Alhamdulillah Dona! Kamu sehat?" tanya Ibu.
"Sehat bu. Mas Farhan mana?" tanya Dona.
"Kamu sudah makan Dona?" tanya Zahra.
"Sudah Zahra. Itu temanmu si Yahya udah ke rumah pamannya?" tanya Dona.
"Wah wah nanyain Yahya aja, naksir nih kayaknya ya Dona! Hahahaha," Zahra tertawa terbahak.
"Ah, cuma nanya saja Zahra. Emang beneran dia sudah duda?"
"Wah, kalau itu aku kurang tau don, kan aku bukan Ibunya! Hahaha," sahut Zahra.
"Ish, kamu mah goda aja!" Dona tersipu malu.
"Ya nggak papa kan? Kamu janda dan Yahya duda!"
"Heehehehe, ah jangan diomongin sekarang lah! Aku belum tau besoknya bagaimana."
"Yalah, jangan Ngoyo!"
Dona dan Yahya selama sebulan ini terus berhubungan melalui ponsel dan mereka makin dekat. Kadang mereka jalan berdua bersama dengan Rudi dan pengasuhnya juga. Tampaknya Rudi sudah dekat dengan Yahya.
Malam itu Yahya sudah ke rumah Zahra untuk bertemu dengan Dona yang akan pergi ke Mall bersama dengan Zahra dan Farhan. Mereka jalan ke Mall dan main di tempat permainan anak. Setelah itu mereka makan di Foodcourt di Mall tersebut. Mereka makan bersama.
"Ayooo...Ke Mall tidak ajak-ajak!" Yanti muncul tiba-tiba yang datang bersama dengan kompol Reza.
"Eh tante Yanti, sini tante makan!" Mereka semua kaget dengan kedatangan Yanti yang tiba-tiba.
"Ini anak bunda bisa makan sendiri?" tanya Yanti ke Rudi. Rudi hanya senyum saja.
"Makan nak yang kenyang, ya." Yanti mencium pipi Rudi.
"Tante makan dong sini," ucap Bulan.
"Iya sayang. Kamu cantik sekali sayang pakai bando. Dibeliin siapa bandonya?"
"Dibeliin sama mama, tante."
"Ayo Yanti, makan," ajak Farhan.
"Sudah mas, saya pulang duluan ya, soalnya mau anter mas Reza ke luar dulu!"
"Iya sudah. Yanti, kenalin dulu ini kawan saya, Yahya!" Ucap Zahra yang memperkenalkan Yahya. Mereka bersalaman.
__ADS_1
Dona yang tadi cuek dengan Yanti mendapatkan kerdipan dari adeknya itu.
"Apa sih? Kelilipan tuh mata??!!" sahut Dona jutek.
"Hahaha, ish kakak mah jahat gitu sama aku. Ya sudah semua selamat makan, ya."
"Iya tante," Sahut Bulan.
"Mas Farhan, Zahra, Dona, kita duluan ya!" Ucap Yanti.
"Iya Yanti, hati-hati!" Ucap Farhan.
"Mari semua, kami duluan ya!" Ucap kompol Reza.
"Ya mas, silahkan!" Balas Zahra dan Farhan.
Yahya dan Dona hanya melambaikan tangan kepada mereka berdua.
...
Dalam dua bulan Dona dan Yahya makin akrab dan dekat, mereka selalu pacaran dan bertemu di rumah Farhan karena sekaligus mengajak main Rudi yang senang bermain dengan Bulan.
Hubungan yang positif ini membuat Farhan dan Zahra kemudian menanyakan kepada mereka berdua ketika mereka di rumah Farhan malam itu.
"Kang Yahya dan Dona, kalian sepertinya sudah dekat sekali, apakah kalian sebaiknya melangsungkan pernikahan?" tanya Farhan.
"Hmmm...Iya sih Mas Farhan. Aku rencananya mau menikahi Dona. Tapi nanti setelah panen ini. Dan saya juga harus pulang dulu mengurus dokumen untuk pernikahan nanti dengan Dona," jawab Yahya.
"Alhamdulillah, tidak baiklah menurutku kalau kalian tidak segera melangsungkan pernikahan. Nanti apa kata orang diluar?" tanya Farhan.
"Iya mas, saya juga sudah bilang ke Paman kalau saya mau menikahi Dona. Karena Dona juga sudah ke rumah paman Anggoro dua hari lalu, memperkenalkan diri."
"Ya sudah. Kalau Dona bagaimana?" tanya Farhan.
"Saya mau ke penjara dulu untuk bertemu dengan Mas Basuki, karena diakan belum menceraikan saya secara resmi, maksudnya saya belum ditalak oleh dia," jawab Dona.
"Ya sudah, kamu segera saja ke sana, supaya pernikahan kalian resmi. Dan urus juga dokumen pernikahannya Dona!"
"Iya Han!"
Seminggu kemudian Dona memberanikan diri untuk ke Penjara. Dia mau minta Basuki menalaknya dan memperkenalkan Rudi juga sebagai anak Basuki.
"Rudi sudah siap, nak?" tanya Dona.
"Sudah Ma, beltemu papa, ma?" sahut Rudi.
"Iya sayang, kita ketemu papa, ya," jawab Dona yang tak berasa dia menitikkan air matanya karena sejak Rudi dilahirkan di dunia ini belum pernah bertemu dengan Basuki.
Mereka berangkat bertiga dengan pengasuh Rudi. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada sekatnya.
Dona dan Rudi saja yang masuk ke dalam ruangan itu. Setelah duduk menunggu sekitar 10 menit, Basuki muncul dengan diborgol. Dia duduk di ruangan seberang dibalik sekat kaca yang ada lobang sedikit.
"Dona, kamu yang datang?" Basuki menitikkan air matanya.
.......
__ADS_1
.......
BERSAMBUNG