
BAB 21.
POV AZZAHRA
"Sudah dokter, Alhamdulillah."
"Alhamdulillah, nanti semalam saja akan bisa menetralisir bisa racun ular nya supaya tidak menjalar kemana-mana," ucap dokter.
"Baik Dokter. Terima kasih" ucpku.
"Iya sama-sama bu, untung saja di kaki, kalau dekat ddengan jantung dan paru-paru akan sangat berbahaya," sahutnya lagi.
"Iya dokter. tapi semua sudah normal dokter?" tanyaku.
"Ya, akan kami usahakan. Insya Allah sudah aman. Kalau besok sudah tak ada sakit, boleh Pulang!" jawabnya.
"Iya dokter terima kasih!" jawabku.
"Mari Pak."
"Mari dokter."
Aku langsung memeluk suamiku dan menciuminya terus.
"Hehehehe...Masih kangen, dek?" ledek suamiku yang merangkulku terus.Kami merasakan cinta baru bersemayam di hati kamu masing-masing.
"Masih, nanti main lagi...hahahaha!" godaku mengedipkan mata.
"Ish, mesum sekarang...!" jawabnya.
"Biarin..." Kami berdua tertawa.
"Berarti mas, harus sering pijit sama Mak Hasnah, ya??" Aku mengelus rambutnya.
"Iya aku juga, soalnya efeknya berbeda sayang, kemarin itu!" jawabku.
"Iya aku juga begitu. Maunya On terus, keras terus pusakaku...hehehe!"
"Hehehehe, Iya aku sampai kewalahan, tapi namanya juga istri nas..ya nerimo ae!" aku memberikan senyumku yang paling manis buatnya.
"Hahahaha..Iyalah, enak sih..!!" Mas Farhan mencolek hidungku.
"Hahahaha...Ish...Mas Mesum!" Aku menonjok pelan bahunya.
"Biarin...Ahahahaha!" Aku duduk dan memegang tangan kanannya. Setelah itu aku rebahkan di atas dadanya.
Di rumah, Ibu, Dona dan Santi sudah datang dari Mall dan habis belanja. Mereka duduk di ruang tamu.
"Hm, Bu, Mas Farhan kemana?' tanya dona.
"Ibu nggak tau, kok udah sore begini mereka berdua belum pulang? Biasanya jam 1an sudah dirumah dari sawah!" Ibu khawatir dengan mereka.
"Hm, mungkin lagi belanja atau mampir ditempat lain!" celetuk Santi.
"Ah, nggak biasanya ahh..!" Sahut Ibu. Santi berjalan ke kamarnya dan membuka gagang pintu. Ternyata pintunya terkunci.
"Kekunci Bu!"
__ADS_1
"Iya berarti mereka berdua lagi pergi. Coba cek paculnya si Farhan ada nggak?" tanya Ibu. Santi keluar ke arah dimana Pacul disimpan. Dia jalan ke dalam lagi.
"Nggak ada bu. Berarti mereka belum pulang dari sawah, ya?" jawab Santi.
"Iya masa dari sawah dari siang belum pulang?" Ibu khawatir terjadi apa-apa dengan Farhan dan Zahra.
"Mungkin, lagi makan siang di luar bu!" jawab Dona.
"Hah, nggak tau lah Dona. Eh iya, gimana nih? Kamu serius nggak sama Farhan?" tanya Ibu ke Dona.
"Iya seriuslah bu. Tapi aku nggak mau Farhan tau kalau aku sudah pernah menikah, supaya dia menganggap aku masih gadis!" jawab Dona serius.
"Ah nanti kamu ketuanlah pas malam pertama!" jawab Ibu.
"Itu mah bisa diatur bu...!" jawab Dona senyum.
"Tapi yang jadi kendala, si Zahra dan Farhan itu makin lengket ajah,susah di pisahkan!" sahut Ibu.
"Bu, bagaimana kalau mas Farhan, Dona pelet. Nanti aku akan pergi ke dukun dan memelet mas Farhan supaya dia terngiang-ngiang denganku!" ucap Dona dengan mata berbinar-binar.
"Hm, emang masih ada dukun kayak gitu jaman sekarang?" Ibu heran.
“Masihlah bu..."
"Ya sudah, yang penting kamu bisa memisahkan Farhan dan Zahra!"
"Wah, seru nih...!Tapi Inget, belin gue gelang loh Don, seperti yang elo janjiin sama gue!" sahut Santi.
"Iya tenang saja, kalau aku bisa jadi Nyonya Farhan, semua akan aku kasih gelang emas yang gede...!" balas Dona senang.
"Hahaha, nah gitu dong...Sip kalau begitu. Itu namanya calon mantu idaman Ibu!" jawab Ibu.
"Doakan Ibu. Besok saya ke rumah dukun nya biar aku pelet saja si Farhan itu biar benci dengan si Zahra dan minta cerai ke si Zahra"
"Iya, begitulah...Hahahaha!" Mereka tertawa barengan.
POV PENULIS
Malam hari di rumah Ibu dan Santi pun jadi khawatir karena Farhan dan Zahra belum pulang juga. Santi menelpon beberapa kawannya dan akhirnya ada yang memberitahukan bahwa Farhan sedang dirawat di rumah sakit karena kegigit ular.
"Bu, Farhan di klinik bu. Dia tadi siang digigit ular ijo!" ucap Santi setelah menelpon tetangga yang sering ke sawah bersama Farhan.
"Hah, Ya Allah!!, Kok bisa. Ayo kita ke Klinik sekarang. Masih belum malam juga. Ayolah. ibu kuatir kenapa-napa dengan Farhan!" sahut Ibu panik.
"Iya bu, ayo!" balas Santi.
Merekapun bersiap-siap dan pergi ke klinik. Setelah mereka sampai diklinik, mereka langsung ke kamar rawat Farhan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Jawab Zahra dan Farhan.
"Eh, Ibu" sahut mas Farhan.
"Farhan, Ya Allah...Kamu baik-baik saja?" sahut Ibu yang langsung memeluk Farhan.
"Kamu gimana? Kok sampe bisa di gigit ular, han?" tanya Ibu yang kuatir.
__ADS_1
"Iya, tadi aku lagi benerin irigasi terus aku jalan mau ke saung karena liat Zahra sedang jalan menuju saung. Eh begitu aku lewat pojokan sawah mau belok ke kiri, kayak ada yang gigit, aku liat ada ular ijo dan aku sabet pakai parang dan setelah itu aku nggak ingat apa-apa setelah ularnya itu mati terbelah!"
"Untung ajah kamu nggak kenapa-kenapa, nhan" sahut Ibu.
"Iya bu, alhamdulilah. Untung Zahra langsung cari aku dan nemuin aku sehingga langsung banyak yang nolongin dan membawa ke klinik....!" sahut Farhan.
"Ya Alhamdulillah...!" Santi dan Dona diam saja mendengar percakapan antara Farhan dan Ibu.
"Terus kamu sudah boleh pulang?"
"Belum bu, liat sampai besok, kalau besok sudah nggak papa, saya boleh pulang!"
"HHm, ya sudah. Kamu pulang saja Zahra!" suruh Ibu.
"Aku mau nemani suamiku bu!" jawab Zahra.
"Di rumah nggak ada yang masak!!"
"Ibu saja yang masak, memang ibu nggak bisa masak?" jawabku dengan ketus.
"Anak nggak tau diuntung! Biarin saja Farhan udah gede ini!" Ibu ngotot.
"Y,a ibu juga sudah besar pastinya bisa masak dong...!"
"Udah udah bu, biar si Santi tuh yang masak, atau dibelikan sama Santisaja, biar Ibu bisa makan masakan Santi!" sahut Farhan cepat.
"Huh..Dasar mantu nggak berguna!" Ibu melengos.
"Ibu kalau mau bikin ribut lebih baik pulang deh, aku lagi butuhistirahat!" ucap Farhan.
"Ya udah, ibu pulang saja!" Dia berdiri dan berjalan keluar.
"Aku pulang ya Farhan!" sahut Dona. Farhan diam saja.
"Aku pulang!" sahut Santi.
"Hmm!" Mereka terlihat keluar dengan cepat.
"Udah sayang, gak usah dipikirkan, biar saja, kamu nemani aku saja disini!" pintanya.
"Iya mas!" balasku dengan senyum.
Besok Pagi, setelah sholat subuh Zahra membelikan makanan untuk suaminya keluar dan membeli nasi kuning untuk dia makan. Zahra masuk ke dalam ruangan inap dan kemudian menyuapi nasi kuning untuk Farhan. Setelah itu baru dia makan nasi kuningnya.
Farhan tampak sudah segar dan minta dianterin untuk mandi. Zahra memapah Farhan ke kamar mandi. Zahra segera memberikan pakaian baru untuk Farhan pakai dan memberikannya setelah mengetok pintu kamar mandi.
Siang Farhan sudah boleh pulang dan ternyata uang jaminan yang diberikan oleh Pak Surbekti lebih. Zahra menyimpan kembalian depositnya dan memasukkannya di dalam amplop putih dan melemnya.
"Mas, udah selesai nih semua pembayaran, kita pulang naik becak saja ya!" ucap Zahra.
"Iya sayang!" jawab Farhan yag baru siap. Mereka pamit ke susternya dan mereka naik becak ke rumahnya.
"Mas, kita jarang ya naik becak begini berdua!"
"Iya sayang, udah lama nggak naik becak berdua, ya?"
"Iya, udah lebih satu tahun lalu deh. Oh iya, kamu jadi akan panen mas?"
.....
__ADS_1
.....
BERSAMBUNG