KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
MENGUNJUNGI RUMAH PAKLEK


__ADS_3

BAB 27.


POV AZZAHRA


"Iya harusnya manggil kan bisa dengan suara pelan. Ibu emang gitu, selaluuuu saja suaranya keras kalau manggil orang. Kan dengan suara pelan saja kedengeran!" ucapku.


"Hm, mungkin ibu pendengarannya juga sudah tak bagus mas. Jadi dia harus manggil keras."


"Hmmm..Gak tau kalau itu, sayang," sahutku.


"Ya sudah, maafkan Ibu ya sayang!" ujar mas Farhan.


"Iya mas."


Aku masih menemani mas Farhan di teras sebentar. Kegiatan pagi hari biasa kulakukan. Tak lama ada mbak Santi datang ke rumah. Dia menggendong anaknya.


"Ibu ada?" tanyanya.


"Ada." jawab mas Farhan.


"Jatahku panen mana?" tanyanya lagi.


"Iya nanti aku kasih. Belum semuanya kejual!" ucap mas Farhan.


"Ibu sudah dikasih?" tanya mbak Santi.


"Sudah."


"Ya udah, aku mau masuk dulu. Udah masak belum Zahra?" tanya Santi lagi.


"Sudah, makan aja, mbak." Aku sambil


Tanpa ngomong lagi dia langsung masuk ke dalam rumah dan yang pertama dia kunjungi yaitu meja makan.


"Sayang, kita jalan yuk, mumpung masih pagi!" ajak suamiku.


"Kemana mas?"


"Aku mau ke rumah bulek di kota sebelah!" jawb suamiku.


"Hm, jauh gak, mas?"


"Hm, gak sih. Nanti di Jalan Raya besar sana kita naik mobil kecil atau bus kecil ke sana!" sahutnya.


"Hm boleh. Kita nginap nggak?" tanyaku.


"Ya tergantung, kalau kamu mau menginap boleh, kalau nggak mau ya gak papa, kita pulang pergi saja"


"Aku sih terserah mas saja!" jawabku singkat.


"Hm, kita pulang pergi aja ya, sayang."


"Boleh. Ya udah aku mandi duluan ya, mas."


"Iya sayang. Hati-hati di kamar mandinya."


"Iya mas." Aku dan Mas Farhan bergantian mandi. Kami langsung siap-siap dan ijin dengan Ibu mau pergi ke rumah bulek Sri yang tinggal di kota sebelah. Kami naik becak sampai di jalan besar dan naik bus kecil. Satu jam kemudian kami sampai di rumah bulek.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Eh, Farhan, Zahra...Waalaikumsalam." Bulek kaget.


"Bulek, apakabar?" Kami mencium punggung tangan bulek Sri.


"Hm, Kok tumben ke sini?" tanya bulek.


"Iya bulek, lagi ada waktu" Kami duduk d teras.


"Hm, enak ya bulek udaranya."


"Iya, musim begini sih anginnya banyak Han. Eh Iya, mau minum apa?"


"Kopi bulek."


"Kamu Zahra?"


"Air putih saja bulek, haus."


"Ya sudah, sebentar ya. Paklek lagi masih ke sawah, bantuin tetangga panen!" jawab Bulek.


"Oh gitu, makanya setau saya disini lebih belakangan dari ditempat saya"


"Iya...Disini pada kelamaan nunggu nandurnya, karena pernah dua kali mereka tandur kebanjiran, jadi nya dua kali nanam!"


"Oh begitu? Sungai meluap bulek?"


"Iya. Sebentar, bulek ambilkan minum, ya." Tak lama kemudian, bulek datang dengan nampan berisi air putih dan kopi di cangkir, juga ada kendi besar diatasnya.


"Wah enak ini minum dengan air kendi, dingin, adem dan seger," sahut suamiku.


"Bisa aja kamu sayang."


"Eh iya, nak zahra belum ada momongan juga?" tanya bulek tersenyum.


"Belum bulek, kami belum dikasih amanah oleh Allah!" jawabku.


"Ya semoga cepet hamil ya."


"Amiin bulek."


"Eh iya, kamu sudah makan belum Han?"


"Hm udah pagi bulek, malah abis subuh, karena tadi malam aku ketiduran abis minum obat.  Gak enak badan bulek, pusing!"


"Loh kenapa pusing?" tanya suamiku.


"Gak tau, kemarin abis panas-panasan kali ya, angkut padi dan nurunin padi di gudang pak haji"


"Hasil lumayan Han, panen padinya?"


"Lumayan banget, bulek."


"Wah disini juga lumayan, walaupun tidak maksimal. Gimana kabar ibumu?" tanya bulek.


"Hm, ya begitulah, bulek." Suamiku menyundut sebatang rokok.

__ADS_1


"Begitu gimana sih?"


"Ya begitu....Hahahaha."


"Aneh ah jawabannya!"


"Iya Ibu sih sehat, tapi biasalah bulek. Masih serig marah-marah. Kebiasaanya itu berantem sama Zahra" ucap suamiku.


"Ah masa? Ibumu itu semenjak ditinggal sama bapakmu tambah menjadi-jadi kayaknya ya, han?"


"Kok bulek tau?"


"Ya ibu kan dulu sering ke rumahmu, inget nggak?" tanya bulek.


"Iya inget. Tapi Bulek nggak pernah ke rumah malah dalam beberapa bulan ini?"


"Iya itu, semenjak terakhir bulek ke sana, bulekkan nggak setuju, kalau dia menjual tanah milik bapakmu itu!"


"Tanah yang mana bulek?"


"Itu tanah yang dekat mesjid itu!"


"Oh kalau itu, emang nggak jadi dijual bulek. Karena ternyata Ibu dan pembelinya saling menahan pendapat."


"Maksudnya?"


"Iya bulek. Jadi pembelinya itu pak Anggoro merasa sudah membayar dengan cek ke Ibu, dan cek nya itu hilang. Jadi Ibu kan udah kasih surat tanahnya ke pak Anggoro. Jadi pak Anggoro juga serba salah, Waktu itu Pak Anggoro sebenarna mau buat rumah anaknya, tapi Ibu kan ngotot belum menerima uangnya"


"Lah terus kok gak jadi kejual? Maksudnya gimana itu?"


"Lah beberapa minggu lalu, Zahra menyapu dan menemukan cek itu. Dan cek itu akhirny saya  kembalikan ke pak Anggoro. Lagi pula pak Anggoro duit dalam rekening cek nya itu juga tak mencukupi. Jadinya dia kembalikan surat-suratnya dan saya kembalikan ceknya ke dia!" jelas suamiku.


"Ohhh....Lah suratnya sekarang dimana? Jaga han, nanti dijual lagi samaibumu."


"Udah aman bulek!"


"Alhamdulillah."


"Assaalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Wah ada tamu jauh ini...Hahaha...!" paklek tertawa dan berjalan masuk. Kemudian kami bersalaman.


"Sebentar ya Han, paklek mandi dulu!" ucap paklek.


“Iya paklek. Eh itu apa paklek yang dibawa? Kok gak dibawa masuk sih?" tanya suamiku.


"Hmmm... Nggak usah!" jawab Paklek.


"Apa itu pak? Kok gerak-gerak?" tanya bulek.


"Itu biawak bu..!"


"Kok gede banget!" tanya bulek.


.....

__ADS_1


.....


BERSAMBUNG


__ADS_2