
Bab 43.
POV ZAHRA
"Iya yuk, kita makan dulu," ucap suamiku.
"Iya deh." Kami makan bersama di meja makan dengan diam. Ibu juga hadir di meja makan dengan diam. Sesudah makan, mbak Santi pulang ke rumahnya dan kami bicara lagi diteras.
"Mas, bukan mau ikut campur, tapi kenapa mbak Santi? Ada masalah apa?" tanyaku dengan hati-hati.
"Ya itu. Suaminya ketauan selingkuh dan ada cewek yang selalu menelpon nya kalau malam-malam dan dia sepertinya sudah deket jadi kalau telpon udah malam-malam, terus ngumpet-ngumpet di teras. Nah beberapa hari yang lalu ketauan oleh Santi, dan terjadi pertengkaran tadi malam. Makanya dia ke sini dan menginap disini!"
"Hmmmm...Sekarang mas, bilang saja sama dia. Kalau udah ketauan selingkuh begitu, semua asset diselamatkan dulu, misal surat tanah dan rumah, perhiasan, dan uang semua dititipkan saja semua kepada Ibu."
"Oh iya, takut dia nanti diusir dan tak punya apa-apa lagi?"
"Iya mas, makanya dia kudu pinter menghadapi Pelakor!"
"Iya sih, nanti aku kasih tau si Santi."
Beberapa hari kemudian, mbak Santi datang lagi dengan membawa semua dokumen penting yang perlu dititipkan ke rumah. Semua perhiasan dan dokumen rumah. Dia terlihat tenang.Kami bertiga duduk di teras.
"Han, makasih ya, udah ada ide seperti itu." ujar Santi.
"Makasih sama Zahra, dia itu yang menberikan usulan seperti itu." jawab suamiku.
"Makasih ya Zahra." ujar mbak Santi.
"Iya mbak. Apa sampai sekarang Mas Basuki masih seperti itu?" tanyaku.
"Masih, malah makin parah. Kadang dia keluar malam dan pulang pagi. Tapi yang anehnya dia duitnya juga makin banyak loh. Kemarin malahan dia memberikan aku uang, dan langsung aja aku mausukin di bank."
"Kamu sudah lacak belum pakai GPS?"
"Hm, kayaknya dia sering ketemuan di hotel di jalan raya," ucapnya.
"Oh, hotel yang aku dijebak sama Dona itu?" tanya suamiku.
"Ya hotel itu. Eh, Si Dona kemana, ya? Aku kok curiga si Dona yang deket sama mas Basuki."
"Hah, Dona? Masa sih mbak?" tanyaku kaget. Suamiku juga kaget.
"Iya, soalnya pernah denger mas basuki ngomong begini. Ada apa Dona sayang? Gitu!" sahut Santi.
"Wah, kita dikadalin sama dona selama ini, di embat kanan dan embat kiri juga!! Sialan tuh orang, brengsek!!" Ucap suamiku geram.
"Sabar mas, jangan suudzon gitu ah, kan belum ada buktinya!" nasihatku.
"Iya juga sih, tapi kalau dia embat kanan dan kiri bagaimana? Sialan tuh orang!!"
"Udah sabar." Aku menenangkan suamiku yang sudah mulai marah.
"Hmm, aku minta maaf ya Farhan, Zahra. Aku udah menentang kalian dan menyuruh Farhan yang tidak-tidak!"
"Iya mbak, saya maafkan kok. Kami memang berusaha untuk mencari yang benar."
"Aku masih mencari sesuatu yang hilang dari cerita ini," ucap Mas Farhan.
__ADS_1
"Apa Mas yang hilang?" tanyaku bingung.
"Iya nanti juga ketauan kok!" ucap suamiku tenang.
Kemudian kami masuk ke dalam. Pagi itu kami masih leyeh-leyeh saja di dalam kamar, Aku melanjutkan menulis novel online ku dan mas Farhan menjadi pembaca setianya.
"Sayang, novel kamu pembacanya banyak banget, kadang aku membaca komen mereka kok aneh-aneh ya. Ada yang mendukung, ada yang marah-marah nggak jelas, gitu. Hahaha." Suamiku tertawa membaca komen di novelku.
"Ya itulah pembaca yang real mas, nanti dua minggu lagi, aku gajian mas."
"Hah, maksudnya gajian apa?"
"Gajian novelku mas, udah ada pemberitahuannya, mungkin minggu depan kalau novelku makin banyak pembacanya akan dapat uang dollar makin banyak," ujarku.
"Alhamdulillah, semoga kamu gajian dek, dan kamu jadi penulis yang hebat!"
"Aaaminn...Makasih ya sayang doanya." Aku cium keningnya dan dia langsung memagut bibirku dengan ganas dan kami ibadah karena sudah beberapa hari ini kami off. Hahahaha.
Sore hari setelah Shoat Magrib berjamaah suamiku mengajak ke mall untuk jalan-jalan. Kami naik becak ke sana dan jalan-jalan untuk membeli celana panjang buat bepergian.
Kami masuk ke dalam beberapa butik dan kami naik ke lantai lebih atas lagi. Akhirnya kami menemukan toko yang menjual banyak celana bahan yang murah dan layak untuk bepergian. Setelah membayar kami langsung menuju ke cafetaria mall tersebut.
Aku membelikan makanan untuk makan malam yang disukai oleh suamiku.
"Mas, mau makan apa?" tanyaku.
"Aku mau sate ayam sayang, kamu?"
"Ya mending sama saja mas, tambah sopnya juga ya, supaya ada kuah-kuahnya gitu," ujarku. Kami duduk di meja pokok cafetaria tersebut. Aku berjalan ke arah gerobak sate ayam dan sop ayam, setelah membayarnya di kasir aku berjalan ke meja. Mata tak sengaja melihat ke arah kananku dan terlihat mataku memandang dua orang yang sangat ku kenal dan mereka berdua sedang saling berangkulan dan tertawa.
Aku berhenti sejenak dan melihat mereka masuk ke dalam sebuah toko baju wanita.
Aku duduk dikursi dan mangawasi toko yang mereka masuki.
"Kamu kenapa sayang?" tanya suamiku.
"Gak papa mas. Nanti juga tau," Jawabku.
"Hm, apa lagi yang yang kamu rahasiakan?"
"Sudah nanti juga tau mas. Hehehe. Eh, liat mas, ke arah sana." Ku menujuk ke arah toko yang didepannya, tampak dua orang sedang bergandengan tangan keluar dari toko pakaian wanita.
"Astaga, itu....!"
"Udah sebaiknya kita ngumpet saja, ayo, kira nundukkan kepala dulu mas." Kami menundukan kepala. Setelah mereka lewat aku berniat untuk memvideokannya.
"Mas disini duu ya, aku akan ambil bukti video perselingkuhan mereka berdua, mungkin ini akan membantu kita ke depannya," ucapku dan berdiri membawa HP.
"Sayang, awas jangan sampai ketahuan, cukup sebentar saja ya."
"Iya mas." Aku langsung membuntuti mereka, aku ambil video dari jarak lumayan jauh dan menzoom nya sehingga terlihat dekat. Aku juga sempat membidiknya dengan foto. Setelah mereka keluar mall, aku kembali lagi ke meja.
"Bagaimana sudah dapat?" tanya suamiku.
"Sudah mas, beres. Ayo kita makan saja." Ajakku dan setelah itu kami pulang ke rumah.
Di rumah baru kami bahas mengenai pertemuan kami dengan kedua pasangan selingkuh tadi. Aku membuka HP dan memperlihatkan kepada mas Farhan video dan beberapa gambar foto mereka sedang bermesraan.
"Mas, gimana menurut mas?"
__ADS_1
"Ntahlah sayang, kok kayak ada yang dituju sama Dona. Kalau Dona seperti itu, ada dua kemungkinan. Serius atau ada maksud lain!" Jawab suamiku.
"Aku juga berpikir seperti itu mas, tapi kita lihat saja nanti ya."
"Iyalah, sekarang kita istirahat tidur, dek."
"Iya mas." Kami istriahat dan tidur.
Besok paginya kami seperti biasa, melaksanakan kegiatan rutin yang biasa kami lakukan. Setelah aku masuk kami sarapan bertiga dengan Ibu.
"Zahra, kamu sehat?"
"Sehat bu, kenapa?"
"Ibu melihat kok kamu mukanya pucat?"
"Hm, masa sih bu?"
"Iya, kamu banyak istirahat saja ya."
"Iya bu," jawabku.
"Jauhkan itu sering keluar rumah, Farhan juga nih ajak zahra terus keluar, nanti zahra sakit." ucap ibu.
"Hehehehe, Iya bu, mulai hari ini zahra akan dirumah saja!"
Waktu terus bergulir.
*
Dua minggu kemudian, aku dan mas Farhan bermaksud untuk melakukan pengecekan kehamilan lagi ke dokter kandungan. Kami pergi sore hari, dan disana kami melihat perkembangan janin di rahimku yang makin besar ukurannya dan sehat. Kami pulang ke rumah, dan mendapati mbak Santi sedang menangis sesegukan di ruang tamu.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
"Eh, Santi, kenapa nangis?" tanya suamiku.
"Farhan, Suamiku minta cerai, dan dia sekarang sudah pergi ntah kemana. Dia membawa koper dan meninggalkanku dan anakku, huuuuuhuuu..." Dia kembali menangis. Aku samperin mbak Santi dan duduk di sampingnya.
"Mbak,yang sabar, mungkin ini cobaan dari Allah mbak, kita harus menerimanya dengan
ikhlas," ucapku.
"Tapi dia meninggalkan kami begitu saja!" Aku memeluknya.
"Sudah mbak, kita yang sabar," ucapku lagi.
"Santi! sudahlah, nggak usah diurusin lagi si Basuki itu, dia kurang ajar udah lari dengan wanita lain!" Bentak Ibu.
"Bu, sebaiknya Santi tinggal disini dulu, aku kan sudah enakan tanganku. Aku akan coba menyelidikinya. Aku pinjam motormu ya San!" ujar suamiku.
"Iya Han, boleh kok. Nanti motor aku bawa ke sini saja," Jawabnya yang masih sesegukan.
.....
.....
__ADS_1
BERSAMBUNG