KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
PELET DI SATE


__ADS_3

BAB 29.


POV AZZAHRA


"Sebentar mas, aku ambilkan dulu air putih dan obat." Aku berjalan cepat ke pintu membukanya dan langsung berlari ke dispenser dan menuangkan air putih segelas.. Setelah sampai dikamar aku langsung memberikan obat dan air putih ke suamiku untuk diminumnya.


Kemudian aku bantu dia untuk rebahan lagi . Aku menyelimuti badannya. Kemudian aku memijit lengannya dupaya tenang. Kuatir sekali dengan keadaannya yang beberapa hari ini sering sakit kepala. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Selama aku menikah dengannya tak pernah mas Farhan seperti ini, sakit kepala seperti ini.


Aku sangat syok waktu dia mencekekku. Tak dipungkiri, aku berpikir keras saat ini, kenapa keadaan mas Farhan seperti ini. Apakah ada hubungannya dengan sate dan sop yang dia makan tadi?


Aku masih tidak berpikiran macam-macam saat ini. Bingung dan kuatir dengansakit kepalanya. Sepanjang malam ini sampai subuh aku tidur tak tenang. Sebentar-sebentar aku bangun untuk melihat suamiku dan mengecek keadaannya di sebelahku sedang tidur.


Setelah Adzan subuh berkumandang, aku membangunkan suamiku.


"Mas, sudah subuh Bangun, Kita sholat Subuh, sayang," ucapku sambil menggoyangkan badannya.


Dia menggerakkan badannya dan melek menatap wajahku.


"Sayang, aku pingsan ya?" ujarnya.


"Hm...Kamu tidur abis minum obat tadi malam. Kamu sakit kepala tadi malam!" jawabku memandangnya dalam.


"Hm begitu...Udah subuh, ya sayang?" tanyanya.


"Baru saja Azan subuh, mas."


"Ya udah, kita sholat subuh dulu, yuk."


"Iya mas." Dia bangun dan duduk. kKemudian turun dan berjalan klluarkamar. Kami mengambil wuduh bergantian dan sholat subuh berjamaah.


"Dek, aku masih penasaran deh, tadi malam aku kayak nggak ingat apa-apa, ya?" ujar mas Farhan.


"Masa sih mas?" tanyaku aneh.


"Iya. Aku bermimpi, kayaknya berada di suatu tempat yang banyak sekali makhluk aneh. Mereka semua kerja paksa. Akupun mengangkat batu-batuan di pinggir sungai. Sebenernya aku ketakutan waktu itu,” jelasnya.


"Wah, kok kamu bisa begitu mas. Tau nggak mas. Tadi malam kamu nyekek aku waktu aku lagi tidur."Aku menjelaskan ke suamiku apa yang terjadi supaya dia tau.


"Astagfirullah sayang...Kamu gak apa-apa kan???" Mas Farhan langsung menegang leher dan kepalaku. Memeriksa bekas cekekannya di leherku.


"Kamu nggak papa sayang? Aduh maafin mas sayang..Mas nggak tau, nggak ingat sama sekali!" Terlihat dia sangat khawatir.


"Beneran mas ngak ingat?" tanyaku lagi.


"Tidak sayang. Beneran! Aku kok sejahat itu ya sama istri, sampai mencekek gitu. Aku minta maaf ya, sayang." Dia seperti terpukul dan tidak percaya.


"Ya sudah. Kalau begitu nanti makanan yang di meja makan, jangan dimakan ya, nanti aku bawa ke belakang saja, pokoknya jangan dimakan!!" larangku ke dia.


"Iya sayang. Tapikan masih banyak, dek. Apa hubungannya dengan makanannya?" tanya mas Farhan yang bingung.


"Kamu begini itu setelah makan sate itu, jangan dimakan lagi!" ucapku.

__ADS_1


"Iya dek. Mas nggak akan makan lagi!" Dia menurut apa yang aku minta.


"Mas mau kopi?" tanyaku lembut.


"Iya dong, mas tunggu diluar ya, dek."


"Iya mas."


Aku langsung membuka pintu kamar dan menuju ke dapur selain membuat kopi suamiku, aku memasak nasi dan mencuci piring. Sengaja setelah aku mengantar kopi ke teras, aku masak buat sarapan. Makanan sate dan semuanya itu aku taroh di meja dapur supaya tidak menyampur dengan makanan yang aku baru masak.


Pekerjaan rumah kuselesaikan sampai mencuci baju dan menjemur pakaian. Aku ke teras dan di sana ada Ibu dan mas Farhan sedang duduk.


"Mas, ayo kita sarapan. Kamu pasti lapar!” ajakku.


"Iya dek. yuk kita makan." Kami masuk berdua, tanpa menghiraukan kembali Ibu yang sedang melamun sendirian di sana.


"Ayo mas makan, aku udah masakin ikan dan sayur asem kesukaanmu."


"Mantap dek. Sambelnya?" tanyanya.


"Ini sambel dan ini juga ada ketimun untuk lalap!” jawabku dan kami duduk di kursi makan.


"Ya, mari makan dek. Aku lapar langsung melihat masakanmu," ucap mas Farhan yang langsung melahapnya.


Ibu terlihat masuk ke dalam kamar, dan buru-buru kembali lagi ke teras dan duduk disana. Lima menit kemudian aku melihat ibu kembali ke kamar dengan memegang kertas koran kecil yang sudah diuntel-untel.


Aku mulai curiga dengan kopi mas Farhan lagi yang mungkin dia berikan sesuatu sehingga mas Farhan bisa antipati kepadaku.


"Iya," jawabnya.


Aku berjalan ke teras dan mengambil gelas kopi yang masih setengah lagi. Kemudian aku buang seluruh isinya. Aku taruh kembali ke atas meja. Aku kembali ke meja makan. Mas Farhan sudah selesai makannya.


"Sayang, kopiku kok habis?" tanyanya heran.


"Oh iya lupa, aku buatkan lagi ya. Soalnya tadi ada lalat masuk, makannya aku buang saja. Nanti kamu sakit perut lagi," ucapku pura-pura.


"Ya sudah, dibuatkan saja lagi." Gelas kubawa dan kucuci di cucian piring dengan sabun. Aku buatkan lagi kopi dengan gelas bentuk sama tapi gelas berbeda. Kubawa kopi yang sudah jadi tadi ke teras.


"Mas, ini kopinya," ucapku.


"Iya dek. Makasih ya. Eh iya, bagaimana tulisan di novelmu?" Sambil melinting rokoknya.


"Aku sudah mulai nulis mas. Baru dua bab. Kalau sudah banyak, biasanya sudah bisa langsung bikin kontrak dengan aplikasi."


"Oh, ada kontraknya juga?" tanya suamiku heran.


"Ada dong, biar penulisnya semangat. Kalau dapat uang kan sama-sama diuntungkan," jelasku kepadanya.


"Iya juga sih. Mas mah nggak tau yang begitu-begituan." Dia tersenyum.


Begitu indah senyummu mas, wahai Pengeran dan Malaikatku. Aku ingin selaluhidup bersamamu dalam suka dan duka.

__ADS_1


"ZAHRA..!!" Aku mendengar suara Ibu memanggil dari dalam rumah.


"Iya bu." Aku langsung ke dalam dan berhenti jarak dua meter.


"Ada apa bu?" tanyaku.


"Kamu kok taroh di belakang itu sate dan sebagainya!" bentaknya.


"Udah gak enak bu. Kalau mau ibu saja yang makan!"


"Eh, bandel dan nggak menghargai orang!" bentaknya lagi.


"Emang siapa yang bawakan?"


"Dona, dia kesini tadi. Dia jauh-jauh bawa sate dan sop buat dimaan, malah kamu buang!" ucap Ibu.


"Saya nggak buang kok bu, di taroh di meja belakang!" jawabku sekenanya saja.


"Iya bukannya di taroh di meja makan!" jawab Ibu.


"Ya kan tinggal sedikit, kayaknya juga udah nggak enak kok, udah basi!"


"Basi gundulmu!!" Sahut Ibu. "Mas Farhan mual-mual makan sate itu, jadi lebih baik aku taroh di meja


belakang daripada suamiku sakit! Kalau Ibukan emang suka makan enak kayak gitu. Lagi pulakan kami bebas saja kok, Ibu habiskan juga nggak papa. Kan aku juga biasa masak buat makan kam berdua!" jawabku.


"Dasar kamu!! Nggak menghargai orang yang ngasih!"


"Ibu kenapa nggak makan?" tanyaku sambil menatap ke Ibu. Dia terlihat kikuk.


"Kamu itu udah dikasih curiga aja! Ya udah, buang saja makanannya!" Kemudian dia kembali masuk ke dalam rumah.. Aku jalan ke teras dan duduk di samping mas Farhan yang sedang melinting rokok.


"Dek, tulisan kamu sudah sampai mana?" tanya suamiku.


"Baru Bab dua mas," jawabku.


"Emang susah ya, kalau kamu langsung nulis dua bab atau lima bab?"


"Hahaha, Mas ini, susah mas, Inspirasinya!" jawabku meledeknya.


"Hahaha, Iya juga ya, memang Inspirasi susah apalagi kalau lagi abis berantem ya dek..Hahahaha." Mas Farhan tertawa.


"Kamu meledek aku, ya?" Kucubit pinggangnya.


"Aduhh..Tidak dek. Eh sayang, aku mau konsultasi deh atau berobat sama orang pintar!" Mas Farhan berhenti melinting rokoknya dan menatapku.


"Kok gitu? Kenapa emang mas?" tanyaku heran.


....


....

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2