KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
KEANEHAN PADA SUAMIKU


__ADS_3

Bab 28.


PO AZZAHRA


"Iya kalau biawak mah kecil kalau yang besar itu komodo! Hahaha." Palek langsung berjalan ke dalam rumah.


"Bulek. Si Tarjo mana? Kok gak keliatan?" tanya suamiku.


"Hm, belum pulang sekolah Han."


"Oh belum pulang sekolah? Lah terus si Yunis?" tanyanya lagi.


"Dia kerja, pulang malam!" jawab Bulek.


"Hm kerja dimana di sekarang?"


"Di perusahaan swasta!"


"Han, bulek mau masak dulu ya, buat makan siang. Udah hampir jam dua belas ini,” sahut bulek.


'"Mas, aku bantuin bulek ya di dapur!" ucapku.


"Iya sayang."


"Bulek aku bantu masak ya?" pintaku.


"Iya boleh, yuk."


Kemudian adzan dzuhur berkumandang. Mas Farhan dan Paklek ke mesjid. Aku menungggu dengan bulek di teras.


"Nak Zahra, kamu emang masih sering berantem dengan Ibumu?" tanya bulek.


"Aku sih nggak anggap berantem bulek.Tapi ibu dan Mbak Santi selalu memusuhiku!"


"Emang kenapa musuhin kamu? Kamu dirumah emang ngggak kerjakan tugas rumah?" tanya bulek.


"Semua Zahra yang kerjakan bulek. Dari nyapu, nyuci, masak. ngepel. semua aku yang bersihkan. Cuma kamar ibu saja yang tak pernah aku bersihkan. Ibu nggak membolehkanku masuk."


"Hm, makanya itu. Aneh sekali!"


"Beberapa minggu ini malah, Ibu menyuruh mas Farhan untuk nikah lagi. Dia manggil temannya mas Farhan waktu di SMA ke rumah menginap di rumah. Dia mau menjodohkan Mas Farhan dengan anak itu!" jawabku lagi.


"Loh Loh Loh...Kok kayak gitu ibumu?" Bulek sampai heran.


"Makanya aku kesal bu, mereka bersekongkol untuk mengusirku dari rumah!"


"Wah, nggak bisa dibiarkan kalau begitu. Aku nanti harus ngomong sama paklekmu. Dia harus dikasih tau, caranya salah. Apa karena kamu belum hamil-hamil?" tanya bulek lagi.


"Iya bulek. Benar!"


"Kurang ajar, dia kok bisa kayak begitu sih?" Bulek terlihat kesal.


"Udahlah bulek. Akukan memang belum hamil. Kami memang belum pernah mengecek ke dokter, tapi kami juga nggak berhenti untuk berdoa dan usaha!"


"Nah itu, kalau istri belum hamil juga kan memang sudah ketentuan Allah, masa kita tidak berdoa? Kita pasti berdoa dan tetap berusaha!" ucap bulek.

__ADS_1


"Makanya bulek, saya cuma mejaga mas Farhan saja, biarlah saya yang diomelin oleh Ibu tapi dia tidak ribut sama mas Farhan!"


"Kamu emang nggak pernah mengeluh Zahra, kamu anak baik. Cuma Ibu mertuamu saja yang gak bersyukur punya mantu baik seperti kamu!" sahut bulek.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Wah bu. Makan aja kita langsung," Paklek mengajak kami makan siang. Kami semua masuk ke dalam rumah dan makan bersama. Setelah makan, kami berkumpul lagi di teras.


"Pak, ini loh, nak Zahra kasian,” ucap bulek.


"Kenapa Bu?" tanya paklek.


"Tadi nak Zahra bicara sama Ibu, kalau dia mau diusir, dan Farhan disuruh menikah lagi sama wanita lain. Karena Zahra belum hamil!" jawab bulek.


"Astaghfirullah Al- Adzim, kok si Ranis bisa begitu, ya?" Paklek bingung.


"Itu kakakmu loh pak!" sahut bulek.


"Iya, tapi dia gak boleh gitu. Dosa itu namanya. Misahin pasangan suami istri!"


"Iya paklek, saya juga bingung. Kami memang sudah tiga tahun belumpunya momongan, tapi bukan karena kami tidak berusaha dan berdoa. Ya Paklek dan Bulek, saya hanya minta doanya saja."


"Astaga. Kok dia bisa sejahat itu, ya?"


"Saya juga gak tau paklek. Sampai Ibu itu menjodohkan saya dengan temen SMAku yang jelas dia sudah pernah menikah. Malahan si Dona itu udah boong belum pernah menikah. Untung Zahra pernah denger kongkalingkongnya Santi dan Dona!" timpal suamiku.


"Oh gitu? Jadi Santi juga terlibat?" tanya paklek.


"Masya Allah. Apalagi sih yang dicari sama Ibumu? Udah tua kok masih seneng hura-hura! Ya Allah gustii gustiii!" Paklek menggeleng-gelengkan kepalanya kecewa. Kami diam sejenak.


"Ya kalian jangan mau terpengaruh ya, sama keadaan ini. Kalau memang sudah keterlaluan, ke rumah paklek aja, nanti biar paklek urusin dan kita laporkan ke Pakde Gendro!"


"Ya paklek. Kami akan berusaha tidak mencari masalah duluan kok paklek!”sahut suamiku.


"Bagus. Kalian tetap saja harus saling sayang, saling cinta dan saling menghargai."


Kami saling menggenggam tangan. Suamiku tersenyum manis ke aku.


*


Sesudah sholat Ashar kami pulang ke rumah. Dan sampai di rumah pas Adzaan Magrib. Kami mandi bergantian dan sholat Magrib berjamaah.


"Mas, mau aku buatkan kopi?" Setelah kami selesai sholat.


"Boleh sayang, di teras ya?"


"Iya mas."


Aku membuatkan kopi ke dapur. Pas melewati meja makan, aku merasa aneh. Ada makanan enak di dalam tudung saji. Ayam bakar, sate ayam dan kambing juga sop kambing. Begitu aku pegang ayamnya, masih hangat.


Aku tutup lagi dan aku ke dapur membuatkan kop hitam untuk suamiku. Setelah itu aku ke teras memberikan kopinya.


"Mas, ini kopinya."

__ADS_1


'Makasih dek."


"Mas, di meja makan ada makanan-makanan enak dan baru. Punya siapa mas?" tanyaku.


"Iya tadi aku sempet makan sate ayamnya satu tusuk,” ucap mas Farhan.


"Emang siapa yang beli?" tanyaku.


"Gak tau, mungkin ibu atau Santi!" jawabnya singkat.


"Ya sudah kalau kamu mau makan malam, nanti aku temani. Tapi aku nggak makan mas!" jawabku.


"Iya, aku mau ngopi dulu. Nanti abis makan rencana mau tidur. Aku capek kayaknya badan ini."


"Mau aku pijitim mas?" tawarku.


"Hehehe, mau dong sayang. Semoga pijitanmu nanti enak." Suamiku menggoda dengan senyumnya yang manis.


"Ya yang enak pijit sakit kayak Mak Hasnah. Karena pegal dan sakitnya bisa langsung sembuh dan enakan. Kalau pijit enak ya, sama yang itu.." Aku tunjuk ke arah bawah.


"Hahaha, jangan malam ini ya dek. Aku capek."


"Hmm, iya sayangku. Aku akan pijitin kamu nanti," jawabku dengan senyum.


"Makasih istriku sayang."


"Iya mas!"


Setelah 15 menit kemudian. Mas Farhan mengajak makan dan aku menemani. Kami masuk kamar dan tidur setelah makan malam selesai. Malam hari jam 12 malam lebih, tiba-tiba mas Farhan teriak-teriak dalam tidurnya. Dia seperti mimpi buruk. Aku yang tak bisa tidur dari tadi memang menulis Novel di appikasi. Dan kaget waktu dia teriak.


"Mas, mas, bangun...!" Aku membangunkannya.


"Hahhhh...Huh huh huh...!" Dia menengok ke arahku dan dia seperti marah sama aku.


"Kenapa kamu mas? Kamu mimpi buruk?" tanyaku sambil memandangnya. Dia menepis tanganku yang hendak mengelap keringat di dahinya.


"Udah nggak usah...! Kamu tidur aja gih! Aku mau tidur lagi!"


"Iya mas, tidur yu," Ajakku. Dan akupun tidur, HP kumatikan. Terjadi lagi sekitar Jam dua pagi dan kali ini aku merasa susah bernapas. Ternyata Mas Farhan sedang berusaha mencekik leherku. Aku pegang tangannya dan terlepas. Aku langsung berdiri dan bangun.


"Mas, uhuk..uhuk..Kamu kenapa nyekek aku???" Aku berdiri menjauh dari ranjang. Dia terlihat masih marah dan kemudian memegang kepalanya.


"Aaaahhh..." teriaknya.


"AAAHHHH.." teriaknya lagi.


"Mass...Masss...Kenapa mas?" Aku mendekat ke samping suamiku dan memegang badannya.


"Mas..Masss.....Kamu kenapa mass..??" Aku panik melihat dia seperti kesakitan.


"Aargghhh.....Sakit banget kepalaku dek....!!" Dia memegang kepalanya dan menundukkan kepalanya. Kemudian aku membimbing badannya dan membetulkan posisinya dengan rebahan kembali.


...


...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2