
BAB 30.
POV AZZAHRA
"Penasaran aku sayang!"
"Penasaran kenapa?"
"Penasaran aja dengan mimpiku tadi malam. Aku sangat takut. Kenapa aku ada didalam suasana yang seperti itu? Ada gangguan dari mana, ya?" Ucapnya.
"Hm, begitu ya, mas?"
"Iya. Tapi aku nggak tau disini orang pintar ada atau tidak!" balas suamiku dengan nada kecewa.
"Kalau begitu kenapa nggak rukiah saja mas? Kan ada di jalan raya, rukiah gitu?" usulku.
"Oh iya, boleh dicoba sayang. Aku nggak punya maksud apa-apa cuma takut aja, sayang."
"Iya aku paham mas. Hari ini mau kemana kita?"
"Kemana ya sayang?"
"Kita dirumah saja?"
"Ya sudah dirumah saja. Kelonan."
Dua minggu kemudian.Pagi-pagi, setelah sarapan. Aku mencuci piring dan langsung cuci pakaian kemudian menjemur seperti biasa. Aku balik ke dalam rumah dengan membawa sapu untuk menyapu lantai dalam rumah, Mas Farhan mau berangkat ke rumah pak Haji untuk menggiling padi.
"Dek, mas berangkat dulu, ya." Suamiku sudah rapi.
"Iya mas, hati-hati di jalan." Setelah aku mencium punggung tangan suamiku, aku ikut antar dia keluar. Aku masuk lagi dan membereskan kamar. Tiba-tiba aku mual ingin muntah dan berlari ke teras dan muntah di got depan. yang keluar hanya lendir saja.
'Kok aku mual ya tiba-tiba. Apa aku hamil?' bathinku.
Aku langsung masuk ke dalam kamar dan mengecek tanggalan.
'Hm, sudah telat tiga hari ternyata. Besok aku akan test saja dengan tespack.' pikirku.
Aku senang sekali, impianku yang selama tiga tahun ini ingin mempuanyai anak akan segera terwujud. Aku akan memberitahukan kepada mas Farhan kalau memang aku hamil. Dia pasti akan bahagia.
Setelah masak untuk makan siang, aku mandi dan pergi ke apotek untuk membeli testpack mengecek kehamilan.
Aku langsung pulang dan menyelipkan dibawah tumpukan bajuku di lemari, testpack nya.
Aku menulis kembali novelku di apikasi. Bab empat sudah aku mulai, dan aku harus tamatkan hari ini dengan dua bab. Sampai Adzan Ashar, suamiku belum juga pulang. Dia setelah Magrib baru datang, dan yang kagetnya lagi, ternyata dia datang bersama Dona.
"Assalamualaikum." sapa suamiku.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Jawabku.
"Eh mas, sudah pulang?"
"Iya," jawab suamiku singkat. Aku diam saja dan masuk bersamasuamiku ke dalam kamar. Dona masuk juga ke dalam rumah dengan senyum mengembang.
'Aneh, kenapa mereka bisa datang bersama, ya? Keliatannya suamiku juga sudah bisa tertawa dengan Dona.'
Aku masuk ke dalam kamar dan menutup kamar.
"Mas, sudah sholat Magrib?"
"Belum. Kamu?" tanyanya balik.
"Aku baru saja selesai. Mau dibuatkan kopi?"
"Boleh," jawabnya dengan singkat lagi.
Aku keluar menuju dapur, dan membuatkan kopi. Setelah selesai kubawa kopi tersebut ke dalam rumah. Ternyata suamiku sedang mengobrol dengan Dona dan Ibu. Mereka tertawa-tawa bersama seperti bahagia.
"Mas ini kopinya. Mau disini?"
"Iya taro ajah di meja!" jawabnya.
"ZAHRA, Ambilkan minum juga buat Dona!" suruh Ibu.
Aku tak mengiyakan, tapi kembali ke dapur untuk membuatkan secangkir teh manispanas. Kubawa kembali ke ruang tamu dan kuletakkan di meja, minum yang aku buatkan tadi.
"Iya mas." Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk kamar sesuaiyang suamiku suruh.
Terdengar tawa mereka kembali dan setengah jam kemudian Adzan Isya terdengar. Mreka masih asik mengobrol dan tertawa becanda. Aku keluar kamar dan betapa kagetnya, melihat Dona sedang duduk disamping
suamiku dengan jarak yang sangat dekat dan menghadap serta menatap wajahnya.
"Mas. Kamu udah sholat Magrib? Ini udah Adzan Isya!" Kulihat Dona langsung mundur sedikit duduknya.
"Ya, entar saja, Tanggung lagi ngobrol! Kamu masuk saja dikamar!" ucapnya.
"Mas, kamu kan nggak ada uzur? Kenapa meninggalkan sholat Magribnya?"
"Udah bawel kamu! Kata suami harus diturutin! Jangan membantah!" bentaknya. Ibu dan dona terlihat senyum penuh kemenangan melihat suamiku berubah seperti itu.
Sesak dadaku, dia kembali lagi membentakku. Aku sedih mendengar bantahan dari suamiku. Aku lari ke dalam kamar dan menangis.
'Ya Allah, sadarkan suamiku dari sikapnya yang pemarah ini.'*
Tak terasa air mataku menetes di atas bantal yang sedang aku tiduri. Aku sedih sekali, kenapa mas Farhan seperti ini?
"ZAHRA...!!" Mas Farhan sudah ada diambang pintu. Aku bangun dari tengkurapku dan duduk diatas kasur.
__ADS_1
"Eh..Hmm..Iya mas, ada apa?" tanyaku sambil menghapus air mataku yang ada di pipiku.
"Aku mau keluar dulu dengan Dona! Kamu siapkan baju buat aku ganti. Aku mau mandi dulu!!" Perintahnya dan dia menutup kembali pintu kamar.
'Ya Allah, cobaan apa lagi buatku kali ini? Apakah aku bisa menghadapinya?' batinku menangis.
Kuberjalan ke lemari dan menyiapkan pakaian yang akan mas Farhan kenakan. Aku keluar dan berjalan ke arah kursi dimana Dona berada.
"Kamu apain suamiku bisa berubah seperti itu?" tanyaku langsung ke arah Dona.
"Aku nggak apa-apain? Mungkin dia udah bosan sama kamu!!" balasnya.
"Sikapnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Tadi siang dia masih biasa ke aku dan benci ke kamu!!" bentakku.
"Heh, mantu nggak berguna!! Kamu jangan salahkan Dona dong! Kamu bisa nggak menjadi istri yang didambakan oleh Farhan! Kamu udah kampungan! Mandul pula! Hahahaha." Ibu dan Dona tertawa senang.
"Ibu jangan bicara begitu. Saya sudah berusaha menjadi istri yang baik buat suamiku!" jawabku dengan tegas.
"Buktinya, dia bisa berpaling ke Dona!" sergahnya.
Aku tatap ibu dengan tajam. Dia menantangku menatap tajam!
"Aku akan balas semua perbuatan kalian! Aku akan bongkar semua ulah kalian!!" ancamku.
"Heh, ulah apa? Kami biasa saja kok. Mungkin suamimu itu baru sadar kalau dia punya istri yang kampungan! Gak modis seperti aku!" ucap Donna kesal.
"Heh, Dona. Kalau kamu ketauan main Dukun sama suamiku, Akan aku hancurkan kamu!!" Aku marahi dia. Dona gelagapan, Ibu menunduk dan memalingkan mukanya.
"Ma-main dukun gimana? Apa buktinya? Kamu jangan menyalahkan orang lain! Introspeksi saja kamu! Dasar!" Dona balas bentakku.
"Heh, Pelakor!! Aku juga bisa main dulkun membalas perbuatanmu!! Tapi saya masih punya Allah, saya akan minta kepada Allah untuk membalas segala perbuatanmu kepada aku dan suamiku!! Dasar Pelakor!!" balasku dengan geram.
"Heh, jangan macam-macam kamu! Saya adukan kamu ke polisi Menuduh orang sembarangan!!" Ancamnya.
"Huh...Aku tau maksud kamu! Aku akan cari tau semuanya. Kalau kamu terbukti yang membuat mas Farhan seperti ini, akan aku handurkan kamu!!" jawabku kesal.
"Buktikan saja kalau kamu bisa? Hahaha..CUPU LOH!!" ledeknya.
Aku menahan amarah yang tak bisa kupendam tapi aku akan hancurkan orang ini sebagai Pelakor!!
"Udah sana, ngapain mengharapkan Farhan lagi, dia sudah menjadi milikku!!!" Terlihat wajah Dona yang sudah aku ingin tonjok dan buat perkedel Tanganku mengepal keras. Aku pergi dan masuk lagi ke dalam kamar dengan perasaan dongkol, marah dan kesal.
"Awas kamu, kalau berani mengambil suamiku!" gumamku.
Suamiku sudah masuk ke dalam kamar. Dia kemudian mengganti baju nya dan tanpa pamit keluar dan jalan dengan Dona. Dari dalam kamar, kudengar tawa canda mereka dan aku dengar sapaan salam kepada Ibu saat mereka keluar.
....
....
__ADS_1
BERSAMBUNG