
BAB 31.
POV AZZAHRA
Aku kembali menangis. Aku menangis menangis da menangis. Sampai akhirnya aku bangun lewat tengah malam. Aku tidak menjumpai suamiku tidur disamping.
'Ya Allah, kemana suamiku? Jam segini belum datang. Apakah ada hal yang penting sampai selerut ini dia belum pulang.' Aku bangun dan keluar kamar menuju ke kamar mandi. Aku ke kamar mandi dan mengambil wudhu untuk sholat isya yang kelupaan karena ketiduran. Aku sholat Isya tanpa seorang imam yang biasanya mengimamiku. Aku mengaji dan meneruskan surat sebelumnya.
Setelah itu aku ambil HP dan melanjutkan tulisanku di Novel itu. Malam ini sudah aku tamatkan lima bab. Dan ternyata aku mengecek notifikasi. Tak lama setelah tu, aku mendengar suara suamiku pulang. Aku keluar kamar dan membukakan pintu buatnya.
"Eh, mas udah pulang!" aku mengambil tangannya untuk mencium punggung tangannya, tetapi dihempaskan olehnya.
"Gak usah cium-cium lagi. Aku jijik denganmu!" Dia langsung masuk ke dalam kamar dan tidur dikasur. Aku yang sedang shok langsung merasakan sakit yang teramat sakit. Kupegang dadaku dan kumerosot ke bawah. Aku menangis dan menangis. setelah lama aku kembali lagi bangun dan menutup pintu depan dan menguncinya.
Di dalam kamar, aku tidur disamping suamiku. Aku langsung tidur dalam kesedihan.
Besok paginya, aku bangun pagi dan menuju ke kamar mandi. Sebelumnya aku mengambil Testpack yang sudah aku beli kemarin dan aku bawa ke kamar mandi. di dalam kamar mandi aku tampung sedikit air kemihku di sebuah wadah plastik yang tak terpakai. Aku celupkan dan kutunggu beberapa saat. Muncullah dua garis yang selama ini aku impikan.
"Ya Allah terima kasih, aku Hamil!" Ku menangis di dalam kamar mandi. Dan aku masukkan hasil Testpack itu ke dalam buntelan tisue yang aku bawa dari kamar. Kuletkakkan dipinggiran bak mandi dan aku berwudhu. Setelah itu aku bawa tisue itu ke dalam kamar dan menyelipkannya di bawah tumpukan koran alas lemari baju-bajuku.
Aku sholat Subuh sendirian, suamiku masih tertidur.
Setelah sholat subuh aku berdoa mengucapkan syukurku karena aku hamil, dan akan menjadikan momen bahagiaku dengan suamiku. Aku sudah membayangkan kegembiraan mas Farhan yang sudah pasti sangat sangat bahagia apabila mendengar aku hamil. Aku akan memberitahukannya nanti setelah membuatkan kopi di teras untuknya.
Sesudah mengaji aku lipat sajadah dan mukenaku dan membangunkan suamiku untuk sholat Subuh.
"Mas, mas, bangun, sudah subuh ini..!!"
"Hmm Ya."
Dia mengulet dan melihat ke arahku. Aku terdiam dan degdegan melihat raut wajahnya menunggu apa yang dia akan katakan. Ternyata dia diam saja dan bangun menuju ke kamar mandi untuk berwudhu.
Aku tunggu dia di kamar sambil aku membuka HPku untuk melihat apakah ada notifikasi dan surel kalau ada balasan kontrak dari aplikasi novel ini. Ternyaat belum ada. Mas Farhan masuk ke dalam kamar.
Dia langsung ambil sajadah dan sholat sendirian. Mungkin dia tau kalau akusudah sholat duluan karena rambut depanku yang basah. Aku tunggu sampai dia selesai sholat.
Dia masih diam saja, tidak berkata-kata sedikitpun setelah selesai sholat. Langsung dia ke teras dan merokok tanpa bicara apapun! Aku langsung ke dapur dan membuatkan di segelas kopi hitam dan membawanya ke teras. Sampai diteras ternyata Ibu dan Mas Farhan sedang mengobrol. Aku mengurungkan ke teras. Aku taroh kopinya di atas meja. Dan aku menguping pembicaraan mereka dari ambang pintu belakang korden.
"Wah, kamu jalan kemana saja Han tadi malam sama Dona?" jawab suamiku.
"Ke Mall bu, makan malam dan kemudian mengantarnya ke hotel."
__ADS_1
Deg aku langsung lemas mendengar kata "HOTEL".
"Ngapain di hotel han?" tanya ibu.
"Gak apa-apain, dia banyak cerita mengenai kehidupannya. Ternyata Donaemang sangat baik ya, bu. Dia itu membelikanku Jam tangan bagus, Dan aku masih simpan itu di lemari."
"Iya kan sudah Ibu bilang sama kamu, kalau Dona itu emang baik sekali. Kamu saja yang gak mendengarkan kata kata Ibu dan lebih memilih si Zahra yang kampungan itu!" Terlihat Ibu mencebikkan bibirnya.
"Hm, ya namanya istri bu, kan emang harus baik. Tapi setelah aku mengobrol sama Dona dia ternyata lebih asik bu. Dan baik banget. Senyumnya itu loh bu, manis banget." Dia terlihat senyum sendiri setelah berkata itu.
"Ibu saranin kamu sama Dona saja. Dia kan baik, kaya lagi. Pasti kamu hidupnya terjamin. Dan kamu gak usah lagi capek-caoek kerja di sawah, panas-panasan dan pastinya kamu akan hidup mewah dengan Dona!"
Aku menitikkan air mata mendengar Ibu mengatakan itu. Dan mas Farhan masih tersenyum aku lihat dari balik korden. Ada perasaan yang sangat sakit mengiris hatiku. Tak terasa aku sudah jatuh ke bawah dan menghasilkan bunyi DUG.
Ibu membalikkan badannya ke belakang. Dia melihat aku yang sedang duduk dan langsung pergi ke kamar dan mengunci pintu kamar. Aku menangis sejadi-jadinya.
Pintu kamar digedor-gedor dari luar. Suamiku memanggil namaku.
"ZAHRA..ZAHRA..!" Aku diamkan saja. Hatiku saat ini terasa sakit, seperti ada banyak sayatan yang mengiris hati. Aku harus kuat demi calon anakku. Tak akan kubiarkan dia mengetahui bahwa aku hamil.
Sudah lama aku menangis dan akhirnya aku tertidur selama setengah jam. Kulihat jam dinding dan aku buka pintu kamar. Ku menuju dapur dan memasak lauk untuk suamiku sarapan. Dia sedang duduk santai di teras, tadi kulihat.
Sesudah semua selesai, aku masuk kembali ke dalam kamar. Dan aku diam diam memasukkan bajuku ke dalam tas. Tak Banyak, tak setidaknya aku akan menepi dulu untuk memberikan waktuku untuk menyendiri.
Suamiku masuk ke dalam kamar sedang aku bermenung di atas kasur.
"Kamu kenapa tadi pagi? Kok pintu kamar dikunci?"
"Gak papa!"
"Kamu kok jawab pertanyaan suamimu dengan cara begitu?!" Dia mulai meninggikan suaranya.
"Aku tidak apa-apa! Apa kamu tidak dengar??!"
"Ya sudah kalau tidak ada apa-apa." Dia langsung pergi ke belakang ternyata dia mandi dan masuk lagi ke kamar mengganti pakaian dan langsung pergi tanpa pamitan. Aku akhirnya ke belakang dan mandi. Setelah mandi aku masuk ke dalam kamar dan membawa tas ku yang cukup untuk tiggal sementara di rumah Paklek.
Aku keluar kamar dan meninggalkan surat untuk suamiku. Aku berjalan ke jalan raya untuk menunggu becak yang lewat.
"Eh Nak Zahra mau kemana?" Mak Hasnah datang dari belakangku yang sedang berdiri menunggu becak lewat.
"Mak Hasnah, mau ke rumah paklek." Kami bersalaman.
__ADS_1
"Kok tumben nggak sama Farhan?"
"Dia sedang ada urusan mak, nanti akan menyusul katanya!"
"Oh, ya sudah, mak mau ke warung dulu, ya. Hati-hati di jalan."
"Iya mak."
Kemudian muncul becak dan aku panggil kemudian aku naik ke becaknya.
"Mang,Ke Jalan Raya, Ya."
"Iya neng."
Kemudian aku diantar ke jalan raya dan naik bus yang sama waktu aku ke rumah paklek bersama suamiku.
Sesampainya di rumah paklek aku mengucap salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Loh Zahra? Kok kamu bawa tas? Kenapa Zahra?"
"Bulek...!" Aku memeluknya dan menangis dipelukan bulek.
"Udah,ayo masuk dulu, nanti kamu tenangkan diri dulu di dalam dan kita ngobrol ya.."
"Iya bulek." Aku menghapus air mataku yang sudah banyak mengalir di kedua pipiku. Aku duduk di sofa ruang tamu menunggu bulek mengambilkan minum.
"Ini, minum dulu biar kamu tenang."
"Nggeh Bulek." Aku meminum air putih seteguk dan kemudian diam.
"Ya sudah, kalau sudah tenang bisa bicara sama bulek."
Aku ceritakan semua yang terjadi kepada bulek dan dia terlihat marah.
....
....
__ADS_1
BERSAMBUNG