KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
HINAAN MERTUAKU LAGI!


__ADS_3

BAB 17.


POV AZZAHRA


"Maaf Don, suamiku galak, dia nggak mau ada orang lain di rumahku!" jawab Ana.


"Aku juga, anakku nakal-nakal!" Sahut Ani.


"Apalagi aku, ekonomiku kan nggak bagus, jadi kalau menampung kamu, ogah! Nanti suamiku kegaet kamu lagi...!" timpal Wina melengos. Ibu keluar dari kamar, mungkin karena mendengar suara mas Farhan yang keras mengusir Dona.


"Farhan!! Awas kamu kalau berani mengusir dona! Berhadapan dengan Ibu!" sahutnya dan medekat kearah kami semua.


"Apa alasan Ibu gak bolehin? Dona ini sudah buat keributan terus...Ibu taukan kalau Zahra didorong oleh Dona tadi pagi?!!"


"Huh, emang kenapa kalau didorong? Biarin ajah! Biar tau rasa dia!" jawab Ibu mencibir.


"Dia itu istri saya Bu, jangan begitu, Dona ini orang lain! Kenapa Ibu Belain!??" Suamiku tak terima.


"Pokoknya Dona nggak boleh pulang, dan nggak boleh keluar dari rumah ini!" Aku diam dan menatap Dona yang senyum penuh kemenangan.


"Oh saya tau...Ibu kan masih butuh duitnya Dona, ya?" sahut suamiku.


"FARHAN!! Kurang ajar kamu sama ibu!" Dia mau menampar suamiku dan aku tangkap tangan Ibu.


"Ibu nggak boleh kasar dengan suami saya, dia juga anak Ibu. Ibu harusnya sadar! Kalau ibu telah menghancurkan semuanya!" Jawabku.


"Heh! Anak Kurang ajar! Kamu beraninya menantang Ibu!"Dia melotot ke arahku. Dia mengambil bantal sofa dan memukulkannya ke badanku.


"Udah bu cukup!!" sahut mas Farhan menarik badanku dan menghalanginya.


"Kenapa kamu menghalangi?” Ibu melotot ke mas Farhan.


"Ibu ngapain nyalahin Zahra! Ibu kok yang salah, kenapa ibu selalu membela si Dona? Ayo jawab!!" ucap mas Farhan.


"Kamu kan sudah tau, kalau Dona itu ke sini karena Ibu akan menjodohkannya dengan kamu!"


"Hah, Apa bu?" tanyaku lagi.


"Heh, kamu itu istri mandul juga! Nggak perlu membela diri. Kamu nggak berguna disini!"


"Ya sudah kalau saya tidak berguna, mulai sekarang saya akan mengurus suamiku saja!! Dan seluruh rumah, saya nggak mau lagi ururs! Masak dan sebagainya, saya akan masak khusus saya dan suamiku saja!" jawabku lantang.


"Oke, kalau itu mau kamu!!" timpal Ibu senang.


"Nah enak deh mas...Yuk, aku akan masak khusus untuk berdua saja, jadi uangku irit deh!" celotehku.


"Heh Zahra! Jangan gitu lo sama orangtua Durhaka Lo!"


"Loh, apanya yang durhaka? Lagipula saya kan dibilang nggak berguna oleh ibu?"


"Iya tapi teteplah kamu yang kerjakan perkerjaan rumah!!" sahut Dona.

__ADS_1


"Kamu saja!! Kamu kan sudah bukan tamu lagi, jadi tidak wajib lagi saya dan mas Farhan melayani kamu! Kamu masak dan nyuci baju sendiri! Tuh cuciin juga baju ibu...Saya hanya nyuci baju aku dan suamiku!!"


Dia gelagapan dengan balasanku tadi.


"Udah tenang saja dona..Dia juga nggak boleh make kompor Ibu!"


"Hah? Kompor Ibu? Kompor ibu mah sudah dikasihkan ke Mbak Santi! Itu kan aku yang beli!" sahut mas Farhan.


"Hmm...Kamu nggak boleh make kamar mandi!"


"Hahaha...Ibu sudah lupa? Kalau kamar mandi saya yang buat?" kata Mas Farhan membalasnya.


Mereka diam...


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Eh Mbak Santi...!" ucap mereka.


"Ada tamu banyak to?” Mereka bersalaman. Aku dan mas Farhan menepi ke dekat tembok. Aku di rangkul oleh mas Farhan.


"Kok kenapa pada diam?"


"Nggak papa mbak!"


"Itu Loh si Farhan mau ngusir Dona , San!"


"Hah, kenapa kamu mau ngusir Dona???"


"Tapi kan nggak bisa kamu langsung usir dia begitu saja!!" bantah mbak Santi.


"Ya haruslah! Dia hanya jadi pengganggu disini..!" sahut mas Farhan lagi.


"Nggak boleh!! Dia harus tetep disini!!" sahut Ibu.


"Apa karena kamu dan Ibu sudah diberikan banyak barang sama Dona?" tanya suamiku ke mbak Santi.


"Hahahahaha...Jadi kamu ngiri?" tanya Santi sinis.


"Tidak, saya tidak ngiri!! Emang kamu selalu begitu kok sama setiap orang! Kamu sama saja dengan Ibu..!! Boros!! Sok Pamer!!" ejek suamiku.


"Heh jangan kurang ajar ya sama gue!!" bentak mbak Santi.


Aku diam saja mendengar perdebatan mereka berdua.


"Sekarang angkat kaki kamu Dona!!" usir suamiku.


"Gak boleh!!" larang mbak Santi.


"Saya nggak mau liat tampangmu lagi besok, paling lambat besok pagi kamu disini!!" ancam suamiku. Aku masih melihat mereka berseteru, aku kesal melihat Dona yang diam saja, tidak merasa bersalah.

__ADS_1


"Hm, ya sudah, saya akan pergi, saya akan ke rumah Paklek saya saja di desa sebelah!" ucap Dona.


"Jangan mau kalah Dona!" sahut Ibu.


"Ibu belain dia yang bukan anak Ibu?" tanyaku.


"Diam kamu!! Kamu cuma bisanya cuma pengaruhi si Farhan saja!!" bentak ibu ke aku.


"Loh, dia kan suamiku bu, aku wajib melayani suamiku dan membela dia..!" ketusku.


"Kamu itu Pengacau!!" sahut Santi.


"Pengacau dimana? Sayakan cuma membela diri atas semua tuduhan yang belum tentu benar..!!" bantahku.


"Kalau begitu kamu saja yang keluar dari rumah ini, cepat!!" usir ibu ke aku.


"Eh, Ibu mau mengusir Zahra?" mas Farhan jadi tambah marah.


"Abisnya dia melawan Ibu...!!" bentak ibu.


"Sudahlah bu, saya nggak mau tau...Dia harus keluar dari rumah ini besok pagi!!" ultimatum suamiku.


"Ayo Zahra...Kita ke kamar saja, dengarkan mereka ngomong nggak ada habisnya!"


"Iya mas." Kami tinggalkan mereka dan masuk ke kamar. Mereka tak ada yang bicara setelah itu. Aku menutup pintu dan mengunci kamar.


"Mas, udah sabar.....Aku kan jadi nggak enak sama semuanya, mana lagi ada tamu lagi di ruang tamu"


"Ya sudahlah, nggak papa. Biar mereka tau kalau kita tidak bisa digituin!"


"Hmm, ya sudah, Bentar lagi kita sholat Ashar!"


"Iya dek!" Mas Farhan mandi setelah Adzan Ashar berkumandang. Tamu sudah pada pulang, Mbak Santi dan Donapun tak nampak lagi batang hidungnya. Mungkin dia sudah di kamar Ibu.


"Dek...Bukannya kita harus ke rumah mak Hasnah hari ini?"


"Oh iya, yuk kita ke sana."


"Ya sudah, yuk!"


Kami bersiap ke rumah Mak Hasnah, dan sesampainya di rumah Mak Hasnah, beliau tidak ada, sehingga kami akhirnya pulang kembali dan duduk di teras. Mas Farhan melinting rokoknya dan aku belajar untuk melinting rokok.


"Hahahaha, jangan begitu dek caranya, nanti bakalan kepadetan rokoknya!"


"Terus gimana mas?"


"Gini nih..." Dia memperagakan caranya dan aku tirukan dengan alat yang dia punya.


"Nahh..Ini jadi mas!" jawabku menunjukkan rokok yang sudah jadi.


....

__ADS_1


....


BERSAMBUNG


__ADS_2