
BAB 23.
POV ZAHRA
Besok paginya setelah sholat subuh berjamaah, aku ke dapur untuk menanak nasi dan cuci piring. Mas Farhan ke teras. Aku buatkan kopi dan kubawa ke teras.
"Mas, ini kopinya. Ini juga ada keripik pisang, aku kemarin beli di pasar modern!"
"Oh iya, makasih dek. Itu bahan makanannya nggak papa dikulkas?"
"Aman mas, aku udah taroh di Freezer kok mas, jadi aman!"
"Ya sudah."
"Mas aku ke dalam dulu mau nyapu dan masak buat sarapan!" sambil ku berdiri.
"Iya, silahkan sayang!" Kemudian kuberjalan ke dapur.
Selagi masak, aku mendengar ibu keluar kamar dan langsung masuk ke kamar mandi. Setelah itu Ibu langsung ke teras. Aku dengar ada suara Mbak Santi dan Dona juga. Tapi mereka sepertinya di ruang tamu.
Aku lanjutkan masakku sampai selesai.
Aku sajikan semua masakan yang sudah selesi dan aku mencuci pakaian dulu dan menjemurnya. Udara cerah sekali.
Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati mereka sedang makan di meja makan. Aku langsung ke teras saja melihat mereka sarapan.
"ZAHRA...!! Mau kemana kamu!!!" ucap ibu.
"Ke kamar bu, mau beresin tempat tidur dan kamar..!"
"Ini kok lauknya cuma ini? Kan kamu abis belanja kemarin banyak?" tanya Ibu.
"Itu buat selametan sebelum panen bu, lusa rencananya mau selametan!"
"Hmm Kirain kamu pelit!!" ejeknya.
"Hahahaha, dia emang pelit bu, kan bisa ajah dimasak sedikit sekarang!" sahut Santi.
"Kalau mau makan masak aja sendiri mbak!!"
"Hehehe, sewot die..!" sambil makan.
"Aku gak sewot kok, aku melayani sebisa mungkin, ya kalau cuma mau numpang sarapan nggak usah banyak bacot mbak!!" bentakku.
“Apa lo bilang???!" Dia menengok ke arahku.
"Kalau cuma numpang makan, ya nggak usah banyak bacot! Makan ajah yang ada! Kan cuma numpang makan!"
Dia berdiri dan aku siap-siap dengan mundur beberapa langkah.
"Kamu jangan songong ya!! Ini juga rumahku! Jadi aku berhak untuk makan disini!!"
"Ya, wajib juga dong urusin rumah ini! Jangan cuma hak mu saja yang diambil!" Jawabku sewot.
__ADS_1
"Halah baru bisa masak aja belagu!!" bantah Santi.
"Lah, tunjukin dong kalau kamu bisa masak! Kalau ke sini cuma bisa numpang makan dan numpang berantakin aja kan kamu!!"
"Kurang ajar!! Itu mulut jangan banyak bacot aja! sini kamu!" Dia maju ke depan dan mau menamparku.
"Heh!! Berhenti, kalau kamu nampar istriku... Aku buang kamu ke jalanan!!" Mbak Santi menarik tangannya kembali. Setelah mendengar suamiku teriak dari ruang tamu
"Urus istrimu!! Udah belagu selama ini sama aku!" sergahnya.
"Ya, kalau dia begitu karena kamu selalu memusuhinya!" Mas Farhan merangkul pundakku.
"Kamu belain terus aja istrimu yang kampungan ini!!" balas mbak Santi.
"Dia kampungan tapi sikapnya nggak kampungan kayak kamu dan Dona!!"
Dona tersulut emosi.
"Kok bawa-bawa namaku!??" ketus Dona.
"Emang kamu juga kampungan! Nggak tau adat! Udah tau orang sudah menikah, masih aja kamu deketin...Gak tau adab!!" balas suamiku menjawab bentakan Dona.
Dia diam saja KAGET.
"Dona, sampai kapanpun, aku nggak mau ya sama kamu. Kamu tuh cewek murahan. Emang aku nggak tau kalau kamu itu sebenernya sudah menikah dan sekarang sedang mengurus perceraianmu!! Benerkan??!!" Suamiku mengejeknya.
"Kok kamu tau? Darimana?" tanya Dona heran.
"Dari aku, aku mendengarnya waktu kamu sedang bicara dengan Mbak Santi. Dasar ******! Ular kamu!"
"Udah gitu masih ngaku gadis! Kamu hina!" Hina suamiku lagi.
"Aku nggak hina Han, aku memang mencintai kamu!" sahut dia dan sudah berdiri di samping mbak Santi. Ibu pun juga sudah berdiri disamping mbak Santi sebelah sananya.
"Kamu kurang ajar ya, Han! Samanya kamu dan Zahra! Selalu membuat onar di rumah ini!!" tukas Ibu sambil menunjuk ke suamiku.
"Aku nggak buat onar bu! Dia ini emang nggak tau diuntung! Udah tau udah menikah, eh dia bilang masih gadis, pembohonglah kamu, Don!! Pokoknya kamu nggak usah kembali bertamu di rumah ini mulai sekarang! Kamu pergi sana!!"
"Eh enak aja kamu usir tamu Ibu!"
"Ibu selalu membelanya!" balas Mas Farhan.
"Ibu nggak membela, dia kan tamu Ibu dan sahabatnya Santi juga!" sahutnya ketus.
"Heh!! Kamu sekarang kamu pergi dari rumah ini! Awas kamu gangguin istriku lagi! Gangguin aja sana suaminya mbak Santi!" sahut mas Farhan dengan senyum sinisnya.
"Hah, enak ajah! Wong dia maunya sama kamu, kenapa harus sama suamiku!?" bantah mbak Santi.
"Enak aja kamu main tuduh aja! Aku ke sini karena kamu Han, bukan karena siapa-siapa!" Dona pura-pura dengan wajah memelas.
"Halah! Yuk sayang, kita ke kamar saja, ladenin orang-orang ini nggak ada gunanya" Mas Farhan merangkulku meninggalkan mereka menuju ke kamarku. Sejak Pertengkaran itu Dona dan Mbak Santi tak pernah datang lagi selama dua hari. Aku dan mas Farhan masak untuk selametan Panen Padi. Di kampung sini memang seperti itu, selametan ditujukan sebagai bentuk syukur kami kepada sang Pencipta yang mengatur segalanya.
Selametan berjalan lancar walaupun Ibu tak mau ikut, tapi suamiku mengundang beberapa tetangga untuk hadir.
__ADS_1
Besoknya suamiku sudah mulai panen padi dan sela itu aku selalu membawakan banyak makanan untuk yang membantu suamiku panen padi disawah. Mereka senang. Selama tiga hari beberapa orang tetangga ikut membantu disawah untuk panen. Lumayan HASIL nya. Alhamdulillah hasil panennya dua kali lipat, karena
suamiku mengikuti saran dari kelompoknya yang menggabungkan metode penggunaan pupuk dan pestisida organik. Kami sangat senang dengan hasil itu.
"Dek, alhamdulilah, berkat doa kita, Panenku hasilnya melimpah dan hasilnya hampir dua kali lipat!" ujar suamiku.
"Alhamdulillah mas. Syukur aku kepada Allah, rejeki kita ditambah, Aamiin."
"Sayang buatkan aku kopi dong," pinta suamiku.
"Iya mas, sebentar ya." Aku berjalan ke dapur dan membuatkan kopi buat suamiku dan mengantarnya ke teras setelah jadi.
"Mas ini kopinya."
"Makasih sayang."
Aku duduk lagi di sampingnya.
"Mas, sudah selesai panennya?"
"Sudah sayang."
"Ya sudah besok mas bisa istirahat dulu sehari!" usulku.
"Ya sayang!"
"Mas besok mau dimasakin apa?" tanyaku.
"Apa saja sayang. Besok kita jalan-jalan yuk!" ajaknya.
"Kemana mas?"
"Ke Telaga saja, aku mau rileks saja di sana!" jawabnya.
"Oh boleh mas, Berangkat pagi?"
"Iya kita berangkat pagi! Oh iya, sekalian besok kita beli HP baru ya buat kamu...!!"
"Alhamdulillah, terima kasih mas." Kupeluk dia dan kucium bibirnya.
"HHmmpp..Nakal!"
"Hahahaha...Kok nakal? Kan sama suami sendiri!"
"Hehehe...Makasih sayang!" Suamiku mencubit pipiku.
"Iya mas....Hidupku sudah merasa bahagia, sudah mempunyai suami bertanggung jawab dan sayang sama aku!"
"Hm, Ya aku juga suami yang banyak kekurangannya sayang." Dia menatapku dengan rasa cinta yang dapat kurasakan dihati ini. Hangat dan menenangkan.
...
...
__ADS_1
BERSAMBUNG