
BAB 32.
POV AZZAHRA
"Kurang ajar emang ibumu itu! Dasar orang yang nggak tau diuntung! Ya sudah kita tunggu paklekmu datang nanti kita ceritakan saja ke dia!” geram bulek. Aku termenung saja. Siangnya Paklek datang dan aku langsung mencium tangannya.
"Loh kamu sendirian Zahra?" tanya paklek,
"Iya paklek."
"Farhan mana?" tanyanya lagi.
Aku diam saja.
"Udah, Bapak mandi dulu sana, abis dari sawah. Nanti kita bicara bertiga,” sahut Bulek.
"Iya deh. Aku mandi dulu ya." Paklek langsung berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Iya Paklek."
Setelah paklek mandi kami bertiga berkumpul di ruang tamu.
"Jadi begini loh pak, nak Zahra ini kabur dari rumah. Ternyata Farhan sudah berubah dan sedang selingkuh dengan teman SMA nya itu loh, yang dijodohkan oleh si RYunis, namanya Dona!"
"Lahkok bisa gitu? Kemarin dia kayaknya menolak mentah-mentah??" tanya paklek.
"Nah itu dia paklek. Sebenernya percaya tidak percaya. Jadi beberapa kali setelahdari sini, Mas Farhan berubah setelah makan makanan yang diberikan oleh Ibu. Pernah juga Ibu menuangkan sesuatu di kopi mas Farhan. Abis itu pasti Mas Farhan selalu kasar dan marah-marah. Dia juga sering sakit kepala, sebelumnya tak pernah seperti itu!" jelasku.
"Terakhir dia makan sate dan sop dari Ibu yang katanya dibelikan oleh Dona. Dia makan dan saya tidak. Dia juga marah-marah dan kasar samaku. Nah kemarin pagi dia pergi menggiling padi ke gudang pak haji. Terus pulang sore dia sudah menggandeng Dona."
"Hah, dia langsung seperti itu!!??" Paklek langsung terlihat sangat geram.
"Iya Paklek, makanya saya nggak tau. Dia langsung seperti jatuh cinta ke Dona. Saya bingung Paklek. Dia seperti dalam pengaruh sesuatu," ucapku.
"Hm, takutnya dia dipelet Zahra!" ucap paklek.
"Ah Paklek, masa masih ada pelet-pelet seperti itu. Ini sekarang kan sudah jaman teknologi, Paklek!"
"Hahahaha, dukun disini banyak Zahra! Gini saja, besok kita ke saya minta fotonya Farhan dan akan saya bawa ke kenalan Pakelek, baiar dilihat kalau memang ada pengaruh dari pelet, biar dihilangkan!" usul Paklek.
"Kamu disini saja dulu, tidur sama Yunis di kamarnya." sahut Bulek.
"Iya Bulek. Tadi saya meninggalkan surat sih, dan Zahra tidak memberitahukan kemana Zahra pergi."
"Iya nggak papa, biar dia bingung dulu. Abis itu besok kita ke tempat kenalan Paklek!"
"Terima kasih Paklek!"
"Iya, Yang saya bingung itu kok Ratih sekarang Matre banget ya! Keliatan banget kalau sebenernya bukan masalah kamu nggak bisa hamil, tapi karena dia pengen menguasai hartanya Dona!" sahut Paklek.
"Saya nggak tau Paklek. Saya hanya tidak suka dengan caranya mendekati suamiku, Paklek!"
"Ya, sekarang bagaimana kamu kondisinya?"
"Ini saya minta paklek dan Bulek menjaga rahasia Zahra. Tadi pagi Zahra menggunakan tespact dan hasilnya Zahra Hamil bulek!" ucapku.
__ADS_1
"Masya Allah, Alhamdulillah..." Bulek memelukku dan menitikkan air mata.
"Alhamdulillah nak Zahra. Semoga anaknya menjadi anak yang Soleh solehah," Sahut Paklek.
"Amiin."
"Kamu harus banyak makan makanan bergizi dan gak boleh kerja yang berat-berat."
"Iya bulek."
Sore hari menjelang Magrib, telponku berdering, ada nama Mbak Santi disitu. Aku diam saja dan tak kuangkat. Beberapa kali telponku berdering dan aku matikan saja HP ku dengan menggunakan mode pesawat. Aku mandi dan sholat magrib di kamar Yunis.
Yunis belum pulang dan pulang setelah Magrib.
"Eh ada mbak Zahra. Apa kabar mbak?"
"Baik." Kami bersalaman dan cipika-cpiki.
"MbakZahra mau nginap disini?" tanyanya.
"Iya boleh nggak?"
"Wah, boleh banget mbak, malah seneng Yunis kalau mbak Zahra nginap disini, jadinya ada teman mengobrol!” ucapnya.
Dia mandi dan membuka HPnya.
"Eh mbak Zahra, kok ada telpon dari Mbak Santi. Ada apa?"
"Dia telpon?" tanyaku.
"Ya sudah, kalau dia telpon lagi angkat saja. Bilang kalau saya gak disini!"
"Hm,
mbak Zahra berantem sama mas Farhan?" tanyanya.
"Nanti mbak ceritakan. Tapi tolong kalau ada telpon dari mbak Santi bilang aku nggak disini!"
"Ya sudah. Oke mbak." Baru saja HPnya di letakkan ada telpon lagi.
"Mbak, telpon lagi."
"Angkat saja!"
["Halo.." ] Sama Yunis dispeakerkan.
["Halo, Yunis..."]
["Ya mbak Santi. Apa kabar nya? Tumben telepon??"]
["Baik Yunis. Kamu gimana kabarnya? Katanya sudah kerja, ya?"]
["Iya mbak, Ini abis pulang kerja. Gimana kabar bude? Baik?"]
["Baik, bude baik. Bulek dan Peklek gimana? Sehat juga?"]
__ADS_1
["Iya Alhamdulillah sehat mbak."]
["Eh iya gini Yunis. Ada Mbak Zahra nggak ke sana?"]
["Hah, Mbak Zahra? Gak ada mbak. Loh bukannya dia sama Mas Farhan di rumah bude?"]
["Iya memang Zahra tinggal sama bude dan mas Farhan. Tapi dia nggak ada dirumah, Kata Farhan dia kabur!"]
["Hah, Kabur? Kok bisa? Setau saya mbak Zahra istri yang patuh sama suami. Kenapa bsa kabur? Pasti hatinya tersakiti mbak!"]
["Ah sok tau kamu! Kalau nggak ada nggak usah komentar!"]
["Lah kok mbak jadi sewot sih sama Yunis? Kalau nggak ada yang mau dibicarakan, ya udah mbak. Assalamualaikum!"]
{"Waalai..!"] Yunis sudah mematikan HPnya.
"Brengsek juga tuh mbak Santi! Nanya udah dijawab, eh malah marah-marah gak jelas!"
"Iya sudah, Yunis." Yunis duduk disebelahku dan kuceritakan semuanya.
"Kurang Ajar! Mbak disini ajalah. Gak usah balik! Tau gitu tadi aku jeplakin sekalian! Orang kok gila harta dan kekayaan! Pesugihan aja biar kaya dan pake jalan pintas. Ini kok malahan ngancurin keluarga adeknya sendiri dan mantunya pula!" Geram Yunis.
"Ya sudah Yunis. Aku juga sudah muak melihat Mas Farhan seperti itu, aku akan menyendiri dulu disini. Dan aku ini lagi hamil anaknya mas Farhan."
"Hah! Mbak Hamil? Mas Farhan udah tau belum?" tanya nya kaget.
"Belum, aku baru test tadi pagi dengan testpack dan garis dua. Makanya untuk memastikannya aku akan ke dokter kandungan."
"Iya mbak, jangan sampai nanti, kalau ada apa-apa kita nggak tau. Nanti aku yang anterin. Deket sini juga ada bidan mbak!"
"Iya makasih dukungannya ya, Yunis." ucapku.
"Sama-sama mbak. Siapa yang mau dimadu atau diselingkuhin? Enak Aja!!"
"Ya, biarlah takdir ini berjalan dengan sendirinya..!" Jawabku dan tak terasa air mata sudah mengalir di pipiku dari kelopak mataku.
"Sudah mbak. Yunis yakin, mbak bisa membesarkan anaknya sendirian. Mbak ini istri yang soleha. Dan rugi sekali mas farhan sampai meninggalkan mbak Zahra hanya demi perempuan brengsek, Pelakor!!" Yunis memelukku.
"Terima kasih Yunis. Mungkin aku akan tinggal dulu sementara disini sampai kandunganku kuat untuk pulang ke rumah orangtuaku di bandung."
"Iya mbak, kita bisa banyak ngobrol, hehehe. Mbak katanya bisa menulis Novel?"
"Iya kok tau?"
"Dulu kan mbak sendiri yang bilang ke Yunis. Ajarin aku dong. Kan lumayan duitnya buat nambah-nambah beli kosmetik! Hahaha."
"Wah bukan lumayan lagi Yunis. Gajiannya dollar!"
"Oh ya?"
"Iya."
....
....
__ADS_1
BERSAMBUNG