
BAB 52.
POV ZAHRA
Sudah dua minggu berlalu, akhirnya aku kembali melakukan kegiatan di rumah. Dona akhirnya masuk penjara tapi bebas setelah seminggu mendekam dipenjara karena ditebus oleh orangtuanya.
Tapi Dona tak lagi tinggal di rumah Santi, dia ngontrak di dekat jalan raya bersama mas Basuki dan hidup berdua disana. Santi setiap hari juga datang ke rumah membantu aku masak. Dia sekarang belajar masak denganku dan rencananya dia akan menbuat warung kecl di depan rumahnya. Warung soto ayam.
Panen kali ini sama dengan panen sebelumnya, berlimpah hasil panennya. Bulan ke tujuh kami adakah selametan tujuh bulanan. Kami tak jadi melakukan selametan empat bulanan karena ada kejadian waktu itu pendarahan. Akhirnya kami adakan acara tujuh bulanan.
Kami adakan selametan dan membagikan rujak dengan membagi-bagikan duit-duitan untuk jual beli rujaknya. Alhamdulillah acaranya selesai dengan lancar. Kami senang karena jualan rujaknya habis, dan adat dari sunda ini diadakan karena aku asalnya dari Bandung.
Masuk bulan ke sembilan setiap dua hari sekali kami periksa ke klinik dan hasilnya juga baik. Aku disuruh banyak jalan karena biar bayinya turun ke bawah kepalanya. Dan harus sering dikunjungi oleh bapaknya.
Pagi itu, aku seperti biasa menyiapkan kopi hitam buat suamiku di teras. Dan aku masuk kembali untuk masak sarapan di dapur. Ibu sedang menyapu lantai. Begitu sampai di meja makan sedang merapikan meja makan, tiba-tiba ada suara kecil dan aku melihat ada air mengalir disela-sela kakiku.
"Aduh bu, Air ketubanku pecah!" ujarku.
"Oh iya, ayo Zahra kamu harus segera ke klinik," ucap Ibu.
Aku berjalan ke teras.
"Mas Air ketubanku pecah, mas, ayo kita ke klinik."
"Hah, Air ketubannya pecah? Ayolah, kamu disini duduk, aku ambil tas yang sudah aku siapkan di dalam." Kemudian mas Farhan masuk ke dalam kamar dan membawa tas berisi pakaian, Ibu langsung mengunci rumah dan ikut naik becak ke klinik bersalin.
Sampai disana, aku diinduksi oleh bidan dan rasanya sakit sekali. Pemeriksaan aku sudah pembukaan empat. Dan masih menunggu sampai pembukaan maksimal setidaknya delapan baru melakukan persalinan.
"Sayang, gimana?" tanya suamiku.
"Sakit mas, mules...!"
"Tahan ya sayang, aku gak tau gimana lagi ini.."
Aku menahan sakitnya yang sangat sakit.
Setelah dua jam menahan sakit, bidan mengecek pembukaan dan ternyata sudah masuk pembukaan tujuh.
"Yuk Bu, sekarang kita lakukan persalinan ya. Tarik nafasss....Buaaanggg...."
Begitu beberapa kali.
"Buangg...Doroong buuu.....Yaaaa....Terus bu....Tahan dulu...Tarik nafas lagi...Terussss...dorrong....dikit lagi bu...Tahannn....Tarik nafas dulu bu buang lagi...lagi bu.."
Dua kali dorongan kemudian lahirlah Anakku. Anaknya Perempuan dan sangat cantk.
"Oweeeekkkkkk...."
"Owwweeeekkkk..."
"Alhamdulillah bu, sudah lahir, bayinya perempuan bu."
"Alhamdulillah...."Kemudian aku tertidur. Suster keluar dari ruang persalinan dan memanggil.
__ADS_1
\====
POV FARHAN
"KELUARGA IBU AZZAHRA.."
"Iya suster saya," sahutku.
"Pak, Anaknya sudah lahir, Perempuan," ucap susternya.
"Alhamdulillah Ya Allah," Aku bersujud di lantai sambil kedua tangannya menengadah ke depan.
"Bapak, di adzani dan di Iqomahi ya?"
"Baik Suster, saya ambil Wudhu dulu sebentar!"
Aku langsung menuju ke tempat wudhu dan kembali ke ruang bersalin. Setelah itu aku mengangkat bayiku yang mungil dan cantik, tak sadar aku menitkkan air mataku, Aku mengadzani dan mengiqomahi anak perempuanku. Setelah itu kucium keningnya dan kuletakkan kembali di box bayinya.
Kemudian kukeluar ruang bersalin. Sebelumnya kulihat Zahra sedang dibersihkan badannya dalam keadaan tidur. Setelah diluar, aku menemui Ibu dan Santi yang sudah datang dengan membawa tas untuk selama rawat inap.
"Gimana Han? Anaknya perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan bu. Aku mau ke pelayanan dulu ya bu, mau booking kamar untuk Zahra."
"Iya, kelas berapa?"
"Kelas tiga bu."
Sesampainya disana Zahra bangun. Ibu dan Santi mengucapkan selamat kepada Zahra.
"Zahra, selamat ya, terima kasih kamu sudah memberikan cucu perempuan buat Ibu."
"Iya bu sama-sama."
"Zahra, selamat ya, maaf kalau kita sering berbuat jahat dengan kamu."
"Hm, iya mbak Santi, semua orang punya salah dan dosa."
"Sayang, mau makan?" Aku menawarkan kepadanya.
"Iya mas, aku lapar," jawabnya.
"Ya sudah, aku belikan makan dulu, semua ya makan, bu? Santi?"
"Iya Han, terima kasih."
Aku pun berjalan ke warung di sekitar klinik dan membeli banyak makanan untuk mereka.
Setelah sejam kemudian, anakku dibawa ke kamar untuk diberikan ASI dan ASI nya zahra pun sudah keluar.
"Sudah keluar ASI nya sayang?" tanyaku.
"Sudah mas, Alhamdulillah," Jawabnya.
__ADS_1
Besok pagi kami pulang. Ada beberapa tetangga yang datang untuk melihat dedek bayinya. Aku harus memberikan nama agar bisa segera diurus Akta Kelahiran anakku. Berpikir dan menimbang, aku banyak juga melihat dari internet. Akhirnya nama Anak perempuanku adalah BULAN PERMATASARI CONDRO. Condro adalah nama belakangku.
Beberapa tetangga banyak yang memuji betapa cantik Bulan, seperti namanya Bulan sangat putih dan bersih. Hidungnya yang agak mancung, membuat Bulan terlihat sangat cantik.
"Farhan, gimana cara buatnya?" tanya tetangaku yang emang biang gosip.
"Hahahaha, Kayak mpok nggak pernah buat aje?" jawabku sekenanya.
"Lah, ini anak cantik amat, udah gitu itu hidungnya kok mancung? Kan Emak dan bapaknya nggak mancung?" tanya Si Empok.
"Hahahaha, Mpok, kakek-kakek si Bulan hidungnya mancung-mancung!" jawabku.
"Ah yang bener? Iya juga sih, bapak lo mancung, Han. Elo aje yang manclem!"
“Ape tuh Manclem, mpok?”
“Mancung ke dalem!”
HAHAHAHA
"Nah kan bener, dibilang karena kakek-kakeknya yang mancung. Bapak dan emaknya mah nggak usah mancung, kan udehh laku...Hahahaha!” mas Farhan terkekeh.
"Bisa aje lo, kasih tau napa cara buatnye?" Penasaran si Mpok.
"Nah, kalau mpok mau tau ya, ke mak Hasnah deh, nanti biar mak Hasnah yangkasih tau..!" Jawabku karena bingung mau bilang apa.
"Iye deh, gue penasaran cara buat anak yang bagus kayak gini. Anak gue cewek cantik tapi idungnye nggak kayak gini, Han!"
Zahra terkekeh mendengar celotehan mpok.
Dua harikemudian kami melaksanakan Hakekah untuk Bulan, dan memotong kambing satu ekor. Paklek, Bulek dan Yunis datang ke rumah sehari sebelum acara untuk membantu persiapan.
Acara Hakekah berjalan dengan lancar dan banyak tetangga yang datang ditambah dengan grup pengajian Ibu-ibu. Acara berlangsung dengan penuh khidmad, aku dan Zahra pun mengeluarkan air mata saat menggunting rambut Bulan.
Acara selesai dan setelah sholat magrib berjamaan kami beberes semua. Ada beberapa orang tetangga yang masih membantu di rumah untuk beres-beres dan mengembalikan semua perabotan.
Setelah sholat Isya berjamaah kami makan malam bersama. Kami berkumpul di teras setelah makan malam. Kopi hitam untukku dan Paklek sudah tersedia di meja.
"Paklek, terima kasih ya, sekeluarga sudah membantu dari awal hingga akhir acara." ucapku.
"Ah biasa Farhan, namanya juga sama keponakan, kita kan harus membantu. Paklek hanya membantu sebisanya saja kok,' Jawab Paklek.
"Iya paklek, kalau nggak ada paklek, aku juga repot, hehehe."
"Iya sudahlah Han."
....
.....
BERSAMBUNG
__ADS_1