KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
RENCANA PENCULIKAN


__ADS_3

BAB 53.


POV FARHAN


"Eh, kalau begitu abis ini Paklek mau mantu dong, ya?" tanyaku melirik ke Yunis yang duduk di sebelah paklek.


"Ah, ini anak mana pernah bawa pacarnya ke rumah. Kamu sudah punya pacar, Nduk?" tanya Paklek.


"Hm, Belum pak. Yunis kan masih pengen kerja, cari duit dulu, cari pengalaman. Laki mah gampang pak!" balasnya.


"Halah gampang, wong kemarin bapak sodorin dua ekor aja di tolak. Kamu itu kriteria nya apa sih, Nduk?" tanya Paklek.


"Ish bapak bukan dua ekor, dua orang! Emang mereka ikan?" Ketus Yunis.


"Hahahaha, Iya ikan betok! Hahahahaha..." Paklek tertawa terpingkal.


"Hahahahaha." Kami tertawa.


"Iya Yunis, jangan ketinggian pasang tarifnya, hahahaha."


"Ish mas Farhan, bukan aku yang ketinggian pasang tarifnya. Bapak ini menyodorkan laki-laki juga yang nggak bisa diandelin sih? Gak ada gregetnya gitu!"


"Lah emang kayak apa yang ditawarkan oleh bapak??"


"Bapak kemarin kasih dua-dua nya yang nggak berkualitas. Berkualitas sedikit kenapa pak?"


"Lah, emang yang berkualitas seperti apa?" tanya Paklek.


"Ya yang jangan SMA lah lulusannya, paling tidak Diploma gitu, yang sama kayak aku."


"Oh gitu, kemarin emang lulusan apa?" tanyaku.


"Itu kemarin emang anak lumayan ganteng mas Farhan, cuma lulusan SMA dan lulusan Aliyah, sama saja kan?" tanya Yunis ke Paklek.


"Hehehehe, Jadi maunya dicarikan lagi gak?" tanya Paklek.


"Gak usahlah Pak. Aku cari sendiri!" Jawabnya kesal.


"Ya tapi jangan kelamaan, kan bapak juga pengen gendong cucuk.." ucap Paklek.


"Iya iya, tenang saja. Bapak doakan saja biar cepet dapat laki yang sarjana, mapan, kaya, ganteng, tajir, pokoknya sayang sama Yunis deh pak, oke, doakan ya, pak?" goda Yunis.


"Hahahaha, kriteriamu itu loh kok makin melenceng jauh! Uhhh.." Paklek mencubit pipinya Yunis.


Aku tertawa saja melihat pembicaraan mereka berdua. Aku masuk ke dalam dan melihat Bulan sedang tidur dengan pulas.Zahra sedang rebahan di atas kasur.


"Mas, kayaknya Bulan mukanya mirip kamu deh mas," ucap Zahra.


"Iya dong, kan anakku."


"Iya deh, hihihi."


Besok paginya paklek dan keluarga pulang ke rumahnya.


Kami menjaga dan merawat Bulan saling bekerjasama. Santi sudah tak pernah datang lagi ke rumah karena dia sudah sibuk dengan warung Soto Ayamnya di depan rumah.


__ADS_1


Pagi itu Farhan pergi ke rumah Pak Haji untuk menjual padinya. Ibu menggendong Bulan dan Zahra sedang mencuci pakaian di kamar mandi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ternyata Dona dan Basuki datang ke rumah. Mereka bersalaman dengan Ibu dan duduk di ruang tamu.


"Ibu saya mau lihat bayinya Zahra." katanya.


"Ini sedang Ibu gendong, dia sedang tidur," jawab Ibu. Setelah bersalaman mereka duduk.


"Iya nggak apa-apa. Anaknya cantik sekali, hidungnya mancung, Mas Basuki," ucap Dona.


"Iya, cantik sekali ya."


Zahra datang dari belakang dan berdiri di sebelah ibu.


"Kamu ada apa ke sini lagi?" Tanya Zahra.


"Kok kamu sewot gitu sih Zahra? Kami mau melihat bayimu. Selamat Ya."


"Iya terima kasih. Kamu kapan melahirkan bayinya?"



POV ZAHRA


"Kamu ada apa ke sini lagi?" Tanyaku.


"Iyaterima kasih. Kamu kapan melahirkan bayinya?" tanyaku.


Aku duduk di kursi samping Ibu dan melihat ke Bulan yang masih tidur.


"Aku masih sekitar lima atau enam minggu lagi. Ya sudah kami pulang dulu, terima kasih atas waktunya!" Mereka langsung berdiri dan pulang.


Aku dan Ibu saling pandang.


"Kenapa dia bu? Datang nggak dijemput pulang nggak diantar. Kayak Jaelangkung aja si Dona, hihihihi."


"Emang Setan alas begitu, main kabur nggak pamit! Gak jelas banget!"


"Ya udah, Ibu kasian gendong Bulan. Diletakkan saja di kasurnya bu."


"Iya," Kemudian ibu dan aku ke kamar. Ibu meletakkan Bulan, dia bergerak sedikit tapi kemudian tidur lagi.


"Ibu tinggal ya ke kamar."


"Iya bu. IstIrahat saja."


Kemudian Ibu keluar kamarku.


*


POV DONA


Sesampainya di rumah aku melempar tas ke sofa dan kurebahkan badan di sofa panjang.

__ADS_1


"Dasar Perempuan Judes! Perempuan nggak tau diuntung! Brengsek!"


"Kenapa kamu marah-marah sih, dek?" Mas Basuki duduk di kursi seberang meja.


"Ituloh si Zahra! Kita sudah datang baik-baik ke rumah mereka untuk melihat bayinya, eh kita malah diusir. Nyolot lagi dia bicaranya! Kesel aku mas!"


"Ya mau bagaimana lagi, kita kan memang punya trak record yang nggak baik buat mereka!" balas suamiku.


"Ya nggak juga gitu. Mereka nggak akan bisa memenjarakan aku mas! Bapakku uangnya banyak!" Jawab Dona sombong.


"Yaa kalau kamu uangnya banyak, kenapa kita nggak kontrak saja di tempat lain dan kita hidup normal seperti suami istri!"


"Ya, tapi kamu masih mempertahankan si Santi!"


"Soalnya dia mau ambil rumahku! Dan surat-surat rumah dia umpetin. Makanya aku masih bertahan di rumah ini. Aku kan yang beli rumah ini!" balas Basuki.


"Kok bisa ditangan Santi semua surat rumahnya?" tanyaku.


"Ya nggak taulah, kapan dia ambil itu surat rumahnya, aku sih menyimpan di lemari. Waktu aku ingin ambil eh nggak ada."


"Hm, berarti dia memang punya niat jahat mas sama kamu! Kamu harus ambil! Ancem saja kalau kamu akan memenjarakannya, pasti dia akan menyerahkan surat-surat rumahnya!"


"Tapi dia kan punya hak juga. Jadi harta gono gini. Apa aku jual dan dibagi ya dengannya. Karena ada anakku."


"Ya kalau itu terserah. Tapi kamu juga harus yang beli rumah baru kalau kita nanti jadi tinggal d rumah baru. Kamu harus menceraikan Santi!!" ancamku.


"Ya sudah nanti aku akan kasih tau kalau aku akan menjual rumah itu terus dibagi dua hasil penjualannya. Iya, aku akan menceraikan Santi. Soalnya pelayanan kamu memusakan di ranjang. Hehehehe."


"Ish mesum! Kalau kamu nggak urus surat cerainya segera, aku akan menggugat cerai duluan ke kamu!" ancamku.


"Jangan gitu dong dek. Aku kan makin cinta sama kamu..." jawab mas Basuki.


"Ya bagus deh. Aku masih kesal dengan si Zahra! Aku harus balas dendam sama dia!" ucapku geram.


"Dek, kalau saling bales dendam nggak akan habisnya. Lagi pula kamu terus yang mencari masalah dengannya," balas Mas Basuki.


"Sok tau kamu! Udah pokoknya kamu harus ikut membantuku! Awas kalau kamu tidak mau bantu aku nanti!"


"Maksudnya?" tanyanya bingung.


"Aku mau culik anaknya Zahra! Biar tau rasa!" ucapku dengan geram.


"Hah!! Jangan itu udah tindakan kriminal namanya! Kamu aja sendiri, aku nggak mau dipenjara! Hancur nanti karirku di kantor. Aku kan nggak bisa kasih uang ke kamu!"


"Kamu nggak usah kasih uang ke aku. Aku udah punya uang banyak! Kamu bantu saja rencanaku culik anaknya Zahra! Nanti aku akan kasih uang ke kamu...Bagaimana??"


"Kalau saya dipenjara bagaimana?" tanyanya.


"Tenang saja, kamu pasti aku keluarkan!"


"Beneran?" Dia mulai tertarik.


.......


.......


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2