
Bab 48.
POV FARHAN
"Paklek Percaya dengan ceritanya dan alasannya?" tanyaku.
"Ya sebenernya kita tinggal panggil saja Basuki ke sini,"jawab paklek.
Ibu keluar dari kamarnya.
"Eh ada tamu, ngapain kamu ke sini sama si sundel bolong?" Ucap Ibu dan duduk dii kursinya Zahra. Zahra berjalan ke dapur sepertinya akan mengambilkan minum buat kami.
"Ibu jangan jadi kompor deh, Ibu juga terlibat dalam kasusku dengan Farhan," ucap Dona sengit.
"Enak ajah, sayakan cuma mendukung kamu bukan mengusulkan ke kamu. Semua ide kamu, mulai dari melet si Farhan, menjebak Farhan dan semua kamu yang melakukan sendiri bukan sama saya! Jadi saya tak tau apa-apa!"
"Loh, jadi bener kalau si Farhan itu dijebak Dona?" tanya Paklek.
"Saya nggak tau pasti, tapi dia kan memang sudah memberikan foto dengan Farhan. Untuk kebenarannya ya silahkan tanya ke Dona bukan ke saya, karena dia yang melakukan semua!" Jelas Ibu.
"Hm, jadi begini saja, ini kan masalahnya jadi ruwet begini ya. Lebih baik kamu panggil Basuki dan Santi sana, Farhan." Paklek berusaha untuk mengklearkan semua.
"Aku telpon saja si Santi, Paklek."
Aku telpon Santi dan diangkat olehnya. Aku beritahukan kepadanya kalau Paklek ingin bertemu dengannya dan suami. Dia berjanji ke rumah bersama dengan suaminya.
"Saya sudah telpon Santi. Dia mau ke sini sekarang dengan Basuki!" ucapku.
"Ya baguslah, kita tunggu saja di sini., Supaya semua jelas, tidak ada yang ditutup-tutupi!" ucap paklek.
"Baik Paklek."
Kami menunggu Mbak Santi dan suaminya datang dengan diam. Tak lama kemudian.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," Jawab kami semua.
"Paklek." Santi dan suaminya mencium tangan paklek. Mereka akhirnya duduk dengan kursi yang sengaja aku ambil dari teras.
"Udah lama paklek?" tanya Santi.
"Belum lama palingan dua puluh menit lah."
Zahra datang dengan nampan berisi gelas dan minuman sirop.
"Ayo, semuanya minum dulu," ucap Santi.
Kami semua diam setelah minum sedikit sirop dari gelas kami masing-masing.
"Ada apa paklek memanggil kami?" tanya Santi. Hato Basuki sedang galau, Dona pun begitu, mereka saling berpandangan dan mencuri mata.
__ADS_1
Tampak Paklek diam sejenak dan berpikir. Kemudian dia meneruskan untuk bicara.
"Begini, waktu pertemuan kita terakhir dirumaah ini, paklek berjanji kalau Dona hamil maka Farhan akan menikahinya. Nah dia bawa surat keterangan bahwa dia hamil enam minggu. Melanjuti peristiwa itu kebetulan Farhan sudah memberikan bukti baru ke Paklek. Isi Video itu adalah perselingkuhan antara Dona dan Basuki!"
Semua orang melihat ke arah basuki. Mas Basuki diam saja dan menundukkan kepalanya.
"Bagaimana Basuki? Apakah benar kamu sering jalan dengan Dona?" tanya Paklek.
"Iya Paklek, saya memang sering jalan dengan Dona, tapi saya tidak ada maksud apa-apa paklek,” jawab Basuki.
"Loh, nggak ada apa-apa bagaimana mas?? Kamu kan minta bercerai dengan aku dengan alasan karena sudah ada wanita lain yang lebih baik dan lebih kaya!!" balas Santi.
"Iya, itu bukan Dona!" balasnya.
"Siapa kalau bukan Dona?" tanya Santi menuduh. Tangannya menunjuk ke arah Dona.
"Hmmm... Ya sudah memang aku dan Dona menjalin hubungan kok...Kami berdua sudah janji akan menikah, kalau Dona hamil," Ucap Mas Basuki lagi.
"Hah!! Jadi itu ulahmu mas?? Menghamili Dona?" tanyaku.
"Eh bukan...Eh, saya tidak tau, tapi apa sekali melakukan langsung bisa hamil??" tanya Basuki bingung.
"Hah, Jadi beneran kamu mas yang menghamili Dona?? Dasar kurang ajar!! Brengsek kamu!! Aku benci kamu!!" Santi teriak-teriak sambil memukul Basuki dengan tangannya.
"Ampun buu..Ampunnn!!" Basuki sudah mendapatkan pukulan di wajahnya berkali kali dan dia jatuh ke lantai.
Paklek duduk dengan tegak
"Sudah, sudah!!" Santi duduk di samping Ibu dan Zahra.
"Heh, Sundel bolong!! Kamu kurang ajar ternyata menghancurkan keluargaku, awas kamu, aku laporkan kamu karena perzinahan dengan suamiku!! Huuuuhuuuuhuhuhuhuuuu..." Santi menangis. Ibu terlihat geram dan aku menatap Dona dengan tajam.
"Jadi begini saja kalau begitu. Karena Basuki sudah mengakui kalau dia telah melakukan Perjinahan dengan Dona. Maka kamu harus menikahi Dona, Basuki!" Ucap Paklek.
"Bagaimana dengan Santi paklek. Saya sangat cinta dengan Santi, dan saya merasa bersalah telah selingkuh dengan Dona. Tadi saya pikir Dona mau menikah dengan saya sebagai istri dan menikah siri dulu dengan dia. Ternyata dia hanya menjebak saya, kalau dia hamil pastinya akan mengakui kalau anak itu adalah anaknya Farhan bukan anaku!"
"Hah, jadi memang kamu sudah merencanakan ini Dona!!??" tanya Ibu.
Ibu melempar piring kecil beling ke mukanya Dona.
Praaaakkkk!!
"Aduhhhhh!!"
"Kenapa kamu berani sekali menghancurkan keluarga Santi untuk nafsu bejadmu, hah!!" Ibu berdiri dan ingin melemparkan gelas lagi tapi ditahan oleh Zahra dan diambil gelasnya langsung oleh Zahra.
"Sabar Bu, jangan mengotori tangan ibu dengan menyakitinya!" ujar Zahra.
"Aku kesal Zahra! Dia memang Setan Alas!! Setan Gundul!! Setan Bejad!!" ucapnya mengutuk Dona dengan marah.
Dona masih memegang dahinya yang sakit karena terlempar piring kecil.
__ADS_1
"Mas Basuki!! Aku tak sudi mempunyai madu seperti Dona!! Ceraikan aku!!" ucap Santi sambil menangis tersedu-sedu.
"Hm, Saya nggak bisa menceraikan kamu, dan saya nggak mau menceraikan kamu, bu. Saya masih cinta sama Ibu dan anak kita." Dia terlihat tampak cemas dan sedih sambil meringis karena dahinya lecet dan berdarah.
"Sudah diam!!"
"Begini, saya nggak mau tau, Basuki harus menikahi Dona dulu secara agama, dan acaranya besok di rumahnya Basuki!!" Ucap Paklek dengan tegas.
"Dona, kamu nggak boleh menolak keputusan paklek! Kamu sudah mengacaukan semuanya! Kamu biang keladi dari semua ini!!"
"Iya paklek, saya akan bertanggung-jawab atas kelakuan saya ini. Dan saya mau dinikahi dengan mas Basuki. Tapi setelah anak saya lahir, tolong saya ditalak!" ucapnya.
"Ya nanti saja dipikirkan. Sekarang kamu menikah dulu dengan Basuki!" ucap paklek.
"Dona, mas kawinya apa?" Tanya Basuki.
"Apa saja yang penting tidak kurang dari harga dua juta!"
"Hah, apa? Yaa sudah, aku akan beli mas kawinnya nanti sore," Jawab Basuki yang tak terlihat merasa bersalah.
"Mas Ceraikan aku!!" Teriak Santi lagi.
"Tidak Bu, aku nggak akan menceraikan kamu!" ucap Basuki lagi.
"Enak saja kamu punya istri dua! Saya nggak akan sudi serumah dengan Dona!! Kamu tinggal ditempat lain saja! Itu rumahku dan anakku!" Teriak Santi lagi.
"Iya, atau akan kontrak saja dengan Dona!" balas Basuki.
"Aku nggak sudi tinggal denganmu, aku mending pulang ke rumah orangtuaku saja!" ketus Dona.
"Tapi kan kamu hamil Dona, nanti apa kata orangtuamu kalau tau kamu hamil?" Basuki bingung.
"Ya, aku akan cari tempat tinggal sendiri asal tidak dengan kamu!!" Balas Dona lagi.
*
Besok Pagi Acara akad nikah Basuki dan Dona dilaksanakan. Setelah acara itu Mereka berdua pergi dari rumah, sepertinya mereka mencari tempat kontrakan dekat jalan raya.
Santi masih terlihat murung dan sangat terpukul dengan pernikahan suaminya dengan Dona. Aku dan Zahra kembali ke rumah bersama dengan Ibu.
"Mas, aku pengen rujak," ucap Zahra.
"Aku carikan ya, sebentar. Kamu di kamar saja." Kemudian aku berjalan ke pasar dan membeli rujak. Aku pulang dan masuk ke dalam kamar.
"Ini sayang rujaknya." Kuberjalan keluar kamar dan mengambil piring dan sendok untuk Zahra makan rujak.
Zahra makan beberapa saja, terus menyodorkannya ke tanganku.
.....
.....
__ADS_1
BERSAMBUNG