KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
SANDRA MASUK PENJARA LAGI!!


__ADS_3

BAB 51.


POV ZAHRA


"Ada apa kalian ke sini?" tanyanya sinis.


"Astaga, kita mau silaturahmi kok nggak boleh. Ini kan rumahnya Santi, kakakku!" Jawab suamiku. Aku melihat dia kayak ada sesuatu yang dia tutupi.


"Oh kamu mau mengunjungi Santi? Santi sedang sibuk, dia lagi masak!" ucapnya dengan nada sinis.


"Aku mau masuk, kayaknya ada yang kamu tutupi ya!" Suamiku menerobos masuk ke dalam aku mengikutinya.


"Heh heh heh...Jangan main masuk ke dalam dong! Farhan!" Panggilnya.


"Santi, Santi!" Mas Farhan memanggil dan Santi menjawab dari sebuah kamar kecil.


"Farhan,tolong Farhan!"


DUK


DUK


DUK


"Kamudidalam sana, San?" tanya suamiku.


"Iyaaku dikunciin sama Dona!" ucap Santi dari dalam.


"Heh, sundel bolong! Kamu bukain pintunya atau aku panggil masayarakat disini untuk menggebukimu!!!" Ancam Farhan.


"Iy-iya.." Dia ketakutan dan membuka pintu kamarnya. Santi dan anak nya keluar dan memeluk suamiku.


"Farhan, huuuuuhuuhuu..!" Dia keluar dan menangis. Aku langsung memeluknya.


"Ibu, Paklek." Sahut anaknya Santi.


"Kamu apain mereka Dona? Mereka ini juga manusia, dan Santi ini pemilik rumah ini,kenapa kamu siksa mereka begini?" Suamiku melotot ke Dona.


"Mereka kurang ajar sama saya! Santi nggak mau menurut kalau saya suruh, Ada aja alasannya!" Jawab Dona.


"Heh, Setan!! Kamu kalau nyuruh juga jangan asal aja, Kamu disini cuma ongkang kaki dan aku dari pagi yangmembersihkan rumah, masak, kamu sendiri cuma bisanya tidur, duduk terus nonton TV. Kamu ini numpangdisini!" Ucap Santi sambilterisak.


"Enak aja, aku ini istrinya Basuki juga! Istri sah!" Balas Dona tak mau kalah.


"Iya tapi kamu cuma nikah siri, lagi pula kamu kalau sudah melahirkan akan bercerai dengan suamiku. Jadi jangan karena kamu lagi hamil seenaknya nyuruh orang!!” bentak Santi balik.


"Heh Dona, kalau kamu mau tinggal disini silahkan, tapi jangan menyiksa kakakku dong!" Bentak suamiku.


"Aku nggak nyiksa kok. Santi aja yang sok sokan begitu!!" Balasnya dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Lah, buktinya kamu kunciin mereka di dalam kamar! Kamu sudah melakukan KDRT, aku akan laporkan semua kejadian ini!!" bentak Farhan.


"Halah kamu mau laporkan laporkan. Kamu mah cemen!" tantang Dona.


"Oke baik, saya akan laporkan semua kejadian waktu itu ke Polisi. Pencemaran nama baik dan semua kejadian yang berkaitan denganku. Liat saja!!"


"Hahahahaha, kamu mah cemen Farhan!" sindir Dona.


"Apa? Aku cemen? Ya sudah, Kita pulang sekarang. Santi kamu ikut kami, kita laporkan semua perbuatan nya yang melanggar hukum ini!!" Dia panik dan menahan Santi untuk jalan. Tapi Santi menepisnya dan kami bertiga berjalan ke kantor Polisi dengan menggunakan Angkot.


"Farhan! Jangan laporkan!!"


Kami langsung menyebrang jalan dan menyetop dua becak. dia tampak kebingungan dan berlari kembali ke dalam. Jalanan sepi dan tak lama kemudian, kami mendengar klakson mobil yang begtu keras dan mobil itu menyerempet kedua becak kami. Becak yang ditumpangi oleh Santi dan anaknya bisa berhenti langsung diujung mau masuk ke selokan. Tetapi becak yang kami tumpangi tak bisa mennguasai becaknya dan becaknya masuk ke dalam selokan kecil


Braaaakkk..


"Awwww..."


"Addduhhh..."


Aku langsung sadar, Becaknya sudah miring dan tukang becaknya membantu aku keluar duluan. Suamiku yang ada dipinggir kiri tertindih olehku dan setelah ditarik becaknya baru bisa turun.


"Mas, kamu nggak papa?" tanyaku.


"Sayang itu kenapa ada darah di betismu?" tanya Suamiku panik.


"Hah, Ya Allah mas, ayo cepat kita ke klinik."


"Farhan, Zahra hamil?" tanya Santi yang sudah ada dekat kami.


"Iya, sudah hamil masuk bulan ke empat."


"Ayo naik becak lagi, dan langsung aja ke klinik. Cepat bawa Han ke klinik!" suruh Santi.


"Iya San, aku ke sana dulu!"


Kami naik lagi ke becaknya Santi karena becak yang kita tumpangi mengalami rusak di rodanya, jadi tak bisa jalan.


Sesampainya di Klinik langsung ditangani oleh bidan dan suster.


"Ya, Allah jangan sampai terjadi apa-apa dengan bayiku di dalam kandungan istriku Ya Allah," ucap suamiku yang menemaniku ke dalam ruang pemeriksaan.


"Bapak sebaiknya tunggu dulu diluar, kami akan melakukan pemeriksaan," Ucap bidannya.


"Baik Bu Bidan," ucap suamiku.


Kemudian dia masuk keluar dan menunggu di ruang tunggu klinik. Setelah beberapa pemerikasaan aku diberikan obat dan pendarahannya pun behenti.


Sekitar lima belas menit kemudian, Mas Farhan dipanggil masuk ke dalam. Dia duduk di kursi dan menghadap ke arah bidan.

__ADS_1


"Pak, Alhamdulillah, sudah berhenti pendarahannya. Tapi Ibu Zahra harus istirahat total di rumah selama seminggu sampai dua minggu. Bedrest, artinya dia harus di tempat tidur terus dan nggak boleh kerja sama sekali."


"Baik Bu Bidan. Akan saya perhatikan!" Jawab suamiku.


Kemudian kami pulang ke rumah dan Zahra langsung tidur. Santi yang sedang di kamar Ibu keluar dan bersama Ibu masuk ke dalam kamarku.


"Zahra bagaimana janinnya?" tanya mbak Santi.


"Alhamdulllah bu, masih kuat.Tapi harus bedrest selama dua minggu," Jawabku.


"Iya dan harus minum obat dan vitamin juga nih dari bidannya," balas suamiku.


"Farhan, tadi kan yang nabrak kita mobilnya si Dona!" Ucap Santi.


"Hm, Ya sudah kita sekalian aja besok laporkan sama polisi, dan saksinya kedua tukang becak tadi. Kamu udah tau rumah tukang becak tadi yang aku tumpangi?" tanya suamiku.


"Sudah tau kok, nanti kita ke sana saja Han, kasian dia nggak bisa narik becak lagi nanti."


"Iya makanya kita betulin becaknya."


"Iya Han!"


"Zahra kamu kalau mau apa-apa bilang sama Ibu dan Farhan ya, nanti biar kami yang bantu!" ucap Ibu.


"Iya Zahra, maafin aku, karena aku kamu jadi begini," ucap Santi.


"Ya sudah tak apa-apa mbak. Namanya juga musibah, kita tak tau kapan musibah datang."


"Aku akan tinggal disini deh Bu, kasian Zahra gara-gara aku dia jadi begini. Kamu kok nggak kasih tau aku Han, kalau Zahra hamil?" tanya Santi.


"Kami memang sengaja nggak mau kasih tau, biar kalian tau sendiri."


"Ya jangan gitu dong Han, kan kalau aku tau bisa bantu Zahra disini, soalnya kan pekerjaan rumah selama ini Zahra yang kerjakan!"


"Iya mulai sekarang kamu disini aja dulu, sampai si Dona setan itu keluar dari rumahmu! Besok kita harus laporkan itu bar dia dipenjara lagi! Biar aja duitnya habis! Kalau dia ketauan telah menabrak kita, palingan dia diusir sama warga sana!" Ucap suamiku.


"Ya pastinyalah, kan aku warga lama juga, Han."


"Ya sudah. Kamu tidur aja ya sayang, mau minum apa dan makan apa?" tanya suamiku dengan senyum.


"Aku belikan buah saja mas, dan kue-kue," pintaku.


"Ya sudah kita siapkan semuanya ya!"


"Ibu, Mbak Santi, maafin aku sudah merepotkan Ibu dan Mbak Santi."


"Ah kamu ini, mana ada kamu merpotkan, malahan kamu menderita selama ini," jawab ibu dengan nada sedih.


Aku bersyukur mereka sudah sadar dan tidak tau sampai kapan mereka akan begini. Pada dasarnya mereka itu orang baik semua. Malam itu kami semua berkumpul di kamar. Aku senang Ibu dan Santi sudah tak memusuhiku lagi dan mereka malahan membantuku dalam kegiatan sehari-hari.

__ADS_1


Besoknya mas Farhan dan Santi melaporkan Dona ke polisi dan mereka juga sudah membawa dua tukang becak yang telah dia tabrak. Setelah dari kantor Polisi, Santi dan mas Farhan membawa buah yang banyak dan beberapa biskuit untuk cemilanku.


__ADS_2