KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
ULAH BASUKI LAGI


__ADS_3

Bab 73.


Dua bulan kemudian...


Akhirnya Santi memberikan jawaban ke Ramdani dengan menerima dia sebagai calon suaminya dan calon bapak sambung Farell. Pernikahan akan dilangsungkan satu minggu lagi. Dan persiapan dilakukan, dengan begitu Santi dan Ramdani mempersiapkan semuanya.


Farhan sudah mulai sibuk ke sawah dan musim tandur bulan lalu sudah dilakukan. Farhan kalau ke sawah masih dengan jalan kaki walaupun sudah punya motor baru. Zahra setiap siang selalu mengantarkan makanan ke sawah, kadang bersama Bulan kadang tidak.


Bulan tumbuh dengan baik menjadi anak yang lucu. Dia sudah mulai bisa berjalan, walaupun kadang masih jatuh. Bicaranya pun sudah mulai cerewet walaupun tidak banyak yang bisa mengerti yang dia ucapkan.


"Pa, ini makan dulu, makan siang spesial buat papa dengan cinta...Hihihihi," ucap Zahra di saung sawah.


"Ah, bisa aja kamu, masakanmu selalu dengan cinta, kan? Aku selalu merasakan cintamu yang sangat besar. Kakak mau ikut makan sama papa?" tanya Farhan ke Bulan.


"Mau Pa, makan...aku mau makan..." balasnya.


"Ya yuk, makan sama papa. Kamu duduk disini, Ma piring buat bulan mana?" tanyaku.


"Ini Pa, bulan ini saja, ya?" Zahra memberikan piring plastik buat Farhan dan Bulan.


"Ma, makan yuk," ucap Bulan.


"Iya kakak saja sama Papa, ya? Bulan nasinya segini?" Tanya Zahra ke Bulan.


"Iya, ma," jawab Bulan.


"Bulan mau makan dengan ayam? Sayurnya juga ya nak?" tanya Farhan.


"Iya pa, ayam sayull..." ucapnya.


"Nih, makanlah nak...berdoa dulu ya, sebentar," ucap Farhan.


“Alaahumma barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaa bannar”


"Amiin...


Kemudian Farhan dan Bulan makan siang bersama. Bulan tidak mau disuapi oleh Zahra. Walaupun dia makan dengan berceceran tapi dia senang bisa makan dengan papanya berdua.


"Ma, dah celecai.." ucapnya.


"Ini minum dulu..."


"Macih ma..." jawabnya.


Setelah itu mereka pulang ke rumah.


Minggu itu persiapan terus dilakukan, dan Pernikahan akan dilakukan di rumah Santi sendiri untuk akad nikahnya, tetapi untuk resepsi diadakan di rumah Ramdani.


Akad nikah dilakukan dengan Khidmat. Dan mereka berdua tampak berbahagia dan besoknya mereka tinggal di rumah Santi.


Santi terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya. Hanya ada yang terjadi setelah itu karena Ibu Tugino selalu mengganggu kebahagiaan mereka. Sebagai anak satu-satunya, Ramdani sangat disayang oleh Ibu Tugino.


Pagi itu Ramdani sedang duduk dengan Farell yang sedang main game di Ponsel. Santi sedang di dapur masak untuk sarapan. Ramdani yang ingin makan pisang goreng langsung mengajak Farell membeli gorengan di warung tak jauh dari rumahnya.


"Mas Farell, ke warung yuk, beli pisang goreng," ucap Ramdani.


"Iya Pak, ayuk," jawab Farell.


Kemudian mereka berdua pergi ke warung. Di warung dia bertemu dengan Ibu Tugino yang juga ingin membeli gorengan.


"Eh Farell, mau beli apa, nak?" tanya Ibu Tugino.


"Bapak mau beli pisang goreng," jawab Farell yang kemudian mencium tangan Bu Tugino.


"Kok kamu beli gorengan? Emang Santi tidak masak?" tanya Bu Tugino.


"Masak bu, cuma saya mau makan pisang goreng aja," ucap Ramdani.


"Baguslah. Santi mudah-mudahan bisa membagi waktunya!" balas Bu Tugino.

__ADS_1


"Kamu mau apa Farell?" tanya Bu Tugino.


"Sudah nek, nanti saja makan dengan bapak," ucap Farell.


"Ya sudah bu. Kami pulang dulu, Assalamualaikum," Pamit Ramdani.


"Iya, Waalaikumsalam," jawab Bu Tugino. Farell juga langsung bersalaman dan mencium tangan bu Tugino.


Sesampai di rumah Farell masuk ke dalam mengambil piring untuk meletakkan pisang goreng yang sudah dibeli.


"Untuk apa nak piring?" tanya Santi.


"Untuk pisang goreng bu. Bapak beli pisang goreng tadi," jawab Farell.


"Iya sudah, ini piringnya," Santi memberikan sebuah piring.


"Makasih bu," jawab Farell. Kemudian dia berikan ke Ramdani di teras.


"Terima kasih nak, kamu mau?"


"Iya boleh satu saja, pak," jawab Farell.


"Iya ini.."


Ada sebuah motor yang berhenti di depan pintu pagar. Kemudian orangnya turun dan melepas helm. Dia membawa mainan mobil-mobilan di kantong Plastik dan membuka pagar.


"Farell...Ini nak mainan untuk kamu!" Basuki datang tanpa salam dan langsung mendatangi Farell di teras. Farell yang melihat bapak kandungnya datang langsung berdiri dan mendekat ke Ramdani yang sama-sama berdiri.


"Pak, aku takut!" ucap Farell.


"Iya tenang saja nak."


"Farell sini..Ini mainan buat kamu!" ucap Basuki lagi.


"Gak mau, bapak ngapain kesini?" tanya Farell.


"Jangan dipaksa mas. Apa kabar mas?" tanya Ramdani ke Basuki.


"Saya Ramdani. Sekarang suami Sah Santi!" ucapnya dengan tegas.


"Hmmm Kapan kamu menikahi Santi?" tanya Basuki denga raut muka yang kecewa.


"Baru seminggu saya menikahi Santi. Mari duduk dulu mas Basuki," ucap Ramdani ramah.


"Gak usah! Saya tidak butuh kamu! Saya mau ketemu dengan Farell saja. Sana minggir!" ucap Basuki kasar.


"Hm, maaf mas Basuki, saya tidak melarang mas Basuki bertemu dengan Farell. Tapi Farell tidak mau ketemu dengan mas Basuki!" balasnya.


"Kamu jangan sok tau! Awas minggir! Nak, ini mainan mobil remote kontrol Farell!" Basuki menarik tangan Farell dan memberikan mobil-mobilan yang baru dia bawa.


"Tidak! Tidak mau! Awasss!!" Farell menarik kembali tangannya dan bersembunyi di belakang badan Ramdani.


"Hei-hei sudah! Mas jangan maksa mas!" tangan Ramdani menahan Basuki untuk mendekat.


Ramdani dan Farell mundur dua langkah. Basuki tampak marah dan langsung membanting mobil-mobilan itu ke lantai.


BRAAAKKK


"Jangan halangi aku ketemu dengan anakku!" Teriak Basuki.


Santi yang mendengar keributan di depan langsung berlari ke teras dan langsung mendorong Basuki agar mundur.


"Awas kamu!! Jangan sentuh lagi keluargaku!" Teriak Santi.


"Saya cuma mau kasih mainan ini, San!" jawab Basuki.


"Tapi jangan begitu caranya! Pelan-pelan! Anakmu ini sudah trauma dengan kelakuanmu menyakiti keluarga kami, tau??!!" bentak Santi.


"Kamu juga jangan menahan aku untuk bertemu dengan Farell, San!!" balas Basuki yang balas mendorong Santi dan dia hampir saja terjatuh. Melihat itu Ramdani menahan Santi dan langsung maju ke depan badannya Basuki.

__ADS_1


"Kamu kalau berani jangan sama wanita!! Kamu pengecut!!" Bentak Ramdani.


"Sialan lo!!"


BUGH BUGH


Basuki memukul perut Ramdani dua kali.


"AAAHHH....!!"


BUGH


BUGH


Ramdani membalas memukul.


"CIATT!!"


BUGH


"AARRGHHH...!!" Basuki berteriak karena dia terjatuh di halaman setelah ditendang oleh Ramdani.


"Jangan sekali-kali kamu datang ke sini lagi!!" Teriak Ramdani dan Ramdani yang ingin maju menghajar Basuki ditahan oleh Santi.


"Jangan mas, biarkan saja dia!" Ucap Santi.


Basuki berdiri dan membersihkan kotoran yang dicelananya dan memegang perutnya.


"Sialan Lo!! Awas kalau kita ketemu lagi!" Basuki langsung kabur ke motornya dan melaju dengan kencang. Karena sudah beberapa orang warga mulai berdatangan ke rumah Santi.


"Mas, ada apa? Bukannya itu Basuki mantan suami mbak Santi?" tanya tetangganya.


"Iya pak, dia buat keributan tadi disini," jawab Ramdani.


"Kamu tak apa-apa mas?" tanya Santi.


"Gak papa sayang!" jawab Ramdani ke Santi.


"Emang tukang cari masalah itu Basuki!" ucap Santi dan dia mengambil mobil-mobilan yang masih terbungkus dan dia letakkan di atas meja.


"Bu, itu nanti mainannya dikasihkan lagi ke bapak!" ucap Farell.


"Iya sayang, nanti kalau bapak ke sini lagi akan ibu kasihkan lagi!" jawab Santi.


"Begitulah San, kalau memang orang punya rasa dendam yang tinggi terhadap seseoang. Dia akan menghalalkan berbagai cara supaya semua bisa terlaksana. Akhirnya bisa merugikan dia sendiri nantinya! Buktinya dia sudah sering keluar masuk penjara. Kalau dia mencari kehidupan yang normal, dia tidak akan sering menyakiti orang lain!" Ucap Ramdani.


"Ya sudah mas, kita sarapan dulu. Yuk Farell, bawa Ponselnya nak," ucap Santi mengajak Farell dan Ramdani ke meja makan. Mereka bertiga berjalan ke dalam dan makan bersama.


Ditengah makan, Ibu Tugino datang bertamu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Santi, ini ada sop Iga, kalian sedang sarapan ya?" tanya Ibu Tugino.


"Iya bu, ayo sekalian makan disini. Merepotkan Ibu saja," jawab Santi dan berdiri mempersilahkan ibu mertuanya duduk dan makan bersama.


"Ini saya taroh dulu ya disini sop nya sekalian buat sarapan. Ayo Farell ini sop iganya!" ucap bu Tugino meletakkan rantang isi sop nya dan membuka tutup rantangnya.


"Iya nek, terima kasih," balas Farell.


"Pintar," sahut Ibu Tugino


Bu Tugino sambil makan sambil melihat rumah Santi yang banyak barang dan berantakan. Dia geleng-geleng kepala saja.


"San, bok dibereskan itu barang-barang yang berantakan. Kalau tak terpakai lagi dbuang saja atau dibakar!" ucap Ibu.


......

__ADS_1


.......


BERSAMBUNG


__ADS_2