
Bab 102.
Tak lama kemudian suster yang memeriksa Santi datang mendekat ke Ramdani.
"Pak, ibu sudah pembukaan tujuh, mau segera persalinan, bapak mau mendiampingi?"
"Iya suster."
Ramdani masuk ke dalam ruangan persalinan dan sudah ada dokter Anita yang sudah ada di depan kaki Santi melihat ke dalam.
"Bagaimana dokter?"
"Sudah pembukaan delapan, ayo bu atur nafas nya....Satu dua...Hirup ke dalam terus keluarkan perlahan, jangan cepat cepat...!"
"Ayo sayang, kamu bisa..Aku ada disini sayang...!"
"Iya mas...Sakitt mass...Huuu huu huu...Heeehhhhhh......"
"Terus bu sedikit lagi...Kepala nya sudah terlihat!"
"Ayo sayang atur nafasnya."Ramdani memberikan dukungan dan semangat kepada Santi.
Kembali Santi menarik napas panjang.
"Huuuuuu..."
"Sambil dorong ya bu...Huuuu..Tekan...Ya sekarang tarik nafas yang panjang...sedikit lagi bu…Kepala sudah keluar, tarik nafasss....Buang..."
"Huuuuuuu...."
OWEEEKKKK
OWEEEKKK
"Alhamdulillah bu...Hmmm anaknya cantik sekali...Perempuan bu, pak, anaknya!" Ucap dokter.
"Alhamdulillahh Ya Allah....Perempuan sayang," Ucap Ramdani.
"Iya mas, terima kasih mas sudah mendampingi ku melahirkan."
"Iya sayang."
Anaknya langsung dibersihkan dan Santi juga tidur karena kecapean. Ramdani keluar dari ruangan persalinan menemui Zahra, Sska dan Farhan.
"Bagaimana Ramdani?" tanya Farhan.
"Alhamdulillah...Semua lancar, anakku Perempuan, gemuk lagi...1" Ucap Ramdani.
"Alhamdulillah selamat ya, Dani!" Sahut Farhan. Semua menyalami Ramdani memberikan selamat.
"Kita sudah bisa lihat belum?" Tanya Zahra.
"Nanti saja. Sedang dibersihkan semuanya."
"Kalau Dona rencana kapan melahirkannya?" tanya Farhan.
"Hm...Kayaknya sih masih tiga bulanan deh, Han. Kan aku sama Santi beda tiga bulan hamilnya."
"Ya semoga selamat semuanya, Dona!" Sahut Farhan.
"Ammiin...Doakan saja yang terbaik, ya!"
"Iya." Setelah itu semua masuk ke dalam ruang rawat inap,dan Santi sudah terlihat cerah karena bahagia.
"Ini anaknya bu, disusui ya!" ucap seorang Suster.
"Iya suster...!" Jawab Santi. Dia kemudian duduk dan mengendong anak perempuannya yang cantik.
"Kamu cantik sekali..." Santi kemudian memberikan ASI yang sudah keluar.
__ADS_1
"Sudah keluar sayang, ASInya?"
"Sudah mas.Alhamdulillah..." Santi menatap Ramdani dengan lembut.
"Kenapa lihat aku sih sayang??" tanya Ramdani salah tingkah.
"Terima kasih ya atas sayangmu kepadaku. Aku sangat sayang kepadamu!" Santi memegang pipi Ramdani.
"Alhamdulillah kalau kamu sayang sama aku. Aku juga sayang sama kamu," jawab Ramdani.
Setelah dua hari kemudian Santi pulang. Farell banyak membantu Santi mengurus adiknya yang bernama Mawar Sari Ramdani.
Sebulan kemudian Farell sekolah dan dia sehabis sekolah selalu membantu Santi dalam mengurus Melati. Rudilah sekarang yang kurang perhatian dan jarang bertemu dengan Farell. Rudi dan Dona sering datang ke rumah Santi, sekaligus mau membantu Santi mengurus Melati.
Yahya sudah mengurus warung soto Santi dan dua bulan ini penghasilannya masih bagus. Tetapi masuk bulan ketiga pengunjung sudah mulai berkurang. Hal ini membuat Yahya bingung dan datang ke Santi untuk minta saran.
"San, kenapa turun ya omset? Padahal aku masih menjaga kualitas dari rasa soto itu sendiri!"
"Karyawan masih ada semua kan, mas Yahya?" tanya Santi.
"Ada," jawab Yahya.
"Kamu selama ini ada masalah dengan pelanggan?" tanya Santi kemudian.
"Hm sebentar. Waktu itu ada pernah seorang pelanggan katanya menemukan cicak mati di dalam mangkok sotonya."
Ramdani yang mendengar pembicaraan antara mereka memberikan saran agar warung dipasang CCTV sehingga akan ketahuan. Akhirnya warung soto dipasang beberapa CCTV terutama di dapur dan di tempat makan.
Setelah dua minggu berjalan Ramdani yang sedang memperhatikan CCTV warung soto melihat sebuah kejanggalan yang ada di dapur. Bu Aminah sedang mindik-mindik mengeluarkan sebuah kantong plastik dan mengambil sesuatu dari dalam kantong plastik tersebut memasukkannya ke panci kuah soto.
Ramdani yang melihat itu langsung menghubungi Yahya.
"Halo, Kang Yahya."
"Ya halo Mas Ramdani, ada apa?"
"Coba sekarang kamu pergi ke dapur dan amankan kuah soto yang sedang dimasak. Pelaku sudah ketahuaan. Bu Aminah yang menaroh cicak itu ke dalam panci kuah sotonya!"
"Bang, jangan masukkan pengunjung dulu!" Teriak Yahya kepada keamanan sekaligus tukang parkirnya.
"Tutup bos?" tanyanya.
"Iya, tutup dulu!" Beberapa pengunjung langsung berbisik-bisik dan akhirnya oleh Yahya disuruh pulang semua dan menggratiskan makan mereka.
Yahya langsung ke dalam Dapur dan suruh beberapa orang mengangkat panci kuah sotonya dan menyaringnya sebelum semua ditumpahkan kedalam selokan. Benar saja, ada tiga cicak mati di dalam panci tersebut.
"Ini siapa yang memasukkan cicak-cicak ini didalam panci ini??" tanya Yahya ke semua karyawan yang dikumpulkan di dapur. Semua diam dan ada yang berbisik-bisik.
"Semua saya tanya lagi! Siapa yang memasukkan cicak-cicak ini ke dalam panci ini??" Tanya Yahya lagi.
Ibu Aminah masih diam saja dan tenang.
"Ibu yang memasukkan?" tanya Yahya ke Bu Aminah.
"Bukan pak, saya tidak berani memasukkan nya!" Jawabnya dengan tenang tanpa ketakutan.
"Baik, kalau tidak ada yang mengaku, saya akan membukanya!"Yahya kesal dengan ketidakjujuran mereka.
Kemudian Yahya menelpon kompol Reza untuk datang ke warung soto untuk membantu menyelesaikannya.
Kompol Reza sengaja membawa kawannya yang memakai seragam polisi dan semua karyawan dikumpulkan. Yahya juga sudah menelpon Ramdani yang sudah merekam kejadian tadi.
"Selamat Siang, saya datang untuk menanyakan kepada kalian semua mengenai cicak di dalam Panci kuah soto. Apakah tidak ada yang mengaku?" tanya kompol Reza.
Mereka diam. Bu Aminah masih diam tapi dia sudah mulai ketakutan dan gugup.
"Disini tukang masaknya berapa orang?" tanya Reza.
"Ada tiga, kompol!" Jawab Yahya.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh mas Ramdani, Mbak Santi apa kabar?"
"Baik, Kang Yahya," Jawab Santi.
"Kompol Reza apa kabar?" tanya Santi.
"Baik, ini adiknya Farell?" tanya kompol Reza.
"Iya namanya Mawar." Kemudian Santi dan Ramdani duduk. Ramdani memberikan bukti rekaman CCTV ke kompol Reza.
"Ini kompol, rekamannya!" Ucap Ramdani.
"Terima kasih!" Dia langsung menontonnya.
"Ada TV kan disana? Coba lihat di TV itu ya, kita akan lihat siapa pelakunya!" ucap Kompol Reza yang menghubungkan perangkat TV dengan HP melalui Blutooth.
Akhirnya terungkaplah siapa dalang yang telah memasukkan cicaknya. Bu Aminah langsung ketakutan karena dia dipukuli oleh beberapa karyawan disana.
"Sudah, sudah!" Kompol Reza langsung menarik tangan Bu Aminah ke untuk berdiri dan mengakuinya.
"Kamu kenapa tidak menjawab tadi saya tanya?" Kompol Reza geram.
"Ma-maaf pak, saya takut!" jawab Bu Aminah.
"Ibu kenapa sih jahat sama saya, bu?" Tanya Santi menatap ke wajah bu Aminah yang ketakutan.
"Saya disuruh bu. Maafkan saya..Huuuuuhuuu.." Dia menangis.
"Siapa yang suruh?" tanya Santi.
"Bu Ninu...!"Jawabnya.
"Ninu? Ninu siapa?"tanya Santi.
"Ninu yang pernah kerja disini bu...!" Jawabnya.
"Ninunya Basuki? Kamu ketemu dengan dia dimana?' tanya Santi heran.
"Jadi begini bu, saya ditelpon oleh Bu Ninu, dia minta saya untuk memasukkan cicak ditempat kuah soto dengan bayaran dua juta bu. Karena dia sudah sakit hati sama Ibu, diusir oleh Ibu!"
"Hah siapa yang mengusir dia? Dia kan sakit HIV dan seharusnya dia sudah berterima kasih sama saya dan suami saya!" Santi heran dengan jawaban Aminah.
"Sekarang dia dimana?" tanya kompol Reza.
"Dia ada dikampungnya, dia di Jawa Timur pak!"
"Kamu punya nomer HP nya? Dan kamu sudah diberikan uangnya?" tanya kompol Reza lagi.
"Sudah pak, saya sudah ditransfers uang sama dia kemarin. Dia sudah dua kali menyuruh saya dan mengirimkan uang kepada saya!" Ucap Aminah lagi.
"Bagaimana ini urusannya kompol Reza?" tanya Santi.
"Ya kita akan proses ibu ini dan kami masukkan ke Penjara!" Jawab kompol Reza.
"Jangan pak....! Ibu...Jangan masukkan saya ke penjara...Kasihan anak saya....Huuuuhuuu..." Bu Aminah menangis sambil memegang tangan Santi.
Santi melepaskan genggaman tangan bu Aminah.
"Ya ibu sudah melakukan tindak kriminal dan merugikan orang lain!" Sahut Kompol Reza.
"Maaf pak..Maaf Bu Santi atas kekhilafan saya! Huuuuuu...huuu..."
Semua karyawan warung kesal dengan ulah bu Aminah. Malah ada yang menoyor kepalanya dari belakang karena kesal dan geram.
......
__ADS_1
......
BERSAMBUNG