KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
THERAPI KEDUA


__ADS_3

Bab 13.


POV AZZAHRA


Aku masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar. Dan aku melihat Mas Farhan belum bangun, mungkin dia masih capek. Aku bangunkan mas Farhan untuk sholat Ashar karena setelah sholat Ashar kami rencana mau ke rumah Mak Hasnah untuk therapi pijit lagi. Dia terbangun.


"Sayang...Aku tidur ya?"


"Iya mas...Mas capek?"


"Ah, biasa ajah kok...Sini dong peluk mas"


Aku kemudian bergeser medekat dan memeluknya.


"Aduuhh nikmatnya kalau memeluk Istri soleha...Berasa berbeda...Hehehe."


"Bisa ajah nih mas ku sayang ini....Ayo bangun, nanti abis sholat Ashar kita ke rumah Mak Hasnah."


"Oh iya, kita mau ke sana, ya?"


"Iya sayang, kan udah janji sama mak Hasnah waktu itu."


"Iya, yuk, kamu dah ambil wudhu?"


"Belum mas, yuk kita ke belakang"


"Ya sayang." Suamiku bangun dan kami keluar kamar berdua. Mereka sudah tak ada di ruang tamu, pindah ke kamar Ibu, mereka ngerumpi di salam kamar Ibu. Setelah Sholat Ashar kami ke rumah Mak Hasnah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Eh, Nak Farhan dan Nak Zahra, yuk masuk. Langsung aja ke dalam kamar dan ganti pakaiannya"


"Iya mak...!" Kami bersalaman dan berjalan ke kamar waktu itu dan kami berganti pakaian.


Kami berdua masuk ke dalam kamar dan aku langsung saja mengganti pakaianku dengan jarik yang ada di atas kasur. Setelah itu aku keluar dan memberikan pakaianku kepada suamiku.


Aku berbaring di kasur tipis itu.


"Sudah ganti Nak Zahra?" tanya mak Hasnah waktu dia masuk ke dalam kamar.


"Sudah mak."


"Ya sudah, mak ijin pijt ya, nak."


"Iya mak." Aku dipijitnya, dan setelah satu jam selesai. Aku langsung mengganti pakaianku. Kemudian mas Farhan yang masuk ke kamar ganti dan mengganti pakaiannya. Setelah keluar kamar dia langsung tiduran dan dipijit oleh Mak Hasnah. Seperti kemarin dia banyak mengaduhnya, tetapi sudah tidak banyak sekali mengaduhnya.


Setelah selesai kami pulang. Kata mak Hasnah tadi, sekali lagi kami harus datang, setelah itu malamnya bisa dicoba untuk hubungan intim. Mak Hasnah juga bilang kita harus menjaga pola makan dan selalu makan buah.


Setelah pulang kami mandi di rumah bergantian dan kami tiduran di kamar sebentar.


"Mas, tadi aku berantem lagi dengan Ibu dan Mbak Santi"


"Hah! Kapan dek?" Dia duduk.


"Tadi pas mas tidur siang tadi, sebelum aku bangunin mas tadi"

__ADS_1


"Hm, gimana ceritanya??" tanyanya penasaran.


Aku ceritakan semua kejadian Siang tadi ke mas Farhan. Dia mendengarkan dengan serius dan tampak tangannya mengepal.


"Sialan tuh sundel bolong!"


"Siapa mas Sundel bolong??" tanyaku heran.


"Hm, itu sayang, si Mbak Santi!"


"Huss..Kakak sendiri dibilang sundel bolong...! Kamu genderuwonya, ya? Hehehe."


"Hahaha, nggak sayang, aku buto ijo...! Hahaha. Kamu nih diajak serius malah becanda.." katanya sambil mengelus pipiku lembut.


"Iya abis mas ledekin mbak Santi Sundel Bolong, ya pastinya kamu Buto Ijo dan aku Kunti...Hiiiiihihihihi" Jawabku meniru suara kunti.


"Hahahahaha...Kamu lucu banget sih sayangku...Jadi gemes deh..!" Mas Farhan mencium bibirku dan kami ciuman saling memagut.


"Hmmmpp...Mas." Aku melepas ciumannya.


"Kenapa, kok dilepas ciumannya?"


"Kan dibilang Mak Hasnah tadi, nanti tunggu abis pijitan terakhir?!!" Aku ngedumel.


"Oh iya, lupa. Aku geregetan dan gemas sama istriku ini." Tangannya membelai rambutku.


"Ish..Sabar dong sayang," rajukku.


"Iya...Terus mbak Santi jadi takut dong setelah kamu tampar balik?"


"Iya mas...Dia mundur, tapi yang bingung aku tuh mereka itu enak saja membalikkan fakta!"


"Hm, ya sudah mas, kan sekarang sudah tiga hari ini mas, si Dona besok suruh hengkang saja dari rumah ini!" Aku manyunkan bibirku.


"Y,a nanti mas akan bilang ke dia. Aku mau merokok dek, buatkan kopi, ya"


"Oh iya aku lupa!" sambil tepok jidatku.


"Iya gak papa, kan kita tadi ke rumahnya mak Hasnah!"


"Iya mas. Yuk, kita bangun..!" Aku dan Mas Farhan bangun dan keluar dari kamar. Aku ke dapur dan mas Farhan ke teras. Aku bertemu dengan Dona yang keluar dari kamar mandi waktu di dapur.


Dia melihatku dan langsung lari ke dalam kamar Ibu. Mungkin dia ketakutan. Hehehe. Aku selama tidak disinggung nggak akan melawan, tapi aku juga masih sering bersabar.


Setelah kopi nya selesai aku bawa ke teras. Duduk di teras setelah kopi kutaruh di meja.


"Mas, itu lintingan rokok apa?"


"Ini aku campur sayang, bakau dan cengkeh."


"Oh begitu? Kamu kayaknya sudah jago banget sih mas, melinting dengan alat itu?"


"Iya sayang, udah biasa," jawabnya sambil melinting rokoknya.


"Mas, kalau udah ada uang beneran ya, belikan aku HP," rajukku.


"Iya sayang, kamu aku belikan HP nanti abis panen ya, tenang saja sayang."

__ADS_1


"Aku ingin menulis novel, kali ajah novelnya laku keras, bayarannya dollar mas!"


"Oh ya? Emang kamu pernah menulis Novel sayang?"


"Sudah pernah mas, aku sudah beberapa kali dapat uang dari menulis. Mas saja gak tau...!" Jawabku balik.


"Hehehehe, iya sayang, mas kan taunya juga cuma nyawah saja."


"Hehehe, masku emang rajin dan ulet!"


"Ya kalau gak begitu kamu dan Ibu gak makan dong!"


"Ya itulah mas. Kewajiban suami sudah kamu tunaikan dengan baik. Aku merasa bersalah dengan tidaknya aku hamil…..!"


"Jangan sedih, aku sendirikan juga belum tau, apakah aku atau kamu yang tidak subur? Kitakan belum mengeceknya. Tapi kita sudah berusaha dan berdoa...Yang terpenting kita saling sayang dan menjaga hati kita..."


"Iya, sayang. Aku selalu mencintaimu mas!"


"Sama sayang, aku juga akan selalu mencintaimu. Aku sangat sayang sama kamu."


"ZAHRA...!!"


"Iya bu..." Aku menjawab panggilan ibu. Aku masuk ke dalam rumah dan kemudian aku mendekat ke ibu.


"Ada apa bu?"


"Ada apa ada apa!"


"Lah, tadi kan ibu memanggil saya?"


"Iya tapi kamu lama amat datangnya!"


"Saya langsung datang kok ke Ibu."


"Tapi jangan lelet gitu jalannya!"


"Iya, maaf, Ada apa?"


Ibu diam.


"Ibu manggil Zahra ke sini ada apa?" tanyaku lagi.


"Kamu kemana tadi sama farhan kok gak ada?" jawab Ibu.


"Oh aku dan mas Farhan dipijit sama Mak Hasnah...!"


"Untuk apa kamu dipijit mak Hasnah segala!??"


"Hm, nggak papa bu, cuma pegel-pegel saja"


"Pegel apa kamu! Kerja juga jarang pake pijit lagi??"


"Ya, namanya juga manusia bukan robot, perlu makan perlu dipijit kalau pegal, kalau robot kan gak perlu dipijit!"


....


....

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2