
BAB 44.
POV FARHAN
Besok pagi setelah sarapan, aku mandi dan memakai wig yang berambut panjang dan memakai topi. Aku pagi ini berencana mencari tau mengenai Basuki dan akan melakukan penyamaran. Tak lupa kusiapkan kacamata hitam dan keluar bersama dengan istriku ke motor. Setelah berpamitan, aku langsung naik motorkr arah jalan raya. Untuk pertama ini aku akan menuju ke hotel yang biasa mereka bertemu.
Setelah turun dari motor aku menuju ke hotel dan menuju ke ruang santai nya di lobby hotel Sambil membaca koran pagi, aku duduk dan tak lama kemudian aku melihat sosok yang kukenal. Ya, Dona yang berjalan sendirian ke tempat receptionis dan memberikan kunci kamarnya kepada petugas disana.
Aku meiirik melalui sela pinggir koran dan kemudian berdiri berjalan mengikutinya setelah dia keluar dari lobby hotel. Dia menuju ke dalam sebuah mobil yang sudah ada mas basuki di dalamnya. Aku mengumpet dulu dibalik pilar supaya ta keliatan sampai mobilnya keluar dari halaman hotel
Kemudian kumenuju motor dan mengikuti nya ke jalan raya.
Sekitar setengah jam kemudian, aku melihat mobil masuk ke dalam parkiran sebuah restoran ayam panggang dan turun dari mobil. Mereka msuk ke dalam resto. Aku turun dan masuk ke dalam resto pura-pura akan makan dan melihat ke semua penjuru ruangan dan mendapati mereka sedang duduk berhadapan dekat dengan
aquarium.
Aku duduk jauh dari mejanya sekitar beda empat meja. Aku sengaja duduk di samping mereka supaya bisa melihat kelakuan mereka berdua. Dan langsung mengeluarkan HP ku.
"Maaf pak mau pesan apa?" tanya seorang pelayan wYunista.
"Saya pesan kopi saja boleh?" jawabku.
"Boleh, kopi apa pak?"
"Kopi hitam saja."
"Baik pak, ada lagi?"
"Itu dulu saja mbak, terima kasih."
Kemudian pelayan itu pergi. Aku mencoba mengambi gambar dan mengabadikan beberapa foto dan video mereka yang sedang bercengkrama dengan mesra.
"Ini pak kopinya."
"Oh iya, terima kasih," jawabku.
Aku melihat mereka makan berdua saling suap-suapan. Kalau dilihat dar tampang, jelas aku lebih ganteng kemana-mana. ( memuji diri sendiri gak papa kan? ). Tapi kenapa dia mencoba merusak keluarga sahabatnya sendiri? aku tak habis pikir, dia selain ular berkepala dua, dia itu juga ternyata menikam dari belakang, Pengkhianat!
Sudah cukup aku melihat mereka bermesraan, lama-lama aku tak sabar juga untuk melabraknya. Karena istri dan anaknya sedang menangis ditingal oleh mas Basuki, ternyata dia disini sedang enak-enakan dengan Wanita lain. 'Dasar laki-laki hidung belang'
Aku tinggalkan uang dua puluh ribuan di meja dan ditindih dibawah gelas kopiku. Aku berjalan ke mejanya. Sebelumnya HP kunyalakan aplikasi rekam suara dan kumasukkan HP di kantong depan kemejaku. Berjalan menuju mejanya. Berhenti dan memandang mereka bergantian dari samping mejanya.
"Enak ya kalian berdua, kalian tidak malu apa pacaran kayak gini di depan umum!?" tanyaku berdiri di samping mejanya.
"Heh, kamu siapa beraninya menuduh kami! Kami ini suami istri!" Jawab mas Basuki.
"Hm, istrimu di rumah nggak dianggap? Tidak mungkin orang dengan tampang seperti ini belum punya istri! Apakah kalian sudah menikah?" tanyaku lagi.
"Iya kami sudah menikah siri! Kamu mau ngajakin ribut disini, hah!!" jawabnya.
Ternyata mas Basuki dan Dona tidak mengenal wajahku setelah menyamar. Mungkin memang berbeda, tapi aku sendiri gak au karena tidak mengaca dulu setelah memakai wig ini.
"Heh kamu siapa? Kamu mau ganggu kita?!!" bentak Dona.
__ADS_1
"Hahahaha," Suara tawaku sengaja aku ubah.
"Kamu kenapa tertawa? Seneng? Sana pergi, jangan ganggu kami!!"
"Iya, Hahahaha. Kalian ini nggak tau diri ya, sudah selingkuh dan dasar pelakor!!"
"Heh jangan ngomong sembarangan kamu! Aku tuntut kamu mencemarkan nama baik! Siapa kamu!??" bentaknya lagi.
"Masa kamu nggak kenal sama aku?? Hahahahaha." Kulepas wignya dan kacamataku.
Mereka kaget dan melepaskan tangan mereka yang sebelumnya sedang saling menggenggam.
"Farhan, kamu ngapain disini?" tanya mas Basuki kaget sekali wajahnya.
"Farhan, tolong aku, aku sudah terkena rayuannya..!" Ucap Dona yang berdiri dan mendekat dan memegang lengan kiriku. Tapi aku tepis lengannya dan menjauh ke belakang.
"Oh, mas Basuki ternyata seingkuhnya sama Dona? Wah ada untungnya juga ya Dona pernah menginap di rumahmu! Kayaknya kamu sedang menikmati permainan dona!"
"Heh Dona, dasar cewek brengsek! Kamu mau ninggalin aku!??" Teriak mas Basuki. Dia berdiri dan menggebrak meja.
"Udahlah, nggak usah bersandiwara. Kalian sudah aku rekam mulai dari hotel tadi, jadi sebaiknya kalian siap-siap akan aku laporkan ke Polisi atas dasar perselingkuhan! Mungkin nanti perzinahan!!" Jawabku.
"Silahkan saja dilanjutkan, aku mau pergi!!" Dan aku jalan keluar resto dengan berjalan cepat. Mereka mencoba mengejarku tetapi aku langsung menjalankan motorku keluar dari restoran. Aku ngebut dengan motornya.
"Farhan!!" teriak Dona.
Aku tetap melajukan motor dengan kecepatan tinggi dan menuju ke rumah. Sesampainya di rumah aku masuk ke dalam. Disana ruang tamu ada Santi dan Ibu. Zahra ternyata sedang di kamar menulis novelnya.
"Waalaikumsalam."
"Gimana Han, sudah dapat hasil belum?"
"Belum bu, aku mau ke kamar mandi dulu." Alasanku.
"Ya ampun ternyata kamu kebelet?"
"Iya bu, bentar ya...!" Aku berlar ke kamar mandi dan kemudian mengirim file foto dan video perselingkuhan Basuki dan Dona ke nomer Zahra.
Setelah mengirim selesai berjalan keluar kamar mandi dan sampai di ruang tamu. Zahra keluar kamar dan mencium punggung tanganku. Kukasih kode kedipan dan dia memejamkan mata sekali.
Dia duduk disampingku.
"Kamu emang abis darimana Farhan?" tanya Ibu.
"Aku keliling aja Bu, kebelet pipis di jaan males mampir-mampir, pulang aja," ucapku berbohong.
"Hm, kamu emang rencana mau cari kemana?" tanya Ibu.
"Mau ke hotel tadi, pas mau parkir aku kebelet pipis, jadinya jalan lagi deh."
“Terus kamu mau balik lagi ke sana?"
"Nanti sore aja."
__ADS_1
Tak lama kemudian HP Santi berbunyi dan Santi menjawabnya.
"Halo, Ya mas." Dia mengeraskan suranya jadi terdengar.
"Kamu dimana?"
"Di rumah Ibu."
"Aku mau pulang sekarang, kamu pulang ya."
"Iya." Jawabnya singkat.
HP dimatikan.
"Kenapa, San?" Tanya Ibu.
"Mas Basuki mau pulang katanya."
"Lah tadi katanya udah bawa koper?" tanya Ibu.
"Gak tau kok dia pulang sekarang, nggak jelas juga," balas Santi.
"Ya sudah kamu pulang sana, mungkin dia sadar," ucapku.
"Ya sudah, aku pulang ya Han, Ibu, Zahra," Ucapnya dan dia dan anaknya keluar naik motor pulang ke rumahnya.
Aku dan Zahra masuk ke dalam kamar, sedangkan Ibu kembali ke kamarnya juga. Di dalam kamar aku merebahkan tubuhku di ranjang. Zahra duduk di pinggir ranjang.
"Mas, kenapa kamu kirim semuanya ke aku?"
"Kan supaya aman ada duplikatnya sayang."
"Aku belum lihat, boleh lihat?" tanya Istriku.
"Boleh kok, ayo kita liat bersama." ucapku.
Kami menonton semua video dan melihat beberapa foto-foto yang ada di HPnya Zahra.
"Wah kacau ya mereka? Loh ini ada rekaman suara juga mas?"
"Buka saja." kataku.
Kemudian di buka dengan suara pelan.
"Wah, gila ya si Dona, pantas saja mas Basuki marah. Dia masih ngarepin kamu juga mas! Ketara banget ya kalau dia hanya pelampiasan saja ke mas Basuki."
"Mungkin balas dendam saja dan mau menghancurkan keluargaku."
....
....
BERSAMBUNG
__ADS_1