
Bab 96.
"Iya mas, tapi kalau aku diginiin terus mending aku pindah deh ke warung sama Farell!"
"Janganlah kamu ngambek juga, pusing nanti kepala mas ini...Hehehe!"
"Biarin aja pusing!" Balas Santi mencebikkan bibirnya.
Sore hari mereka ke klinik untuk memeriksakan kandungan Santi sekaligus memeriksakan kondisi sakit pusingnya. Setelah sampai di klinik mereka harus menunggu karena dokternya belum datang. Disana mereka ketemu dengan Dona dan Yahya yang juga memeriksakan kandungan Dona.
"Eh ada Dona...Kamu hamil sayang?" tanya Santi.
"Iya San, sudah testpack tadi pagi ternyata positif. Ya aku harus periksakan dari awal San."
"Iya memang harus begitu, supaya nanti kita tidak salah makan atau nanti kecapekan malah jadi keluar!" sahut Santi lagi.
"Mas Ramdani bagaimana kabarnya?" tanya Dona.
"Baik Dona, wah anak pertama kalian, nih!"
"Iya, aku jadi ingat dulu waktu hamil di penjara, lebih takut!" Dona memberikan gambaran.
"Iya sih, jadi kamu ke dokter Anita juga?" tanya Santi.
"Iya, masalahnya dokter yang lain kan, cowok semua?"
"Iya sih...Eh Rudi bagaimana?" tanya Santi.
"Uh makin sering main. Dia sering minta ketemu dengan mas Farell.Eh bagaimana kalau Farell nanti sekolah saja di dekat rumahku?" tanya Dona.
"Maksudnya dia tinggal di rumahmu?"
"Iya dong, kan mereka saudara, Rudi dan Farell, biar mereka punya dua bunda satu ayah...Hehehe!"
"Ya nanti aku pikirkan dulu. Farell juga sudah sibuk sekarang bikin konten terus!"
"Iya tadi aku ketemu sama dia!" Ucap Yahya.
"Iya, emang ngapain sih di sawah?"
"Aku mau dia memvideokan bagaimana cara memupuk dan menyiram sawah padi yang benar. Jadi kalau dengan konten kan kalau ada yang butuh bisa nonton video nya!"
"Iya juga sih jadi edukasi, ya?"
"Iya San. Farell itu kreatif loh anaknya!" Ucap Yahya.
"Iya sih, kata dia malahan sudah bisa mone mone apa gitu?"
"Monetisasi, San!" Ucap Yahya.
"Nah iya itu. Dia kan sering bikin konten masak di warung sotoku. Nah ternyata banyak yang nonton kalau konten masak. Hahahaha."
"Iya memang Farell itu kreatif sekali, dia bisa mencari bahan konten yang menarik!"
"Ya kalau begitu, aku minta Farell membuat konten buat teralis kali, ya? Sekalian buat pagar, buat pintu besi!" Sahut Ramdani.
"Iya mas, itu bisa sebagai promosi juga!"
"Ah,nggak usah dipromosiin juga bengkel las mas Ramdani sudah paling Top! Haahaha," Ucap Yahya.
"Ah bisa aja kamu, Ya!" Sahut Ramdani.
Setelah mereka masing-masing dipanggil, mereka pulang ke rumah dan sesampainya di rumah, Santi dan Ramdani kembali duduk-duduk di teras.
__ADS_1
"Bagaimana sayang? Masih pusing?"
"Masih mas, tapi aku sudah minum vitamin dari dokter Anita."
"Sayang. Aku kayaknya mau memindahkan bengkel las ku yang disamping warungmu. Karena kontrakannya juga sudah habis bulan ini, soalnya disana tempatnya kecil. Aku mau cari tempat lagi yang lebih besar dan menyatukan dua bengkelnya ke tempat itu!"
"Ya nggak papa mas, kan kalau bisnis itu ada perhitungannya juga tapi sebaiknya memang kamu pindah. Karena membludak terus pesenanmu itu. Cari saya yang dekat warung lagi tapi agak ke dalam. Mungkin paklek bisa bantu!" Balas Santi.
Selama seminggu itu Santi tidak sering dirumah, begitu pagi dia langsung mandi dan berangkat dengan Farell berdua ke warung sotonya. Begitu juga begitu pulang setelah Isya langsung membereskan rumah yang dibantu oleh Farell. Setelah beberes langsung mandi dan tidur.
Keadaan ini membuat Ibu Tugino bertambah kesal, karena dia merasa sendirian dirumah. Keadaan ini membuatnya stress dan dia sering uring-uringan dengan Ramdani.
"Ramdani, ibu disini kok ditinggal sendirian terus tiap hari!"
"Ya bagaimana bu, aku dan Santi juga sibuk kerja setiap hari, mau ibu bagaimana??" tanya Ramdani.
"Ya tidak tau. Santi juga sok sibuk sekali dia. Menomer satukan warungnya, harusnyadia kan dirumah urus rumah dan suami. Kasih tau tuh si Santi!" Ibu kesal.
"Ya bu, kan ibu tau kalau sebelum saya menikah dengan Santi, dia itu sudah mempunyai warung soto di ujung jalan raya sana. Kalau dia berhenti berdagang, ya tidak bisa bu!"
"Bukan berhenti berdagang, biar saja dia itu di rumah, dan urus suami saja. Dia sudah mau melahirkan masih sibuk saja dengan warungnya!" Jawab Ibu dengan ketus.
"Ya sudah nanti aku bicara dengan Santi. Tapi saya tidak mau memaksa dia untuk berhenti berdagang!" Ucap Ramdani.
"Hmmm Mantu sok sibuk! Lihat tuh si Farhan dan zahra. Zahra saja di rumah mengurus anak-anaknya saja!"
"Ya kalau Zahra kan memang sekarang menjadi penulis, jadi dia bisa kerja dimana saja bu!"
"Tapi dia mengurus ibunya Farhan loh!" timpali ibunya.
"Ya Ibu sih, begitu ada Santi dirumah malahan marah-marah begitu ke Santi. Ingat loh bu,,ini rumahnya Santi. Kita hanya menumpang dengan dia. Kalau ibu mau, mending Ibu beli rumah saja sendiri. Kan Ibu bebas!" jawab Ramdani kesal.
"Oke Ibu akan beli rumah sendiri dengan uang sisa penjualan rumah kita. Ibu akan pergi dari sini!" Jawabnya lagi dan masuk ke dalam kamarnya.
Ketidakakuran mereka kadang membuat dia pusing. Serba salah dan kadang jadi dilema. Tapi belakangan ini memang Ramdani agak sibuk di bengkel lasnya dan tidak memperhatikan sikap ibunya ke Santi yang makin hari makin kasar dan meremehkan.
Ketika malam itu, Santi dari warungnya dan selesai mandi, Ibunya melemparkan baju-baju yang habis dicuci untuk disetrika dengan kasar.
"Heh, kamu cepet setrika, Ibu besok mau pergi ke pengajian, kenapa belum disetrika?" Tanya Ibu dengan ketus sambil melemparkan bajunya ke muka Santi.
"Kok ibu kasar begitu sih sama Santi? Kasih saja dengan baik bu tidak usah melempar segala!!" Sahut Santi kesal.
"Halah kamu, kalau tidak digitukan akan makin melunjak tau!" Ibu melipat tangannya.
"Kan ibu bisa setrika sendiri? Lagi pula ini kan baju baru ibu taroh di mesin cuci dua hari lalu! Kenapa tidak habis pakai ibu taroh di mesin cuci!??"
"Ya kamu dong yang menyetrikanya! Kan kamu yang mencuci!!"
"Ibu jangan kasar begitu dong! Kalau bukan saya juga Ibu tidak bantuin saya mencuci baju! Alasan saja ibu sakit inilah sakit itulah!" Jawab Santi juga dengan ketus.
"Heh kamu jangan kurang ajar sama Ibu. Sejak ibu ada dirumah ini, kamu selalu melawan apa yang ibu suruh! Kerjakan saja, gitu saja kok repot sih??"
"Iya saya akan kerjakan, tapi ibu kalau memberi tuh yang musar dan baik! Jangandilempar! Emang saya babu ibu? Ibu juga bisa menyetrika sendirikan!"
"Masih melawan Ibu??" Mereka saling menatap tajam dan akhirnya Santi mengalah berjalan ke meja strikaan dan menyetrika baju Ibunya itu.
Ibu Tugino tersenyum menang. Mungkin dia tidak peduli dengan keadaan Santi yang sedang capek dan ada di masa hamil tujuh bulan. Dengan terpaksa kadang Santi mengalah karena menghormati Ibu Tugino sebagai mertuanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Sayang lagi apa?" Ramdani mendekat ke Santi. Dan Santi pun mencium punggung tangan suaminya. Ramdani juga mencium tangan ibunya yang sedang berdiri menunggu Santi selesai menyetrika bajunya.
__ADS_1
Ramdani masuk ke dalam kanarnya untuk mengganti baju.
Karena agak tergesa-gesa Santi tidak hati-hati dalam menstrika.
"Yahhhhh...!!" Teriak Santi.
"Kenapa lagi?" tanya Ibu mendekat ke Santi.
"Maaf bu, baju ibu robek di lengannya kena ujung setrikaan.
"Apa? Coba ibu liat!" Ibu Tugino melihat lengan baju atasnya robek ditengah terkena ujung setrikaan yang menyebabkan dia marah besar.
"Dasar nggak becus kerja!!"
PLAAKKKK
"Ibu!!"
"Sakit bu! Kenapa ibu menamparku?" tanya Santi yang memegang pipinya yang panas.
"Kamu nggak becus!! Setrika baju begini aja nggak bisa, matamu dipakai tidak, sih!!"
"Ya maaf bu. Tapi juga jangan langsung menampar pipi saya!" ucap Santi sambil menahan rasa panas dipipinya. Ramdani yang sedang di dalam kamar mengganti baju langsung keluar dan mendatangi mereka.
"Ada apa bu? San!"
"Ini loh, Santi merobek baju yang akan ibu pakai besok ke pengajian! Dasar nggak becus kerja begitu! Maunya ongkang-ongkang kaki di warungnya, dirumah nggak becus!"
"Ibu kok kasar banget sih sama aku? Aku capek bu abis kerja dan datang ibu menyuruh saya setrika baju ibu. Saya juga sudah minta maaf. Besok saya belikan lagi bu!!" Santi akhirnya menangis.
"Kamu itu dasar perempuan nggak bisa jadi istri yang bener! Makanya si Basuki dulu langsung cari yang lebih baik! Kali kamu juga begitu sama dia waktu itu!"
"Sudah cukup! Ibu jangan kelewatan mengungkit masa lalu Santi. Sudah kamu masuk San ke kamar, besok aku belikan baju ibu dua atau tiga terserah! Jangan berantem terus dong bu!" Ramdani kesal sekali.
"Oh, kamu sudah membela istrimu yang nggak becus kerja itu?"
"Bukan begitu bu, Santi sedang hamil, kalau ada apa-apa dengan kehamilan Santi bagaimana? Ibu mau tanggung jawab? Ibu kan juga mau menggendong cucu. Kenapa sih ibu selalu saja membuat ribut dengan Santi!??" Ramdani sangat jengkel.
"Dia itu istrimu, seharusnya dia itu dirumah bukan dagang cari uang. Uang dari kamu juga kan cukup untuk menghidupi keluargamu!"
"Oh jadi ibu mengungkit masalah saya yang setiap hari ke warung? Saya ini kalau melahirkan juga sudah tidak kesana sementara, kenapa ibu selalu pengen saya di rumah!! Kalau Ibu boleh tau ya, saya ini punya dua warung Soto dan keduanya sama-sama besar. Kalau bukan saya siapa lagi yang akan mengurusnya? Ibu?" Tanya Santi dengan kesal.
"Ya, kamu bisakan cari orang dan kamu tidak ke warung setiap hari?" tanya Ibu.
"Ohhh jadi ibu pengen saya dirumah bersih-bersih terus masak buat suami saya dan ibu begitu?"
"Iya dong, namanya juga istri. Saya berpuluh-puluh tahun dengan bapak selalu dirumah tak pernah ikutan kerja dengan suami saya!" Ibu makin menyolot.
"Begini saja bu, kalau ibu tidak suka saya disini, saya akan cari kontrakan saja. Silahkan ibu mau tinggal disini dengan anak ibu atau tidak, terserah! Saya mau hidup tenang!" Santi berjalan ke kamarnya. Farell terdiam saja di dalam kamar ketika ibunya masuk dan menangis.
Ramdani masuk ke dalam kamar, Santi sedang menangis diatas Kasur.. Farell mengelus punggung ibunya.
"Sayang, maafin ibu ya...?" Santi diam saja tak membalasnya karena masih menangis.
Ramdani naik ke atas kasur dan memeluk Santi. Wajahnya didekatkan ke telinga Santi.
"Sayang, maafkan ibu ya, kamu abaikan saja kalau tidak mau menuruti keinginan ibu. Nanti kita pirkirkan lagi bagaimana cara mengelolanya.
.....
.....
BERSAMBUNG
__ADS_1