
Bab 56.
"Sudah nih." Dia memperllihatkan Video nya.
"Nih lihat!!" Farhan menunjukkan video ke beberapa warga.
"Wah, kalau begitu ini sudah direncanakan!!" Sahut warga.
"Iya udah hajar aja!!"
PLAKKK
Basuki ditampar oleh Lek Jono.
"Ampun Leekkk..." Dia mengaduh kesakitan.
"Kamu itu punya istri, punya anak! Kelakuanmu kayak maling aja!!" Bentak Lek Jono dan menoyor Basuki yang membuat basuki terjungkal ke belakang dan kepalanya membentur kursi kayu.
"Rasain lo!!"
"Udah Hajar aja disini!! Biar mereka kapok!!"
"Udah pak, jangan! Kita lapor Polisi saja!" Larang Farhan.
Zahra dan Ibu masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Mereka tak bisa melihat kedua orang tersebut nanti diamuk massa.
Santi datang tergopoh-gopoh dengan anaknya.
"Pak..Pak...Sebentar ini kenapa suami saya??" Tanyanya heran dan hendak menangis.
"Dia masuk ke rumah ini dan mau menculik Bulan!" Sahut Lek Jono.
"Hah! Bener mas??" tanya Santi ke Basuki.
Basuki hanya diam saja.
"Bener tidak mas!! AYO JAWAB!!" Bentaknya sambil memegang dagu Basuki dengan kencang.
"Ti-tidak sayang...Huu.huu...Mereka salah sangka!!"
PLAKKK
Farhan menampar mukanya Basuki.
"Salah sangka apa maksudmu!! Aku tadi aja pas masuk ke kamar langsung kamu tendang!! Kamu kecewa kan ketipu kalau Bulan hanya guling???"
"Kamu ini sudah GILA!! Kamu udah NGgak WARAS mas!!" Teriak Santi.
"Iya ini semua karena cewek murahan yang suka membuat onar di keluarga ini!!" ucap Farhan yang sudah geram.
"HAH!! Kamu tidak tau?? Kan kamu yang merencanakan semuanya, aku dengar saat aku lewat kamar kalian! Makanya aku beritahu ke Farhan dan Zahra!! Ternyata benar kamu dan mas Basuki sudah merencanakan untuk menculik Bulan!!" Santi naik pitam dan menampar Dona.
PLAKKKKK
PLAAKKK
Santi menampar Dona dan dia terjatuh ke samping, untung dia bisa menahan dengan tangannya sehingga tidak jatuh duduk.
"Sudah sudah, kita bawa saja ke kantor polisi. Itu mobilnya bawa saja sekalian ke kantor polisi!!"
"Ayo kita gelandang saja biar mereka kapok!" sahut warga.
"Jangan dibawa dulu, kita hajar dulu aja sampai babak belur!!!" banyak orang melempar batu kerikil ke muka mereka dan mengenai wajah Dona dan Basuki.
__ADS_1
"Ampun...Ampuuunnn...!" Mereka menundukkan kepalanya supaya tak kena lemparan barang-barang ke badan dan wajah mereka.
"Sudah-sudah, kamu panggil saja ke sini polisinya." Ucap Farhan ke Parman.
"Ya sudah, aku telpon dulu," ucap Parman.
Kemudian setelah lima belas menit dari Parman menelpon Polisi, datanglah satu mobil pickup terbuka dan ada empat polisi yang datang dengan membunyikan sirine.
"Selamat Siang!" Seorang Polisi mendatangi kami.
"Siang pak, ada apa ini?" tanya Polisinya.
"Ini pak, mereka masuk kedalam rumah saya, entah mau maling atau menculik anak saya, tapi untung mereka nggak mengambil apa-apa," Jawab Farhan.
"Apakah ada bukti kalau mereka masuk dengan secara sembunyi-sembunyi?" tanyanya heran.
"Ini pak, ada videonya." Farhan menunjukkan kepada Polisi itu.
"Hm, terus bagaimana lagi?"tanyanya.
"Begitu saya masuk dia menendang saya dan pak Parman ini saksinya karena dia juga ikut dalam penangkapan Basuki ini!" jelas Farhan.
"Ya sudah semua harap ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian! dan keterangan!"
Akhinya Dona dan Basuki diborgol oleh Polisi dan disuruh naik ke mobil Polisi.
Mobilnya pun dibawa ke kantor polisi sebagai barang bukti.
Farhan dan semua yang terlibat dalam penangkapan Dona dan Basuki segera ke kantor polisi dan mereka memberikan kesaksian dan membuat BAP.
Setelah selesai, Farhan dan yang lainnya kembali ke rumah. Di rumah masih ada orang yang berkumpul. Farhan mendatangi Santi yang terlihat matanya sembab karena habis menangis.
"San, sudahlah, kalau kamu mau, kamu bisa menggugat Basuki ke Pengadilan Agama dan menuntut Harta gono gini. Basuki dan Dona di sana masih saja mengeles kalau mereka tidak punya niat apa-apa ke rumah kita!" Ucap Farhan.
Santi hanya diam saja dan kembali air matanya menetes di pipinya.
"Sudahlah mbak, mbak nanti tinggal disini saja dulu. Kita bisa membicarakan nya dengan kepala dingin," ucap Zahra.
"Sayang, Bulan dimana?" Tanya Farhan.
"Tidur mas, Itu di dalam kamar kita." Zahra menunjukkan Bulan yang sedang tidur.
"Oh ya sudah. Kalau begitu aku mau sholat dulu. Makan ya sayang abis sholat!"
"Iya mas, sudah disediakan kok."
Tak lama para tetangga yang masih di rumah pulang ke rumah masing-masing.
Setelah sholat kami makan siang bersama dan kami istirahat setelah itu.
"Mas, kasus-kasusmu dengan Dona sebenernya diteruskan nggak sih ke Pengadilan?" tanya Zahra.
"Katanya sudah ada yang di Pengadilan, makanya kita akan ada surat undangan dari Pengadilan nanti kalau kasusnya sudah mulai disidangkan," Jawab Farhan.
"Ya sudah. Sekalian nanti si Dona dakwaannya banyak!" ucap Zahra.
"Iya, sudah aku info ke kepolisian tadi, digabungkan saja. Aku juga akan coba cari Pengacara yang bisa membantu kita."
"Iya mas, orang seperti mereka harus dibui selama-lamanya!" Balas Zahra.
"Eh iya mas, aku sudah gajian loh dari novelku," ucap Zahra.
"Wah keren sayang," balas Farhan.
__ADS_1
"Iya aku mau simpan saja ya mas, buat keperluan Bulan nanti," ucap Zahra.
"Iya sayang, kamu harus menyimpannya. Untuk sementara pakai saja uang dariku."
*
POV DONA
Kejadian kemarin itu membuat aku sadar kalau, apa yang aku lakukan untuk membalas dendam kepada Farhan selalu gagal. Kuhubungi pengacara keluargaku untuk membebaskanku dan mas Basuki dari penjara ini. Karena sudah dua hari ini nomernya selalu tidak aktf.
Saat kuhubungi Pengacaraku tadi, dia baru angkat dan akan datang bersama dengan Adik perempuanku yang juga selalu sayang kepadaku.Namanya Yanti.
Sore hari mereka datang berdua ke kantor polis. Aku dan Mas Basuki dibawa ke ruang Interogasi. Mereka berdua sudah duduk di kursi yang ada meja ditengahnya.
"Yanti, Pak Joko," ucapku.
Aku dan Yanti saling berpelukan. Basuki juga bersaaman.
"Kenapa lagi si Mbak, kok bolak-balik saja masuk kantor polisi." Kami duduk berempat.
"Mbak kamu ada apalagi kasusnya? Kok seneng amat cari masalah sama Polisi. Itu loh kami tidak bisa membayar jaminan buat mbak, dan juga...Siapa ini?" tanya Yanti.
"Dia suamiku Yanti. Namanya Basuki dan dia yang menghamili kakak, dan kita sudah menikah siri," ucap Dona.
"Iya Yanti, saya Basuki suami Dona," Jawab Basuki. Yanti melihat dengan tersenyum menggoda.
"Kakak sudah hamil juga masih cari masalah saja. Kapan rencananya melahirkan?" tanya Yanti.
"Aku tidak tau Yanti. Kami belum pernah ke klinik lagi, mungkin sudah mau melahirkan bulan depan."
"Hm, kami tidak bisa membayar jaminan bu Dona. Karena ada kasus ibu yang awal akan disidangkan minggu depan. Dan terpaksa Ibu dan mas Basuki tidak bisa kami bayar jaminannya," Jelas Pak Joko.
"Ya sudah tidak apa-apa pak Joko. Tapi kalau bisa mas Basuki bisa dikeluarkan dan dia bisa menyelesaikan urusannya dengan istrinya yang pertama setelah aku melahirkan."
"Ya sudah, saya coba lagi untuk mas Basuki, ya. Tapi kalau masih belum bisa ya terpaksa kita jalankan proses pengadilannya."
"Baik Pak."
"Pak Joko, silahkan urus untuk penjaminan mas Basuki, dan saya masih mau bicara dengan Dona dan Basuki," ucap Yanti.
"Iya Bu, saya akan ke depan dulu." Kemudian Pak Joko keluar dari ruang interogasi.
"Mbak, kamu kok urusan dengan si Farhan si Farhan lagi. Kenapa sih kamu dengan dia? Jadi penasaran aku sama orangnya!" ucap Yanti.
"Hm, sudahlah, tapi kalau kamu mau meneruskan dendamku kepada dia, ya kamu goda saja dia. Kamu kan lebih cantik dari aku. Lebih putih dan menawan," ucap Dona.
"Ya deh, aku pengen ketemu sama dia. Coba minta alamatnya?"
"Sama Officer saja minta, dia tau kok alamat rumah nya Farhan."
"Ya sudah, aku akan coba ke rumahnya untuk coba memberikan kompensasi kepada mereka, kali aja mereka mau mencabut tuntutan ke kamu. Soalnya kamu ada tiga tuntutan!!"
"Iya deh, cobalah. Aku sih mau hidup tenang abis ini dengan Mas Basuki, aku akan tinggal jauh dari sini kalau aku sudah bisa bebas," ucap Dona antusias.
"Hm, Iyalah mbak, kan nanti mbak sudah punya anak, rawat saja anak mbak dengan baik. Mas Basuki biar juga bisa selesaikan urusan dengan istri pertamanya juga!"
"Iya Yanti, kami memang mau menyelesaikannya," ucap Basuki.
......
......
BERSAMBUNG
__ADS_1