KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
PERTENGKARAN SANTI Dan IBU MERTUA


__ADS_3

Bab 95.


"Ya sudah, kamu jangan terlalu capek ya! Aku tidak mau ada apa-apa dengan kandunganmu!" Jawab Ramdani. Dia pamit untuk melakukan pekerjaan lagi di bengkel dekat rumahnya.


Malam itu, Santi dan Farell pulang ke rumah. Santi biasanya membawa makanan yang sisa untuk ke rumah. Semua karyawan pun melakukan hal yang sama, karena memang Santi ingin semua keluarga karyawannya tidak ada yang kelaparan atau kesusahan karena makan.


Makanan dibereskan oleh Farell yang sudah bisa membantu ibunya membereskan segala sesuatunya. Farell diajarkan oleh Zahra untuk menjadi konten kreator di internet. Keseharian Farell walaupun masih usia lima tahun, dia sudah mulai mempelajari bikin konten di Internet. Bikin video masak, video keseharian di warung dan semua informasi yang berhubungan dengan warungs soto ibunya dan kehidupannya sehari hari.


Subscribernya pun bertambah banyak dari hari ke hari.


Bu Tugino yang sehari-hari sudah mulai tinggal di rumah Santi merasa lelah karena dia yang membersihkan dan beberes di rumahnua. Awal pertengkaran Santi dan Ibu Tugino pun dimulai saat Santi yang pulang dari warung sotonya langsung tidur sedangkan rumah masih berantakan karena ulah Farell yang sibuk mencari baberapa barang yang akan dipakai membuat konten.


"Santi!! Kamu kok malah tidur?? Lihat tuh rumah kayak kapal pecah! Kamu enak-enakan saja, malah tidur!!" Bentak Bu Tugino yang membuka kamar Santi yang sedang tidur. Merasa pening kepalanya, Santi diam saja, karena tidak sepeeti biasanya Ibunya itu marah-marah seperti itu. Dia bangun dengan susah payah karena perutnya yang sudah masuk bulan ke enam.


"Iya bu, saya akan bantu bereskan. Diamkan dulu saja bu, besok saja pagi saya akan bereskan."


"Jangan besok pagi! Kan kamu besok pagi ke warung lagi, kapan kamu bantu ibu di rumah beberes?? Makanan di rumah kadang juga nggak ada, karena kamu tidak pernah masak lagi!!" Balas Bu Tugino lagi.


"Iya bu, besok aku akan masak buat sarapan dan makan siang. Aku tidur dulu ya bu, masih pusing ini kepalaku!"sahut Santi sambil memegang kepalanya.


"Awas kamu kalau tidak membereskan semua barang yang berantakan! Dan jangan lupa masak besok!" Jawab Bu Tugino yang langsung pergi tanpa pamit.


Santi menutup kembali pintu kamarnya dan memanggil Farell.


"Farell!!"


"Ya bu."


"Sini kamu!" Farell masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintu kamarnya.


"Kamu itu berantakin apa lagi? Kamu nggak kapo-kapok juga deh, sudah tau nenekmu itu bawel kalau berantakan! Kamu besok bantu Ibu buat beresin itu semua barang yang kamu berantakin!"


"Iya bu, padahal nggak ada yang berantakan. Farell sudah membereskannya juga kok. Nenek aja yang bawel!" Sungut Farell.


"Sudah jangan membantah orangtua. Kamu bantu Ibu besok, ya!"


"Iya, tapi Farell abis sholat subuh mau buat konten dulu ke sawah dengan paman Yahya, jadi pulang agak siang bu!"


"Ngapain lagi ke sawah? Kenapa lagi dengan paman Yahya?"


"Dia mau masuk di konten aku bu, dan dia bilang mau kaih uang kalau aku bisa buat konten sawahnya. Besok paman Yahya mau menyiram pupuk dan kegiatan di sawah. Jadi dia mau aku membuat konten kegiatannya bu! Gak boleh?" tanya Farell.


"Boleh, siapa yang nggak bolehin. Cuma besok kamu jangan terlalu siang, nanti Ibu kan masak dan kamu bantu beresin saja barang-barang yang berantakan itu."


"Iya bu," Jawab Farell. Kemudian Santi kembali tidur ditemani oleh Farell yang sedang mengedit beberapa videonya. Ramdani datang agak malam dan langsung masuk ke dalam kamar.


"Mas sudah pulang?" Kemudian Santi mencium punggung tangan Ramdani. "Iya mas, aku kan tadi dari warung langsung tidur karena kepalaku pusing. Tadi saja di jalan hampir aku jatuh, untung langsung bisa atasi! Nah ibu marah karena rumah berantakan, jadi ya besok palingan aku di rumah. Lagi pula aku masih kurang sehat!"

__ADS_1


"Oh, ya sudah, kamu harus banyak istirahat. Farell juga bisa bantu, kan? Ya Farell?" tanya Ramdani.


"Iya pak, bisa, tapi besok agak siangan. Aku tadi memang mencari alat buat konten jadi barang-barang di ruang tengah aku keluarin tapi sudah aku masukkan dan rapikan lagi pak!"


"Ya sudah, besok kamu bantuin ibu ya."


"Iya pak. Ijin juga tapi pak, besok abis sholat subuh aku mau buat konten dengan paman Yahya di sawah. Dia mau kegiatannya disawah di masukkin kontenku!" ucap Farell lagi.


"Hahaha, ada-ada aja si Yahya, ya sudah tak apa. Tapi kalau sudah selesai langsung saja pulang!" Balas Ramdani.


"Iya pak. Bapak mau aku buatkan kopi?" tanya Farell.


"Boleh nak, kopi buatanmu juga enak kok!" ucap Ramdani lagi.


Kemudian Farell keluar kamar menuju ke dapur untuk membuat kopinya.


"Sayang, kamu besok mau ke dokter kandungan?"


"Ya liat nanti saja mas, sepertinya tekanan darahku turun, jadi pusing."


"Ya sudah, kalau begitu apakah mau aku belikan sate kambing atau sop kambing?" tanya Ramdani.


"Hm, boleh mas. Sop kambing saja!"


"Ya aku belikan sekarang ya!"


Kemudian, Ramdani keluar setelah mengganti baju untuk membeli sop kambing. Setelah sampai di rumah lagi, mereka makan bersama di meja makan. Ibu Tugino keluar dan melihat Santi makan dia kesal.


"Enak ya pada makan! Rumah masih berantakan kamu enak-enakan makan! Sop kambing lagi?" ucap Bu Tugino dengan kasar.


"Ibu kalau mau makan silahkan, orang yang membelikan sop ini suamiku bukan aku sendiri yang beli!" Balas Santi dengan ketus.


"Oh, kamu bisa jawab sekarang!!" Balas ibu Tugino dengan kesal.


"Bukan begitu bu, saya kan ibu tuduh enak-enakan makan? Kalau suami saya tidak membelikannya juga, saya tidak makan bu!"


"Sudahlah bu, ayo makan disini duduk, masih banyak kok. Aku beli juga untuk dimakan siapa saja disini. Jangan ketus sama mantu ibu!" Jawab Ramdani.


"Bukan saya marah sama dia, Dan! Ini loh rumah masih berantakan malah makan! Tadi dia ngeringkuk di kasur katanya pusing!"


"Memang saya pusing bu. Saya dibelikan makan sama suami saya apa salah? Terus kalau saya tidak makan apa suami saya tidak marah?" Balas Santi kesal.


"Hm, kamu tuh jawab aja kalau dikasih tau orangtua!"


"Ya terserah ibu saja, saya hanya tidak mau ibu marah tidak jelas begitu. Jangan main marah dulu dong!" Sahut Santi lagi.


"Sudah sudah, Ibu kalau mau makan sini duduk. Kalau Santi kan sedang hamil bu, biarlah dia makan yang enak-enak, lagi pula dia pusing karena tekanan darahnya sedang turun. Dia tidak boleh capek!"

__ADS_1


"Huhh...!" Bu Tugino kemudian kembali ke kamarnya lagi karena tidak digubris oleh Ramdani.


"Mas, ibu kenapa sih? Aku kan tidak salah apa-apa? Masa Ibu begitu?" tanya Santi.


"Ya maklumlah sayang. Beliau baru kehilangan bapak, dan bapak juga dulu seringmembantu di rumah. Jadi merasa kerja di rumah sendirian, jadinya kesepian!"


"Ya, tapi jangan begitu dong caranya mas!"


"Ya sudah habiskan saja makannya!" ucap Ramdani.


Setelah selesai makan, mereka duduk di teras. Ramdani minum kopi dan menghisap rokoknya.


"Mas, besok kita ke dokter kandungan saja ya kalau pusingku tidak ilang."


"Iya, tapi malam saja. Kamu dirumah saja sayang. Soalnya kan aku besok bisanya malam."


"Iya mas."


Besok paginya Farell sudah pergi ke sawah untuk bikin konten dengan Yahya. Pulang jam sembilan pagi. Santi yang masih agak pusing dipaksakan masak untuk sarapan dan makan siang. Jam 7.30 masakan pun matang dan mereka sarapan bersama.


"Huuhh...Asin banget sih San, sayurnya??!!" Sahut Bu Tugino.


"Ah, nggak juga kok bu!" Jawab Santi.


"Iya, nggak asin banget kok bu!" sahut Ramdani.


"Iya tapi buat ibu segini itu, ya asin! Sudahlah, Ibu tak usah makan saja, nanti Ibu beli saja diluar!" Jawabnya ketus.


"Ya Allah bu, ngapain beli diluar segala! Ibu gak hargai masakan saya, ya?" tanya Santi kesal.


"Kamu itu bisa masak nggak sih?" tanya Ibu kesal. Dia diam saja memandang piring yang sudah ada nasi dan sayurnya itu.


"Kalau Ibu tidak berkenan, ya tidak usah makanlah. Kalau mau beli makan juga nggak papa silahkan!" Ucap Santi cuek.


"Ya sudah, ibu beli saja di warung!" Dia langsung berdiri dan masuk ke dalam kamarnya mengambil uang, kemudian keluar rumah.


Ramdani geleng-geleng kepala saja.”Sebenernya saya kasihan sama Ibu, dia tiba-tiba ditinggal bapak!" Ucap Ramdani.


"Iya mas, aku juga kasihan sama Ibu. Bapak kan sudah menemani Ibu puluhan tahun, jadi pasti merasa keilangan yang sangat dalam!"


"Makanya kamu harus lebih bersabar menghadapi Ibu!"


.......


......


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2