
BAB 8.
POV Azzahra
"Mas Farhan nih, malu-maluin saja," ucapku setelah dia keluar dari kamar ganti. Kaos dan celana fansi nya dia kasih ke aku.
"Ya sudah, tiduran!" Mas Farhan tiduran dan kemudian dia dipijat dan diurut oleh Mak Hasnah.
"Hm, kamu juga nak Farhan, spermamu kurang bagus nih!"
"Ya dibagusin dong mak..addduhhhh...aadduhh!" Dia mulai berteriak-teriak.
"Tuhkan sakit, kalau joss gak akan sakit!” sahut mak Hasnah.
"Hahahaha." Aku tertawa.
"Aku nggak loyo kok mak, aku kuat dan perkasa kok!"
"Mak gak bilang kamu nggak periksa cuma kesuburan spermamu kurang bagus!"
"Ohhh...," jawab Mas Farhan yang masih saja meringis menahan sakit. Setelah setengah jam kemudian selesai dan suamiku mengganti pakaiannya. Kami berdua minum air putih yang disediakan oleh Emak.
"Mak, kalau sudah, kami mohon pamit, ini buat emak!"
"Nggak usah nak Farhan, ambil lagi, nanti saja, kalau memang Zahra hamil, nanti mak akan terima!" tolak mask Hasnah.
"Loh kok gitu, mak?" Mas Farhan menatapku dan aku menggelengkan kepala.
"Ya sudah mak, kalau begitu kami mohon pamit, suwun gih mak!"
"Iyo."
"Assalamualaikum Mak."
"Waalaikumsalam." Kami bersalaman.
Setelah itu kami kembali ke rumah dan kami mandi bergantian karena badan kami penuh dengan minyak. Setelah mandi, kami sholat Dzuhur bergantian. Aku masak beberapa lauk untuk makan siang, kami makan berdua karena Ibu nggak mau makan bersama, dia memilih untuk tetap di kamar. Di kamarmya itu lengkap, ada TV, Dispenser dan kulkas kecil. Aku melihat waktu masuk ke dalam kamarnya tadi pagi.
Setelah makan siang, kami ke teras, dan mas Farhan melinting rokoknya.
"Oh iya, mas...Aku buatkan kopi?"
"Iya boleh sayang...jangan manis-manis, ya?"
"Kan biasa manis, mas?"
"Kan manisnya ada dikamu donanya...Hahahaha!" Mas Farhan menggombal.
"Ish, Mas Farhan udah belajar ngegombal juga ceritanya....Hahaha!"
"Iya sayang..Soalnya juga akhir-akhir ini aku sering sesak napas sayang?"
__ADS_1
"Kok gak bilang sama aku mas...Kamu sakit???" Aku panik mendengar dia sering sesak napas. Mas Farhan diam saja.
"Mas...Yang bener kamu sering sesak napas??"
"Iya sayang..Hmm...Soalnya separuh napasku ada di kamu...Hahahaha!"
"Ish Jahat..Jahat...Jahat...Huuuuhuuuu...!"
"Loh, kok menangis sih sayang?" Dia mengelus rambutku dan memelukku.
"Kamu jahat mas..Aku kuatir tadi...Kamu malahan ngegombal...Jahat..Jahat!!" Aku pukul dadanya.
"Adduhhh...Hahahaha....Kamu lucu, digombalin malahan nangis..Iya sayang..." Mas Farhan mengelus rambutku.
"Maafin aku ya sayang....hihihihi"
"Tuhkan kamu masih ketawa ajah..." Aku mengurai pelukanku dan menghapus airmataku dengan bajunya.
"Eh...Kok meper sih..Hahahaha!"
"Biarin, soalnya kamu jahat!"
"Iya deh, kamu memang top ahh...Istriku yang tersayang...!"
“Iya, makanya jangan ngagetin aku terus..Nanti aku jantungan baru tau rasa kamu...!" kataku masih merengek.
"Iya deh sayang...Maafin Mas, ya?"
"ZAHRA...!!!!" Teriak Ibu karena dia melihat aku lewat kamarnya.
"Iya bu.." Aku jalan masuk ke dalam kamarnya.
"Ambilkan Ibu teh manis panas..!!" Dengan nada keras.
"Iya bu." Aku kembali ke dapur. Aku masak ari dulu di kompor dan kembali ke kamar ibu untuk memberikan teh manis panas di gelas besar.
"Ini bu...Taroh dimana?"
"Disitu aja...diatas meja kecil" balasnya.
"Iya bu..." Aku letakkan gelasnya di atas meja sesuai dengan yang dia suruh.
"TUTUP Pintunya!!" bentak Ibu setelah aku menuju keluar.
"Iya bu." Akupun menutup pintunya. Aku ke dapur dulu untuk ambil kopi mas Farhan dan membawanya ke teras.
"Mas ku sayang...Ini kopinya..."
"Iya sayang terima kasih...Dia menghisap rokoknya dan kemudian mengambil gelas kopinya dan menyesapnya.
"Sayang, kamu enakan nggak badanmu?"
__ADS_1
"Iya sih mas"
"Hm, berarti ini hari ke berapa sayang dari datang bulanmu?"
"Hari ke berapa ya? Masih hari ke delapan mas"
"Hm, hari ke empat tiga belas dan empat belas kata orang itu hari subur, sayang"
"Hm, begitu ya mas? Aku baru tau nih...!"
"Beneran baru tau?" tanyanya.
"Iya!"
"Berarti enam hari lagi kita kikuk-kikuk ya, sayang."
"Hahahaha, sekarang juga boleh."
"Sayang, nanti aku akan banyakin makan sayur sayang, biar jadi..hehehe."
"Iya mas...apa ajah nanti aku siapin"
"Oh Iya sayang, ini mas tadi dapat uang dari pembeli beras yang waktu itu belum bayar. Ini simpan ya dek..." Dia menyerahkan uang beberapa lembar seratus ribuan.
"Iya Mas, aku akan simpan dengan baik!" Kemudian aku masuk ke dalam kamar dan aku menyatukan uang yang masih ada dengan uang itu. Aku selalu menyimpan keebihan uang bulanan, dan sudah berjumlah lebih dari sepuluh juta, tapi aku menyimpannya di bawah kasur. Aku rapikan kembali kasurnya agar tak nampak.
Aku keluar dari kamar dan menutup pintu kamar. Di teras aku melihat mas Farhan masih melinting rokoknya.
"Masih banyak mas lintingannya?"
"Masih sayang, kenapa?"
"Gak papa, mas."
Kami mendengar Adzan Ashar dan masuk kembali ke dalam untuk mengambil wudhu dan sholat Ashar berjamaah. Setelah itu, mas Farhan mengajak ku jalan-jalan ke pasar kaget di dekat kantor desa.
"Dek, kamu mau beli apa?"
"Gak da mas, cuma mau lihat-lihat saja!"
"Hm beli kaos saja, dek!"
"Boleh..Tapi mas saja yang pilihin ya?'
"Iya dek."
....
....
BERSAMBUNG
__ADS_1