KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
PAK TUGINO MENINGGAL DUNIA


__ADS_3

Bab 94.


"Iya."


Farhan keluar dan bertemu dengan polisi. Banyak orang yang berdatangan dan sebuah mobil ambulance datang. Basuki langsung dimasukkan ke kantong jenazah dan dibawa ke rumah sakit. Kompol Reza pun datang menemui Farhan.


"Siang mas Farhan. Apa yang terjadi tadi dirumah? Apakah tersangka membuat keributan?" tanyanya.


"Tidak. Dia hanya datang untuk meminta maaf kepada saya, Zahra dan Ibu. Dia hanya ingin kami memaafkan dia."


"Saya kira dia melakukan tindakan kebrutalan. Terima kasih kalau begitu!"


"Mas Reza, tolong ini darahnya di siram sampai bersih karena Basuki mengidap HIV, jadi takut membahayakan orang lain!"


"Baiklah. Sersan! Tolong ini dibersihkan sampai bersih jangan ada noda sedikitpun darahnya!" Kompol Reza memberikan Instruksi kepada anak buahnya.


Darahnya pun yang menetes segera disiram dan dibersihkan sampai bersih. Sehingga tidak memberikan efek buruk nanti ke depannya. Terutama dari hewan seperi kucing dan anjing yang suka dengan darah, jadi hal ini akan bisa menularkan kepada makhluk hidup.


"Sudah bersih mas Farhan! Nanti kita juga akan siram dengan oli bekas biar tidak menarik makhluk hidup lain untuk hinggap dan memakan darahnya!"


"Baik mas Reza! Terima kasih." Mereka bersalaman dan kompol Reza pergi.


Mereka yang masih menonton akhirnya bubar. Farhanpun masuk kembali ke dalam rumah. Pintu dibukanya kembali. Dona yang terlihat sedih duduk dengan Zahra. Anak-anak tampak biasa lagi. Mereka banyak diam tapi tidak terlihat shok.


"Ayo, kalau mau main lagi!" Ucap Farhan kepada Bulan dan Rudi.


"Papah, kenapa pakde Basuki ditembak?" tanya Bulan.


Farhan diam dan menengok ke semua orang terutama ke Dona, karena dia takut menjawab. Basuki adalah ayahnya Rudi, jadi dia tidak mau melihat Rudi sedih dan trauma.


"Sini nak, iku sama papa yuk ke dalam kamar."


Farhan menggandeng Bulan masuk ke dalam kamar dan diberikan pengertian supaya tidak salah paham akan kejadian itu. Untung Bulan mengerti dan berjanji tidak akan memberitahukannya kepada Rudi.


Dua minggu dari kejadian itu, Dona mengundang keluarga Farhan untuk datang ke rumah Dona. Mereka ada pertemuan keluarga antara keluarga Dona dan keluarga Yahya. Pak Anggoro dan keluarga juga hadir dalam pertemuan antara dua keluarga tersebut. Rencana Resepsi pernikahan akan dilangsungkan di rumah Dona.


Hari yangtelah dinanti oleh kedua mempelai dilangsungkan. Akad Nikah akan dilaksanakan hari ini jam delapan pagi. Setelah menikahpun, Resepsi diadakan hanya kalangan keluarga saja dan beberapa tetangga satu RT.


Paginya dirumah pak Anggoro, Farhan dan sekeluarga datang ke rumah yang kemudian pergi bersama. Tampak Yahya sudah memakai Jas dan dia tampak gugup, walaupun sudah dua kali melakukan akad nikah.


"Ya, kenapa gugup! Hahahaa, moso sudah tiga kali sama ini, masih gugup aja sih?" tanya Farhan.


"Hahaha, bukan gugup begitu mas Farhan. Aku ini memang grogian!" Jawab yahya.

__ADS_1


"Oh gitu...Santai kang Yahya, pokoknya satu tarikan nafas saja!"


"Iya, mudah-mudahan nanti lancar ya...!" ucap Yahya.


"Aamiin...!" Sahut Farhan.


Setelah menunggu sebentar mereka berangkat dengan menggunakan dua mobil ke rumah Dona. Sampai disana mereka disambut oleh keluarga Dona. Mereka sudah siap, tak banyak yang hadir tetapi sakral.


Penghulu sudah hadir dan Yahya duduk di seberang Penghulu yang disampingnya Ayah Dona. Ayahnya lah yang menikahi Dona. Setelah siap semua, Yahya ijab kobul dengan ayah Dona. Dengan satu tarikan nasas Yahya berhasil memperistri Dona menjadi istrinya.


"SAH?"


"SAH."


"SAH."


"Alhamdulillah."


Kemudian acara dilanjutkan dengan acara adat sunda dan siangnya diadakan resepsi pernikahan yang dihadiri oleh keluarga saja.


Setelah acara resepsi pernikahan selesai, Farhan dan keluarga pamit kepada keluarga Dona untuk pulang. Tak berhenti-berhentinya keluarga Dona mengucapkan terima kasih kepada Farhan dan Zahra. Mereka bahagia karena anaknya yang selama ini buat masalah dalam keluarga bisa menjadi anak yang soleha. Mereka menganggap karena mereka selama ini sering bergaul dengan keluarga Farhan dan Zahra.


\=================


**


Ketika Santi sedang di warung sotonya, Ramdani tiba-tiba berlari ke arahnya.


"San, aku pulang dulu. Bapak jatuh di kamar mandi!" ucap Ramdani yang panik.


"Kenapa kok bisa, mas? Ya sudah, aku nanti menyusul. Kamu duluan saja!" Jawab Santi yang sedang hamil lima bulan itu. Perutnya yang sudah mulai besar membuat Santi tidak selincah sebelum dia hamil.


Santi langsung ke depan bersama Ramdani. Ramdani langsung menaiki motornya danmelajukannya.


Santi kembali lagi ke dalam warung yang sedang ramai pengunjungnya. Dia masuk ke dalam kamar untuk memanggil Farell.


"Nak,kamu ikut ibu yuk pulang. Kakek jatuh di kamar mandi!" Ucap Santi.


"Hah,kok bisa bu? Ya sudah, kita ke sana bu, takut kakek kenapa-kenapa!" Sahut Farell.


"Ayo nak!" Ajak Santi.


Mereka berdua langsung menuju motor dan pergi ke rumah neneknya Farell.

__ADS_1


Sesampainyadisana, sudah banyak orang dan sudah rame sekali kursi-kursi sudah dikeluarkandari rumahnya.


Mereka turun berdua dengan tergesa-gesa dan langsung berlari ke dalam.


Terlihat sebuah badan yang sudah terbujur kaku yaitu bapak mertuanya, Pak Tugino yang sangat baik hati. Santi dan Farell berjalan ke arah jenazah tersebut dan duduk berlutut di sampingnya.


"Ya Allah, bapak, kenapa meninggalkan kami secepat ini pak, huuuhuuuuhuu...!" Santi menangis tersedu-sedu. Ramdani mendekat ke Santi dan ikut duduk disampingnya.


"Sudah sayang, mungkin ini semua terjadi karena ada maksud Allah untuk menguji umatnya!" ucapnya sambil merangkul Santi. Santi masih menangis. Farell pun menangis karena telah ditinggalkan pergi oleh kakeknya yang sangat dekat dengannya.


"Kakek, semoga kakek mendapatkan surgaNya Allah...Huuuuuuhuuuuu...." Farellpun dirangkul oleh Ramdani.


"Sekarang kita doakan kakek supaya jalan menuju surgaNya Allah bisa dilalui denganmudah...!"ucapnya ke Farell.


Mereka berdoa bersama. Persiapan langsung dilakukan, karena masih pagi, jenazah langsung dimandikan dan disemayamkan di rumah itu. Banyak pelayat yang datang dan memberikan penghormatan terakhir kepada Pak Tugino sekaligus mendoakannya. Mereka melakukan sholat Jenazah beberapa kali sampai dibawa ke makam setelah sholat Ashar tiba.


Jenazah pak Tugino dibawa ke mesjid dan disholatkan disana setelah sholat Ashar dan langsung dikebumikan.


Malam itu ada tahlilah hari pertama dan diteruskan sampai hari ke tujuh.


Malam setelah tahlilan hari pertama,mereka semua beristirahat dan mengobrol bersama keluarga di sana. Tahlilan setiap hari makin banyak yang hadir mengikutinya. Keluarga Ramdani sangat terpukul dengan kepergian pak Tugino. Ramdani yang sedan berduka juga harus menjaga kondisi Santi yang sedang hamil 5 bulan, sehingga Santi juga banyak beristirahat di warungnya.


Setelah tahlilan hari ke tujuh selesai, keluarga mengadakan rapat tertutup. Hasilnya adalah Ibu akan tinggal di rumah Santi karena rumahnya akan dijual. Ternyata pak Tugino mempunyai hutang Bank yang cukup besar, karena itu mereka sepakat untuk menjual rumahnya dan bengkel las yang dihandel oleh Pak Tugino diambil alih oleh Ramdani, sehingga Ramdani sibuk untuk menghandel dua bengkel lasnya.


"Mas, jadi bagaimana bengkel las yang dipegang bapak sebelumnya?" tanya Santi waktu mereka bersama-sama makan di warung sotonya Santi.


"Ya terpaksa aku pegang sayang. Disana kan lebih besar jadi aku jadi lebih banyak disana daripada disini nanti!" Jawabnya.


"Ya tidak apa-apa, nanti kalau mas mau makan siang ke sini saja ya. Kehamilanku ini juga alhamdulilah tidak ada masalah, jadi ya aku akan menjaganya dengan baik. Hanya kalau aku harus di rumah terus, aku tidak bisa karena warung tak ada yang jaga!" Jawab Santi.


"Iya, untuk sementara ini kamu juga jangan terlalu capek di warung, kamu kan punya asisten sekarang, beri dia gaji yang lebih tinggi dan tanggung jawabnya juga akan tambah!" Sahut Ramdani sambil merokok.


"Iya sih mas. Tapi orang aku harus tetap ke sini, belanja kan aku masih yang pegang. aku tak mau warung ini hancur karena aku mendirikannya dengan susah payah. Warungku yang satunya alhamdulillah masih jalan dengan baik!"


"Iya sayang, apa aku berhenti saja ya dari bengkel las?" tanya Ramdani.


"Jangan dong mas, aku masih bisa mengurusinya kok semuanya. Nanti saja kalau aku melahirkan, kamu bisa bantuin jaga di warung!"


......


......


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2