KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
KEGALAUAN FARHAN


__ADS_3

Bab 35.


POV FARHAN


"Ya Allah, aku bersalah, aku berdosa! Aku sayang istriku!" Kuberlari dan naik becak pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar dan aku menangis di dalam kamar. Aku telah fitnah Zahra. Tak lama kemudian pintu diketok oleh Ibu dari luar kamar.


"Farhan! Kamu kok sudah pulang??!" tanya Ibu dari luar. Aku diam saja dan sudah tak terdengar suara dari luar. Aku bingung sekarang mau kemana mencari Zahra.


Aku teringat ke Paklek, aku akan minta bantuan Paklek. Kemudian aku bereskan bajuku dan langsung masukkan ke dalam tas. Aku membereskan bajuku dan semua baju Zahra juga jatuh ke lantai.


'Aduh, kok sampai jatuh sih?' bathinku.


Aku bereskan semua bajunya zahra, dua kali aku rapikan dan masukkan kembali ke lemari. Begitu kuangkat bajunya yang aku rapikan, jatuh sebuah buntelan tisue dari tumpukan baju zahra yang kedua. Tapi kucuekkan saja. Setelah semua pakaiannya yang dilemari selesai kurapikan, aku tutup lemarinya.


Kuambil tisue tadi dan aku taroh di atas kasur. Aku memberekan beberapa bajuku yang masih belum masuk ke dalam tas. Setelah selesai aku keluar menuju ke kamar mandi. Setelah mandi aku masuk lagi ke kamar dan sholat Isya. Kuberdoa setelah sholat, kumenangis telah berdosa jinah dan meminta ampun kepada Allah. Aku juga telah mengkhianati cinta suci kami berdua.


Aku termenung setelah selesai berdoa. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


'Kemaleman, mending besok pagi saja!' pikirku.


Aku rebahan dan mencoba untuk memejamkan mata. Tapi tak bisa tidur, karena aku merasa bersalah terus kepada istriku, Zahra. Tak terasa air mata meleleh mengenang memori yang telah kami lakukan selama tiga tahun ini, suka duka telah kami lewati.


Aku berdiri dan menuju ke teras Di teras aku merokok dengan perasaan kalut dan bingung.  Kumerasa gagal sebagai suami. Kuingin berteriak sekuat tenaga, tapi takut mengganggu orang lain karena sudah malam.


Habis satu batang rokok kemudian kumasuk kembali ke dalam rumah untuk membuat kopi di dapur. Memasak air panas dan menuangkan nya ke dalam gelas yang sudah kuracik  kopi dan gulanya.


Berjalan ke teras dengan hati yang gundah. Duduk di kursi teras dan mengambil rokoksebatang dan menghisapnya. Ku sesap kopi buatanku, yang tak seenak buatan Zahra istriku.


Rokok habis dan kubuang ke asbak.


Aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu depan. Masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Aku menuju kasur dan melihat buntelan tisue yang tadi jatuh ke lantai dari balik baju-bajunya Zahra yang kubersekan tadi. Kuambil buntelan tisue nya dan kubuka isinya. Ada Tespeck dan kupegang.


"ASTAGA!!"


"Zahra Hamil??"


"Ya Allahhh....Huhuhuhuuuuu." Aku menangis sesegukan.


Langsung kumasukkan kembali testpack itu ke dalam tisue nya dan kumasukkan kembali ke bawah tumpukan pakaian Zahra di lemari.


"Aku harus menemukan Zahra!"


*


Besok paginya setelah sholat subuh, aku langsung mengganti pakaianku dan membawa tas pakaian. Aku kunci kamar dan bergegas keluar.


"Farhan!! Mau kemana kamu!!??" teriak Ibu dari dalam rumah.


Tak kugubris panggilannya dan berjalan cepat ke jalan raya untuk naik becak.

__ADS_1


"Farhan! Farhan!" Panggil Ibu yang masih kudengar tapi aku harus pergi untuk mencari istriku yang hilang dan kabur entah kemana. Setelah naik becak, di jalan raya naik bus kecil menuju ke rumah paklek.


"Assalamualaikum." Kuucap salam. Tak ada orang di teras dan kuketok pintu rumah yang masih tertutup.


"Assalamualaikum," salamku.


"Waalaikumsalam."


Buklek membuka pintu. Dia tampak biasa saja dengan melihatku.


"Buklek." Aku mencium tangannya.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Bulek sinis.


"Hm..Hmmm...Akkkuuu..." Aku tak bisa jawab.


"Udah sana duduk diteras!" sahut Bulek dan aku duduk dikursi teras. Bulek kembali ke dalam rumah.


Paklek keluar dari dalam.


"Eh, ada Farhan. Ada apa, Han?" tanya Paklek dan dia duduk kursi sebelah kanan depanku.


Aku berdiri dan mencium punggung tangannya.


"Gak ada apa-apa paklek. Aku mau mencari Zahra. Apa Zahra ada disini?" tanyaku berharap ada.


"Emang Zahra kemana dan ada apa dengan Zahra?" tanya Paklek sambil menyalakan rokoknya.


"Gak tau Paklek, dia kabur dari rumah. Aku nggak tau dia kemana!??" jawabku.


"Loh, kok kamu nggak tau kemana Zahra? Kan dia istrimu! Kamu sudah dzolim kepadanya kali?" sindir Paklek.


"Aku nggak tau paklek. Aku sudah salah sama dia!" Aku terdiam dan menitikkan air mataku.


"Aku telah menyia-nyiakan dia, dan kemarin aku merasa sudah merendahkan dia sebagai serang istri dan lebih memilih ke Dona." Sambil kumenundukkan kepala.


"Aku menyesal Paklek. Dia istri yang soleha, dan tak pernah membantah suami."


"Terus kenapa kamu sia-siakan dia?" tanya paklek lagi menyindirku.


"Aku nggak tau paklek. Kemarin aku itu seperti orang yang dicocok hidung. Sangat menurut dengan Dona dan sangat sayang sama dia. Sebaliknya aku merasa benci dan sangat kesal sama Dona. Sampai sekarangpun aku merasa bingung, Paklek."


"Kamu nggak sadar atau bagaimana?" tanya Paklek lagi.


"Entahlah Paklek, saya juga bingung. Tolong saya paklek, saya nggak mau kehilangan Zahra!"


"Ya kamu sudah menyia-nyiakan Zahra, udah tau istrimu itu baik!" jawab pakelk.


"Iya Paklek, tolong saya!" ucapku memohon.


Buklek muncul dengan dua gelas kopi di atas nampan..

__ADS_1


"Sekarang kamu mau cari kemana kalau dia udah kabur begitu?" tanya Bulek sambil meletakkan gelas kopi tadi ke meja. Dia duduk di kursi seberangku.


"Aku nggak tau Bulek." Sambil menunduk dengan kebingungan.


"Hm, kamu tuh Le Le, punya istri soleha kok disia-siakan!" sahut Bulek.


Aku diam dan makin sedih dengan mendengar perkataan Paklek dan Bulek.


"Sudah kamu istirahat saja dulu, nanti kita pikirkan bagaimana selanjutnya!" Ucap bulek dan masuk lagi ke dalam rumah.


Yunis yang sudah siap mau ke kantor muncul dari dalam rumah.


"Eh, ada mas Farhan?" ucapnya dan bersalaman denganku.


"Pak, aku pergi dulu ya," ucapnya dan mencium punggung tangan paklek.


"Mas Farhan, aku pergi ke kantor dulu," ucapnya pamit.


"Iya, naik apa?"


"Angkot Mas. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab kami.


Aku terdiam dan kembali menghisap rokokku yang sudah mau habis. Kumatikan di asbak.


"Hmmmm..." Kusenderkan punggungku ke belakang kursi dan memejamkan mata.


Betapa sakitnya hatiku yang kehilangan perhiasan terindah dalam hidpku. Aku kemudian berdiri.


"Paklek, aku titip dulu tasku ya, aku mau ke pasar dulu. Mau beli HP, biar aku bisa menelpon Zahra!" ucapku.


"Ya sudah sana, hati-hati!" Jawab Paklek.


Aku berjalan ke jalan raya dan menuju ke ruko yang tak jauh dari rumah paklek. Aku membeli sebuah HP baru yang biasa saja dan membeli kartu perdananya. Setelah dipasangkan ke HP, kubayar HPnya.


Aku berjalan kembali ke rumah Paklek. Dan sesampainya disana duduk kembali diteras. Kubuka tasku dan mengambil secarik kertas dalam tas kecilku. Kupencet nomer HP Zahra, tapi tak aktif. Aku chat ke nomer dia dan contreng satu, tandanya belum dibaca. Aku letakkan HP di meja dan menyesap kopi kembali yang ada di meja. Kuambil rokok sebatang, menyalakannya dan menghisapnya.


Kuambil lagi HP dan cek ke aplikasi chat dan masih contreng satu. Paklek muncul dari dalam rumah dan duduk kembali di kursi.


"Udah beli HP nya?"


"Udah paklek, nomernya Zahra nggak aktif!" jawabku.


"Kamu ke sini mau apa?" tanya paklek.


"Aku mau minta bantuan Paklek untuk menemaniku mencari Zahra!"


.....


.....

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2