KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
JEBAKAN BATMAN


__ADS_3

BAB. 34


POV FARHAN


Pada sore itu, aku bingung dengan tidak ada berita dari Zahra tentang keberadaannya. Mbak Santi yang aku suruh telpon ke Yunis, spupu kami juga belum memberikan jawaban.


Aku seperti orang bingung. Tapi kenapa pikiranku selalu ke Dona yang sebelumnya aku tidak suka. Tapi kenapa aku seperti terbayang-bayang mukanya terus. Aku merasa aneh dengan diriku.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Mbak Santi datang dengan Dona dengan membawa martabak telor.


"Nih Han, dari calon bini lo!" ucap mbak Santi dan dia meletakkan martabaknya di meja dan langsung menuju ke dalam rumah.


"Hm, iya, makasih." Aku tak marah dan tak membantah kalau mbak Santi menyebut Dona adalah calon istriku. Aku merasa ada yang aneh. Dona duduk di sampingku dan mengalungkan tangannya ke lenganku.


"Mas, kita jalan yuk. Anterin aku ke hotel lagi," Ajak Dona.


"Ya, nanti saja, ini kan mau magrib. Nanti saja abis Magrib. Aku mau nyuruh mbak Santi telpon si Yunis dulu."


"Ada apa aku suruh telpon si Yunis?" ucap Snti yang muncul dari dalam rumah dengan membawa piring bersih untuk meletakkan martabak telornya.


"Ini loh. Aku minta tolong, telponin Yunis, tanya apa Zahra ada disana? Kalau ada di sana aku mau menyusul!"


"Halah, nggak usah susul-susul segala! Udah aja sama Dona. Ceraikan saja Zahra yang


belagu itu! Udah mandul masih aja belagu, sombong jadi orang!" sahut Santi.


"Jangan begitu mba. Zahra kan juga istri sah saya."


"Udahlah. Istri yang kabur begitu nggak usah dicari. Kamu langsung aja turunin Talak!" usunya.


"Astagfirullah


Al-Adzim mbak, jangan bicara kayak gitu ahh!" ucapku agak kesal.


"Abis dia kabur, nggak jelas. Gak tau sekarang ada dimana?" balas Santi.


"Hm, ya telponinlah dulu.Ya mbak," pintaku.


"Bentar!" Dia mengeluarkan HP dari saku celana jean nya. Kemudian dia menelpon ke nomer Yunis beberapa kali. Tapi tak diangkat.


"Gak diangkat-angkat, Han!" ucapnya.


"Ya udah mungkin dia masih di jalan pulang kerja," ucapku.


"Emang dia udah kerja?" balasnya.


"Udah kata Paklek dan Bulek," balasku.


"Hm. Ya udah. Katanya kamu mau jalan sama dona?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya mbak. Mas Farhan mau anterin aku ke hotel, sekalian kami menginap disana dan besok pagi kami pulang ke rumah." Ucap Dona.


"Farhan. Kamu katanya mau pergi sama Dona??!" Tanya Ibu yang datang dari dalam rumah. Aku diam saja.


"Heh, kenapa diam?" tanya Ibu.


"Dia mikirin Zahra bu! Hahahaha," timpal Santi.


"Halah orang kayak gitu nggak usah dicariin! Palingan dia pulang ke kampung! Dasar udik, kampungan!" bentak Ibu.


"Lah emang kita nggak tinggal di kampung apa, bu?" tanyaku heran.


"Gaklah, kan ini sudah maju, jadi bukan kampung lagi!" Jawab Ibu.


"Ya sudah, terserah kamu aja! Kamu pokoknya nggak boleh nemuin si Zahra lagi!" Bentak Ibu.


"Gak bisa, dia masih istri sah saya!" ucapku. Tapi waktu aku mengucapkan itu aku juga sambil melihat ke arah Dona. Seperti Dona itu cantk dan menyejukkan hati wajahnya.


"Kenapa sayang? Kok liatin aku terus sih?" Tanya Dona dengan senyum manisnya.


"Ng-ggak ada," sahutku dan langsung ku lepas rangkulan tangan Dona di lenganku.


"Kenapa mas? Malu? Kan, kita akan segera menikah," ucapnya.


Aku mau membantahnya tapi bibirku kelu dan tak ada yang keluar kata-kata dari mulutku.


"Ya sudah kalau jadi kita ke hotel, kamu segera ya antarkan aku sekarang," ajaknya.


"Tapi San, tolong telpon ke Yunis ya, nanti,"pintaku ke Santi.


Kemudian keluar dan aku pamit kepada ibu dan berjalan bersama dengan Dona yang menggandeng tanganku. aku risih tapi tak berdaya mau melawan.


Sesampainya di hotel, sudah magrib dan aku langsung sholat sendirian karena Dona katanya sedang haid. Dia mandi selagi aku sholat dan setelah sholat dia memberikan aku minum kopi. Tak lama kemudian aku mengantuk dan tidur. Tak ingat apa-apa lagi. Setelah terbangun.


"Mas diminum kopinya."


"Iya, aku mau merokok dulu boleh?"


"Boleh kok. Silahkan." jawab Dona dan dia ke depan meja rias dan memakai parfum.


"Mas, kamu mau makan?"


"Iya nanti saja setelah kopiku habis."


"Ya sudah habiskan dulu, nanti kita pesan makanan saja dari hotel ini."


Aku merasa canggung berada di hotel bersama dengan seorang wanita yang bukan muhrimku. Aku menyesap kopi dan merokok. Aku merasa pusing sekali dan mataku mengantuk. Entah kenapa kok pengen tidur ajah. Kutahan sampai lama. Aku minum kopiku lagi sampai setengah gelas. Karena aku mengantuk, aku sangat ingin tidur. Aku yang duduk di sofa berjalan ke arah kasur dan merebahkan badan ke kasur dan aku tertidur tak ingat apa-apa lagi.


*


Begitu bangun kepalaku pusing. Aku sudah berada dibawah selimut. Dona tidur disampingku yang kepalnya memepet ke badanku. Aku sudah tak memakai baju dan seluruh badanku telanjang bulat. Aku lihat Dona juga begitu karena  aku singkap selimut nya, dia juga hanya memakai BH saja. Langsung kututup lagi dengan bed cover.


"Astagfirullah Al Adzim, apa yang aku lakukan??/!!" Kuusap wajahku dengan kedua tanganku dengan kasar.

__ADS_1


"Ya Allah, aku berzinah dengan Dona! Gimana Zahra? Ya Allah, maafkan aku Zahra!" Aku bangun dan memakai baju dan celanaku yang ada di lantai. Aku ke kamar mandi dan mencuci mukaku.


"Ya Allah, apa yang aku lakukan, aku mengkhianati istriku! Ya Allah...!" Aku menangis di depan cermin menyesali atas perbuatanku.


TOK TOK


"Mas, lagi di dalam?" terdengar suara dona dari luar pintu.


"Ya, aku di dalam." AKu hapus air mataku dengan mencuci muka dan kubuka pintu kamar mandi.


"Mas, kenapa?" tanyanya dan memegang pipiku.


"Gak papa Dona. Aku mau pulang ya," Aku berjalan ke arah kasur dan mengambil tas kecilku.


"Mas mau kemana? Kamu kok lupa sih kalau kita tadi abis melakukan hubungan intim??" tanyanya dengan senyum.


"Aku nggak tau Dona. aku nggak ingat!" sahutku dan Dona mendekat sambil memelukku yang sedang berdiri samping kasur.


"Mas, aku sayang kamu. Terima kasih karena kamu sudah membuktikan cintamu. Kamu sudah memberikan benih di dalam rahimku. Kalau aku hamil nanti, kita harus segera menikah mas!" Dia melepas pelukannya.


"Dona, ini sudah tidak benar! Aku masih punya istri, Zahra adalah istriku satu-satunya!" jawabku dengan kesal dan aku bergeser dan duduk di sofa. Dia masih berdiri di samping kasur dan duduk.


"Mas, kamu nggak bisa gitu dong?!! Kalau aku hamil, siapa ayahnya? Kamu kan!" ucapnya.


"Belum tentu, kamu tadi menjebakku!" Aku marah dan menghindar.


"Kamu nggak boleh bilang gitu mas! Kamu tadi melakukan dengan gagah dan aku sangat menikmatinya. Kamu kan tau kalau kamu tadi puas sekali!"


"Kamu sudah menjebakku!!" kataku dengan nada marah.


"Hmm...Mas, kamu melakukannnya lama tadi dan aku juga puas, kamu juga puas. Masa kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan tadi?" balasnya sambil menitikkan air matanya.


"Aku nggak mau tau. Aku nggak cinta sama kamu! Zahra istriku, dan kalau kamu hamil bukan tanggung-jawabku!!" Aku bentak dia.


"Enak ajah bukan tanggung jawabmu?!!" bentaknya lagi.


"Gak ada bukti kalau aku telah menidurimu! Aku cuma tertidur tadi!"


"Hahahaha, mau bukti?" Dia mengambil HP nya dan dia menunjuukan kearahku foto aku sedang merangkulnya dalam keadaan telanjang dada. HP nya langsung dia matikan dan masukkan ke dalam kantungnya lagi.


"Ini foto sudah aku kirimkan ke HP Mbak Santi dan aku udah backup juga dengan mengirim ke HPku yang satunya!" Ancamnya.


"Mampus!" Aku usap wajahku dengan kasar.


"Terus bagaimana?" tanyanya lagi.


"Aku gak tau, aku mau pulang sekarang!"


"Kamu jangan pulang mas!!" teriaknya.


"Bodo, kamu telah menjebakku, aku gak percaya kalau kita sudah melakukan hal yang gak boleh kita lakukan! Kamu orang gila!" Aku buka pintu kamar dan berlari keluar hotel dengan perasaan yang tak menentu.


......

__ADS_1


......


BERSAMBUNG


__ADS_2