
BAB 25.
POV AZZAHRA
"Ya, sudah baguslah!" Kemudian kami masuk ke dalam rumah. Kami bergantian mandi dan lanjut sholat Magrib.
Sesudah sholat magrib kami ke rumah mak Hasnah lagi.
Mas Farhan ke teras dan dia membantuku menyapu teras dan menyapu dalam rumah.
"Eh, suamiku rajin juga!"
“Iya dong sayang, membantu pekerjaan istri juga kan jadi pahal buatku, hehehe!" jawabnya.
"Iya deh. Mas, kopinya mau diteras atau di sini?" tanyaku.
"Di teras saja!” Aku berjalan ke teras dan meletakkannya di meja teras. Aku kembali lagi ke dapur dan mask buat sarapan.
"Farhan, kamu udah panen?" tanya Ibu.
"Udahlah Bu, nanti saya kasih uangnya ke Ibu, hari ini saya mau jual beras ke Pak Haji, jadi biar sore uangnya ada!" jawab suamiku ke Ibu.
Ibu diem saja, aku yang sedang membersihkan meja makan melihat ibu berjalan keluar dan duduk di bangku teras. Tumben. Aku tak ambil pusing, dan kembali lagi ke dapur masuk untuk makan. Kemudian ibu masuk kembali ke dalam kamar nya, dancSuamiku ke teras merokok.
Dan Mas Farhan keluar kamar menuju teras. Setelah aku memakai hijab dancrapih, aku keluar kamar dan mengunci kamar. Aku keluar ke teras dan menggandengcmas Farhan keluar rumah menuju ke jalan raya.
"Mas, mudah-mudahan mak Hasnah ada, ya" sambil berjalan beriringan.
"Iya sayang, mudah-mudahan sayang. Soalnya kan memang mak ingin kita ke rumahnya setelah seminggu"
"Iya sih, mas."
Kami berjalan ke arah rumah mak Hasnah yang sebentar lagi akan sampai. Di depan rumah mak Hasnah, pintu terbuka dan mak Hasnah pas keluar dari pintu rumahnya.
"Assalamualaikum," sapa kami.
"Waalaikumsalam," jawab mak Hasnah.
"Ayo nak Farhan masuk...!" Kami bersalaman dan langsung masuk ke dalam rumah mak hasnah.
"Langsung saja nak Farhan, nak Zahra. Langsung ke kamar...!"
"Iya mak." Kami langsung lanjut ke dalam kamar nya. Kami duduk dulu di tikar dekat kasur tempat pijat. Mak Hasnah masuk dan duduk membawa dua gelas Teh manis.
"Aduh mak, nggak usah repot-repot deh..kami sudah banyak minum kok"ucapku.
"Ahhh, nggak repot kok, cuma teh manis saja!" Mak hasnah duduk di sampingku.
"Gimana hasilnya? Memuaskan?" tanyanya.
"Nah itu dia mak, saya mau laporan nih, Tapi malu..hehehe!" jawab suamiku sambil menunduk dan terkekeh.
"Kenapa mesti malu? Kan cuma ada bertiga doang disini!" jawabnya.
"Iya mak, waktu kami main kemarin, wah dasyat banget mak..Aku sampe lama sekali mainnya dan bergairaaaahh..Joss lah pokoknya, Hahaha!" Suamiku tertawa senang.
"Ish mas, kamu kok vulgar gitu sih...?" aku sampai malu mendengar kegirangan dia.
__ADS_1
"Ah biar saja Nak Zahra. Dia baru merasakan seperti pengantin baru lagi...hahaha." Emak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya sih mak, memang, aku juga agak berbeda, semangatnya ada, dan gimana ya, pokoknya enak banget lah...hihihihi!" Aku juga mengikik ingat kejantanan mas Farhan dan gairahku malam itu.
"Ya itulah, sebenernya karena kalian sudah lama tak pernah berhubungan intim secara rutin, maka semuanya berpengaruh kepada semuanya, otot, dan kualitasnya juga menurun!" jelas mak Hasnah.
"Begitu ya mak? emang sih kami sejak setahun menikah sampai sekarang, jarang sekali berhubungan intim, apalagi kayak kemarin begitu, ?" Aku membayangkannya saja sudah tertawa sendiri.
"Ya semoga kuaalitasnya juga jadi bagus. Beda ya?"
"Beda banget..!"sahut suamiku cepat.
"Kemarin sudah dilakukan sesuai tanggal nya?"
" Alhamdulillah....Sudah mak, dua hari berturut-turut mak" jawab suamiku.
"Hm, ya sudah, sekarang siapa dulu?" tanya mak Hasnah yang berdiri mengambil minyak.
"Zahra dulu Emak!" sahut suamiku.
"Yuk Zahra!" Dia menunggu dengan duduk di samping kasurnya.
Kemudian, aku ke kamar gant, mengganti baju dengan jarik, dan kembali ke kasur dan tengkurap seperti yang dianjurkan oleh emak. Seperti biasa setelah sejam kemudian, aku selesai dan dilanjutkan oleh suamiku.
Setelah suamiku selesai dana sudah mengganti bajunya, kami duduk kembal menikmati Teh manis yang sudah dingin.
"Mak, apakah nanti istri saya bisa hamil?" tanyanya dengan wajah berharap.
"Ya mudah-mudahan lah, soalnya tadi saya pegang juga udah sehat lagi kayak dulu masih gadis"
"Seneng amat kamu, mas?"
"Iya dong, istrku gadis dulu...Nuikmat banget...Hahaha!" jawabnya.
"Kamu juga jaga makanannya nak Farhan, harus sering makan buah dan protein!"
"Iya mak, mudah-mudahan kami bisa punya momongan, Aamiin!" jawab suamiku.
"Aamiin" Kami pulang ke rumah dan kemudian kami sholat Isya berjamaah setelah wudhu.
Kami tidur dan kembali malam itu, mas Farhan menerkamku kembali dan kali ini dua ronde kami bercinta dengan tak kenal lelah. Kami tidur dan besok paginya bangun seperti biasa. Setelah mandi Junub, aku masak dan merendam pakaian kotor.
Sebelum Dzuhur siuamiku sudah pulang dan kami makan siang berdua kembali. Dan kami tidur setelah sholat Dzuhur.
"Sayang, aku agak pusing kepala, mau istirahat dulu ya, boleh?" Mas Farhan langsung ke kasur merebahkan badannya.
"Iya mas, tidurlah dulu." Sikapnya masih biasa saja, tak ada yang aneh.
Kemudian, dia tidur duluan, aku mengambil HP dan membuka Aplikasi Novel yang pernah aku menulis disana. Aku lupa semuanya baik alamat surel dan passwordnya. Oleh karena itu, aku kembali mendaftarkan namaku supaya aku sudah bisa menulis cerita di aplikasi tersebut.
Aku mulai menulis, mengenai cerita pengalamanku sendiri. Sehari aku targetkan untuk menulis minimal seribu kata supaya setiap hari aku bisa mengupdatenya. Aku mulai menulis satu buah cerita yang mengambil kisahku yang dialami saat ini.
*
Adzan Ashar berkumandang, aku membangunkan suamiku untuk sholat Ashar.
"Mas, bangun. Sudah Ashar sayang!"
__ADS_1
"Hm, nanti dulu ahh...Aku ngantuk nih...!" jawabnya dengan nada kesal.
“Hm, kok mas Farhan kasar jawabnya? Tumben?' batinku.
Aku diam dan mematung menyikapi jawaban mas Farhan yang tidak seperti biasanya. Aku kemudian membangunkannya kembali.
"Mas...Udah Ashar, mau sholat dulu atau mau aku bangunkan lagi?" tanyaku.
"Apa sih kamu nih! Ganggu ajah orang lagi asik tidur.." matanya sedikit melotot ke arahku.
"Mas, kan aku nanya sama kamu mas..!" Aku masih bicara dengan nada sopan.
"Iya, aku tau ini udah ashar, bangunin aku sejam lagi!!!" Dia mulai ngegass lagi.
Aku diam saja, ada rasa sakit didada ini mendengar jawaban suamiku yang biasanya lembuh dan penuh canda. Langsung kubangun dan ke kamar mandi untuk ambil wudhu. Di dalam kamar aku sholat Ashar sendiri karena kalau sudah kesorean takut lupa. Setelah sholat aku mengaji sebuah selama sepuluh menit.
Setelah selesai aku melihat mas Farhan sudah duduk di atas ranjang.
"Eh mas udah bangun?" tanyaku smabil merapikan.
"Kamu ngapain pakai ngaji segala? Bukannya nunggu aku bangun, malah sholat sendirian!" bentak mas Farhan.
"Kan aku sudah bangunkan mas untuk sholat Ashar," jawabku dengan nada sopan.
"Iya tapi kan kamu harusnya menunggu aku bangun!!" balasnya dengan nada agak tinggi.
"Ya sudah mas. Aku minta maaf!!" Aku bangun dan mencium punggung tangannya. Dia mengulurkan tangannya dan diam.
"Udah ahh, aku mau wudhu dulu!"
"Ya sudah, mas mau aku buatkan kopi lagi?"
"Iya, taroh saja di teras!"
Ada apa ya guys...?
Aku keluar kamar dan menuju ke dapur untuk buat kopi suamiku. Di dapur, mas farhan melihat ke arahku, cuma dia langsung berjalan tanpa bicara sedikitpun.
'Ya Allah cobaan apa lagi yang aku hadapi ini' Air mata menetes dipipiku. Kuhapus dengan tangan dan menuangkan air panas di gelas kopi. Setelah kuaduk, kubawa ke teras. dan kuletakkan diatas meja. Aku duduk dikursi teras menunggu suamiku datang. Tak berapa lama, suamiku datang dan dia duduk di sampingku. Aku diam dan dia mulai melinting rokok.
"Mas."
"Hm!"
"Kamu kenapa sih mas? Daritadi jawab pertanyaanku selalu kasar. Aku bingung dengan perubahan sikapmu dan cara bicaramu." Aku berusaha bicara selembut mungkin dengannya.
"Maaf dek. Aku masih pusing dari abis makan siang. Aku juga bingung kok kepalaku pusing banget dari tadi!" jawabnya singkat.
'Kamu mau aku belikan obat mas?" tanyaku.
"Boleh sayang. Aku minta maaf ya, aku gak bermaksud kasar sama kamu. Tapi aku gak tau kalau aku kok kesel kalau kamu ngomong!" jawabnya.
....
....
BERSAMBUNG
__ADS_1